
***
Ghumaisha terus berontak, teriakannya pun terdengar sampai ke ruang pasien lain. Khawatir. Ardian mencengkram pergelangan tangan istrinya mencoba untuk menenangkan, meski dia terus menolak dan menepisnya berkali-kali.
"Berhenti berteriak! Ada apa denganmu sebenarnya? Kalau marah bilang! Jangan seperti ini. Kau membuatku cemas," bentak Ardian tetap tak direspon.
"PERGI!" Ghumaisha menangis, memukul, mendorong tubuh Ardian agar menjauh.
Lagi, ia mengambil napas berat, mengontrol emosi yang bisa saja meledak kapan saja karena sikap istrinya sekarang. Mungkin dia marah, karena telah dia kurung dalam toilet. Siapapun pasti akan bersikap sama bila diperlakukan seperti itu.
"Tolong ... katakan ada apa? Kau marah karena kukurung dalam toilet? Kalau, Ya. Maafkan aku ...." suara Ardian melemah, menatap lekat mata bulat Ghumaisha, yang selama ini selalu membuat dirinya terpesona. "Katakan padaku ...."
Sejenak wanita gempal itu terdiam, terhanyut ke dalam tatapan teduh suaminya. Itu tak lama, saat perkataan Tasya lagi-lagi terdengar. Dengan kasar ia menarik tangannya, air mata berlomba-lomba keluar dari penjara, terbebas, mengeluarkan semua sakit yang selama ini dia pendam. Cukup!
"PERGI!"
"PERGI DARI SINI! JANGAN ADA DIHADAPANKU LAGI!"
"PERGIIIIIIII .... "
"Kendalikan dirimu!" tak mau mundur, Ardian menarik badan Ghumaisha ke dalam dekapan, memeluknya erat. Tak peduli meski dadanya terasa sakit karena terus dipukuli.
"PERGI! KUBILANG PERGI!" usir Ghumaisha.
Tak lama Dokter Arya datang, sesudah mendapat laporan dari suster karena pasien terus berteriak. Di sana Ardian masih mencoba menenangkan istrinya, tetapi berkalli-kali juga dia menolak pegangannya. Sedangkan anak, yang ia tahu bernama Jalal berdiri di sisi pria itu. Menatap sedih kondisi Ghumaisha.
"Siapkan suntikan, Suster Kori!" perintah Dokter Arya.
"Baik, Dok!" Suster menyiapkan suntikan untuk digunakannya menenangkan pasien. Tak ada cara lain wanita itu seperti kesurupan, tak bisa dikendalikan.
"Boleh Anda ke luar dulu,"
Mengerti ucapan Dokter Arya, Ardian mengangguk. Lagi pula badannya sudah sakit semua, rasanya ia mau mati gara-gara dipukul tangan gendut Ghumaisha.
***
Setelah diperiksa Dokter Arya, Ghumaisha mulai tenang. Tepatnya pingsan. Perkataan Dokter di ruangannya tadi benar-benar sudah mengganggu pikiran Ardian, seakan memojokan dirinya sebagai penyebab utama kondisi istrinya sekarang.
"Ingin tahu, kenapa istri Anda berteriak seperti tadi?" ucap Dokter Arya dingin.
Ardian menganggguk, "Ya!"
"Dia depresi."
"APA?!" kedua mata pria itu membulat sempurna. Diagnosis Dokter tak bisa diterima oleh akal sehatnya. Tepatnya tak bisa menerima kenyataan kalau Ghumaisha menderita karena sikapnya selama ini.
"Tuan Adrian, dia berteriak setiap kali melihat Anda. Sepertinya dia ketakutan, ada trauma membuatnya tak mau bertemu dengan Anda. Mungkin Anda sudah melakukan sesuatu?" papar Dokter Arya sambil menuliskan sesuatu di atas kertas, lalu menyodorkan kepada Ardian.
Pria itu heran, mengambil kertas kecil bewarna putih dari tangan sang Dokter. Di sana tertuliskan nama Psikiater serta alamatnya. Jelas, ia tak terima sekaligus terhina. Tak lain dia sudah menuduh istrinya terkena gangguan jiwa.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini?!" Ardian melemparkan kertas ke wajah Dokter Arya. Beranjak dari tempat duduknya tadi. "Secara tak langsung, kau sudah menuduh istri saya gila!" tandasnya menggebrak meja.
Tak tersinggung, Dokter melipat tangan di dada, menelengkan kepala menatap Ardian cuek bebek.
Orang merasa bersalah memang seperti itu, tak mau menerima kebenaran lebih mencari pembenaran agar tak menjadikan dirinya sebagai tersangka. Aneh, berbuat tetapi tak mau bertanggung jawab.
"Anda mau jawaban seperti apa, Tuan Ardian? Pertama, saya sudah memeriksa lebih lanjut penyebab Nona Ghumaisha pingsan. Itu disebabkan dia meminum obat penambah berat badan. Coba Anda pikirkan, wanita mana mau bunuh diri dengan memakan obat penambah berat sedangkan dirinya sendiri sudah berisi. Kedua, diet Nona Ghumaisha tidak teratur sampai membuat kepalanya pusing, lemas dan lain-lain. Biasanya ini sering disebut diet hormon, menjauhkan diri dari sumber-sumber kafein, gula dan juga gluten, produk susu dan sebagainya. Saya rasa, Tuan cukup paham apa yang saya maksudkan tadi, bukan begitu?" terangnya.
"Obat?!" Ardian kebingungan.
Ia juga tak tahu, sejak kapan istrinya minum obat penambah berat badan. Apa dia sudah gila atau memang ada kelainan aneh dari diri Ghumaisha yang tak ia ketahui.
"Saya rasa, Anda suami yang kurang perhatian kepada istri," kata Dokter Arya, tersenyum miris. Sikap Ardian mengingatkannya kepada istrinya dulu.
Tangan Dokter muda itu dia tumpukan di atas meja, "Saya ingin memberi nasihat kepada Anda, karena dulu saya pernah mengalami hal sama. Sebaiknya Anda segera memperbaiki hubungan keluarga, dengan menerima kekurangan istri. Seandainya Tuan tahu, wanita sangat sensitif jika disinggung masalah berat badan. Mereka akan punya keinginan kuat untuk bisa langsing, seperti yang didambakan suaminya selama ini. Tetapi percayalah, Tuan, menjadi kurus itu tak mudah. Apalagi untuk Nona, Ghumaisha,"
Ardian terpaku. Selama ini dirinya selalu mengejek Ghumaisha, karena tak bisa menjadi istri sempurna dengan berat badan setiap harinya selalu bertambah. Ia tahu, kalau istrinya sering berpuasa dan menjaga pola makan. Tetapi ia tak peduli, lebih membiarkan dia berjuang sendirian. Pria itu tak tahu, kalau permintaan kecilnya bisa berdampak besar bagi Ghumaisha.
"Semua istri ingin membahagiakan suaminya, Tuan Ardian. Mereka berdandan, menguruskan badan, melakukan segala hal di rumah hanya ingin membuat suaminya merasa beruntung. Dan itu terjadi kepada Nona Ghumaisha. Mungkin Anda, memang mempunyai keinginan untuk mendapatkan wanita sempurna, hingga akhirnya membuat Nona Ghumaisha berambisi menurunkan berat badan. Sayangnya, dietnya selalu gagal. Dan inilah hasilnya .... "Dokter Arya mengangkat kedua bahu.
Tak mau menerima penjelasan lebih lanjut lagi, Ardian ke luar ruangan Dokter dengan membanting pintu. Perasaan bersalah menyelusup dalam hati. Apa dia sudah berlebihan selama ini?
.
.
.
Tangan kanannya terulur, mengusap kepala Ghumaisha yang tertutupi hijab putih. "Kalau kau tersinggung, seharusnya kau marah! Kenapa selalu bersikap biasa saja! Seolah-olah ucapanku tak berarti sama sekali dan lagi untuk apa meminum obat penambah berat badan? Apa kau sudah gila?" sambungnya kesal.
"Kau sudah gemuk, jangan berniat bertambah gendut lagi, Ghu. Kalau ingin, lebih baik mengandung anakku saja, kau bisa? Jawab?" tuntut Ardian.
Tak mendapat jawaban. Ardian menghembuskan napas berat, menundukan kepala, dadanya sesak mengingat perlakuannya selama ini. Sepertinya, ialah yang sudah gila.
"Kau tahu, Ghu? Alasanku menjauhkan dirimu dari Ali dan Tasya, aku hanya tak ingin kau mengetahui semua kebenarannya. Kalau selama ini Ali mencintaimu, aku tak ingin kau mencintainya seperti Tasya. Dia meninggalkanku dan lebih memilih bersama pria alim itu. Aku memang play boy, tetapi sungguh, tak ada wanita yang pernah kupeluk selain dirimu," jelas Ardian, berharap Ghumaisha bisa mendengar semuanya, kalau ia tak seburuk pikiran orang.
"Mungkin aku memang tak bisa seperti pria lain, bersikap manis dan romantis kepada istri. Tapi kau harus percaya, aku selalu memperhatikan dan mengawasimu dari diam. Orang buruk belum tentu buruk, Ghumaisha ...." Ardian mencium kening Ghumaisha, untuk pertama kalinya ia menitikkan air mata untuk istrinya. Sedangkan Jalal yang mendengar ucapan Ardian tersenyum senang.
***
#FlaskBack
"Apa yang kau lakukan kepada, Ghumaisha!" tanya seorang pria ketika Haila sudah kembali setelah mendorong wanita bertumbuh gempal itu ke kolam.
Haila tersenyum lebar. "Menjalankan tugas darimu! Katamu, aku harus mengerjainya dengan mendorongnya ke kolam," serunya semangat.
"Telingamu tuli, yah! Aku menyuruhmu mengucinya di ruangan praktek, bukan malah mendorongnya ke kolam!" bentak Ardian, habis kesabaran.
Haila gelagapan.
__ADS_1
"Aku pikir, sama saja yang penting mengerjainya, kan," sahutnya ketakutan karena Ardian sekarang benar-benar menyeramkan.
"Aku yang menyuruhnya untuk mendorong Ghumaisha ke kolam," ucap Adonia dari belakang. "Ada masalah?"
Ardian membalikkan badan. "Minta maaf, sekarang juga!"
"Astaga! Kau bercanda, kan, Ardian! Mana mungkin AKU, meminta maaf kepada wanita jelek itu," protes Adonia.
"ADONIA!" teriak Ardian. "MINTA MAAF SEKARANG JUGA, ATAU KUKELUARKAN KAU DARI PERUSAHAAN AYAHKU!" imbuhnya mengancam.
Menyerah, Adonia mengangkat tangan ke atas. "Baik! Aku akan minta maaf. Haruskah kukatakan itu permintaanmu?"
"Kau bawa-bawa namaku, kuhabisi kalian!" Ardian menggepalkan tangan membuat Adonia dan Haila begidik ngeri.
"Baiklah .... "
"Bagaimana dengan jalan-jalan kita?" tanya Haila gugup, jangan sampai semuanya batal.
"Adonia mendatangi Ghumaisha, janji, masih tetap berlaku!" kata Ardian. Haila tersenyum senang, pria itu memang selalu tepati janji.
***
Ardian membuka mata, ketika merasakan tarikan kuat beberapa kali di celananya, sampai hampir-hampiran dibuatnya merosot. Jalal menekuk wajah, dari pagi belum makan dan ia baru sadar hampir menelantarkan anak tampan itu.
"Ah, maafkan paman, Jalal. Kau pasti lapar, yah?" tebak Ardian, namun diberi gelengan kecil anak itu. "Terus apa?"
"Tante, Tante!" tunjuknya ke arah Ghumaisha, yang sudah membuka mata.
"Tante? Kenapa Tante?" tanya Ardian heran.
"Tuh, Tante!"
Mata Ardian berbinar, mengerti maksud Jalal. Dia membalikkan badan, sebelum, "Ghu __ "
Ghumaisha menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, pandangannya fokus ke depan, tatapannya kosong, wajahnya pucat-pasi, datar tak ada gairah.
"Ghumaisha ... kau baik-baik saja?" Ardian menyentuh pipi istrinya, namun tak ada respon. "Ghu, jawablah kumohon!" pintanya, menepuk-nepuk pipinya.
"GHUMAISHA, JAWAB!" Ardian membentak, hasilnya tetap sama Ghumaisha tetap menutup mulut. "Ghu, kumohon ... aku sungguh menyesal ...."
"Ceraikan aku .... "lirih Ghumaisha, tetapi terdengar tajam di telinga Ardian.
(Memaafkanmu memanglah mudah, Ardian.
Tetapi untuk mengembalikan keadaan seperti semula, akan sulit. Perlu waktu lama agar luka ini bisa sembuh.)
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya kawan 🙏😁
__ADS_1
Kritik dan sarang ditunggu, 😉