
***
"Apa dia anakmu?" tanya Ghumaisha. Kini matanya mulai berlinangan air-mata.
Ardian terkejut, tak percaya Ghu akan berpikiran sedangkal itu terhadap dirinya.
"Mana mungkin dia anakku!" bantahnya.
Ghumaisha menangis. "BOHONG! Selama ini aku diam saja melihatmu jalan dengan wanita lain. Karena aku tahu, diriku tak ada apa-apanya. Tapi mempunyai seorang anak dari hubungan gelap. SUNGGUH SANGAT KETERLALUAN. Tega sekali kau padaku!" paparnya, merasa Kecewa dengan sikap suaminya, ia masih berpikir kalau Jalal adalah anak dari Adrian.
Ardian mengacak rambutnya gusar. Lalu berucap, "Gajah Eropa! Sudah kubilang kan, aku tidak berbohong. Dia memang bukan anakku. Meskipun aku punya anak, itu darimu!" timpal Ardian.
"Kau bohong!" tukas Ghu tetap tak percaya, lalu membalikkan badan dan berjalan cepat ingin menghindari Ardian. Tangannya mengusap air-matanya yang sudah bercucuran. "Pria jahat!" desisnya geram.
Setelah sampai di kamar, Ghumaisha membuka lemari lalu mengeluarkan semua baju yang di belinya dari pangandaran. Koper yang ia simpan di atas lemari diturunkannya, membuka resleting dan memasukan semua bajunya ke sana tak peduli meskipun pakaiannya jadi berantakan.
Ardian berlari menyusul istrinya ke kamar. Kesal juga karena Ghumaisha selalu berpikiran buruk tentang dirinya. Meskipun dia play boy, tak sampai hati mau menduakannya dengan wanita lain.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ardian, melihat Ghumaisha memasukan semua baju ke dalam koper.
"Aku mau pergi," jawab Ghu terdengar serak di telinga.
Spontan matanya melotot. "Kau tak boleh pergi!" Ia merebut koper Ghumaisha. Tak mau kalah, Ghu menarik kopernya kembali.
"Kemarikan koperku, Ardian!"
"Tidak. Sekali lagi aku tekankan, aku tak punya anak. Dia anak jalanan yang akan ku adopsi. Percaya padaku," kata Adrian dan koper masih di tangannya.
"Kau bohong! Kemarikan koperku," Ghu kembali ingin mengambil kopernya. Mulai geram, Ardian melemparnya ke depan pintu. Ghumaisha ingin mengambilnya, namun ditahan Ardian.
"Sudah kubilang, JANGAN PERGI. Kau masih punya telinga, kan?" teriak Ardian tersulut emosi.
Ghumaisha menatap Ardian nanar. "Katakan padaku? Bagaimana caranya agar aku bisa percaya ucapanmu tadi. Sedangkan dengan kedua mataku sendiri, sering melihatmu bersama wanita-wanita. Lagian, meskipun aku pergi itu malah lebih baik untukmu. Setidaknya kau tidak akan merasa terkekang dengan pernikahan konyol ini." Ghu terisak-isak, sakit hati terus diperlakukan buruk suaminya dari awal pernikahan sampai sekarang.
"Haruskah aku melakukan tes DNA agar kau percaya? Aku tak pernah tidur dengan wanita manapun. Meskipun aku play boy dan sering memainkan wanita. Sungguh, Gajah Eropa, aku masih punya otak agar tak melakukan itu. Untuk apa melakukannya dengan wanita lain, sedangkan di rumah aku punya dirimu," jelas Ardian panjang lebar, mencoba membuat istrinya mengerti.
Tangis Ghumaisha langsung terhenti. Kata terakhir Ardian membuatnya bungkam seketika.
"Dia bukan anakmu?" tanya Ghu pelan.
Ardian menganggukkan kepalanya. "Bukan. Dengar Gajah Eropa, jangan anggap pernikahan ini konyol. Aku memang play boy, tapi istri ku tetap satu. Meskipun kau menderita, menangis, dan memohon-mohon berpisah. Aku tak akan pernah menceraikan istriku, siapapun itu. Tak peduli meskipun itu wanita yang ku benci. Paham."
Ghumaisha menelan ludah, detik berikutnya menganggukkan kepalanya patuh. Mencoba mempercayai Ardian.
__ADS_1
"Sekarang ... kau keluar dan tanyakan semuanya kepada anak itu." Suruh Ardian.
***
Di ruang makan, Jalal menundukkan kepalanya. Takut melihat pertengkaran Ghumaisha dan Ardian. Orang tuanya di rumahnya pun sama halnya dengan mereka. Bertengkar karena masalah sepele dan berakhir dengan pukulan. Terkadang ia sering kena imbas pukulan ayahnya, melampiaskan kekesalannya yang tertahan pada sang ibu.
"Jadi ... Ardian bukan ayahmu?" tanya Ghumaisha hati-hati, setelah tadi mencoba berdamai dengan hatinya sendiri. Hingga memutuskan berbicara langsung kepada Jalal.
Jalal menggelengkan kepala, membuat hati Ghumaisha mencelos seketika. Merasa bersalah sudah menuduh Ardian. Sedangkan Ardian masih menampangkan raut kesal.
"Kau dengar, kan? Aku bukan ayahnya. Lain kali jangan suka menuduh orang sembarangan. Untung aku tak melaporkanmu ke polisi, atas tuduhan pencemaran nama baik." Semprot Ardian jengkel.
Ghu merengut, tak menjawab karena ia memang bersalah. Lalu kembali melihat Jalal. "Siapa namamu?" senyum mengembang di bibir Ghumaisha, ingin bersikap menyenangkan kepada Jalal. Sebagai tanda bersalahnya tadi.
"Kakak, akan marah padaku?" balik tanya Jalal sedikit takut.
"Tentu saja tidak, kecuali bila kamu melakukan kesalahan yang akan melukai dirimu sendiri." Ghu tersenyum, menoel hidung mancung Jalal.
"Paling di makan." Ardian menyahut sambil meminum coffe yang dibuatnya tadi. Ghumaisha melayangkan tatapan tajam dan Ardian tak peduli.
"Kau percaya, kalau aku akan memakanmu?" kata Ghu, menunjukkan giginya yang tak bertaring panjang.
Jalal menggeleng, "Kakak tak punya taring."
Akhirnya mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Bibir ardian tersungging tipis, bahkan hampir tak terlihat. Merasa bahagia melihat kebahagian kedua orang itu. Mimpinya dari dulu, mempunyai keluarga lengkap, bermain dan bercanda dengan anak dan istrinya. Sayang ... mimpi hanya bunga tidur saja. Semua itu tak bisa menjadi kenyataan, karena wanita yang ia cintai memilih pria lain.
"Mau Kakak tunjukkan kamarmu?"
Jalal mengaguk semangat, tas ia ambil dari lantai lalu menggendongnya. Ghu melirik Ardian dongkol, terkadang suaminya agak kejam, bukannya langsung di tunjukkan kamar malah disimpan di dapur. Dia pikir Jalal anak kucing.
Merasa diperhatikan, Ardian mendongak. "Apa?" tanyanya tanpa dosa.
Mata Ghu mendelik. Kembali melihat Jalal yang menunggunya.
"Jalal ... ayo! Kakak tunjukkan kamarnya," ajak Ghumaisha, mengacuhkan keberadaan suaminya di sana.
"Ya, Kak!" timpalnya semangat.
Ghu menarik tangan Jalal lalu membawanya ke dalam kamar. Ia membantu membereskan barang-barangnya dan memasukkan semua pakaian Jalal ke dalam lemari. Jalal hanya duduk di sisi ranjang, melihat Ghu sibuk membereskan pakaianyannya.
***
__ADS_1
Tok tok tok tok
Suara ketuk pintu terdengar, Ardian menyimpan gelasnya di meja. Beranjak dari kursi kemudian berjalan ke arah pintu. Berpikir kalau yang datang adalah cleaning servis. Tangannya memegang knop pintu lalu menariknya ke dalam, di depannya berdiri seorang pria berjas hitam sedang membawa dua keresek putih, di sebelahnya ada wanita cantik berkhimar syar'i tengah menatapnya dalam, seakan mencoba memberikan kode.
Blammmm
DUG!
"Aww." Ali meringis, mengusap-usap keningnya yang kejedot daun pintu. "Ardian! Keluar kau sekarang?" perintah Ali, kesal setengah mati.
Tasya melirik tunangannya, "kau tak papa? Apa keningmu sakit?" tanyanya berturut-turut, seakan-akan Ali bisa mati hanya karena kejedot pintu.
Tasya ingin menyentuh kening Ali sebelum pria itu menghindar. "Jangan mencoba menyentuhku. Ingat, kita harus jaga jarak di sini, aku tak mau ada syaitan di antara kita." Peringatnya dingin.
"B-baiklah. Aku hanya cemas padamu ... " ucap Tasya pelan, menundukkan kepalanya sedih.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak ikut. Tak pantas seorang wanita ada diantara dua orang lelaki, walau kita bersahabat dari kecil. Tetap saja, kalau sudah dewasa __ "
"M-mafkan aku, Ali ... " Ali menghembuskan napasnya berat, kalau Tasya sudah meminta maaf ia tak bisa bicara lagi. Tangannya terangkat, kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar hotel Ardian.
.
.
.
"Ghumaisha! Kau harus sembunyi sekarang!" perintah Ardian ketika sudah berada di dalam kamar Jalal.
Ghumaisha menghetikkan ceritanya, lalu menoleh ke arah sumber suara. Di sana Ardian tampak terengah-engah seperti habis berlari. "Buat apa?" tanyanya heran. "Owh iya, jangan bicara keras-keras, Jalal sudah tidur." Peringatnya turun dari ranjang mendekati Ardian.
"Kau harus sembunyi sekarang, dimanapun asal tak ada orang yang bisa menemukanmu." Ardian panik membawa Ghu kesana-kemari mencari tempat sembunyi yang pas menutupi seluruh tubuh Ghumaisha.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Ghu, terus di tarik-tarik Ardian.
"Sudah diam saja. Kau harus disembunyikan dulu. Astaga! Kenapa tak ada tempat yang muat untukmu?" gusar Ardian, di kolong ranjang, lemari, semuanya tak ada yang pas untuk menyembunyikan tubuh Ghu. Hingga akhirnya, "masuk ke toilet," perintahnya mendorong tubuh Ghu ke dalam sana.
"Kenapa toilet?" Ghumaisha menahan tangannya di ambang pintu, ogah kalau harus di kurung di dalam sana.
"Masuk saja!" Ardian mendorong tubuh Ghu dan BLAMM pintu kamar mandi di tutup dan dikunci. "Jangan bersuara sampai dua jam ke depan," peringatnya sebelum pergi ke luar kamar.
Bersambung ...
Jangan lupa like dan komentannya kawan 👍😄
__ADS_1
Kritik dan saran ditunggu 😉