
***
Mata Ghu berbinar-binar, merasa diperhatikan. "Benarkah?" serunya semangat. Langsung meneguknya sampai habis.
Tasya mengulum senyum.
***
"Bagaimana enak?" tanya Tasya sambil mengambil gelas dari tangan Ghumaisha lalu menyimpannya di atas nampan.
Ghumaisha menganggukan kepala. "Enak. Kakak pandai sekali meracik minuman. Apalagi teh ini untuk diet. Kata Kak Ali pas sekolah dulu, kalau mau langsing harus belajar dari Kak Tasya," ucapnya riang.
"Tentu saja, itu sebabnya Ali menerimaku jadi calon istri. Selain cantik, aku ini pandai memasak." Bangganya. Sedangkan Ghumaisha mengacungkan dua jempol sebagai penghargaan.
Sudah tak diragukan lagi kemampuan Tasya dalam meracik minuman teh. Dari dulu bila ada perlombaan memasak, maka wanita cantik bermata bening itu akan maju paling depan dan syukurnya selalu pulang membawa kemenangan. Jadi tak salah, wajahnya tak asing di layar televisi.
Namun setelah bertunangan dengan Ali lima tahun lalu, Tasya tidak pernah lagi mengikuti lomba-lomba. Hanya sesekali saja wajahnya terpampang di majalah depan muslimah, sebagai model dan motivasi muslimah untuk hijrah. Banyak orang yang ingin tahu siapa yang sudah memotret Tasya. Karena setiap jepretannya benar-benar menakjubkan.
"Sebaiknya kita berbincang-bincang dulu. Bagaimana?" ajak Tasya semangat.
Ghumaisha tersenyum, "baiklah." Setujunya. Walau sebenarnya ingin segera pergi dari apartemen, ingat pesan Ardian tadi kalau pergi jangan terlalu lama.
***
Mereka duduk diruang tamu, Tasya juga membawa beberapa toples dari dapur. Kebanyakan makanan coklat, hanya senyuman yang dapat di berikan. Ingin hati mencomot beberapa cemilan disana, mengingat sedang masa diet Ghumaisha urungkan niat baiknya.
Sungguh, terkadang diet sangatlah menyiksa, segala sesuatu harus di atur hanya untuk mendapatkan badan ideal. Naik satu kilo, serasa menjadi musibah.
Menyadari tatapan Ghumaisha berpusat pada toples, sengaja Tasya membuka tutupnya. Mengambilkan beberapa lalu menyodorkannya kepada Ghumaisha. Jelas sekali, dia ingin wanita itu memakannya walau sebenarnya tahu Ghumaisha tak akan bisa.
"Makanlah kalau mau. Jangan malu-malu," kata Tasya. Senyum tak pernah luput dari bibirnya membuat wajah ramahnya seperti malaikat dunia tak bersayap. Cantik.
Ghumaisha menggeleng, menolak halus tawaran Tasya. Bukannya tadi dia memberikannya teh, berarti dia tahu kalau ia sedang diet. Terus kenapa sekarang memberikannya coklat.
"Aku sedang diet, Kak Tasya. Badanku sudah lebar tak ingin bertambah besar lagi," jawabnya lesuh.
Tasya menepuk dahi, memberikan ekspresi seolah-olah lupa. "Aku tak ingat kalau kau sedang menurunkan berat badan. Astagfirullah! Aku jadi pelupa akhir-akhir ini. Kamu tahu Ghumaisha? kemarin saja aku hampir melupakan makan malam bersama Ali. Pantas dia menelepon beberapa kali ke ponselku mengingatkan makan malam kami di resto," ia terkekeh, mengatakan kebohongan hanya agar memperlihatkan kalau ia lebih dipentingkan Ali dibandingkan Ghumaisha.
Seperti biasa, Ghumaisha menimpalinya senang. Tak merasa kalau Tasya sedang berbohong.
"Benarkah? Aku senang mendengar kalian berdua semakin dekat. Biasanya Kak Ali tak akan mau makan malam berdua dengan wanita yang belum sah menjadi istrinya. Denganku saja Kak Ali tak mau." Jujur Ghumaisha, dan jawaban itu terdengar menyenangkan ditelinga Tasya. Berarti bukan dia saja yang ditolak makan berdua.
"Benarkah? Ah iya, Ali juga pernah bilang padaku. Tak mau makan denganmu takut semua makanan dihabiskan. Lucu kan?" tasya tertawa tak peduli senyum cerah Ghumaisha sudah tergantikan dengan senyuman tipis.
"Lucu sekali ... " suara Ghumaisha memelam, menelan sakit akibat perkataan Tasya tadi. Apa Ali bisa berkata seperti itu? Ia meragukan ucapan Tasya tadi.
****
Ditempat lain Ardian sedang ada di perjalanan. Mengemudikan mobilnya dengan tenang. Mobil hitam yang ia gunakan cukup menarik perhatian beberapa orang, apalagi kaca mobil sengaja diturunkan agar para gadis tahu siapa pemilik mobil mewah ini. Sesekali dia melambaikan tangan tatkala ada turis cantik yang memberikan tiup ciuman memabukkan dari jarak jauh.
"Aku suka bule. Kimberly! Ti amo, piccola." Itu yang diucapkan Ardian untuk para bule.
__ADS_1
Kulit putih dan tubuh langsing benar-benar menyegarkan mata. Sampai ia lupa tujuan utamanya keluar untuk mencari Ghumaisha yang belum kembali setelah dua jam pergi dari hotel.
Dari jarak jauh tak sengaja Ardian melihat seorang pria sedang menenangkan ibu-ibu yang tengah memarahi anaknya. Keningnya mengeryit, laju mobilnya diperlambat, matanya pun sudah memicing ingin melihat lebih jelas pria bertubuh tegap disana.
"Ali ... " gumam Ardian.
Tangannya memegang erat setir mobil. Ingat betul, saat dia memperlakukannya dengan buruk di butik Jeny. Bila tak tahu malu, mungkin sudah ia hajar habis-habisan.
"Bu! Anda tak bisa meninggalkannya seperti ini!" Ali mengejar ibu-ibu yang mencoba kabur.
"Kau urus saja anak haram itu! Tak Sudi aku merawatnya, lebih baik aku mati. Dia aib bagi kami!"
"Tapi dia anakmu!" bentak Ali tersulut emosi, tangannya sudah mencekal pergelangan tangannya.
Takut ketahuan, ibu tadi menggigit tangan Ali. "Argh!" Spontan Ali melepaskan cengkraman tangannya. Sedangkan ibu itu sudah berlari kabur.
Ali mendesah pasrah, merasa getir dengan tindakkan yang dilakukan ibu-ibu tadi. Tak ada rasa penyesalan disana, hanya ada kemarahan dan kata-kata menyakitkan untuk anak yang dia sebut anak haram. Orang tua bersalah, kenapa anak jadi korban? Benar-benar tak manusiawi.
Anak bernama Jalal hanya bisa menangis, sambil memeluk tas ranselnya yang berwarna hitam. Tatapannya menatap sedih ibunya yang sudah pergi dan tak terlihat lagi. Dikejar pun percuma, hanya dorongan dari sang ibunda yang didapatkannya.
"Ya sudah ... kamu ikut paman saja yah?" ajak Ali mensejajarkan tubuhnya dengan Jalal. Kedua tangannya memegang pundaknya, mencoba menabahkan anak berlesung pipi itu.
Jalal menggeleng, " huaaaa ... Mamahhhh ... Hiks mamah ... hiks" Tangisya semakin menjadi-jadi, membuat Ali bingung harus melakukan apa.
Apa yang harus kulakukan? Batinnya gusar.
"Waduh ... jangan nangis dong dek. Nanti ada kambing nubruk loh," kata Ali mencoba menakuti-nakuti. Sejak kecil bila menangis ibunya akan menakutinya, jadi tak salah juga jika mencobanya sekarang. Siapa tahu mempan.
"Huaaaaaaaa ... Jalal nggak mau ditubruk kambing ... Huaaa ... "
Ali kelimpungan. "Gimana kalau kita belanja saja? Akan paman belikan apapun yang kamu mau,"
Jalal menggeleng-gelengkan kepala, malah duduk di trotoar.
"Kamu mau es krim?" tawarnya, namun tetap ditolaknya. Tak mau menyerah Ali terus merayunya dengan menawarkan beberapa macam benda dan makanan.
Ardian yang sudah keluar dari mobil, dengan santainya mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dalam hati meremehkan Ali, menenangkan anak kecil saja tak bisa. Bagaimana mau membahagiakan Tasya nanti?
Kakinya melangkah mendekati Ali yang masih berusaha menenangkan anak berambut model jamur.
"Heh, bocah! Kau mau ini," Ardian menyodorkan uang kepada Jalal.
Ali menoleh, melihat Ardian sudah berdiri di sisinya. Wajah Ali sudah menggambarkan raut tak suka, dengan menampangkan ekspresi dingin. Perkataan Ardian tempo lalu, menyebut Ghumaisha sebagai pacarnya benar-benar membuat Ali tak bisa tidur tenang siang dan malam.
"Apa yang kau lakukan?" Ali ingin mengambil uang Ardian, namun ditepis pria itu.
"Mau uang YA kerja. Kau pikir aku memberikannya untukmu? Seenak jidat mau mengambil uangku!" semprot Ardian jengkel, dibalas gelengan kepala dari Ali.
Tangis Jalal terhenti, bagai ada tarikan magnet tangannya mengambil uang berjumlah tiga ratus ribu dari tangan Ardian. Ali kebingungan, kenapa diambil?
Ardian menyeringai menang. "Mendiamkan anak saja kau tak bisa. Modal apa mau menikahi Tasya nanti?" sindirnya, meremehkan Ali.
__ADS_1
"Bermodal ilmu agama." Jawaban cepat dan terdengar ketus ditelinga.
"Woh, sepertinya kau marah karena aku dan Ghumaisha pacaran. Iya, kan?" ejek Ardian.
Ali terdiam tak membatah perkataan Ardian tadi. Dia mengusap puncak kepala Jalal yang sudah tak menangis lagi. "Kalau mau uang kenapa tidak bilang? Kakak bisa berikan," kata Ali kepada Jalal yang sedang memasukan uang kedalam tas.
"Mamah senang Jalal dapat uang. Mamah akan kembali lagi kalau Jalal kasih uang." Anak itu tersenyum cerah, sedangkan Ali tersentak sudah paham maksud perkataan Jalal. Semuanya karena uang.
"Dia dari keluarga miskin, dikasih uang pasti diam. Kau yang keseringan di mesir mana bisa tahu," ucapan Ardian benar-benar mengenainya sekarang.
Ali tersenyum kecut. "Kalau kau berpikir demikian, kau urus anak ini dengan uang yang kau punya. Kau kaya, kan? Mengurus Jalal tak akan menjadi beban." Titah Ali, dengan tatapan remeh.
"Kau meremehkan ku?" timpal Ardian kesal.
Ali mengangkat kedua bahu." Pikirkan sendiri."
Tak mau direndahkan, Ardian menarik Jalal. "Aku akan merawatnya, dan ini tak jadi masalah untukku. Akan ku buktikan! Kalau aku tak akan jatuh miskin hanya mengurus satu anak." Tekadnya ingin merawat Jalal, meskipun tak punya pengalaman merawat anak kecil.
Ali tersenyum, sudah tahu betul setinggi apa gengsi Ardian.
"Benarkah? Silahkan. Kau juga bukan anak Oma, hingga memerlukan bantuan mereka. Ku dengar kau bekerja diperusahaan paman, menyamarkan nama dengan Ian." Paparnya.
Ardian terkejut. Lalu berkata, "dimana kau tahu?!" tanyanya, tidak ada yang tahu nama samarannya kecuali, "Adonia! Dia yang memberitahumu?"
Ali mengambil napas. "Bekerja dan menyamarkan diri hanya untuk memotret Tasya benar-benar tindakkan pengecut. Sama saja kau mengaku kalah dan memilih melepaskan." Tandasnya membuat Ardian tak bisa menjawab lagi.
Ini alasan utama kenapa Ardian takut berhadapan dengan Ali. Tak ada yang bisa membatah ucapannya selain Ghumaisha saja. Alasan lain kenapa ia menikahi wanita bertumbuh gempal, salah satunya memanfaatkan kelemahan Ali pada Ghumaisha.
***
Setelah Ghumaisha pulang Tasya menyimpan botol berisi cairan ke dalam lemari. Senyumnya terlukis getir, saat mengingat tadi dia memasukan sesuatu di teh Ghumaisha.
"Tinggal menunggu dua jam lagi dan kau akan terus merasa kelaparan. Kau tak akan pernah bisa kurus Ghumaisha. Penyakitan bisa jadi, kemungkinan Ardian akan semakin ilfil padamu. Maaf, tapi aku harus melakukan ini semua. "
Tasya membuka lemari kaca mengambil Al-Qur'an pemberian Ali. "Maafkan aku adik, bukan Kakak kejam. Hanya saja aku tak ingin Ali terpesona padamu. Kau tak boleh melebihi diriku, karena aku tak suka tersaingi terutama olehmu Ghumaisha ... "
***
Ghumaisha memasuki rumahnya dengan lemas, perutnya keroncongan dari tadi. Makanan-makanan sudah berputar-putar di benak kepalanya. Tak biasanya ia seperti ini.
Kulkas sudah menjadi tujuan utamanya sekarang. Bahkan ia sampai tak sadar ada anak berusia empat tahun sedang duduk di meja makan. Merasa takut, Jalal menangis. Sontak itu membuat Ghumaisha terkejut.
Ghu memegang dadanya yang berdebar-debar. Astagfirullah! Anak manusia apa tuyul? Kenapa ada bocah berambut model jamur di dapurnya? Atau jangan-jangan dia mahluk jadi-jadian. Semua prasangka sudah bersusulan, menerka-nerka siapa anak kecil itu? Tangis Jalal semakin keras karena Ghumaisha terus menatapnya dengan tatapan horor.
Ardian yang berada di dalam kamar sampai keluar, berlari menghampiri Jalal di ruang makan. Baru saja ditinggal sebentar anak itu sudah membuat ulah. Langkahnya terhenti, ketika melihat Ghumaisha masih berdiri di tempat, menatapnya dengan wajah bertanya-tanya.
"Anak siapa itu, Ardian?!" tanya Ghumaisha sambil menunjuk ke arah jalal dengan wajah panik. Khawatir Ardian mempunyai anak simpanan.
Bersambung ...
Maaf yah jarang post, maklum lagi banyak urusan he he
__ADS_1
Yasudah, jangan lupa like dan komentarnya yah kawan 😁 kritik dan sarannya ditunggu 😍