Istriku Ternyata Ketua Mafia

Istriku Ternyata Ketua Mafia
Pesta


__ADS_3

Sekarang, waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba, dimana saat ini Inah tengah bersiap-siap pergi menuju ke tempat pesta tersebut.


"Sekarang waktunya aku membereskan misi ini dan segera menumpas semua kejahatan Bowo," batin Inah sembari mengoleskan lipstik ke bibir mungilnya.


Setelah semua sudah dirasa sempurna penampilannya, sekarang Inah melangkah keluar dari kamarnya.


Langkah kaki Inah yang terlihat santai, terdengar jelas di telinga Kenan, apa lagi alas lantai yang digunakan memang menimbulkan bunyi yang dapat didengar oleh beberapa orang yang memiliki pendengaran baik.


"Sayang, ini beneran kamu," ucap Kenan dengan mulut yang melongo, sebab dirinya terpesona dengan penampilan cantik dan elegan sang istri.


Mulai dari bawah sampai atasan sang istri yang Kenan lihat, memang tidak ada kecacatan satupun, yang ada semuanya sangat mulus, semulus jalan tol.


Terpesona, jelas Kenan terpesona melihatnya, sampai-sampai dirinya masih tetap stay melongo, hingga tiba-tiba tanpa sadar, Inah menepuk bahunya yang membuat semua lamunannya buyar seketika.


"Mas, sekarang kita jadi enggak sih perginya, soalnya dari tadi kamu dipanggil hanya diam terus," protes Inah yang sekarang merubah raut wajahnya menjadi sinis, hingga buru-buru Kenan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya sayang, sekarang kita akan ke pestanya kok, maafkan Mas ya, soalnya mas terpesona melihat cantiknya kamu, apa lagi sekarang Mas merasa harus waspada ke setiap pria hidung belang, karena takut nantinya mereka akan menggoda kamu," terang Kenan yang hanya dibalas anggukan malas oleh Inah.


Setelah bincang-bincang kecil tersebut, Kenan dan Inah langsung masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi menuju ke lokasi pesta.


Selama diperjalanan, Inah sedari duduk di mobil hanya diam saja, walaupun sudah berulang kali Kenan memancing pembicaraan, namun tetap masih tidak membuat mulut Inah terbuka sedikitpun untuk sekedar membalas perkataan Kenan.


"Sayang, kamu kenapa sedari tadi diam saja, apa kamu lagi sesak berak ya?" tanya Kenan dengan nada nyeleneh.


"Tidak, aku hanya sedang menyimpan tenaga saja, jadi aku tidak mau banyak berbincang-bincang denganmu Mas," balas Inah yang membuat Kenan terbungkam, sebab baru kali ini usahanya terlihat begitu tidak dihargai, apa lagi ini kali pertamanya ia membuka perbincangan kecil kepada istrinya.

__ADS_1


Kenan ingat, jika dulu sang istri yang mencari-cari bahan pembicaraan, pasti dirinya hanya diam saja, persis seperti sekarang yang dilakukan istrinya. Memang kedepannya kita tidak ada yang tahu nasib seseorang, seperti sekarang ini yang terlihat terbalik antara perubahan Kenan dan juga Inah.


Hampir memakan waktu kurang lebih satu jam, akhirnya Kenan dan Inah telah sampai ditujuan, ya mereka telah sampai di lokasi pesta yang diadakan oleh Bowo, calon rekan kerja Kenan sang pemilik perusahaan Wana grub.


Baru beberapa langkah kaki mereka pijakan di tempat itu, terlihat sudah beberapa pasang mata yang menatap ke arah keduanya. Terutama ke arah Inah yang sedari awal sudah diprediksi oleh Kenan kalau para pria hidung belang pasti langsung menatap ke arah istrinya.


"Sayang, kamu dekat-dekat sama Mas ya, lihat tuh mata-mata mereka soalnya minta dicolok karena sedari tadi terus melihat ke arah kamu sayang," imbuh Kenan dan dengan segera merapatkan tubuhnya dengan sang istri.


Sikap posesif Kenan yang seperti ini, sebenarnya sangat memuakkan bagi Inah, apa lagi suaminya terlalu lebay dan terlalu heboh sendiri di pesta tersebut.


Untuk mencoba marah pun, Inah tidak bisa sebab kalau dirinya sudah marah, maka tidak akan bisa lagi mengontrol kondisinya dan menyebabkan misinya kali ini akan gagal.


Sehingga jadilah seperti sekarang, yaitu berjalan saling merapatkan badan, persis seperti kembar siam.


"Iya Pak, saya baru datang, ya maaf ya Pak saya telat lima menit."


"Tidak apa-apa Pak, oh iya itu yang disebelah Bapak siapa ya, sepertinya perempuan yang disebelah Bapak sangat berbeda dengan yang terakhir kali kita bertemu pak?" tanya Bowo.


"Oh anu, ini istri saya Pak, namanya Inah dan yang kemarin itu hanya bawahan saya saja," balas Kenan dengan cepat mengklarifikasi, karena takut istrinya yaitu Inah akan marah kepadanya, sebab dulu dirinya pernah membawa Jesika pergi kemanapun.


"Oh bawahan Pak, ya sudah silakan masuk Pak, sembari kita berbincang-bincang kecil mengenai kerja sama perusahaan kita," imbuh Bowo dan mempersilakan Kenan dan Inah untuk masuk ke dalam privat room, tempat khusus Bowo menyambut rekan kerjanya.


Setelah dipersilakan masuk, kemudian Bowo bergegas memanggil beberapa pelayannya yang tampak seperti wanita malam untuk mengambilkan beberapa minuman dan makanan untuk Kenan dan Inah.


"Ck, kura-kura ninja satu ini ternyata cabul juga ya," seru Inah pelan, namun masih terdengar ditelinga Kenan dan Bowo.

__ADS_1


"Siapa yang cabul sayang?" tanya Kenan.


"Ini, ada satu kura-kura ninja buncit di ponsel milikku yang tertangkap karena mencabuli beberapa wanita, ck menjijikkan sekali pokoknya Mas," imbuh Inah yang sebenarnya kalimat tersebut ditujukan kepada Bowo.


Untuk menutupi sedikit rasa keterkejutannya, Bowo pun ikut menimpali perkataan Inah.


"Duh, zaman sekarang memang bahaya sekali ya, semoga kita terhindar dari hal maksiat."


"Iya Pak Bowo, semoga kita bisa menghindarinya," timpal Kenan dan kembali melanjutkan diskusi kerja samanya.


Sementara Inah yang mendengarkan perkataan Bowo, hanya menatap rendah saja sembari menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.


Hampir, dua jam mereka duduk di privat room tersebut, akhirnya beberapa makanan dan minuman tiba dan wanita-wanita yang membawa makanan dan minuman tersebut pun langsung meletakkan di atas meja mereka dan tak lupa memberikan kedipan genit ke arah Bowo dan juga Kenan yang membuat Inah semakin jengah melihatnya.


"Oh iya Pak Bowo, memangnya kualifikasi menjadi pelayan di sini bagaimana ya Pak, apakah harus menjadi ****** seperti mereka," celetuk Inah dengan menunjuk beberapa wanita tadi yang membawa makanan dan minuman untuk mereka.


"Eh, tentu saja tidak Bu, malah saya menyuruh mereka harus mengenakkan pakaian yang sopan," kilah Bowo yang sudah berkeringat dingin, sebab reputasinya di sini sangat dipertaruhkan, apa lagi mengingat kerja sama antara dirinya dan Kenan belum mencapai kesepakatan.


"Oh begitu Pak, soalnya saya lihat wanita-wanita ini selain pakaiannya yang minim, otaknya juga ikut minim karena sudah tahu pria yang ada disebelah ku ini adalah suamiku sendiri, eh malah mereka genit, sepertinya memang tampak sekali ya mereka kurang belaian," celetuk Inah lagi dengan kalimat-kalimat yang lebih pedas, hingga membuat salah seorang dari wanita itu langsung mendekat ke arah Inah.


"Heh, maksudnya apa ya Anda mengatakan kami seperti itu!" ucap salah seorang pelayan wanita yang tampaknya adalah senior di antara pelayan yang lain.


Mendengar suara bentakan itu, seketika Kenan mencoba berdiri dan hendak memberikan pelajaran kepada pelayan tersebut, begitu juga dengan Bowo yang ikut-ikutan karena sudah ketar ketir, apa lagi nasib kerja samanya masih digantung seperti jemuran.


__ADS_1


__ADS_2