Istriku Ternyata Ketua Mafia

Istriku Ternyata Ketua Mafia
Persidangan


__ADS_3

Keesokan harinya, Kenan menepati janjinya dengan datang tepat waktu ke persidangan tersebut.


"Sayang, ayo Mas sudah siap nih."


"Iya Mas sebentar," balas Inah yang masih berada di kamarnya yang memang sedari tadi belum siap berdandan.


Satu, dua bahkan sampai lima menit Kenan menunggu, akhirnya inah keluar juga dari dalam kamar, dimana Inah telah rapi dengan stelan blazer nya yang tampak pas ditubuh mungilnya.


"Ayo Mas, sekarang kita berangkat ke pengadilannya," ucap Inah dan Kenan hanya bisa mengiyakan saja.


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat pengadilan, tampak dari raut wajah Kenan yang tidak bersemangat.


Apa lagi, usahanya ternyata berakhir dengan sia-sia, sebab sang istri masih kekeh untuk berpisah darinya.


Sesampai di depan gedung pengadilan agama, Inah dan Kenan langsung masuk ke dalam dengan berjalan saling beriringan dan setelahnya masing-masing dari keduanya langsung menempati tempat duduk yang telah disediakan oleh hakim.


"Baik, karena kalian berdua telah berhadir di persidangan perdana kali ini, maka kita langsung saja memulainya." Seru sang hakim dan persidangan pun langsung dimulai.


"Untuk saudara Inah, apakah benar Anda yang menggugat saudari Kenan untuk berpisah?" tanya sang hakim.


"Benar, saya yang menggugat saudari Kenan," jawab Inah dengan santai dan lugas.


"Baiklah, kalau boleh tahu coba Anda ceritakan kenapa Anda bisa mengajukan gugatan perceraian dengan saudari Kenan?" tanya sang hakim kembali dan langsung dijawab oleh Inah.


"Baiklah pak hakim, sebelumnya saya dan suami saya tidak pernah ada masalah apapun dan di sini saya mengajukan gugatan kepadanya atas rasa tidak adanya saling kecocokan saja, jadi dari pada dibiarkan begitu saja hubungan ini, lebih baik diakhiri dengan cara baik-baik," jelas Inah yang membuat sang hakim langsung menganggukkan kepalanya pertanda mengerti apa yang telah diungkapkan oleh Inah.


Setelah hakim selesai bertanya kepada Inah, kemudian hakim tersebut bertanya kepada Kenan dengan pertanyaan yang sama.


Sehingga membuat Kenan hanya bisa menganggukkan kepala saja pertanda iya.

__ADS_1


"Karena kalian berdua telah memberikan pernyataan masing-masing, maka sidang selanjutnya akan dilanjutkan pada Minggu depan, jadi saya harap keduanya dapat berhadir kembali karena agenda berikutnya adalah mediasi," ucap sang hakim dan setelahnya langsung mengetukkan palunya sebanyak tiga kali.


Setelah sidang pertama selesai, Inah langsung berpamitan kepada Kenan untuk pergi dari rumah yang selama seminggu ini telah menyisakan kenangan manis bersama dengan Kenan.


"Maaf ya Mas, aku tidak bisa melanjutkan hubungan pernikahan kita lagi, semoga kedepannya Mas bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi, yang dapat Mas cintai dengan sepenuh hati, kalau begitu Inah pamit pergi ya," kata Inah dan segera pergi dengan membawa kopernya.


Sementara Kenan yang mendengar perkataan sang istri yang berpamitan kepadanya, hanya bisa tersenyum simpul saja, sebab dirinya masih belum bisa menerima perpisahan ini.


Tangisan kesedihan pun sudah tak terelakkan lagi bagi Kenan, karena sekarang dunianya tampak runtuh saat berpisah dengan Inah.


"Inah, kenapa kamu tidak mau memberikan aku satu kesempatan saja, aku janji pasti akan memanfaatkan kesempatan itu!" teriak Kenan dengan histeris seraya menampilkan wajah keterpurukkannya.


Sedangkan untuk Inah sendiri, saat ini juga mengalami hal yang serupa dengan Kenan, hanya saja bedanya Inah pandai menutupi perasaannya yang tampak terluka itu.


"Queen, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Reyhan yang tadi menjemput Inah di kediaman Kenan.


Reyhan yang hapal dengan tingkah laku Queen nya, hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, sebab Queen nya satu ini sangat pandai menutupi luka hatinya.


"Walaupun kamu tersenyum, tapi aku tahu kamu sedang menutupi luka hatimu Queen," batin Reyhan dalam hati.


Setelah persidangan itu, baik Kenan ataupun Inah tidak pernah saling bertemu kembali. Bahkan, dari pantauan anak buah Inah, kalau sekarang rumah Kenan yang dulu ia tempati terlihat begitu sepi bahkan sepertinya sekarang sudah tidak berpenghuni lagi.


"Queen, sepertinya rumah yang Queen tempati dulu terlihat tak berpenghuni lagi, karena dari hasil pemantauan kami, tak seorang pun berada di rumah itu," ucap anak buah Inah.


"Baiklah terima kasih atas kerja keras kalian, kalau begitu kalian bisa kembali ke tempat," balas Inah dan segera bawahannya meninggalkan Inah sendiri di ruangannya.


"Mas, entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak, setelah tahu kalau rumah yang kita tempati dulu kini telah kosong," batin Inah dalam hati karena tiba-tiba saja merasa khawatir dengan kondisi Kenan yang saat ini tidak pernah ia temui.


Merasa bahwa perasaannya semakin tidak enak, Inah langsung bergegas pergi menuju ke rumah Kenan.

__ADS_1


Dengan melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, akhirnya Inah sampai juga di rumah Kenan.


Saat Inah keluar, memang tampak dari depan rumah Kenan seperti tidak berpenghuni, tapi setelah dilihat lebih seksama, Inah langsung mendapati satu mobil kesayangan suaminya masih bertengger di area parkiran.


"Tidak, pasti ini ada yang janggal," ucap Inah dan dengan secepat kilat Inah langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Kenan.


Setiap sisi ruangan, Inah lihat satu persatu dan sekarang tujuannya adalah kamar yang pernah ia tempati bersama dengan Kenan.


Baru saja Inah masuk ke dalam kamar tersebut, dirinya langsung disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati, dimana di setiap tembok kamar Kenan terdapat fotonya yang dipajang dengan ukuran sangat besar.


"Ternyata, Mas Kenan beneran berubah gara-gara aku," imbuh Inah pelan dan segera masuk ke dalam kamar Kenan.


Baru beberapa langkah Inah masuk ke dalam kamar Kenan, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan kondisi Kenan yang tampak tidak sadarkan diri.


"Mas Kenan, kenapa Mas bisa seperti ini!" teriak Inah dan segera memapah Kenan untuk dibawa menuju ke rumah sakit.


Sekuat tenaga Inah membawa Kenan untuk masuk ke dalam mobilnya dan selepas itu, Inah lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


"Mas, aku mohon bertahanlah," imbuh Inah di sela-sela ia mengendarai mobilnya.


Setelah sesampainya di rumah sakit, Inah kembali memapah Kenan untuk dibawa ke ruang penanganan intensif.


"Dok, tolong segera periksa suami saya!" ucap Inah dengan nada memerintah, sebab dirinya sangatlah khawatir akan kondisi Kenan.


"Baiklah Bu, tapi Anda tunggu di luar dulu ya, biar saya akan periksa keadaan pasien secara menyeluruh," balas sang dokter dan segera mengecek kondisi Kenan dengan dibantu oleh beberapa perawat.


Satu jam, dua jam bahkan tiga jam Inah menunggu, nyatanya dokter tersebut belum keluar dari ruang rawat Kenan, sehingga membuat Inah menjadi tidak sabar dan segera masuk ke dalam ruang penanganan intensif Kenan.


__ADS_1


__ADS_2