
Meninggalkan kekesalan Jessika, maka sekarang kita beralih ke Inah yang sedari tadi membolak-balik berkas yang ia pegang saat ini.
"Duh, bagaimana ya caranya agar aku bisa ikut ke dalam pesta itu, masak iya sih aku minta Kenan untuk mengajakku berangkat bersama, pasti yang ada dia akan mengejek ku lagi," pusing Inah sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu.
Tanpa Inah sadari, kalau suaminya yaitu Kenan telah berada di dalam ruangannya hingga Kenan mendekat ke arahnya.
"Memangnya kenapa, kalau kamu mau ikut boleh saja, asal kamu melakukan pekerjaan sebagaimana pekerjaan seorang istri," ucap Kenan dengan tersenyum manis ke arah Inah.
"Ck, pekerjaan seorang istri, mana ada seperti itu, menjadi istri adalah pilihan hidup bukan untuk pilihan pekerjaan, ingat itu!" balas Inah yang tak suka mendengarkan perkataan Kenan.
Yang benar saja, mana ada pekerjaan menjadi seorang istri, yang ada hanyalah tugas menjadi istri yang berbakti kepada suami, bukan untuk dijadikan sebagai bahan pekerjaan.
Kenan yang menyadari kalau memang benar ucapannya sangatlah salah, buru-buru mendekat ke arah Inah dan mencoba meminta maaf kepada istrinya yang saat ini sikapnya telah berubah kepadanya.
"Maaf ya, Mas hanya tidak sengaja saja, sebab kamu sudah melalaikan tugas menjadi seorang istri, jadi ya gitu" terputus ucapannya.
"Gitu apa Mas, yang melalaikan tugas, aku apa kamu, yang melalaikan kewajiban itu kamu, karena kamu telah lalai menjadi seorang suami, eh bukan lalai sih tapi lebih ke gagal, ingat itu Mas!" tegas Inah dengan perkataan panjang lebar nya yang membuat Kenan tersentak kaget.
Sebab, apa yang dikatakan Inah sangatlah benar, apa lagi dari awal pernikahan sampai saat ini, dirinya memang telah lalai menjadi seorang suami.
"Huh, memang benar apa yang kamu katakan, kalau aku telah lalai bahkan gagal menjadi suami mu, tapi bisakah aku memperbaikinya sekarang, apa bisa Mas melakukannya Inah."
"Dih, sok menyesal dari dulu memangnya kemana kamu, giliran aku berubah baru kamu sok merasa menyesal, tapi lebih baik iyakan saja dulu, setelah selesai misi ku, maka aku campakkan saja dia," batin Inah dalam hati seraya menatap ke arah Kenan.
"Baiklah Mas, kalau kamu memang merasa ingin memperbaiki semuanya, maka silakan saja, tapi kita lihat saja ya kedepannya karena hati setiap orang siapa tahu, termasuk hatiku sendiri, jadi sebaik mungkin kamu harus berubah ya Mas," timpal Inah dengan mencoba tersenyum ke arah Kenan.
Hingga tanpa sadar, Kenan yang mendengar perkataan Inah, langsung mendekat dan memeluk Inah dengan sangat erat, seraya berterima kasih karena telah diberikan kesempatan kedua oleh istrinya sendiri yang memang sedari awal tak pernah Kenan hiraukan.
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang, pokoknya Mas janji akan berubah," sumpah Kenan kepada Inah dan kembali memeluknya dengan sangat erat hingga sang empunya sendiri merasa risih akan perbuatan Kenan.
"Ya, jangan sekedar diucapkan tapi juga lakukan dengan tindakan."
"Tentu saja."
"Hmm, oh iya Mas, bisa lepaskan pelukan kamu ini, soalnya sangat erat sekali, apa lagi aku mulai kesulitan bernapas," pinta Inah yang sebenarnya sangat malas dipeluk oleh Kenan.
"Baiklah sayang, maafkan Mas lagi ya, karena membuat kamu sesak, oh iya apa kamu perlu napas buatan dari Mas?"
"Tidak perlu Mas, aku tidak mau mencium bau jigong kamu dulu," gelak tawa Inah yang bercanda kepada Kenan.
Hingga Kenan juga membalas tawa Inah yang terlihat imut dilihatnya.
Jika didengar lebih dalam lagi, sebenarnya perkataan Inah sangatlah benar, apa lagi dirinya merasa risih kepada Kenan, hingga ucapannya yang tidak mau diberikan napas buatan oleh Kenan, memanglah dari dalam hati.
"Sayang, mulai saat ini aku akan memanggil kamu sayang dan kamu tetap panggil aku dengan sebutan Mas ya."
"Iya Mas," balas Inah dengan singkat yang membuat Kenan merasa kalau istrinya masih sedikit ketus terhadapnya.
"Oh iya, besok kita pergi ke suatu tempat ya, pokoknya kamu tampil yang cantik sayang, eh jangan tampil cantik juga, takutnya nanti malah para pria hidung belang menatap kamu lagi."
"Ck, seperti kamu juga kan Mas pria hidung belangnya?" tanya Inah dengan nada bercanda.
"Mana ada."
"Iyalah itu, kan Mas bukan hidung belang, tapi lebih ke hidung babi, eh maaf cuma bercanda Mas," nyengir Inah dan setelah itu Kenan keluar dari ruangan Inah, sebab Kenan masih harus mengerjakan beberapa dokumennya lagi yang masih menumpuk cantik di atas mejanya.
__ADS_1
Setelah dilihat-lihat, Kenan telah keluar dari ruangannya. Inah lalu bersantai ria dan langsung mengembangkan senyumannya, sebab langkahnya dalam misi ini sangatlah mulus seperti jalan tol yang baru dibangun.
"Nah selesai juga, berarti sebelum keberangkatan ku esok hari, maka aku harus mempersiapkan semua bawaan ku, sebab besok aku harus menyelesaikannya karena aku merasa sudah sangat malas sekali kalau harus berpura-pura baik dihadapan Kenan," ucap Inah dengan nada sungguh-sungguh, karena menurutnya, jika seseorang telah mengecewakannya sangat dalam, maka sangat sulit sekali baginya untuk menerima perubahan orang tersebut.
Apa lagi orang itu adalah kesalahan yang ia pilih sebagai pasangan hidup.
Setelah selesai dari pekerjaannya, Inah buru-buru pulang dari kantor Kenan tanpa sepengetahuan Kenan.
Apa lagi, hari ini Inah kembali masuk ke dalam markas miliknya yang tentu saja tidak boleh ada yang tahu, selain bawahannya sendiri.
"Queen, kenapa kamu ke sini, apa pekerjaan mu telah selesai?" tanya Reyhan.
"Terserah ku Rey, mau aku ke sini juga masalahnya sama kamu apa, tidak ada kan!" balas Inah dengan kesal, sebab kedatangannya seperti tidak diharapkan saja oleh Reyhan bawahannya sekaligus adik angkatnya sendiri.
"Ya maaf bukan itu Queen ku sayang, oh iya Queen bagaimana perkembangan misi Queen untuk menangkap target?" tanya Reyhan kembali seraya mengalihkan pembicaraannya.
"Ya, semua berjalan lancar dan oh hampir aku lupa, kalau kedatangan ku ke sini, mau mengambil beberapa peralatan untukku pergi ke pesta itu," imbuh Inah dan setelahnya langsung bergegas menuju ke ruang bagian senjata.
Inah yang mengambil beberapa senjata andalannya dan juga beberapa alat perekam, kemudian ia masukkan ke dalam tas nya dan setelah itu pergi begitu saja dari markasnya sendiri.
Sehingga membuat Reyhan dan yang lainnya hanya bisa mengerutkan keningnya, melihat kegiatan yang dilakukan oleh Queen nya.
Sementara itu, di sisi lain. Kenan yang baru menyelesaikan pekerjaannya, langsung buru-buru ke ruangan sang istri untuk mengajak pulang bersama.
Tapi, baru sampai di ruangan Istrinya, Kenan sama sekali tidak melihat rupa sang istri dan yang tersisa hanyalah belatung busuk, siapa lagi kalau bukan Jesika yang sedari tadi menatap Kenan dengan tatapan menggoda.
"Duh, bukannya istriku yang berada di ruangan ini, eh malah wanita itu, ck rasanya aku sangat malas sekali menghadapinya," batin Kenan dalam hati.
__ADS_1