
Selesai Inah melihat kamera pengawas itu, dirinya langsung bergegas menuju ke markasnya. Sebab, Inah ingin membuat rencana untuk menjebak Jesika, selingkuhan Kenan.
"Rey, karena dia ingin melihat aku dilenyapkan oleh kalian, maka aku punya siasat bagus agar si belatung mendapatkan ganjarannya," ucap Inah setelah sampai di markasnya.
"Maksud Queen gimana, maaf aku kurang paham Queen."
"Ck, begitu saja tidak paham, maksudku itu adalah aku akan mencoba berpura-pura mati dihadapannya dan nanti kamu dan bawahan yang lainnya berakting kalau kalian telah berhasil menghabisi nyawaku," sambung Inah dan segera Reyhan menganggukkan kepalanya.
"Oh, kalau itu aku paham Queen dan kira-kira kapan kita berakting nya Queen?" tanya Reyhan.
"Sekarang saja Rey, lebih cepat lebih baik untuk memberikan pelajaran ke belatung itu," jawab Inah dan segera mereka mempersiapkan diri untuk menjebak Jesika.
Setelah semua dirasa telah sempurna, kemudian Inah menyuruh Reyhan untuk menelepon Jesika.
Tut.
Tut.
Tut.
"Halo Bu Jes, kami telah berhasil membunuh target dan sekarang target berada di markas kami," kata Reyhan.
Namun, Jesika yang tiba-tiba saja ditelepon seperti itu, merasa tidak percaya. Sebab, baru satu jam rasanya dia menyuruh klan mafia itu, namun bisa secepatnya mereka berhasil menyelesaikannya.
"Tapi maaf, jika memang kalian telah berhasil membunuhnya, apakah kalian memiliki bukti seperti foto atau yang lainnya, sebab rasanya tidak mungkin kalian secepat itu membunuh keduanya," ujar Jesika yang tak percaya dengan perkataan Reyhan.
"Baiklah, kalau anda tidak percaya, saya akan mengirimkan buktinya," sambung Reyhan dan segera mengirimkan foto Inah yang berpura-pura mati.
Hanya dengan sekali klik, foto tersebut telah dikirim ke ponsel milik Jesika, hingga membuat Jesika kaget sekaligus senang, sebab dendamnya kali ini telah terbayar sempurna.
__ADS_1
"Nah, jadi bagaimana, apa masih perlu bukti lagi, kalau perlu saya akan mengirimkan foto laki-lakinya juga," sambung Reyhan kembali.
"Tidak perlu, saya percaya dengan kalian, kalau begitu segera saya kembali ke markas kalian ya," ujar Jesika dan setelahnya mematikan ponselnya.
"Yes, akhirnya kalian berdua tewas juga, jadi tinggal beberapa langkah saja dan setelahnya aku harus memikirkan cara agar harta Kenan menjadi milikku," ucap Jesika dengan tersenyum puas, sebab rencananya telah berhasil.
Merasa tidak sabaran, segera Jesika melajukan mobilnya kembali ke markas tempat dirinya meminta tolong tersebut, sekaligus memberikan uang untuk kompensasi atas kerja keras mereka.
Sementara itu, di markas baik Inah dan Reyhan serta bawahan yang lainnya, tengah menunggu kedatangan Jesika, ya setelah Inah menyuruh Reyhan memberikan kabar kematiannya yang hanya pura-pura itu, mereka lalu duduk santai di ruang tengah, sembari menyiapkan beberapa alat yang nantinya digunakan sebagai hukuman untuk memberikan pelajaran kepada Jesika.
"Queen, semuanya telah selesai dan alat penjepit itu juga masih berfungsi dengan normal," ucap salah seorang anak buahnya.
"Bagus, berarti kita hanya tinggal menunggu umpannya saja," sahut Inah sembari duduk santai di kursi kebesarannya.
Baru beberapa menit mereka menunggu, akhirnya yang dinanti-nanti telah datang juga, dimana saat ini Jesika telah sampai di markas miliknya.
"Sepertinya dia telah sampai, jadi beberapa dari kalian, silakan sambut korban kita!" perintah Inah kepada beberapa anak buahnya.
"Ayo silakan masuk, Anda telah ditunggu oleh bos kami," ucap bawahan Inah dan segera Jesika mengikutinya dari belakang, seraya tersenyum-senyum sendiri membayangkan naasnya kematian Inah dan Kenan.
Setelah masuk ke dalam ruang utama, Jesika kemudian disuruh duduk oleh beberapa orang yang tadi telah menyambutnya.
Merasa tidak sabaran, Jesika langsung menanyakan keberadaan mayat dari Kenan dan juga Inah.
"Oh iya, karena aku sudah ada di sini, dimana mayat mereka berdua?" tanya Jesika dengan nada yang tak sabaran.
"Kalau kamu ingin tahu keberadaan kedua mayat itu, maka sebelumnya kamu harus hormat kepada bos kami," jawab salah seorang bawahan Inah dan dengan terpaksa, akhirnya Jesika menuruti perkataannya dengan cara menghormati bos mereka yang saat ini posisinya tengah membelakanginya.
"Hormat saya Bos, terima kasih karena telah membantu saya." Ucap Jesika sopan.
__ADS_1
Baru beberapa menit Jesika memberikan hormatnya kepada bos mereka, tiba-tiba saja bos mereka memalingkan wajahnya menjadi ke arah Jesika.
Terkejut, ya Jesika terkejut, sebab bos yang ia hormati ternyata adalah Inah, istri dari Kenan sendiri.
Dengan tubuh yang mulai bergetar dan bergeming di tempat, Jesika hanya bisa membuka kedua mulutnya dan diikuti dengan matanya yang dibuka lebar.
"Ini tidak mungkin, ya tidak mungkin istri Kenan adalah bos mereka," ucap Jesika pelan seraya menggelengkan kepalanya.
Dengan sedikit memundurkan langkah kakinya, Jesika langsung melesat melarikan diri dari markas tersebut. Namun naas, semua pergerakannya telah dibaca oleh anak buah Inah, sehingga baru beberapa meter Jesika melangkah, dirinya sudah ditangkap langsung oleh anak buah Inah.
"Belatung oh belatung, kenapa sih buru-buru sekali mau pergi, kan aku belum berbincang-bincang santai denganmu," ucap Inah santai, tapi menampilkan seutas senyuman sinis ke arah Jesika.
Perlahan namun pasti, Inah langsung mendekat ke arah Jesika yang saat ini telah ditahan oleh anak buahnya.
"Oh iya belatung, aku lupa memberikan wejangan kepadamu, kalau ingin memiliki rencana, hendaknya dipersiapkan dengan matang ya, jangan sampai terjebak seperti ini, masak niat mau menghabisi nyawaku tapi malah mendatangi markas ku sendiri, kan bodoh kalau seperti itu," imbuh Inah dan setelahnya tertawa keras begitu saja dihadapan Jesika.
Saat Inah tertawa dengan keras, saat itulah wajah keringat dingin Jesika mulai terlihat, apa lagi Jesika sepertinya tampak menyesali perbuatannya yang amat sangat teledor.
Bagaimana tidak teledor, saat melihat profil markas milik Inah, dirinya tidak langsung melihat seluk beluk dalamnya.
"Sial, kalau aku tahu dia adalah bos nya, pasti aku tidak akan mencari gara-gara kepadanya," batin Jesika dalam hati.
Tak mau berlama-lama mendengarkan tawa keras dari Inah, secepatnya Jesika langsung membuka suaranya.
"Dari pada kamu tertawa seperti itu, lebih baik bunuh saja aku sekarang juga, aku sudah lelah mendengarkan tawa jelek mu itu," kata Jesika dan segera Inah menghentikan tawa kerasnya.
"Ck, membunuhmu kau bilang, tentu saja pasti akan aku lakukan, tapi sebelum aku membunuhmu, tampaknya lebih baik kita bermain-main dulu bukan, karena aku telah menyiapkan beberapa permainan yang menarik untukmu," ungkap Inah, lalu ia menunjukkan beberapa koleksi alat hukuman yang telah ia tata rapi tepat di sisi kiri dan kanannya.
Melihat dengan jelas mainan yang disebutkan oleh Inah, membuat Jesika menggelengkan kepalanya dan langsung berteriak histeris, sebab mainan yang dikatakan oleh Inah adalah mainan psikopat yang pastinya akan sangat menyakitkan untuknya.
__ADS_1