
"Tolong, bunuh saja aku, lebih baik dibunuh sekarang dari pada harus tersiksa dengan benda itu," pinta Jesika dengan nada memohon ke Inah.
Pilu tangisan yang ditampilkan Jesika, tidak membuat Inah merasa kasihan, malah membuatnya menjadi semakin bersemangat lagi untuk menghukum Jesika dengan alat-alat nya.
"Sudahlah, lebih baik diam saja dan simpan tenaga mu untuk merasakan bagaimana pedihnya alat yang akan kamu mainkan ini," balas Inah dan dengan segera Inah menyuruh anak buahnya untuk segera menghukum Jesika.
Sakit, pedih dan perih, sudah pasti dirasakan Jesika. Padahal hukuman yang dilaksanakan untuknya masih lah satu alat, belum alat-alat yang lainnya.
Walaupun Jesika kerap kali memohon kepada Inah untuk segera membunuhnya, tapi tampaknya tetap saja Inah tidak menerima perkataan Jesika.
Malah sekarang tampaknya Inah sangat menikmati setiap jeritan yang keluar dari bibir Jesika, sehingga membuatnya tampak begitu senang, sampai-sampai tanpa sadar Inah mengembangkan senyuman lebarnya.
Hampir satu jam lamanya Inah menghukum Jesika dengan berbagai macam alat hukumnya, sekarang Inah langsung memerintahkan kepada bawahannya untuk menyiramkan beberapa liter alkohol ke atas tubuh Jesika.
"Sekarang, kalian berdua cepat siram belatung ini dengan menggunakan alkohol yang kita miliki!" perintah Inah kepada dua orang anak buahnya.
Sementara Jesika yang sekarang sudah tampak begitu mengenaskan, langsung mengeluarkan sumpah serapah nya yang ia tujukan untuk Inah.
"Wanita sial, lihat saja aku akan membalas semuanya walau nanti kita telah berbeda alam, pokoknya selama kamu hidup, tidak boleh merasakan kebahagiaan sedikit pun!" ucap Jesika dengan jeritan kesakitannya yang membuat emosi Inah langsung mencapai pada batas maksimal.
Apa lagi Inah mendengar sendiri bagaimana Jesika menyumpahinya agar tak memiliki kebahagiaan seumur hidupnya.
"Tutup mulutmu itu belatung, kalau kamu ingin secepatnya pergi dari dunia ini, maka akan aku laksanakan dan dengan ini maka kamu akan pergi untuk selama-lamanya," imbuh Inah dan dengan segera menarik pelatuk dari senjata api yang telah ia beli bersama Kenan.
"Sekarang ucapkan selamat tinggal dan untuk pertama kalinya, aku akan memanggil mu dengan nama Jesika," sambung Inah dan segera menekan pelatuknya.
Dor.
__ADS_1
Dor.
Dor.
Tiga buah timah panas telah Inah luncurkan ke atas tubuh Jesika dan dalam sekejap, nyawa Jesika langsung melayang.
"Sekarang, kalian kuburkan wanita ini dengan layak di tanah kita," kata Jesika dengan memerintahkan anak buahnya kembali.
Setelah semua hukuman Jesika selesai. Inah langsung kembali pulang ke rumahnya.
"Rey, aku pulang dulu ya dan kamu tetap awasi markas kita ini."
"Iya Queen, pasti aku akan selalu mengawasi markas kita," balas Reyhan dan setelahnya Inah langsung berlalu pergi begitu saja dari markasnya.
Sementara itu di kantor, Kenan tak henti-hentinya memikirkan berbagai cara agar dapat meluluhkan hati istrinya.
"Huh, harus cara apa lagi ya aku pakai untuk meluluhkan hati istriku itu, mana waktunya tinggal lima hari lagi, sebelum sidang perceraian kami yang pertama," ucap Kenan seraya memijat keningnya yang tampak pusing.
Ditengah kemelut pusingnya kepala Kenan, tiba-tiba dari arah luar, tampak sekretaris nya yaitu Bayu masuk ke dalam ruangannya karena hendak memberikan beberapa dokumen yang telah ia kerjakan.
"Pak Kenan, ini dokumennya sudah saya kerjakan, mungkin jika Bapak ada waktu senggang bisa periksa dokumen ini," ucap Bayu. Namun tak ada balasan dari bos nya hingga membuatnya kembali membuka suara.
"Pak, halo Pak Kenan, ini dokumennya saya letakkan di meja Bapak ya!" sambung Bayu kembali dengan mengulang perkataannya dan segera Kenan langsung tersadar jika di ruangannya saat ini ada sekretaris nya.
"Eh kamu Bayu, kenapa kamu mengagetkan saya."
"Hah mengagetkan Bapak, tapi maaf Pak sebelumnya, saya sudah berulang kali memanggil Bapak, tapi tak ada tanggapan dari Bapak, jadi ya saya memanggil Bapak sedikit keras," jelas Bayu kepada Kenan.
__ADS_1
Saat Bayu melihat lebih jauh lagi, sepertinya bosnya sedang merasa galau, karena sangat tampak terlihat dari wajahnya.
"Anu Pak, sebelumnya maaf saya lancang tapi kalau saya lihat-lihat Bapak sedang galau ya?" tanya Bayu.
"Hah, maksudmu saya galau."
"Iya Pak benar, karena sangat terlihat sekali dari wajah Bapak," balas Bayu yang membuat Kenan langsung terdiam seraya menganggukkan kepalanya pertanda iya.
"Benar, aku sedang galau Bayu, apa lagi ini masalah tentang wanita, oh iya kira-kira kamu tahu enggak bagaimana caranya meluluhkan hati wanita?" tanya Kenan.
"Meluluhkan hati wanita mah gampang Pak, tinggal Bapak belikan saja bunga, coklat atau emas ya seperti itu lah Pak, pasti hati wanita langsung tersentuh," jawab Bayu.
"Huh, masalahnya wanita yang satu ini agak istimewa, pasti jika aku memberikan sesuatu barang yang sesuai dengan saran mu, langsung ditolak olehnya." Ucap Kenan dengan sedikit putus asa.
"Kalau memang wanita itu agak istimewa, berarti harus sering-sering Bapak ajak bicara, karena saya tahu bagaimana sulitnya menjaga orang yang istimewa, tapi untung saja ada sekolah luar biasa Pak, jadinya ya begitu, tak terlalu sulit lagi bagi kita orang yang normal untuk menjaganya," celetuk Bayu yang langsung mendapatkan tatapan horor dari Kenan.
Memangnya Bayu pikir yang dimaksud istimewa adalah orang yang memiliki keterbatasan tertentu saja, padahal yang Kenan maksud adalah kesukaan istrinya yang terbilang anti mainstream.
"Bayu, aku pikir setelah curhat denganmu tampaknya beban pikiran ku akan berkurang, namun nyatanya salah, malah kamu semakin menambah beban pikiran ku dengan membuatku marah." Kata Kenan yang masih menatap tajam ke arah sekretarisnya.
"Duh Pak, maaf kalau saya salah, soalnya Bapak kan enggak menjabarkannya secara spesifik, jadinya ya aku asal ceplos saja Pak, tapi kalau memang Bapak butuh saran, lebih baik saranku coba Bapak pahami dulu tingkah wanita Bapak seperti apa, jika Bapak sudah paham, pasti mudah bagi Bapak untuk meluluhkan hatinya," jelas Bayu dan setelahnya langsung bergegas keluar dari ruangan Kenan.
Mendengar perkataan Bayu, seketika membuat Kenan langsung paham, bahwa sesungguhnya dia belum mengerti dan paham akan sifat dan tingkah istrinya itu.
"Sepertinya, setelah pulang kerja ini aku harus lebih mendekatkan diri kepada istriku itu, semoga dengan dekat dengannya, membuat aku paham bagaimana cara meluluhkan hatinya itu," batin Kenan dalam hati.
Setelah dirasa ucapan Bayu dapat mengurangi beban pikirannya, akhirnya Kenan kembali semangat lagi bekerja dan mencoba buru-buru menyelesaikannya, sehingga membuatnya semakin cepat untuk mendekatkan diri kepada istrinya.
__ADS_1
"Kamu tunggu aku ya sayang, pokoknya setelah ini aku akan semakin bersemangat untuk memperbaiki hubungan kita," ucap Kenan dengan nada semangat, karena menurutnya ucapan Bayu ada benarnya, bahwa hal yang paling utama adalah memahami dulu karakter wanitanya dan barulah mendapatkan solusinya.