
"Sayang, kamu hanya lagi becanda bukan, enggak serius mau meminta pisah dengan ku," ucap Kenan yang masih tidak bisa menerima perkataan Inah.
"Tidak Mas, aku serius, bahkan sedari awal memang aku meminta pisah dari mu, hanya saja karena ada suatu alasan jadinya aku menunda dulu keinginan ku ini Mas." Balas Inah yang masih santai di tempat duduknya sembari menatap ke arah Kenan yang tampak syok.
"Tidak, pokoknya Mas tidak setuju jika harus berpisah darimu, bukan kah kemarin kau memberikan kesempatan kepada Mas, sayang."
"Ya, memang aku memberikan kesempatan kedua kepadamu, tapi ingat kata-kata ku kemarin juga Mas, kalau hati siapa yang tahu, begitu juga dengan hatiku yang masih sakit saat kau mengatakan kepada selingkuhan mu itu dengan jelas, kalau kamu tidak mencintaiku Mas!" balas Inah dengan marah, sebab saat mengatakannya, Inah kembali teringat akan dulu perkataan Kenan yang dengan jelas merendahkannya disaat pembicaraannya dengan sang selingkuhan atau istilah kerennya adalah pelakor.
Deg, jantung Kenan berdenyut sangat keras, saat sang istri mengatakan kalau dirinya pernah mengatakan bahwasanya tidak mencintai Inah, saat berbicara kepada selingkuhannya.
Ya, memang Kenan akui, jauh sebelum istrinya berubah. Kenan telah mengatakan hal-hal buruk tentang istrinya sendiri, terutama saat menelepon Jesika.
Kenan pikir, pembicaraannya dari telepon tidaklah didengar oleh Inah, namun ternyata salah, karena sebenarnya sedari awal, Inah telah mengetahui semuanya dan sekarang Kenan dapat menyimpulkannya bahwa perubahan sang istri yang terlihat dingin kepadanya karena faktor dirinya juga.
"Sayang, Mas minta maaf ya, Mas janji enggak akan mengulang kesalahan yang sama," pinta Kenan kepada Inah, namun sepertinya ucapan Kenan tidak digubris oleh Inah.
"Sudahlah tidak perlu drama lagi Mas, pokoknya aku akan segera mengurus surat perceraian kita dan jika kamu tetap memaksa tidak mau bercerai denganku, maka seluruh bukti-bukti perselingkuhan mu akan aku berikan kepada pihak yang berwajib!" tegas Inah dan setelah itu melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut.
Kenan yang ditinggalkan begitu saja, hanya bisa meraung menangis, karena menyesali perbuatannya selama ini.
Entah kenapa, setelah mendengar langsung bahwa sang istri ingin berpisah darinya, membuat hatinya sangat teramat sakit.
Padahal, dulu sewaktu remaja Kenan pernah merasakan yang namanya patah hati, namun tak pernah patah hatinya sampai sesakit ini.
__ADS_1
Hampir tengah malam Kenan berada di tempat itu, sekarang waktunya bagi Kenan untuk kembali pulang. Semoga saja saat dirinya pulang, Inah masih berada di kediamannya.
Dengan mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata, Kenan melesat menuju kediamannya dan setelah sampai, Kenan lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Setelah sampai di dalam rumah, Kenan segera mencari Inah di segala sisi ruangan rumahnya, baik itu di kamar Inah, di ruang kerja bahkan di ruangan lain pun, tapi tetap saja Kenan tak melihat Inah satu pun di tempat tersebut.
Sedih, marah bahkan kesal, telah menjadi satu di lubuk hatinya. Perubahan yang baru ini ia tekad kan untuk membina hubungan rumah tangga yang baik, nyatanya telah sirna sudah bak ditelan kegelapan.
Tangisan pun tak terelakkan lagi dan Kenan tak malu akan hal itu, apa lagi sekarang dan selamanya, sepertinya Kenan harus mulai terbiasa dengan kehidupannya menyendiri.
"Inah, sampai kapan pun aku akan terus mengejar mu, ingat janjiku jika suatu saat nanti aku kembali mengikatmu, maka tak bisa lagi kamu melepaskannya!" teriak Kenan dengan keras.
Di sisi lain, Inah yang sekarang berada di markasnya juga turut melamun sedih, sebab keputusannya dalam mengakhiri rumah tangganya bersama Kenan adalah keputusan yang memang sangat berat.
"Queen, jika memang kamu belum ikhlas melepaskan laki-laki itu, lebih baik coba terima itikad baiknya yang mau berubah, mana tahu kan memang dia mau berubah dan bisa membina hubungan rumah tangga yang baik denganmu," seru Reyhan yang sedari tadi melihat Inah yang sedang melamun di pinggir jendela.
"Huh, tidak akan Rey, keputusan ku sudah bulat, sebab aku paling anti yang namanya merendahkan pasangan dihadapan musuh sendiri, jadi ya begitulah, mungkin aku memang sedih tapi kesedihan ku tidaklah berlarut-larut, karena masih ada lagi yang mau dicapai, bukan hanya jodoh tapi masa depan klan mafia kita," balas Inah dengan mengembangkan senyumannya.
"Benar Queen, aku bangga padamu," timpal Reyhan dan jadilah saat ini mereka berdua larut dalam pembicaraan malam.
Setelah kejadian itu, tampaknya banyak perubahan dari Inah dan Kenan. Terutama Kenan yang sekarang jadi lebih pendiam dan bersikap dingin ke siapapun, termasuk kepada Jesika, mantan pacarnya.
Bahkan tak segan-segan, Kenan memecat Jesika begitu saja, setelah dengan terang terangan berani menggodanya di saat jam kerja.
__ADS_1
"Sayang, tolong jangan pecat aku, kan kamu tahu sendiri bagaimana susahnya kehidupan aku sayang," ucap Jesika dengan perkataan mengiba.
"Tidak peduli, mau kamu susah atau senang, sekarang tidak ada lagi urusannya dengan ku, jadi silakan kamu angkat kaki dari kantorku Jes!" teriak Kenan dan setelahnya mau tidak mau, Jesika keluar dari kantor Kenan.
"Huh, akhirnya keluar juga ya dia."
"Benar, si parasit dan penggoda akhirnya di keluarkan oleh bos kita." Ujar beberapa karyawan, saat berpapasan dengan Jesika.
Sehingga, membuat Jesika menjadi marah dan dendam, terutama kepada Kenan dan istrinya, karena gara-gara keduanya, nasibnya menjadi seperti ini.
"Aku berjanji, jika aku sudah kembali kaya dan sukses, aku akan membalas dendam kepadamu Kenan dan juga istri udik mu itu," batin Jesika dalam hati yang memang saat ini tengah diliputi oleh amarah yang besar.
Selepas kepergian Jesika dari kantor milik Kenan, akhirnya Kenan bisa bersantai ria sembari melamun kan tentang Inah, istri yang dahulu pernah ia abaikan.
Disaat Kenan melamun sambil memegang figuran yang berisi foto istrinya, tiba-tiba saja ada sebuah telepon masuk dari ponselnya yang seketika membuyarkan lamunannya.
"Ck, siapa sih yang menelepon, orang lagi enak-enak sedang melamun juga," kesal Kenan dan segera mencoba mengangkat telepon tersebut.
"Halo ini siapa ya?" tanya Kenan.
"Ini aku, oh iya Mas aku hanya mau mengabarkan saja, kalau Senin depan adalah sidang perceraian kita yang pertama dan suratnya juga sebentar lagi akan menyusul, jadi aku berharap Mas bisa datang ya," balas si penelepon yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya sendiri yaitu Inah.
__ADS_1