
"Huh, baiklah Mas, tapi awas saja jika kamu macam-macam, maka itu mu akan aku sate ya, terus aku kasih ke kucing," ancam Inah yang membuat Kenan meneguk kan air liurnya dengan kasar.
"Iya sayang, janji dah enggak akan macam-macam dengan kamu," balas Kenan dengan mengacungkan dua jarinya.
Setelah Kenan berhasil meyakinkan sang istri untuk tidur seranjang dengannya, setelah itu Kenan langsung teringat akan kado yang ingin ia berikan kepada Inah.
Secepat kilat Kenan mengambil kado tersebut dan langsung diberikan kepada istrinya.
"Sayang, ini ada hadiah untuk kamu," ucap Kenan dengan mengembangkan senyuman manisnya dan segera memberikan kado tersebut ke Inah.
Mendapatkan sebuah hadiah dari suaminya, lagi dan lagi membuat Inah mengerutkan keningnya, sebab sedari dulu tak pernah satu pun Kenan memberikan hadiah kepadanya, kecuali cincin kawin hasil give away dari kedua orang tuanya.
"Mas, kamu enggak lagi kerasukan atau sejenisnya kan, kok tiba-tiba mau kasih aku hadiah sih, dasar aneh kamu Mas."
"Eh, aneh dari mana sih sayang, kan aku lagi dalam misi pengejaran cinta istri," ceplos Kenan dan segera dirinya langsung menutup rapat mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Maksud kamu apa sih Mas."
"Tidak apa-apa sayang, hanya mau memberikan kamu itu saja kok, semoga kamu suka ya," elak Kenan dan setelahnya Inah langsung membuka hadiah dari Kenan yang ternyata isinya adalah sebuah tas, yang Inah tahu sendiri kalau harga tas tersebut pastilah terbilang cukup mahal.
Melihat hadiah yang diberikan Kenan adalah sebuah tas, membuat reaksi Inah hanya biasa saja, bahkan terbilang cukup datar untuk seseorang yang telah mendapatkan hadiah yang cukup mahal seperti tas tersebut.
"Sayang, kok kamu biasa saja sih, apa hadiahnya jelek ya, atau memang ada barang yang kamu inginkan ya, kalau begitu biar Mas belikan saja sayang, berapa pun harganya," ucap Kenan yang membuat Inah menatapnya.
"Benarkah Mas akan membelikannya, nanti Mas mau membelikan barang yang aku sukai pakai pamrih lagi, kalau itu aku sih enggak mau ya," balas Inah yang membuat Kenan langsung menggelengkan kepalanya tanda dia tidak meminta hal-hal lain dari istrinya.
__ADS_1
"Kalau memang begitu, nanti malam Mas ikut aku saja, kita beli barang yang aku inginkan," sambung Inah yang tanpa sadar tersenyum ke arah Kenan.
Senyuman manis Inah, berhasil membuat jantung Kenan cenat cenut, pertanda dirinya terkesima dan sepertinya dia telah jatuh cinta kepada istrinya sendiri.
"Baiklah, apa pun itu pasti akan aku belikan sayang," balas Kenan yang tanpa sadar ikut tersenyum juga dan tak mengalihkan pandangannya dari Inah.
Setelah pembicaraan tersebut, benar saja Inah langsung mengajak Kenan untuk keluar.
Dengan menaiki mobil milik Kenan, segera Inah mengendarainya dengan kecepatan tinggi yang bahkan Kenan sendiri pun belum pernah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tersebut.
"Sayang, bisa pelan kan tidak laju mobilmu, walaupun aku ingin sehidup semati dengan mu, tapi ya tidak sekarang juga sayang," ucap Kenan sembari menggenggam erat sabuk pengamannya.
"Sudahlah Mas diam saja dan banyak berdoa, semoga kita selamat sampai tujuan," balas Inah yang membuat Kenan langsung banyak-banyak berdoa untuk keselamatannya juga untuk keselamatan sang istri yang lagi mengendarai mobilnya.
Walaupun tempat yang dituju sangatlah jauh, namun karena Inah mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata, akhirnya mereka sampai dengan waktu yang terbilang cukup singkat, yaitu tiga puluh menit.
Sementara Kenan yang ditarik begitu saja, hanya bisa pasrah. Apa lagi sekujur tubuhnya masih terasa lemas, sebab dirinya masih syok dengan istrinya yang mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.
"Permisi, saya ingin masuk ke dalam." Kata Inah kepada penjaga dan segera penjaga tersebut mempersilakan Inah, sebab Inah mengeluarkan sebuah kartu undangan yang berbentuk gelang. Sehingga membuat penjaga tersebut langsung mengerti, kalau Inah adalah salah satu tamu istimewa.
Inah masuk ke dalam dengan menggeret Kenan, suaminya yang saat ini sepertinya masih belum tersadar.
"Mas, kamu udah enggak apa-apa kan?" tanya Inah saat telah duduk di kursinya bersama dengan sang suami disampingnya.
"Tidak apa-apa sayang, tadi roh Mas masih belum menyatu saja dengan raga ini dan oh iya sebenarnya kamu mau membeli apa sih sayang, kenapa kita ada di," terhenti ucapannya, sebab Kenan baru sadar kalau saat ini dirinya seperti berada di tempat yang sangat gelap dan orang-orang yang berada di tempat ini pun, juga sangat menyeramkan, hingga membuatnya langsung bergidik ngeri.
__ADS_1
"Sayang, sebenarnya kita berada di tempat apa sih, kok Mas merasa tempat ini sangat berbahaya ya," bisik Kenan di telinga Inah.
"Iya Mas, namanya juga tempat perdagangan gelap, jadi ya yang datang hanya orang-orang istimewa seperti mereka-mereka itu," tunjuk Inah ke setiap orang yang ada di tempat tersebut.
"Lah, jadi sebenarnya kamu mau membeli apa sayang, kenapa kita ada di tempat ini?" tanya Kenan.
"Sudahlah Mas, nanti juga kamu tahu sendiri, sekarang duduk cantik dulu ya," balas Inah singkat dan setelahnya Kenan menuruti sang istri untuk duduk cantik saja, sembari melihat ke setiap sisi ruangan yang ada.
Hingga tak beberapa lama kemudian, tampak keluar seorang wanita seksi dengan seorang pria bertopeng, yang sekarang tengah berdiri di atas panggung.
"Para hadirin semuanya, sekarang saksikan lah sebentar lagi akan saya pandu acara jual beli kita pada malam ini dan tentunya, saya akan memiliki barang istimewa yang mungkin kalian tunggu-tunggu," ujar sang pria bertopeng tersebut dan langsung keluar beberapa jajaran barang-barang yang jelas adalah alat persenjataan yang sangat bervariasi. Mulai dari pisau dengan berbagai macam bentuk, serta beberapa pistol dan sejenisnya juga telah tersedia di tempat itu.
"Nah ketemu juga, Mas aku mau yang itu ya," tunjuk Inah ke arah senjata api laras panjang.
"Sayang, kamu tidak mungkin mau itu kan, jangan yang itu ya sayang, itu sangat bahaya," kata Kenan yang sedari awal terlihat syok saat istrinya ternyata membawanya ke pasar gelap.
"Jadi, kalau bukan itu kamu mau membelikan aku yang mana?" tanya Inah kepada Kenan yang membuat Kenan pun bingung, sebab barang-barang yang dijajakan merupakan barang-barang bahaya.
"Entahlah, sepertinya tidak ada sayang" balas Kenan yang membuat Inah langsung kesal.
"Ck, tahu begitu mending kamu enggak usah menjanjikan apa yang aku inginkan Mas, ya sudahlah lebih baik kita pulang saja," kesal Inah yang membuat Kenan merasa bersalah.
Hingga membuat Kenan tak ada pilihan lain, selain menuruti keinginan sang istri, yaitu membeli senjata api laras panjang.
"Baiklah sayang, kamu boleh membeli itu, tapi satu saja ya."
__ADS_1
"Iya Mas," balas Inah yang langsung mengubah mimik wajahnya menjadi senang.