Istriku Ternyata Ketua Mafia

Istriku Ternyata Ketua Mafia
Usaha Terakhir


__ADS_3

Selepas Kenan pulang kerja, dirinya langsung mendekat ke arah istrinya. Bahkan, setiap pergerakan istrinya selalu dalam pantauan Kenan yang membuat sang istri yaitu Inah, merasa risih sendiri jadinya.


"Mas, kenapa sih sedari tadi kamu lihatin aku terus, memangnya ada yang aneh ya dari aku?" tanya Inah ke Kenan, sebab sedari pulang kerja, suaminya selalu menatapnya setiap saat.


"Tidak ada yang aneh kok, malah kamu semakin bertambah cantik saja sayang, oh iya Mas boleh minta tolong enggak, tolong buatkan Mas kopi ya," pinta Kenan dan dengan segera Inah langsung membuatkan kopi untuk Kenan.


Hanya dalam hitungan menit saja, kopi pun telah selesai dibuat oleh Inah dan segera ia hidangkan tepat dihadapan Kenan.


"Oh iya Mas, ini kopinya, aku pamit ke belakang dulu ya Mas," ucap Inah namun Kenan langsung menyuruh Inah untuk duduk di sampingnya.


"Sayang, kamu jangan kemana-mana ya, duduk saja di sampingku, karena aku ingin mengenal kamu lebih dekat lagi," ujar Kenan yang membuat Inah mematung sejenak.


Bahkan, saat ini jantung Inah rasanya berdebar sangat kencang, saat Kenan mengatakan kalau dirinya ingin mengenalnya lebih dekat.


Dengan menetralkan rasa debaran jantungnya, sebisa mungkin Inah menormalkan kembali tubuhnya dan langsung duduk tepat di sebelah Kenan.


Rasa kikuk dan canggung pun menghampiri keduanya, pasalnya setelah Kenan mengatakan kalau dirinya ingin lebih mengenal istrinya lebih dekat, sekarang malah diam saja tanpa ada memberikan aksi sama sekali seperti topik pembicaraan atau hal yang lainnya.


Layaknya orang yang tak saling mengenal, maka seperti itulah keadaan keduanya saat ini.


"Anu, Mas mau minum kopi buatan mu dulu ya."


"Iya Mas minum saja," balas Inah dan setelahnya kembali diam seperti semula.

__ADS_1


Hampir beberapa menit, tidak ada yang berani memulai topik pembicaraan, membuat Kenan harus memutar otaknya dan setelah mendapatkan topik pembicaraan, kemudian Kenan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Inah.


"Sayang, Mas boleh tahu enggak bagaimana masa kecilmu dulu?" tanya Kenan.


"Boleh Mas, kalau Mas ingin tahu masa kecilku, maka aku akan menceritakannya, sebenarnya sedari awal aku lahir hingga sekarang, aku tidak pernah melihat orang tua kandungku Mas, karena sedari lahir pun aku telah dititipkan di panti asuhan, bahkan ya Mas, sepeninggalan mereka pun tak ada karena saat aku menanyakan ke Ibu panti asuhan, katanya mereka tidak ada menemukan apapun, kecuali aku yang diletakkan begitu saja di dekat tong sampah," jelas Inah yang seketika membuat suasana di ruangan tersebut menjadi haru.


Apa lagi Kenan, yang sedari tadi mendengarkan cerita istrinya, tanpa sadar telah menjatuhkan air matanya.


"Ternyata nasibmu begitu malang ya sayang, Mas baru tahu kalau sedari kecil kamu tidak pernah di asuh oleh kedua orang tua kandung mu."


"Ya seperti itulah Mas, makannya aku bertekad untuk menjadi kuat, karena memang sedari kecil dipaksa oleh keadaan, bahkan dulu Mas, aku pernah bermimpi untuk membina hubungan rumah tangga yang baik dengan calon suamiku dimasa yang akan datang, dimana dikaruniai banyak anak yang nanti tak akan ada kekurangan kasih sayang sedikit pun," sambung Inah kembali yang membuat Kenan langsung merasa bersalah, sebab impian istrinya ternyata begitu besar untuk membina hubungan rumah tangga yang baik.


Tapi, apalah daya kalau memang dulu kekhilafan Kenan yang memang tak pernah memperhatikan istrinya, sehingga saat pernikahannya telah di ujung tanduk, baru membuatnya tersadar kalau dirinya ternyata mencintai istrinya sendiri.


Setelah mendengarkan curahan hati sang istri, Kenan dapat menyimpulkan bawah sepertinya Inah telah tersakiti hatinya sangat dalam, apa lagi dari awal pernikahannya, memang Kenan secara terang-terangan mengatakan telah memiliki wanita pujaan lain di luar sana.


Karena sekarang yang diperlukan oleh Kenan adalah perjuangan, ya perjuangan untuk mencoba meluluhkan kembali hati istrinya.


Keesokan harinya, setelah pembicaraan tersebut, Kenan selalu mendekatkan diri ke istrinya, apa lagi dia mencoba untuk melakukan hal-hal kecil seperti membantu sang istri memasak ataupun membersikan beberapa peralatan yang ada di rumahnya yang membuat Inah merasa tersentuh.


Bahkan, di hari-hari berikutnya, Kenan selalu memberikan kejutan kecil untuk istrinya seperti liburan ke tempat-tempat terdekat ataupun membelikan beberapa pasang pakaian dan yang lainnya yang membuat Inah tak pernah lagi ketus kepadanya saat berbicara, bahkan sekarang tampaknya Inah selalu berbicara santai kepada Kenan, layaknya sepasang suami istri yang harmonis.


"Mas, aku hampir lupa mengingatkan kamu, kalau besok adalah jadwal sidang pertama kita, jadi besok jangan sampai telat ya Mas datangnya," ucap Inah yang membuat Kenan langsung terdiam sesaat, sebab Kenan hampir melupakan bahwa hari ini adalah hari terakhir usahanya untuk meluluhkan hati sang istri.

__ADS_1


"Baiklah sayang, tapi sebelum itu nanti malam kamu ikut Mas ya, soalnya Mas ada kejutan untuk kamu," imbuh Kenan dan Inah langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas, aku selalu menantikannya kok, karena tiap hari juga kamu selalu memberikan aku kejutan kan, jadi ya aku akan menantikan kejutan terakhir kamu, sebelum kita sah resmi berpisah," kata Inah santai dan tersenyum hangat ke arah Kenan.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Kenan saat ini, pastinya sangat hancur karena sang istri selalu saja mengingatkannya akan perpisahan.


"Sayang, mungkin nanti malam adalah usaha terakhir ku, semoga untuk yang terakhir kalinya kamu dapat berubah pikiran dan membatalkan perceraian itu," batin Kenan dalam hati yang sangat berharap jika sang istri membatalkan gugatan perceraiannya.


Sekarang, langit telah berubah menjadi malam dan Kenan pun telah membawa Inah ke dalam sebuah ruangan tempat ia memberikan kejutan terakhir untuk Inah.


"Sayang, kamu duduk dulu di sini ya, ingat jangan dibuka kain yang menutupi matamu."


"Iya Mas, enggak akan aku buka," balas Inah dan dirinya menuruti perkataan Kenan untuk tidak membuka ikatan kain yang menutupi matanya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Kenan memerintahkan sang istri untuk membuka penutup matanya.


"Sekarang kamu bisa buka penutup kain matamu sayang," ujar Kenan dan segera Inah membuka penutup matanya.


Saat membuka kain yang menutupi matanya, Inah dapat melihat kalau sang suami tengah berjongkok tepat dihadapannya dengan memegang sebuah kado yang tak terlalu besar di tangannya.


"Sayang, mungkin ini adalah usaha terakhir ku, apa pun keputusan kamu, aku akan terima, tapi izinkan aku untuk malam ini saja kita menghabiskan waktu bersama ya" pinta Kenan kepada Inah.


"Baiklah Mas, kalau itu mau mu, maka aku turuti," balas Inah dan segera Kenan menghabiskan malamnya bersama dengan Inah.

__ADS_1


Sepanjang malam, Kenan terus merangkul Inah, mengajaknya berdansa dan terakhir yang Kenan lakukan adalah memberikan sebuah hadiah kecil yang memang telah ia pegang sedari awal.



__ADS_2