
"Sayang, kita pulang bareng ya," ucap Jesika dan segera merangkul lengan Kenan.
Seperti mendapatkan serangan mendadak, Kenan langsung kaget dan segera melepaskan rangkulan Jesika yang sangat erat di lengannya.
Rasa risih, geli dan muak, tengah menghinggapi Kenan, apa lagi Jesika yang selalu menempel kepadanya, persis seperti ulat bulu saja, ralat maksudnya persis seperti belatung, binatang yang menjijikkan yang disematkan oleh Inah, istrinya sendiri.
"Bisa kah kau lepaskan rangkulan mu itu dari tanganku Jesika!" sentak Kenan dengan keras yang membuat Jesika terkejut sekaligus takut seketika.
"Sayang, kenapa kamu marah kan aku cuma merangkul kamu, sama seperti sebelum-sebelumnya," imbuh Jesika pelan dan sedikit melonggarkan tangannya dari lengan Kenan.
"Ck dulu kau bilang, entahlah sepertinya aku menyesali telah menjalin hubungan denganmu Jes, rasanya aku tak tega menyakiti istriku lebih dalam lagi, jadi karena kamu ada di sini juga, maka aku langsung saja mengatakan kalau sudah saatnya kita melepaskan hubungan terlarang ini Jes," jelas Kenan yang membuat Jesika kembali terkejut dan langsung melebarkan matanya.
"Tidak, jangan bilang kamu mau memutuskan hubungan kita, pokoknya aku tidak mau hubungan kita berakhir sayang," ucap Jesika yang langsung nangis sesenggukan.
"Sudahlah Jes, untuk apa kamu nangis, toh sedari awal kita berhubungan sudah aku katakan jangan memakai hati, sebab hubungan kita ini hanya sementara waktu saja, intinya mau tidak mau aku mau kita berakhir sampai di sini saja," ungkap Kenan dan setelahnya meninggalkan Jesika sendirian yang masih menangis sesenggukan.
Saat langkah kakinya keluar dari perusahaan miliknya, saat itulah perasaan lega menghinggapinya. Sebab, Kenan telah berhasil memutuskan hubungan yang seharusnya tidak ia lakukan karena sesungguhnya ia pun telah memiliki seorang istri.
"Mulai hari ini, misi mengejar hati istri akan aku lakukan," tekad Kenan dalam hati dan setelahnya bergegas pergi meninggalkan perusahaan miliknya dan segera menuju ke kediaman miliknya.
Sementara itu, di lain sisi Inah masih mencari-cari pakaian yang pas untuknya pergi bersama dengan Kenan.
"Mbak, bisa carikan pakaian yang pas untuk saya, soalnya saya lihat-lihat disini pakainya terbilang cukup terbuka," imbuh Inah dan dengan segera sang karyawan toko pun langsung ikut memilihkan pakaian untuknya, hingga akhirnya pilihan Inah jatuh kepada pakaian berwarna merah maroon yang terlihat tertutup, namun masih menunjukkan sisi ke elegannya.
"Sepertinya ini pas di tubuhku, Mbak saya mau yang Mbak pegang sebelah kiri ya."
__ADS_1
"Iya Bu, kalau begitu saya bungkus kan ya."
"Iya Mbak, terima kasih," balas Inah dan segera membayar pakaiannya di kasir depan toko.
"Ok, seperti sudah semua, sekarang tinggal menunggu hari H saja untuk ke pestanya dan setelah itu misi selesai dan akhirnya aku juga selesai berhubungan dengan Kenan lagi," batin Inah dalam hati seraya tersenyum senang, sebab dirinya akan terbebas dari belenggu pernikahannya.
Setelah puas semua dengan alat tempurnya, sekarang Inah juga bergegas pulang untuk melakukan tugas yang sudah ia sepakati dengan Kenan yaitu tugas untuk memasak makanan untuk suaminya.
Di rumah, Kenan yang telah sampai terlebih dahulu, tidak mendapati keberadaan istrinya. Sudah bolak balik Kenan mencarinya, baik di lantai dua, di kamar, di toilet, di dapur di kolong kasur ataupun di atas genteng. Tapi tetap saja tidak menemukan keberadaan istrinya.
"Duh, istriku pergi kemana ya, padahal sudah ku minta untuk pulang bersama-sama, tunggu jangan-jangan dia pulangnya sama laki-laki yang tadi pagi lagi," takut Kenan saat membayangkan kalau istrinya memang pergi bersama dengan pria yang ia temui saat tadi pagi menjemput istrinya.
Membayangkan itu saja, hidung Kenan sudah kembang kempis dan jantungnya juga sudah berpacu kuat, seperti hendak terlepas begitu saja dari tubuhnya.
Tak mau membayangkan hal yang tidak-tidak, Kenan segera mencari nomor istrinya dan segera untuk menelponnya.
Kenan yang mendengar suara mobil itu, langsung buru-buru keluar dari rumahnya dan benar saja terlihat dari dalam mobil, istrinya keluar begitu saja.
"Sayang, kamu naik mobil siapa, jangan-jangan mobil laki-laki yang tadi pagi ya," tebak Kenan yang membuat Inah hanya mengerutkan keningnya.
"Hah, maksudnya laki-laki tadi pagi siapa, si Reyhan?" tanya Inah.
"Hmm, benar kan dugaan ku kalau kamu bersama dengannya," tuduh Kenan yang membuat Inah langsung menatap Kenan dengan tatapan jengah.
"Oh, kalau kamu mau tahu sini lihat saja siapa yang ada di dalam mobil itu!" perintah Inah dan segera Kenan melirik ke arah sang pengemudi yang ternyata hanyalah pria paruh baya yang bekerja sebagai driver online.
__ADS_1
"Tuh, lihat kan siapa orangnya, oh iya sekalian bayarkan ya uangnya, soalnya aku belum bayar tuh," sambung Inah kembali dan segera meninggalkan Kenan berdua bersama dengan si driver mobil online.
"Pak, jadinya dua ratus ribu ya," ucap sang driver dan segera Kenan mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus dan ia berikan ke driver tersebut.
Setelah urusan transaksi selesai, Kenan segera bergegas masuk ke dalam untuk menyusul istrinya.
"Sayang, tunggu dulu!" teriak Kenan sembari masuk ke dalam rumahnya.
"Duh, ada apa lagi sih teriak-teriak, kan udah kamu lihat sendiri bukan, kalau itu bukan Reyhan."
"Iya memang bukan Reyhan, tapi kenapa kamu tadi pulangnya enggak bareng aku sayang, kan kita bisa pulang bareng," balas Kenan dengan suara pelannya.
"Ck, malas lah kan kamu lama, jadi ya lebih baik aku memesan mobil online saja sembari mencari beberapa pakaian yang pas untukku pergi sama kamu," jelas Inah yang membuat Kenan tersipu malu.
"Oh, jadi kamu mencari gaun untuk digunakan ke pesta ya sayang, kalau memang seperti itu ya tidak apa-apa, pastinya Mas tidak sabar melihat kamu mengenakkan gaun itu."
"Iya, aku pun juga tidak sabar." balas Inah tersenyum, namun di dalam hatinya terlihat memiliki makna yang lain.
"Oh iya Mas, hari ini aku enggak masak menu makanan seperti biasanya ya, tapi kamu tenang saja, aku sudah membelikan beberapa makanan favorit mu kok dan spesialnya yang masak aku sendiri di dapur mereka," imbuh Inah yang membuat Kenan kembali senang, sebab Kenan merasa tidak sabar untuk segera melahap masakan sang istri.
"Iya sayang tidak apa-apa, toh kamu juga kok yang masak," balas Kenan dan dengan segera duduk di meja makan sembari menunggu Inah menghidangkan makan malam untuknya.
Dalam waktu sekejap, semua makanan telah tertata cantik di atas meja makan besar miliknya dan dengan segera, Kenan melahap semuanya seperti seseorang yang tengah kelaparan.
"Ck, kenapa dulu aku bisa ya suka sama mahluk satu ini, ternyata selain menyebalkan juga ia makannya sangat rakus sekali, membuat orang tidak berselera makan saja," batin Inah dalam hati dan segera memberikan senyuman paksaan untuk Kenan, suaminya.
__ADS_1