Istriku Ternyata Ketua Mafia

Istriku Ternyata Ketua Mafia
Makan Siang


__ADS_3

Saat Inah hendak keluar dari ruangan Kenan, tiba-tiba saja Kenan langsung berbicara kepadanya.


"Inah, sebentar jangan keluar dulu karena ada yang ingin aku katakan," imbuh Kenan yang terlihat salah tingkah, persis seperti ABG muda, namun kalau Kenan bisa dibilang ABG tuanya.


"Iya, katakan saja langsung, karena aku masih banyak pekerjaan lagi, tidak seperti mahluk satu itu yang kerjanya hanya menempel saja," sindir Inah kembali kepada Jesika. Namun, Jesika hanya tetap diam saja, sebab kalau sampai menyela ucapan Inah, bisa dipastikan dirinya akan langsung diputuskan oleh tambang emasnya yaitu Kenan.


"Eh anu, A..aku mau mengajak kamu makan siang bersama," kata Kenan Pelan tapi tetap seperti malu-malu kucing yang tak berani menatap ke arah Inah.


"Oh hanya itu saja, baiklah nanti kita akan makan siang bersama, tapi aku tidak mau melihat belatung itu ikut bersama kita, kalau dia ikut maka aku tidak mau makan siang bersamamu," balas Inah.


"Baiklah, aku pastikan hanya ada kita berdua saja," balas Kenan yang kali ini tampak lebih bersemangat.


Dalam pikiran Kenan, kalau saat ini istrinya sedang cemburu kepadanya, sehingga Istrinya mau makan siang hanya dengannya saja. Padahal kenyataannya adalah karena Inah hanya ingin melihat seberapa kuatnya selingkuhan Kenan yang sedari tadi sudah Inah pancing amarahnya, namun tetap saja diam dan membisu.


Saat jam istirahat tiba, Inah menepati janjinya kepada Kenan untuk makan siang bersama, Namun saat dirinya hendak bepergian berdua dengan Kenan, tiba-tiba saja, sang belatung Jesika langsung bersandiwara dihadapan keduanya.


"Aduh, tolong sakit kaki ku," ujarnya yang pura-pura tersandung oleh kaki Inah, saat dirinya melewati Kenan dan Inah.


"Duh maaf, pasti sakit ya, sini aku bantu," ucap Inah yang mencoba membantu Jesika, tapi bukan Inah namanya kalau dirinya tulus membantu orang munafik seperti Jesika, tapi yang Inah lakukan adalah menekan beberapa syaraf di kaki Jesika hingga membuatnya menjerit kesakitan.


"Eh maaf, sepertinya kaki mu memang benar-benar sakit dan oh langsung memar! sepertinya kamu harus cepat-cepat dibawa ke rumah sakit untuk segera dilakukan amputasi, sebab jika dibiarkan begitu saja, bisa-bisa darah yang ada dipergelangan kaki mu akan membusuk dan itu bisa mengancam nyawa mu," sambung Inah kembali untuk menakut-nakuti Jesika.

__ADS_1


"Apa! tidak mungkin seperti itu, orang kaki ku baik-baik saja kok, kan tadi aku hanya sengaja terjatuh saja," ceplos Jesika tanpa sadar yang membuat wajah Kenan langsung menggelap.


Dengan tangan terkepal kuat dan menampilkan beberapa urat di tangan serta dilehernya dan tak lupa sorot mata tajamnya, Kenan langsung menghampiri Jesika yang masih berdiri di tempat.


"Kau wanita sial, kenapa seolah-olah menghalangi jalan ku bersama istriku ini, jangan bilang kau mulai posesif kepadaku ya, ingat statusmu hanya kekasih gelap saja, tidak lebih!" tegas Kenan yang membuat bulu kuduk Jesika langsung berdiri.


Sedangkan untuk Inah sendiri, dirinya langsung bergegas mengambil beberapa camilan serta kursi untuk dirinya menonton pertunjukan yang ada di depannya.


"Lumayanlah, tidak sia-sia aku menunggu drama ini, apa lagi endingnya pasti seru," batin Inah sembari memakan beberapa camilan yang telah ia bawa.


Hingga akhir dari pertunjukan yang Inah lihat adalah Kenan yang langsung menarik tangannya untuk segera bergegas menuju ke tempat makan siang yang telah Kenan katakan sebelumnya.


"Yaa, ternyata endingnya kurang seru, kenapa sih Kenan langsung menarik tanganku, kan dia belum memberikan pelajaran kepada si belatung," batin Inah kembali yang menampilkan raut wajah murung, sebab endingnya tak sesuai harapannya, sama seperti hidup ini yang selalu tak selaras dengan apa yang kita inginkan.


Tapi, tentu saja romantis, sebab sekarang dirinya sudah berubah menjadi jati diri sendiri, tidak seperti dulu yang mencoba menjadi istri pengabdi setan, eh salah maksudnya adalah istri yang mengabdikan diri untuk suaminya sendiri.


"Inah, kamu ingin kita makan siang dimana?' tanya Kenan lembut sembari mencuri-curi pandang ke arah Inah.


"Terserah Mas makan dimana, asal enggak makan di tengah jalan saja," balas Inah yang menatap lurus ke arah depan.


"Huh baiklah, kita makan di tempat Mas saja yang biasa ya."

__ADS_1


"Hmm," gumam Inah pelan yang membuat Kenan menggelengkan kepalanya saat melihat reaksi istrinya sendiri.


Kenan pikir, saat dirinya menawarkan sang istri makan dimana, pasti istrinya memilih tempat yang mewah atau yang berkelas, tapi malah sebaliknya. Istrinya tidak memilih makan dimana pun dan jawabannya hanya terserah saja.


Ya terserah, kalimat keramat yang selalu diucapkan oleh setiap wanita mana pun yang membuat pria menjadi frustasi saat mendengarkannya.


Tak mau Kenan memikirkan kalimat terserah Inah, tanpa ba-bi-bu Kenan langsung mengajak Inah untuk makan di restauran terkenal yang memang terkenal dengan harga yang sangat fantastis, bayangkan saja untuk air putihnya dihargai seratus ribu rupiah, yang membuat orang-orang berpikir, apakah itu air zamzam, atau memang air yang diambil langsung dari air mata kekecewaan seseorang yang menunggu hal yang tak pasti akan datang.


"Kenan, kamu yakin kita makan di sini, lihat harga makanannya cukup mahal, takutnya kalau aku pesan banyak, malah membuat kamu jadi bangkrut lagi," seru Inah yang membuat Kenan langsung tertawa karena mendengar ucapan polos dari istrinya.


Sebab, tidak mungkin hanya memakan di restauran ini, membuat Kenan langsung bangkrut. Padahal dirinya sendiri memiliki harta tujuh turunan yang tidak akan pernah ada habis-habisnya.


"Sudahlah kamu tenang saja, mau kamu borong semua makanan di sini sekaligus tempatnya, tidak akan membuat aku bangkrut," sombong Kenan yang sesekali tertawa saat teringat akan ucapan Inah.


"Ck, ya sudah kalau begitu aku tidak akan segan pesan banyak makanan," balas Inah dan segera meminta beberapa ratus porsi makanan untuk dibungkus dan satunya untuk makan di tempat.


"Melihat istrinya memesan banyak makan, membuat Kenan langsung terkejut hingga membuatnya langsung terdiam di tempat. Sebab, Kenan pikir pasti sebanyak-banyaknya orang makan, mungkin hanya habis dua porsi saja.


Tapi malah sebaliknya, sang istri langsung memesan beberapa ratus porsi makanan untuknya sendiri.


"Inah, kamu yakin mampu menghabiskan makanan dengan porsi sebanyak itu," ucap Kenan pelan sembari menarik turunkan jakunnya.

__ADS_1


"Yakin, malah menurutku ini sangat kurang," balas Inah sembari tersenyum polos tanpa dosa yang ia tunjukkan kepada Kenan, hingga membuat Kenan hanya bisa membalas senyum simpul saja kepada Inah karena kepikiran harus berapa pundi-pundi uang yang akan ia keluarkan untuk makan siang ini.



__ADS_2