
"Ehem, aku sudah selesai makannya dan kamu pun sama kan, jadi lebih baik ayo kita kembali ke kantor."
"Hah, tapi bukankah makanan ini belum kamu habiskan semua," balas Kenan dengan mengernyitkan keningnya, sebab makanan yang beratus-ratus porsi yang telah dipesan istrinya belum habis.
"Oh, makanan ini adalah untuk seseorang, nanti juga kamu tahu sendiri." Kata Inah dan setelah itu bangkit dari tempat duduknya dengan disusul oleh Kenan.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Kenan masih melihat gerak gerik istrinya yang sedari tadi selalu melihat ponsel genggamnya, hingga beberapa saat kemudian istrinya yaitu Inah, menyuruh dirinya untuk berbalik arah.
Bukannya Kenan bertanya kenapa sang istri menyuruhnya berbalik arah, Kenan malah patuh begitu saja, persis seperti anjing yang setia pada tuannya.
"Berhenti!" perintah Inah dan setelahnya Kenan langsung memberhentikan mobilnya.
"Lah, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Kenan, namun bukannya Inah menjawab, malah Inah langsung membuka pintu mobilnya begitu saja dan segera membawa beberapa makanan yang ia pesan saat tadi makan siang bersama dengan dirinya.
Dengan membawa beberapa kotak makanan, segera Inah membagikannya kepada seorang wanita tua yang sepertinya sedari tadi memang tengah menunggu kehadirannya.
"Makasih ya sayang, pasti anak-anak panti sangat senang mendapatkan makanan seenak ini," ujar wanita tua tersebut yang sudah membawa hampir seluruh kotak makanan dari Inah.
"Iya Mbah, oh iya kira-kira Mbah sanggup tidak membawa makanan ini, kalau tidak sanggup biar Inah bantu bawakan saja ya."
"Tidak perlu, biar si Asrul saja yang membawanya, oh iya ngomong-ngomong Asrul katanya kangen loh sama kamu, tiap hari ada saja tingkahnya yang membuat Mbah jengkel, setiap jam, menit bahkan detik pun, selalu saja membicarakan kamu Nak."
"Hah, Asrul sampai segitunya Mbah?" tanya Inah yang antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Mbah penjaga panti, sebab setahunya Asrul sangatlah dingin kepadanya, sehingga saat berpapasan sewaktu di panti, tidak pernah sekalipun Inah menyapanya.
"Iya Nak, kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja nanti kepadanya." Imbuh Mbah Jinten.
__ADS_1
Bagaikan kata pepatah yaitu pucuk di Wulan, cinta pun tiba, tak beberapa lama kemudian datanglah seorang pemuda yang sedari tadi dibicarakan oleh Mbah Jinten dan juga Inah, siapa lagi kalau bukan Asrul.
"Nah itu Asrul, tanyakan saja kepadanya pasti dia sangat kangen sama kamu Nak," tunjuk Mbah Jinten ke arah Asrul hingga membuat Asrul menjadi salah tingkah dan cepat-cepat mendekati Mbah Jinten untuk membawakan beberapa kotak makanan yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh anak panti.
"Tidak usah lah Mbah, dia aja kayak malu-malu kucing gitu, ya sudah ya Mbah, Inah mau pamit kerja lagi."
"Iya Nak, makasih banyak ya makanannya," ucap Mbah Jinten dan Inah langsung membalas dengan anggukan kecil.
Setelah urusan memberikan makanan itu selesai, Inah langsung kembali menuju ke dalam mobil suaminya.
Baru masuk saja, Inah dapat lihat kalau suaminya sedari tadi langsung memberikan mimik wajah yang bisa ia tebak sebagai pertanda untuk menantikan penjelasan darinya kenapa dirinya memberikan makanan tersebut ke Mbah Jinten.
"Inah, kenapa kamu," terpotong ucapannya.
"Berbagi makanan, sudah cepat kamu bawa mobil ini," celetuk Inah dan segera Kenan langsung bergegas mengendarai mobilnya menuju ke perusahaan.
Ya, setelah acara pemberian makanan tersebut, memang Kenan tampak ingin mendengarkan penjelasan dari sang istri, tapi tampaknya istrinya tersebut bungkam saja dan Kenan hanya bisa berspekulasi kalau sang istri memesan banyak makanan karena untuk diberikan kepada yang membutuhkan.
Memang, sedari dulu istrinya sangatlah baik kepada semua orang, hanya saja Kenan selalu acuh hingga disaat istrinya merubah sikap dan penampilannya, disaat itulah rasa keingintahuan Kenan akan setiap aktivitas istrinya terjadi, bahkan inisiatifnya mengajak untuk makan siang bersama adalah sebagai bentuk pendekatan Kenan untuk mengetahui segala tindak tanduk kegiatan istrinya.
"Sampai, oh iya nanti setelah pulang, kamu sama aku saja ya," tawar Kenan, tapi Inah lagi dan lagi tidak menjawabnya dan langsung menutup pintu mobil Kenan dengan sedikit keras.
Jebret, suara pintu mobil yang ditutup kuat oleh Inah, hingga membuat Kenan sedikit kaget.
"Huh, aman jantungku, sepertinya dia memiliki dua kepribadian ganda, karena akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatnya bertutur kata dan bersikap lembut kepadaku lagi," batin Kenan sembari mengelus dadanya.
__ADS_1
Kenan yang telah menenangkan degup jantungnya, langsung keluar begitu saja dari mobilnya dan segera kembali ke dalam ruangannya.
Setiap langkah kakinya, Kenan selalu memikirkan sang istri yang telah berubah sikap kepadanya, hingga beberapa sapaan dari karyawannya, sudah tidak didengar lagi olehnya.
Apa lagi sang kekasih gelap yaitu Jesika, yang sedari tadi menunggu Kenan kembali ke dalam ruangannya. Kali ini, Jesika nekat dengan memakai pakaian yang minim dan tampak seksi ditubuhnya. Sampai-sampai beberapa benjolan tercetak jelas di tubuh seksinya.
"Sayang, kamu kok lama banget sih selesai makan siangnya, dari tadi aku sudah menunggu kamu loh di sini," ucap Jesika dengan suara seksinya.
Kenan yang mendengar perkataan Jesika hanya melirik sekilas saja, tanpa terketuk untuk melirik tubuh seksi kekasihnya.
Melihat respon Kenan yang biasa saja, membuat Jesika mencoba mencari cara agar kekasihnya kembali melihat dirinya saat ini yang terbilang cukup minim pakaiannya.
Dengan perlahan-lahan, Jesika mencoba mendekati Kenan yang telah duduk di kursi kebesarannya dan hendak merayu Kenan dengan memijit kecil punggungnya.
Tergoda, ya Kenan sedikit tergoda melihat Jesika, apa lagi Kenan mencium aroma parfum milik Jesika yang tiba-tiba saja menggoda hasratnya.
Tapi, sejurus kemudian Kenan mengingat sang istri yang mulai berubah kepadanya, hingga dirinya menggelengkan kepala dan langsung menepis tangan mulus Jesika.
"Aduh, sakit tahu, kenapa sih sayang."
"Tidak apa-apa, tapi lebih baik kau cepat pergi dari ruangan ku Jesika dan ganti pakaian ****** mu itu, kalau kau tidak mau menggantinya, maka aku akan memutuskan hubungan kita karena aku tidak sudi memiliki kekasih yang berpenampilan layaknya wanita murahan," kata Kenan dengan pedas yang membuat Jesika segera meninggalkan ruangan Kenan dengan perasaan kecewa.
Jesika kecewa karena ditolak mentah-mentah oleh Kenan. Padahal, selama ini, Jesika tak pernah sekalipun ditolak oleh pria-pria lain, sebelum Kenan.
Terlebih lagi, dirinya bagaikan bunga yang dirawat langsung oleh pria-pria kelas atas. Ya, walaupun kesuciannya terenggut, tapi itu tidak masalah baginya, asalkan dirinya mendapatkan apa yang ia mau, baik itu harta atau hanya sekedar kepuasan hasratnya saja.
__ADS_1
"Ck, lihat saja pokoknya aku akan merebut hatimu Kenan dari istri udik nya itu," batin Jesika dalam hati seraya mengepalkan tangannya pertanda bahwa ucapannya kali ini sangatlah bersungguh-sungguh.