Jasmine

Jasmine
Mulanya


__ADS_3

...Ini bukan hanya sekedar perasaan...


...Ini adalah sebuah pertanda...


...Clarissa Jasmine...


Happy Reading....


Jasmine menarik nafas dalam, sebelum akhirnya menghubungi alvaro.


Dengan jantung yang berdebar kencang, jasmine menunggu panggilan itu diangkat, oleh sang empunya ponsel.


"Ck" alvaro berdecak jengah, ponselnya berdering. Nama yang terpampang dilayar ponsel membuatnya muak.


"Siapa?!" Safira bertanya, heran melihat raut wajah sahabatnya berubah. Safira menghela nafasnya, setelah melihat siapa yang menghubungi alvaro "angkat dulu siapa tau penting" lanjutnya lagi sedikit memaksa.


Alvaro melirik safira sekilas, sebelum mengangkat panggilan itu.


"Hm..."


"Hallo al"


Suara jasmine terdengar gugup, seperti sedang menghubungi gebetan, padahal calon suami sendiri.


"Ya, kenapa?"


Suara alvaro sangat datar, terdengar jelas sangat terganggu. Jasmine menundukkan kepala, tersenyum kecut mendapat respon seperti itu dari alvaro. Menahan sesak di dada dia berusaha untuk menetralkan suaranya.


"Ada yang mau aku omongin sama kamu penting, kamu ada waktu?"


"Malam aja jam delapan, aku lagi anter safira pemotretan"


"Oh iy--ya oke, aku tunggu di rumah kamu ya. Hati-hati"


Tuutt


Jasmine menggelengkan kepalanya, merutuki kebodohannya, yang terus terjebak, dengan orang yang tidak pernah menganggapnya ada.


"Jangan cuek gitu" safira menasehati.


"Ck, ganggu!" alvaro menjawab acuh, matanya menatap intens wanita yang sedang duduk didepannya saat ini, hatinya menjerit kagum akan pahatan sempurna pada sosok safira.


Alvaro Aldebaran cowok tajir melintir, tampan jangan ditanya, wajahnya di atas rata-rata, pintar, keren. Cowok dingin, kaku, cuek dengan keadaan sekitar dan jangan lupakan wajah khas datarnya nurun mutlak dari papinya. Dia adalah anak semata wayang di keluarganya.

__ADS_1


Banyak sekali yang ingin menarik perhatiannya, dari yang memakai cara sopan, hingga yang menjijikkan, dia benar-benar tak habis pikir dengan perempuan-perempuan itu, bahkan sampai ada yang rela menyerahkan tubuh, hanya untuk seorang alvaro.


Hingga suatu saat, ada satu sosok perempuan yang dikenalnya semenjak dia masuk SMA, perempuan tangguh, riang, ceria dan berhati malaikat yang ingin menaklukkan hati seorang alvaro, ya, dia adalah Clarissa Jasmine. Perempuan cantik dengan rambut coklat bergelombang, kulit putih bersih, mata bulat, hidung bangir dan bulu mata yang indah.


Dengan rasa percaya diri yang tinggi dan dukungan dari kedua sahabatnya desi dan cika, dia memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada alvaro saat kelas satu SMA, namun yang didapatkan adalah penolakan dan wajah terganggu yang ditunjukkan oleh  cowok itu kepadanya secara terang-terangan.


Perempuan cantik itu hidup sebatang kara, semenjak orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat dia memasuki kelas dua SMA, sejak saat itu dia menjadi lebih dekat dengan alvaro dan kedua orangtuanya. Selain karena memang dia wanita yang baik, dia juga sangat cepat mengambil hati kedua orangtua alvaro.


Mami dan papi alvaro sangat mendukung hubungan mereka, dengan sangat terpaksa alvaro mencoba untuk menjalin hubungan dengan jasmine, atas dasar kasihan dan paksaan kedua orangtuanya dan juga sahabat perempuannya safira yang sudah dicintainya sejak dulu.


Hubungan toxic relationship mereka tetap berlanjut, hingga setelah setahun kelulusan mereka dari SMA, alvaro melamar jasmine untuk menjadi istrinya, itupun masih dengan sangat terpaksa, alvaro menjalani semuanya.


Mami dan papi alvaro, memaksa alvaro untuk segera meminang jasmine, karena perempuan itu hanya hidup sendiri, toh mereka sudah cukup lama berpacaran.


Awalnya lelaki keras kepala itu menolak tegas permintaan konyol orang tuanya, namun dengan bujuk rayu serta sedikit bumbu ancaman dari maminya. Alvaro akhirnya luluh juga, butuh pertimbangan besar untuk alvaro mengambil keputusan yang tidak main-main.


Disaat semua sahabatnya masih mencari jati diri mereka, alvaro justru dibebankan oleh tanggung jawab besar.


Saat ini usia alvaro baru akan beranjak 20 tahun, begitupun dengan jasmine. Mereka harus segera menikah karena paksaan dari kedua orangtua alvaro. Jasmine itu baik dan sopan sehingga dengan mudahnya dia mengambil hati kedua orangtua alvaro. Selain itu jasmine juga sebatang kara, dan itu menjadi alasan kuat mereka untuk cepat menikahkan alvaro dan jasmine.


Tidak jauh berbeda dengan alvaro, awalnya wanita cantik itu juga menolak keras. Selain karena dia belum merasakan keseriusan alvaro pada hubungan mereka, jasmine juga tidak mau menjadi beban terutama untuk alvaro.


Berbeda dengan safira, dia adalah model yang cukup naik daun saat ini. Rambutnya panjang sepunggung warna coklat terang, matanya indah, hidung mancung dan kulit yang putih bersih. Di dunia model dia disebut barbie hidup, karena kecantikannya yang tidak bisa diragukan.


Alvaro memang sudah menyukai safira sejak dulu, namun perempuan itu bersikeras menolaknya, dengan alasan persahabatan. Tapi dimana pun ada safira di sana lah alvaro berada.


Namun sayang ada masa lalu dari orangtua safira, yang membuat dia tidak disukai oleh kedua orangtua alvaro, khususnya mami alvaro. Safira juga sombong dengan orang sekitarnya, namun masih saja banyak fans yang mau menerimanya.


Saat ini jasmine dan alvaro sedang duduk di taman belakang yang ada di rumah alvaro, seperti biasa jasmine akan ke rumah alvaro untuk menghampiri cowok itu. Ada maupun tidak ada alvaro,  jasmine tidak pernah absen untuk berkunjung.


Jasmine melirik alvaro yang sedang duduk diam disebelahnya, rasanya jasmine ingin pulang saja, dari pada harus melihat wajah sebal yang cowok itu tunjukkan kepadanya.


"Al, hmm....kamu yakin mau nerusin acara pernikahan kita?" tanya jasmine, membuka suara setelah mereka cukup lama dalam diam, dia bertanya dengan suara gugup dan ragu yang terdengar sangat jelas.


"Kenapa ngomong gitu?" tanya alvaro balik, melirik jasmine dengan wjah datarnya.


Sumpah demi apapun alvaro sangat lelah, dia hanya ingin mandi dan tidur setelah seharian mengantarkan safira.


"Aku cuma ngerasa makin kesini kamu semakin jauh al, mungkin hanya perasaanku aja, tapi aku ngerasa kamu mulai ngejaga jarak dari aku " lirihnya sendu, menatap lurus kebawah sambil memilin jari-jari lentiknya.


Alvaro bergeming, tak berniat untuk menjawabnya, toh hatinya tidak bisa dibohongi. Dia hanya sayang dan cinta kepada Safira Mahendara sahabat perempuan satu-satunya.


Toh selama dia pacaran hingga sampai tahap sekarang adalah paksaan dari kedua orangtuanya, dan juga safira dengan sedikit ancaman, perempuan itu tidak mau berbicara lagi dan bertemu alvaro lagi, tentu saja dengan perasaan yang amat sangat terpaksa alvaro mengabulkan permintaan safira, karena buat alvaro safira itu adalah hidupnya, cintanya, dunianya. Walaupun dia harus mengorbankan statusnya dan masa depannya. Asalkan perempuan itu tetap disisinya, alvaro yakin dia akan bisa melewati drama penikahannya nanti.

__ADS_1


"Gak usah mikir macem-macem, mending kamu sekarang tetap fokus sama acara pernikahan ini" balasnya dingin, sebelum meninggalkan jasmine sendiri di sana.


Alvaro sudah terlalu malas harus menghadapi atau menjawab pertanyaan konyol dari jasmine, udah ditengah jalan gini baru nanya, kemarin kemana aja pikir alvaro, jengkel sendiri dia.


"Aku takut al, aku punya perasaan yang ga enak tentang kelanjutan pernikahan ini" batin jasmine berucap gelisah. Dia hanya mampu menatap sedih punggung alvaro, yang kian menghilang dibalik pintu taman.


Jasmine merenung memandang langit gelap ditemani angin malam. Dia mengeratkan kardigannya, menghalau dingin yang menusuk hingga ke tulang, bibirnya tetap menyunggingkan senyum, walaupun hatinya sangat resah. Dia duduk cukup lama di sana sendirian, lalu setelahnya dia beranjak keluar dari taman belakang rumah alvaro, melewati pintu belakang. Entah dimana alvaro sekarang berada, dia sudah terbiasa dengan sikap cuek dan dingin alvaro, yang seolah-olah tidak menganggap kehadirannya.


"Loh non, mau makan malam? bibi masak banyak nih" bik imah menatap jasmine yang baru saja melewati ruang makan.


"Nggak usah bik, aku mau langsung pulang aja" ucap jasmine tersenyum "al udah makan bik?"


"Masih kenyang katanya non, mau tidur aja"


Jasmine mengangguk dan tersenyum "aku pulang dulu bik, udah malam juga"


"Hati-hati non" sahut bik imah menatap kasihan pada perempuan muda itu.


Jasmine melangkahkan kakinya dengan kepala menunduk menuju gerbang rumah alvaro.


"Malam non" sapa pak husein membukakan pintu gerbang.


"Malam pak" jasmine balik menyapa dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Ojeknya sudah sampai non"


"Iya pak, makasih. Aku pulang dulu"


"Sama-sama non, hati-hati dijalan" katanya memperingati, pak husein berjalan dibelakang jasmine mengantarkan perempuan muda itu hingga memakai helm.


"Sesuai aplikasi ya pak"


"Siap mbak" abang ojeknya tersenyum sangat manis dan memberikan hormat, membuat jasmine tertawa karenanya.


Jasmine pulang sendiri ke rumahnya, setelah dia memesan ojek online seperti biasanya. Jangan harap alvaro mau mengantarkan dia pulang ke rumahnya, mengantarkan dia sampai pintu depan rumahnya saja bisa dihitung jari selama mereka menjalin hubungan.


Begitu sampai didepan pintu rumahnya, jasmine disambut oleh keheningan serta gelapnya ruangan dan dinginnya malam, jasmine membuka pintu rumahnya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang gelap, dia mendesah lelah selalu seperti ini, setiap dia kembali ke rumahnya.


Rumah yang sepi tak berpenghuni hanya jasmine yang tinggal rumah itu sendiri, semenjak orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Sepi dan sendiri sudah menjadi sahabat terbaiknya saat ini.


Dia segera mengunci kembali pintu rumahnya, lalu berjalan kerah kamarnya tak lupa menyalakan lampu dapur hanya untuk formalitas, agar rumahnya sedikit terang. Setelah masuk kedalam kamarnya, dia kembali berjalan gontai menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.


Kemudian setelah, dia melakukan ritual malamnya memakai cream malam, kemudian kakinya bergerak menuju ranjang tidurnya, membaringkan tubuhnya sambil berucap dan berdoa didalam hati, semoga hari esok bisa lebih baik lagi dari hari ini.

__ADS_1


Jasmine menutup perlahan matanya lelah, mencoba untuk menggapai mimpi indah yang selalu dia impikan dan harapkan. Hanya satu mimpinya, hidup bahagia bersama laki-laki yang dia cintai sampai saat ini, Alvaro.


Meskipun dia tau, mimpinya terlalu jauh dari sebuah harapan yang sia-sia, cowok yang tidak pernah menganggap dirinya nyata.


__ADS_2