Jasmine

Jasmine
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

...Setelah aku menerimanya...


...Kini saatnya aku menjalaninya...


...Dengan bermodalkan ikhlas yang akan selalu setia menemaniku...


...Clarissa Jasmine...


Happy Reading...


Selama jasmine membersihkan diri di dalam kamar mandi, Alvaro menunggu dan duduk termenung sambil meratapi nasibnya di atas kasur yang sudah dihias khusus oleh mami untuk mereka berdua.


Alvaro memperhatikan dengan lekat ke sekeliling kamar, banyak kelopak bunga mawar bertebaran di lantai dan di atas kasurnya, lilin kecil menambah suasana romantis, serta wine yang sudah disiapkan khusus untuk dinikmati. Semua seharusnya sudah sangat sempurna untuk pasangan pengantin pada umumnya, suasana yang romantis dengan design yang pas untuk menikmati malam pertama, tapi tidak untuk alvaro, baginya ini  semua sangatlah memuakkan.


Alvaro meratapi nasibnya yang tidak sesuai dengan keinginan dan ekspetasinya, dia menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


'Gw sekarang udah jadi suami sah jasmine, gw harus omongin ini sama jasmine sekarang juga. Gw gak bisa bohongin diri gw sendiri dan nahan perasaan gw terus menerus seperti ini, setelah satu tahun pernikahan, gw harus ceraikan jasmine dan gw harus buat perjanjian sama dia secepatnya' monolog alvaro dalam hati.


Jasmine berjalan keluar dari kamar mandi setelah cukup lama merenung, dia sudah lebih segar setelah membersihkan tubuhnya, jasmine menemukan alvaro yang sedang duduk termenung entah melamun kan apa. Dia menghela nafas berat, melirik tidak minat pada dekorasi kamar yang di penuhi oleh kelopak bunga mawar merah dan beberapa lilin kecil.


Alvaro yang menyadari kehadiran jasmine sontak langsung mengalihkan perhatiannya penuh kepada wanita itu.


"Ada yang mau aku omongin sama kamu dan ini sangat penting, jadi kamu jangan tidur dulu tunggu aku sebentar" perintah alvaro tegas, lalu berjalan kekamar mandi dengan wajah datarnya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Didalam kamar mandi alvaro sibuk berfikir, menimbang kata-kata yang pas yang akan dia sampaikan pada jasmine, agar ucapannya bisa diterima dengan baik oleh wanita itu. Bagaimana caranya, agar jasmine tidak tersinggung dan marah dengan apa yang akan disampaikan olehnya nanti. 


"Anjir lah, kenapa susah bener nyusun kata-kata doang!" gerutunya sambil meninju udara yang tak bersalah.


Alvaro mengacak rambutnya frustasi, dia merasa menjadi orang bodoh dadakan saat ini. Kenapa disaat yang penting seperti sekarang ini, dia sangat sulit berfikir dan mecari kata-kata yang pas untuk diucapkannya. Kemana otak pintarnya itu pergi, mendengus jengkel dia mengangkat bahunya acuh terserah apa yang keluar dari mulutnya saja nanti.


"Bodo lah, kampret emang! liat entar aja pusing pala gw!" keluh alvaro kesal setengah mati.


Sambil menunggu alvaro yang sedang berada dikamar mandi, jasmine mencoba mengalihkan pikirannya yang sudah kepo itu, dengan membersihkan seluruh bunga-bunga dan lilin kecil yang bertaburan di atas kasur dan lantai kamar. Sungguh tak berguna sama sekali semua dekorasi ini, namun dia tidak bisa protes, karena semua sudah diatur oleh kedua mertuanya yang sangat baik dan sayang padanya.


"Duh, kenapa perasaan gw jadi gak enak gini ya?" gumam jasmine gusar.


Jasmine duduk dengan gelisah di atas kasur, masih menebak-nebak hal penting apa yang akan alvaro sampaikan padanya, hatinya tidak tenang sejak tadi, ada perasaan tak enak yang mengganjal. Sampai akhirnya alvaro keluar dari kamar mandi dan terlihat lebih segar.


Alvaro berjalan ke arah jasmine dan duduk persis di sebelahnya, matanya menjelajah ke seluruh sudut kamar. Jasmine sudah membersihkan semua bunga yang bertebaran dan lilin yang tampak menyebalkan di matanya.

__ADS_1


Mereka saling tatap untuk beberapa saat, sebelum alvaro membuka suaranya terlebih dahulu.


"Mine, ada yang harus kamu ketahui" jeda, alvaro mengambil nafas sejenak untuk memantapkan hatinya "Aku gak bisa bohongin perasaan aku dan memendam ini lebih lama lagi, semenjak awal aku nggak pernah punya perasaan yang lebih sama kamu. Pernikahan ini murni aku lakukan atas dasar paksaan dari papi dan mami, ada perempuan lain yang aku cinta dan itu pastinya bukan kamu" ungkap alvaro, dengan sekali tarikan nafas.


Alvaro menatap lamat wajah sendu jasmine, tidak ada keterkejutan didalamnya, keningnya mengkerut dalam tanda bingung. 


"Kamu paham kan apa yang aku omongin? aku mau kita buat kesepakatan dan perjanjian pernikahan ini. Setelah satu tahun menikah dari sekarang, aku akan menceraikan kamu, aku akan berikan kompensasi sama kamu. Soal harta gono gini kamu nggak perlu khawatir, kamu akan tetap mendapatkan hak kamu sebagai istri aku, tentunya tanpa hak lahir seperti pasangan pada umumnya. Kamu akan tetap mendapatkan tunjangan dari aku setiap bulannya, baik sekarang atau setelah kita bercerai nantinya. Aku harap kamu nggak ikut campur urusan pribadi aku, begitupun sebaliknya aku nggak akan larang kamu untuk dekat dengan lelaki lain, maaf mine, kalau kenyataan ini sangat menyakitkan buat kamu, tapi aku harus bilang diawal agar kamu tidak berharap lebih sama aku" tutur alvaro panjang lebar, menatap intens mata jasmine.


Tanpa dia duga sama sekali, wanita didepannya tersenyum dengan sangat tulus, walaupun matanya tidak bisa menyembunyikan luka dan kekecewaan yang mendalam.


Jasmine sudah menduganya, cepat atau lambat alvaro pasti akan mengatakannya, namun dia tidak pernah menyangka akan secepat ini. Belum ada satu hari mereka menikah, baru pagi tadi alvaro mengucapkan ijab kabul didepan penghulu dan para saksi dengan suara lantangnya, dan mereka sah menjadi sepasang suami istri, namun malam ini yang seharusnya adalah malam pertama untuknya, menjadi malam yang paling menyedihkan sepanjang hidupnya, dimana suaminya dengan jujur berkata bahwa dia mencintai perempuan lain. Hatinya hancur, statusnya hanya akan menjadi topeng selama satu tahun kedepannya.


Jasmine menghirup banyak udara, menekan semua perasaan sesak yang menghimpit dadanya, lalu dia menatap lekat lelaki yang duduk di sebelahnya, dan sialnya sudah menjadi suami sahnya saat ini.


"Oke al, kalau memang begitu kenyataannya aku tidak bisa berbuat banyak, tapi izinin aku untuk tetap sayang sama kamu ya, al, aku nggak minta balasan apapun dari kamu, dan izinin juga aku tetap menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri, untuk tetap mengurus kamu sampai waktunya tiba nanti" ucap jasmine dengan suara tercekat dan sorot mata yang begitu pilu. 


Alvaro tertegun sesaat mendengar jawaban jasmine, terbuat dari apa hati wanita ini pikirnya, dia menatap dalam kedua bola mata jasmine.


"Kamu baik mine, kamu berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada aku" balas alvaro jujur dan tulus dari dalam hatinya.


Jasmine hanya mampu tersenyum sendu, dia sama sekali tidak menyangka akan sesakit ini rasanya.


Jasmine segera merebahkan dirinya, menutup tubuhnya dengan selimut dan membelakangi alvaro, tanpa menunggu lagi jawaban dari suaminya itu. Hatinya sudah terlalu sakit dan sesak mendengar fakta itu keluar dari bibir alvaro langsung.


'Secepat inikah Tuhan? tidak bisakah kau perpanjang kebahagiaanku sebentar saja' lirih jasmine menjerit keras dalam hatinya, dia menutup matanya pedih menangis dalam diam, kenyataan yang baru saja dia dengar begitu menamparnya, hatinya sangat sakit dan sesak.


Lelaki itu seperti mendorongnya jatuh keatas ribuan paku, tanpa belas kasihan sedikitpun.


Jasmine membuka matanya saat melihat punggung alvaro yang berjalan menjauh "sakit al, sakit banget rasanya" dia terisak, membungkam mulutnya dengan kedua tangannya "ya Allah kenapa sesakit ini"


Sementara itu alvaro berjalan cepat kearah balkon yang ada didalam kamar hotelnya, ada apa ini, kenapa hatinya juga ikut merasakan sakit? kenapa ada perasaan tak nyaman ketika dia mengungkapkan fakta itu, harusnya dia lega, harusnya dia senang jasmine tidak menuntut lebih padanya. Tapi kenapa justru sebaliknya, perasaan ini begitu asing, alvaro mengacak rambutnya frustasi, berkacak pinggang dan menghembuskan nafas keras.


"Ck, kenapa gw jadi ikutan melow gini sih! Nggak, nggak bisa kayak gini. Gw cuma kasian doang sama jasmine, gak mungkin gw punya perasaan lebih sama dia"


"Arghh bangsat emang"


Alvaro harus tetap fokus pada tujuan awalnya, dia harus tetap menceraikan jasmine setelah satu tahun pernikahan mereka, dia harus melawan keras dan tegas perasaan aneh yang merayap dalam hatinya saat ini, dia tidak boleh terhanyut dan terbuai dengan perasaan asing yang tumbuh dihatinya.


"Fokus al fokus, lu cuma cinta sama safira doang, iya cuma safira!"

__ADS_1


Saat ini tujuannya akan tetap sama, mengejar wanita pujaan hatinya safira, cinta sejatinya. Bukan, bukan jasmine, dia hanya iba, ya dia hanya iba pada wanita itu. Wanita malang yang hidup sebatang kara, otaknya mengelak tegas apa yang dia rasakan saat ini, egonya terlalu besar, menipis jauh jeritan protes dari dalam hatinya.


Setelah berpikir cukup lama dan meyakinkan hatinya agar sejalan dengan otaknya, alvaro memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya alvaro juga sudah sangat lelah dan mengantuk sejak tadi, tapi entah kenapa dia sulit untuk tidur. 


Alvaro berjalan kembali kedalam kamar dengan langkah pelan setelah berperang dengan batinnya sendiri, dia melihat jasmine yang sudah tidur nyenyak, walaupun samar dia masih bisa melihat dengan jelas jejak air mata yang ada di pipi wanita itu. Hatinya kembali merasakan perih, ingin sekali dia mendekap tubuh jasmine erat, dan menghapus jejak air mata itu dengan kedua tangannya, tapi lagi-lagi egonya begitu tinggi.


"Nggak bisa! Nggak boleh sampai terjadi" dia menggeleng tegas, mencoba menetralkan perasaannya.


Lebih baik dia ikut tidur sekarang, dari pada dia terus berperang dengan hatinya sendiri rasanya kepalanya mau pecah saja, rumit sekali perjalanan cintanya.


Alvaro bergerak gelisah dalam tidurnya, dia merasa tidak nyaman harus satu kasur berdua dengan jasmine. Biasanya dia hanya tidur sendiri ditemani oleh pacar halalnya guling, sekarang dia ditemani oleh jasmine istri halalnya tapi dia malah bingung sendiri. 


"Ck, bangsat tidur doang susah amat elah"


Alvaro memaksakan matanya untuk terpejam, agar dia bisa ikut tidur juga. Jujur tubuh dan hatinya sangat lelah saat ini, dia sangat membutuhkan istirahat, setidaknya untuk menyegarkan kembali otaknya.


...------...


"Kira-kira, al lagi ngapain dah sekarang?" gumam jordan penasaran.


"Anjir, kepo banget lu, ******!" rian menjawab tanpa melepas pandangannya dari layar TV didepannya.


"Kiri bangsat!" geram bayu terus memainkan stick PS ditangannya.


"Mata lu kotak, lu gak liat ada musuh tuh di sono" sahut rian tak terima.


"Arghh kampret, ketembak kan gw" seru bayu histeris.


"Lagi ****** lah gembul, apaan lagi emangnya yang dilakuin pengantin baru pas malam pertama, dongo!" timpal dean menjawab pertanyaan bodoh jordan.


"Yee, kan bisa aja langsung molor, kecapean gitu" semprot jordan menyuarakan isi otaknya.


"Lagian ngapain lu pikirin oon, bukan urusan lu juga, nyet!" sahut akbar tak habis pikir.


"Udah diem bae aja lu, kunyah aja tuh semua makanan" bayu berucap santai setelah menegak minuman.


"Anjing..." umpat jordan tepat didepan wajah bayu.


"Bajingan, gak usah nyembur juga setan!" pekik bayu tak terima, wajahnya banyak menempel chiki kunyahan jordan, iyuhh.

__ADS_1


__ADS_2