Jasmine

Jasmine
Kecemburuan Alvaro


__ADS_3

Happy Reading 🌹


Alvaro dengan segera menarik tubuh jasmine kedalam pelukannya, memeluk posesif pinggangnya, menatap sinis kearah leo.


Jordan, bayu, dean, rian dan akbar saling tatap satu sama lain.


"Al, ini beneran lu kan?" tanya jordan memastikan.


Alvaro memutar matanya malas "Buta mata lu?" jawab alvaro jutek.


"Widihh, udah bucin lu ya, al?" bayu menaik turunkan alisnya.


"Lu apain nih anak, jass?" tanya rian tak percaya.


"Udahlah, malu ini diliatin" kata jasmine menatap ke sekeliling.


"Tau bacot banget lu pada" ujar desi walaupun dia juga heran.


"Udah ayo kita ngobrolnya di resto depan aja" jasmine menunjuk restoran yang ada di sebrang mereka.


"Kalian ikut aja" kata jasmine lagi mengajak leo dan temannya.


"Ngapain sih mereka diajak juga" protes alvaro dengan wajah tidak terima.


"Al, nggak boleh gitu" jasmine melotot pada bayi besarnya.


"Terserah lah" sahut alvaro jengkel.


"Ayo" ucap jasmine kepada leo dan temannya, yang langsung diangguki oleh mereka.


Saat ini mereka ber-sebelas duduk di meja yang sama, sambil menunggu makanan yang sudah mereka pesan, alvaro benar-benar mengapit jasmine tidak memberikan celah kepada laki-laki manapun untuk dekat dengan istrinya, termasuk dengan kelima sahabatnya sendiri.


"Lo al kan? sahabatnya safira?" tanya leo membuka suara, sejak tadi dia memperhatikan lekat wajah alvaro.


Jasmine dan semua temannya saling tatap satu sama lain, bingung kenapa bisa leo kenal sama al.


"Hem" jawab alvaro malas, dia sudah tau siapa cowok yang duduk satu meja dengannya, cowok yang membuatnya sakit hati dan merasa ditipu oleh safira.


"Oh ya kenalin gw leo, dan ini ben manager gw" ucap leo ramah, dia melirik satu persatu orang yang ikut duduk satu meja dengannya.


"Lo kenal alvaro??" tanya desi penasaran, karena sikap alvaro tadi seperti tidak bersahabat dengan lelaki itu.


"Ohh iya, dulu sempat dikenalin safira, safira mantan gw btw" jawab leo santai.


"Ohh" seru semuanya dengan kompak sambil manggut-manggut.


"Mantan??" tanya alvaro bingung.


"Yaps, gw udah nggak ada hubungan lagi sama dia dari beberapa minggu yang lalu" balas leo tenang.


"Kenapa? kenapa lo putus sama dia?" kali ini cika membuka suaranya.


"Eum, sebenarnya ini privasi, tapi intinya dia gak sebaik yang gw kira" jawab leo tersenyum canggung.


"Baru tau lo" celetuk jordan tersenyum sinis.


"Untungnya gw gak telat taunya, padahal gw udah rencana mau lamar dia" sahut leo menerawang "ah udahlah males gw bahasnya" lanjutnya lagi dengan wajah masam.


"Lo gak mainin dia kan?" tanya alvaro, dengan tatapan menyelidik.


"Hahaha buat apa? kayaknya lo belom tau kelakuan safira dibelakang lo ya" tebak leo tepat sasaran.


Alvaro bungkam sejurus nya dia menjawab lantang "gw kenal dia dari kecil" sahutnya bangga.


Leo menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Lo emang sahabatnya dari kecil, safira juga cerita banyak tentang lo ke gw. Tapi gw boleh tanya satu hal sama lo? apa yang buat ortu lo gak suka sama dia? padahal kalian udah kenal lama kan?" tanya leo balik menantang.


Benar, sampai saat ini pun dia tidak tau kenapa mami dan papinya sangat tidak menyukai safira.


"Mereka pasti punya alasan tersendiri" balas alvaro mengelak.


Leo mengangkat kedua bahunya acuh " itu sih terserah lo, tapi saran gw hati-hati. Sifat safira gak secantik wajahnya, itu yang gw tau. Btw cewek disebelah lo siapa? sepupu?" tanya leo penasaran, dia juga sudah malas kalau harus membahas mantannya lagi.


Jasmine tersenyum kaku, sementara semua temannya menahan tawa.

__ADS_1


'Apa katanya? Sepupu??? Hell, dia bini gw kampret sialan'


Alvaro menatap tajam leo, mengangkat satu alisnya.


"Dia" tanya alvaro, menunjuk jasmine dengan dagunya.


Leo mengangguk cepat, dengan mata berbinar tak lupa senyum manis yang dia tunjukkan untuk wanita cantik yang duduk disebelah alvaro.


"Dia ISTRI gw" jawab alvaro lantang, penuh penekanan pada kata ISTRI.


"Hah??" leo melongo, cengo menatap wanita itu dan alvaro bergantian, luntur sudah senyum manisnya.


"Dia bininya alvaro, lo cari cewek lain aja buat lo gebet" celetuk jordan blak-blakkan, sambil menepuk pundak leo prihatin.


Alvaro mendengus, dia menatap tajam pada istrinya.


"Kamu juga sih, ngapain senyum-senyum nggak jelas gitu sama dia" ucap alvaro ketus.


Jasmine melongo mendengar ucapan suaminya, kapan dia senyum-senyum coba.


"Apaan sih al, siapa juga yang senyum senyum" balas jasmine tak terima.


"Aku liat dari tadi ya mine" sahut alvaro tak mau kalah.


"Kapan? kapan aku kayak gitu?" tanya jasmine cemberut, bisa-bisanya dia dituduh seperti itu.


"Gak usah pasang muka kayak gitu! tadi waktu dia mau bersihin baju kamu. Ngapain coba kamu malah senyum ke dia" balas alvaro gemas sendiri melihat wajah cemberut istrinya.


"Ihh, itu bukan senyum yang kamu maksud al, tadi dia bilang mau ganti baju aku. Makanya aku senyum, terus aku bilang nggak usah" jelas jasmine geregetan menjelaskan pada suaminya.


"Tetep aja, intinya senyum kan" sahut alvaro masih tak mau mengalah.


"Tau ah" wajah jasmine semakin tertekuk.


"Coba kalau tadi aku nggak ada, kamu pasti udah kenalan, tukeran no hp, terus chatingan deh" tuduh alvaro jengkel.


"Lah kok lo tau al" celetuk leo cengengesan.


Alvaro ingin menjawab tapi terpotong saat makanan yang kami pesan tiba.


Jasmine melirik malas kearah alvaro, masih sangat kesal dengan tuduhan suaminya.


"Makan sendiri al, kamu nggak malu diliatin sama semuanya dari tadi" seru jasmine jengah.


Alvaro memajukan bibirnya.


Memang ada saja tingkah suaminya itu, membuat jasmine harus sering mengelus dada berulang kali, untung saja dia sayang.


"Mine" panggil leo polos.


Alvaro langsung menatapnya sengit.


"Heh, cuma gw yang boleh panggil dia dengan sebutan itu" ucap alvaro ngegas.


"Lah terus gw manggilnya apa?" tanya leo, dengan wajah polosnya.


"Nama gw jasmine, panggil jass aja sama kayak yang lainnya" sela jasmine cepat, guna menengahi alvaro yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"Ayo buruan makan mine, abis itu kita pulang" ucap alvaro dengan wajah datar.


Jasmine menghela nafas, pasti ngambek lagi ini bayi besarnya. Alamat dia gak bakal boleh keluar lagi ini mah.


"Udah ini makan" kata jasmine setengah jengkel mulai menyuapi alvaro.


Alvaro membuka lebar mulutnya, meskipun wajahnya masih menunjukkan raut tidak suka.


"Cemburuan lo, al" celetuk bayu geleng-geleng kepala.


"Iyeee, bucin amat lo" sahut akbar terkekeh.


"Baru sadar kalau di sebelah lo itu bidadari?" tanya jordan sinis, mengingat sikap alvaro dulu terhadap jasmine.


"Pengantin baru mah beda, ya nggak" timpal dean tersenyum meledek.


"Tuh paham" celetuk rian geli sendiri.

__ADS_1


Desi dan cika cekikikan melihat tampang malu jasmine.


Alvaro sungguh membuat jasmine malu, suapan terakhir dia masukkan dengan sedikit kasar.


Pada akhirnya mereka makan sepiring berdua, alvaro mah santai saja, jasmine malah yang malu karena tidak sedikit pasang mata yang melihat kearah mereka.


"Yah, aku telat ternyata" celetuk leo dengan tampang nelangsanya.


"Sabar bos" ucap ben iba, mengusap bahu leo prihatin.


Emosi alvaro kembali naik, ucapan leo seperti percikan api.


"Ayo mine, kita pulang sekarang" seru alvaro semakin berang.


Alvaro menarik tangan jasmine hingga istrinya ikut berdiri dibuatnya, lalu memeluk pinggangnya posesif.


"Posesif amat" gumam cika yang masih bisa didengar oleh yang lainnya.


"Mau kemana sih al, buru-buru amat, udah tenang aja jasmine cuma MILIK lo seorang" gemas desi yang menekan kata milik pada alvaro.


"Mau ******" jawab alvaro asal, yang langsung mendapatkan cubitan maut dari jasmine diperut berototnya.


"Apaan sih al" tegur jasmine sedikit berbisik.


"Sakit sayang" sahut alvaro, dengan wajah memelas sambil mengelus perutnya sendiri.


"Abis kamu ngomongnya, alvaro ihh" balas jasmine gemas, dengan wajah malu yang tak bisa dia ditutupi.


Alvaro terkekeh geli melihat wajah istrinya yang sudah memerah.


"Lah emang bener kan" sahut alvaro cuek saja, lagian salahnya dimana coba. Toh mereka berdua sudah menikah, jadi wajar saja kan kalau dia berbicara seperti itu.


Jasmine sudah sangat jengah dengan kelakuan suaminya, dia mengambil tasnya dengan cepat di atas meja dan menghempaskan tangan alvaro dari pinggangnya dengan kasar.


"Gw duluan ya guys, sorry" ucap jasmine tak enak pada mereka semua, lalu melangkah pergi meninggalkan alvaro yang tercengang karena di tinggal sendiri.


"Ehh mine, tungguin aku dong" seru alvaro panik, ketika ditinggal begitu saja oleh istrinya.


"Rasain, ditinggal kan lo, banyak tingkah sih" jordan tergelak kencang diikuti dengan yang lainnya.


Alvaro mengacungkan jari tengahnya kepada jordan dan yang lainnya sambil berkata '****!!' tanpa suara.


Semua temannya tak menanggapi, mereka sibuk menertawakan alvaro yang melangkah lebar mengejar jasmine dari belakang.


"Mine, hei pelan-pelan jalannya sayang" alvaro memanggil istrinya lembut.


Namun jasmine tidak perduli, dia berjalan cepat didepan alvaro dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Sayang.. mine.." panggil alvaro sekali lagi lebih lembut.


Jasmine membalikkan tubuhnya menghadap alvaro, menatap wajah suaminya dengan muka cemberut.


Alvaro terkekeh geli melihatnya, dia langsung menggandeng tangan istrinya. Menautkan jarinya disela jari-jari jasmine menggenggamnya erat, lalu mengajak istrinya berjalan beriringan dengannya.


Jasmine tersenyum samar, bisa-bisanya lelaki ini membuatnya luluh hanya dengan perlakuan sederhananya.


Kan..... Jasmine jadi gagal marah sama alvaro! yang ada saat ini jasmine malah semakin mengeratkan tautan jari kami sambil tersenyum lebar.


"Nggak boleh gitu lain kali al" jasmine menegurnya dengan lembut.


Alvaro menoleh, menatap datar istrinya.


"Tapi, dia keliatan banget suka sama kamu mine" balas alvaro kembali kesal.


"Kan akunya nggak, lagian juga dia tadi udah tau kalau aku istri kamu kan"


"Ya tetep aja, aku nggak suka cara dia mandang kamu"


Memang dasar keras kepala!


"Kamu juga harusnya jaga senyum kamu"


"Loh kok jadi aku yang salah? kan tadi aku udah jelasin sama kamu"


"Nurut kenapa sih, mine"

__ADS_1


Jasmine memutar matanya malas, ada saja jawaban alvaro bikin dia jengkel sendiri.


__ADS_2