Jasmine

Jasmine
Resepsi


__ADS_3

...Aku mencoba tersenyum dibalik wajah senduku...


...Aku mencoba menerima kenyataan dengan semua ikhlasku...


...Clarissa Jasmine...


Happy Reading....


Acara resepsi diadakan sangat mewah dan meriah di salah satu hotel ternama milik keluarga alvaro. Mengingat bahwa alvaro adalah anak semata wayang, jadi mami dan papinya memberikan yang tebaik untuk mereka.


Saat ini jasmine dan alvaro sedang berada didalam salah satu kamar hotel yang berada dilantai tiga puluh, lantai khusus untuk kamar alvaro beserta keluarganya, mereka sedang mempersiapkan diri untuk acara resepsi. Alvaro sudah nampak gagah, dengan balutan jas bludru biru tua, sementara jasmine, menggunakan gaun dengan warna yang senada dengan tuxedo alvaro. Gaun dengan model sabrina, yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna, dengan model duyung di bagian bawahnya, serta ekor yang menjuntai panjang di bagian belakangnya. Kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan warna gaun yang dia pakai, sehingga penampilan jasmine jauh lebih terlihat sempurna.


Lagi, kedua kali alvaro merasakannya, jantungnya berdegup kencang begitu melihat penampilan istrinya, tapi dia segera menepis jauh perasaan aneh itu.


'Nggak, ini nggak boleh dibiarin terjadi. Tenang al, tenang, jangan sampai kebawa perasaan' alvaro menutup kedua matanya erat, mencoba untuk menyatukan kinerja otak dan hatinya yang tidak pernah sejalan.


"Udah?" tanya alvaro datar.


Jasmine memperhatikannya dari pantulan cermin, lelaki itu sangat tampan. Memang kenyataannya lelaki itu sudah menjadi suaminya, namun hanya sementara saja bukan.


"Udah" jawab jasmine singkat, dia berdiri merapikan gaunnya agar mudah untuk berjalan.


"Ayo" alvaro kembali bersuara masih dengan wajah datar.


"Hem" jasmine mengangguk samar kemudian mengekor dibelakang alvaro, sampai di depan pintu kamar hotel.


Jasmine menarik nafas sejenak, ketika alvaro menyodorkan lengannya untuk dia gandeng.


Mereka berjalan keluar dari kamar, beriringan menuju ball room tempat dilaksanakannya acara resepsi pernikahan, jasmine melingkarkan tangannya, pada lengan kokoh suaminya dengan senyum yang mengembang sempurna hingga tiba di pintu ball room.


Para tamu menatap takjub pada jasmine, tak bisa di pungkiri hampir semua tamu khususnya kaum adam yang ada di sana, terpaku melihat kecantikannya, aura kecantikannya itu keluar dengan sempurna, apalagi dengan penampilannya yang sangat anggun malam ini. Bahkan banyak dari mereka sampai tidak berkedip menatap kagum pada dirinya.


Jasmine tertawa kecil, ketika melihat mami bertepuk tangan riang saat mereka tiba.


"Ck, bikin malu aja mami" dengus alvaro tidak suka.


Jasmine melirik malas kearah suaminya "cuma malam ini doang al, biarin orangtua kamu seneng kenapa sih" sahutnya sedikit jengkel.


Saat ini mereka sedang berdiri di atas pelaminan, menyambut para tamu yang ingin memberikan ucapan selamat serta doa untuk mereka berdua.


Dari arah depan, terlihat lima orang laki-laki berwajah tampan, dengan penampilan yang sangat sempurna sedang berjalan kearah mereka dengan tatapan jahil serta menggoda, dibelakang mereka ada dua sahabat jasmine yang ikut serta mengantri untuk memberikan selamat.


Rian, Akbar, Dean, Jordan dan Bayu, kelima lelaki tersebut adalah sahabat baik dari alvaro, mereka satu sekolah semenjak SMP, begitupun dengan Cika dan Desi, mereka adalah sahabat terbaik yang jasmine miliki sejak SMP hingga sekarang.


"Wih, gak nyangka gw bro, lo bisa-bisanya ngedahuluin gw" seru akbar terkekeh, dengan kedipan mata menggoda kearah jasmine.


"Yeuhh, ganjen amat tuh mata, inget, udah ada yang punya ini!!" sungut jordan menoyor keras kepala akbar "Selamat ya jass, lo harus bahagia, dan lo al, harus bahagian jasmine, karena jasmine udah gw anggap kayak adik gw sendiri, kalau lo nyakitin dia, lo akan berhadapan sama gw" sambung jordan tegas, dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"Ckckck, serius amat muka lo tong, pastilah dia bahagiain jasmine dodol" cibir dean gemas.


"Selamat ya bro, semoga samawa, jangan lupa pelan-pelan pas awalnya" ucap rian ambigu, kemudian terkekeh geli.


"Woii bro, gw udah siapin kado spesial nih buat lo" timpal bayu, menaik turunkan alisnya menggoda.


Alvaro, lelaki itu hanya diam tanpa menjawab atau membalas ucapan dari kelima sahabatnya, dia hanya melirik malas mendengar ocehan semua sahabatnya yang sama sekali tak ada faedahnya.


Desi dan cika berseru heboh begitu kaki mereka menapaki pelaminan "selamat ya jass, bahagia selalu" ucap cika cempreng, yang diangguki antusias oleh desi.


Jasmine tertawa kecil melihat kelakuan kedua sahabatnya, mereka menerjangnya dengan pelukan dengan senyum yang tak luntur dari wajah mereka. Jasmine pun dengan senang hati membalas pelukan kedua sahabatnya, baginya pelukan kedua sahabatnya, adalah penguat di awal pernikahannya.


"Semoga Samawa" ucap desi tulus.


"Selalu bahagia hingga mau memisahkan" tambah cika tak mau kalah.


Jasmine tersenyum dengan mata berkaca-kaca "makasih ya" hanya kalimat itu yang mampu dia ucapkan sebagai balasan.


Hati jasmine berdesir nyeri mendengar ucapan tulus dari kedua sahabatnya, bagaimana mungkin terjadi, jika lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu mencintai wanita lain.


"Ck, bikin malu aja lo berdua pake pelukan begitu" cibir rian, yang mendapatkan delikkan tajam dari jasmine dan kedua sahabatnya.


Tepat dibelakang desi dan cika, ada seorang wanita cantik yang tanpa malu langsung menerjang alvaro dengan pelukan erat, yang disambut dengan senyum hangat dari alvaro.


Ketujuh orang teman mereka yang masih berada di sana hanya menatap datar pada wanita itu, entah kenapa mereka juga merasa tidak menyukai safira. Mungkin karena wanita itu terlalu sombong, bahkan dengan kelima sahabat alvaro pun, safira tidak pernah bertegur sapa. Boro-boro tegur sapa, melirik merekapun safira enggan.


Tak ada doa yang disematkan, bahkan menoleh kearah jasmine dan memberikan dia selamat pun, tidak dilakukan oleh safira.


Entahlah safira juga bingung dengan perasaannya sendiri, ada yang mengganjal dalam hatinya, seolah takut akan kehilangan sosok alvaro yang sudah menemaninya sejak dulu, namun yang pasti safira memang tidak berniat melihat jasmine. Safira datang kesini murni hanya untuk menghargai alvaro, padahal sebenarnya dia malas setengah mati.


"Makasih fir, kamu juga cantik malam ini" balas alvaro, tersenyum lembut pada safira.


"Gak usah lama-lama pelukannya, masih banyak yang antri di belakang" celetuk mami alvaro jutek, menatap tidak suka pada safira.


Ketujuh teman mereka menahan tawa karena suara mami alvaro yang lantang itu, dari dulu memang maminya tidak pernah suka dengan safira, entah karena apa, mungkin perasaan seorang ibu, begitupun dengan papinya alvaro.


Sementara jasmine, hanya bisa tersenyum getir, melihat kedekatan mereka berdua. Istri atau wanita mana yang bisa terima kenyataan pahit, jika suaminya sendiri lebih memilih memberikan senyuman lembut pada wanita lain, daripada untuk istrinya sendiri.


"Mi.." tegur alvaro, malah mendapatkan tatapan tajam dari mami dan papinya. Alvaro hanya bisa menghembuskan nafas berat menghadapi kelakuan mami dan papinya. Entah karena apa mereka selalu saja menatap tidak suka pada safira, padahal safira itu anak sahabat mereka sendiri.


Sementara safira menatap kedua orangtua itu dengan tatapan yang dibuat semanis mungkin, untuk menghargai alvaro, padahal dalam hatinya sudah dongkol setengah mati.


"Kuy, lah makan kita" seru jordan, mencairkan suasana tegang diantara mereka.


"Ck, dasar perut karet" cibir bayu jutek, menatap sinis jordan.


"Makan mulu di otak lo dan, nggak kasian apa sama perut lo itu?" tanya rian heran, melihat temannya yang satu itu.

__ADS_1


"Tau, nggak kasian apa sama makanan yang ada di lambung lo itu, udah pada desak-desakan sangking sempitnya" timpal akbar geleng-geleng kepala tak habis pikir.


"Dia mah lambungnya kembar tiga bro, jadi muat banyak" celetuk dean, tertawa geli.


"Kambing lo semua! awas aja kalau pada ngikut makan" sungut jordan kesal


Jasmine tidak dapat menahan tawa, melihat wajah jengkel jordan sekaligus geli melihat kelakuan semua teman alvaro, bagi jasmine, mereka sangat menghibur ditengah kesedihan yang dia rasakan saat ini. Mereka selalu bersikap baik, ramah dan lebih perduli terhadapnya, dibandingkan dengan alvaro sediri.


"Ayo elah buru" rengek jordan tak sabaran, dia berjalan mendahului semua temannya.


"Kambing emang tuh nafas naga, bikin malu aja kerjaannya" rian menatap gerah jordan yang sudah berjalan cepat meninggalkannya.


Mereka menuruni pelaminan dengan langkah cepat, terutama jordan yang sudah menatap penuh minat pada semua hidangan yang tersedia.


Sementara safira dengan senyum manis berpamitan pada alvaro, tanpa melirik atau menatap kearah jasmine, seolah perempuan itu kasat mata.


"Aku pamit ya al, semoga bahagia" ucapnya, tersenyum manis kearah alvaro.


Alvaro tersenyum masam "hem" matanya tak lepas menatap kepergian safira.


Dengan langkah sangat anggun dan dagu yang terangkat angkuh, dia menuruni tangga pelaminan, tanpa menghiraukan tatapan bengis yang dilayangkan oleh mami dan papi alvaro.


Jasmine hanya mampu tersenyum kecut menatap kepergian perempuan itu. Cika dan desi menepuk pundaknya sekilas, menyadarkannya dari rasa sedihnya.


"Smile.. smile.." ujar cika menunjukkan deretan gigi putihnya.


Jasmine tertawa dan mengacungkan jempolnya kearah cika.


...------...


Malam semakin larut dan para tamu undangan sudah beranjak pulang sejak tadi. Acara resepsi sudah selesai sejak satu jam yang lalu, banyak yang hadir di acara tersebut, khususnya kolega bisnis dan para sahabat mami dan papi alvaro, juga beberapa teman kuliah alvaro yang turut serta hadir untuk memeriahkan acara resepsi pernikahan mereka.


Tidak ada senyum bahagia yang dilemparkan oleh alvaro, dia tetap dengan wajah datar dan dingin, menyambut para tamu yang berdesakkan ingin memberikan selamat untuk mereka berdua. Jasmine hanya mampu mendesah pasrah, menutupi semua kesedihan hatinya, dia tersenyum tulus untuk semua tamu yang hadir di sana.


Jasmine dan alvaro sudah berada di dalam kamar hotel, tepatnya kamar khusus tempat alvaro biasanya beristirahat, lantai tiga puluh, adalah lantai khusus untuk seluruh keluarga alvaro yang ikut menginap malam ini, karena memang lantai ini didesign khusus hanya untuk keluarga mereka saja. Keluarganya, terutama mami sudah menyiapkan kamar pengantin yang dihias dengan khusus dan sempurna untuk mereka berdua.


"Al, aku atau kamu duluan yang mandi?" tanya jasmine dengan suara gugup.


"Kamu aja duluan" jawab alvaro datar dan acuh, dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur, setelah melempar asal jasnya ke sofa.


Jasmine menghela nafas sesak, merutuki sikapnya yang gugup barusan, memangnya dia berharap apa? seperti pengantin lainnya saat malam pertama? tentu saja itu tidak akan pernah mungkin terjadi, mengingat seperti apa perasaan alvaro kepadanya.


Jasmine berjalan gontai kearah kamar mandi, setelah selesai membersihkan riasan makeup yang menempel pada wajahnya, serta mengambil pakaian gantinya. Di dalam kamar mandi jasmine menangis dalam diam, faktanya bahwa saat ini dia sudah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya. Bahkan lelaki itu dengan jelas mencintai wanita lain.


Cukup lama dia berada didalam kamar mandi, selain membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, dia juga termenung sedih dibawah guyuran dinginnya air shower, yang menetes deras di atas kepalanya, jatuh bersama dengan air mata yang sejak tadi tidak berhenti menetes. Jasmine harus bisa menerima dan mengikhlaskan takdir yang sudah ditetapkan untuknya.


Menerima alvaro sebagai suaminya apa adanya, mencintai segala kebaikan maupun keburukan lelaki itu. Jasmine memantapkan dirinya sendiri, mencoba untuk mejalani takdirnya kedepannya.

__ADS_1


Sudah sangat terlambat jika jasmine harus menyesal sekarang, nasi sudah menjadi bubur, toh dia sendiri yang menerima dan menyetujui untuk melanjutkan pernikahan ini, walaupun dia tau betul fakta yang sebenarnya.


__ADS_2