
Happy Reading 💖💖💖
Sinar mentari yang sudah meninggi menyorot wajah cantik jasmine, melalui jendela kamar yang sudah terbuka lebar gordennya. Jasmine menyipitkan kedua matanya menyesuaikan cahaya.
Tubuhnya masih terasa remuk semua, terutama pada bagian pusat tubuhnya yang masih sedikit sakit. Jasmine tersenyum samar ketika membayangkan kejadian semalam.
Bau-bau sisa pergulatan mereka masih bisa ditangkap oleh indra penciumannya.
Matanya menyusuri seluruh sudut kamar, alvaro sudah tidak ada kemana lelaki itu. Kemudian matanya terbelalak kaget saat melihat jarum jam dinding ada diangka 10:40. Jasmine meringis sambil menggerutu dalam hati.
'Ini mah bukan kesiangan lagi, udah siang bolong'
"Al mana? apa dia udah jalan ke kampus kali ya?" gumam jasmine.
Jasmine bangkit terburu-buru, namun sakit itu makin dia rasakan.
"Shh perih banget, mana lengket semua badan" keluhnya menahan perih.
Jasmine melilitkan selimut pada tubuhnya. Perlahan dia mencoba untuk bangkit berdiri menepis rasa sakit. Jasmine berjalan pelan dan tertatih ke kamar mandi sambil sesekali meringis, dia butuh berendam dengan air hangat.
"Astaga! banyak bener laki gw ngasih tanda" mata jasmine melotot, begitu dia melihat dirinya di pantulan cermin wastafel kamar mandi.
Setelah mengisi bathub dengan air hangat dan sabun kesukaannya yang beraroma strawberry, tubuhnya masuk perlahan. Jasmine memejamkan matanya mencoba merilekskan tubuhnya.
Rasanya pegal dan sakit perlahan menghilang begitu saja, saat dia berendam kedalam air hangat.
"Hem mantap, akhirnya ketemu air juga! udah lengket banget badan gw" gumam jasmine mendesah lega.
Bahkan jasmine hanya diberi waktu setengah jam saja untuk beristirahat, setelah itu alvaro kembali menggempurnya tanpa henti hingga matahari hampir terbit, tak heran jika tubuhnya langsung lemas tak berdaya seperti ini.
Memang sudah gila dan buas suaminya semalam, tapi dia kembali tersenyum lebar ketika melihat tanda merah hampir di seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kakinya saja.
Awalnya jasmine terkejut begitu menatap cermin, tapi tidak lama dia sadar siapa yang membuat semua tanda merah itu.
Alvaro begitu liar dan jasmine sangat menyukai itu, lamunannya buyar ketika mendengar suara panggilan dari suami tercintanya.
"Mine... kamu dikamar mandi?" tanya alvaro sedikit berteriak.
"Iya al, sebentar aku baru masuk" jawab jasmine, balas berteriak dari dalam kamar mandi.
Alvaro kembali keluar kamar untuk memanggil bik imah, meminta tolong kepada bik imah agar mengganti seprei ranjang mereka dengan yang baru.
"Bik tolong di gantiin seprei nya, sekalian diberesin ya" pinta alvaro dengan wajah datarnya, menutupi rasa malunya kepada bik imah.
"Siap den!! loh ini non jass lagi dateng bulan ya?" ceplos bik imah begitu melihat bercak darah.
"Hah?? bukan bik, udah ganti aja🚶🏃" sahut alvaro sedikit salah tingkah.
"Ehh... Ohh iya den, ini bibi ganti sekarang" balas bik imah, tersenyum kikuk.
"Saya tunggu diluar, jasmine lagi mandi bik" ucap alvaro, kemudian melesat pergi tanpa mendengar lagi jawaban bik imah. Ck, kenapa dia jadi kaya bocah yang ketahuan bohong coba.
Bik imah menggaruk kepalanya yang tak gatal "kalau bukan dateng bulan darah apaan dong?? 🤔🤔" gumam bik imah bingung sendiri.
Setelah selesai mengganti seprainya dengan yang baru, bik imah segera memberitahukan kepada alvaro, yang menunggu di ruang makan sambil memakan sarapannya sekaligus mengecek tugas kampusnya.
"Den, seprainya udah bibi ganti" ucap bik imah memberitahu.
"Makasih bik" balas alvaro cepat, menutup laptopnya lalu melangkah kearah kamarnya, menghindari kontak mata dengan bik imah.
Alvaro menunggu jasmine sambil mengecek kembali tugas kampusnya di laptop.
Setelah empat puluh menit, jasmine keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
Cara berjalan jasmine masih sedikit susah, seperti ada yang mengganjal walaupun sudah tidak perih seperti tadi.
Alvaro mengalihkan tatapannya dari laptop ke arah istrinya, dia melihat dan menyadari hal itu. Walaupun jasmine sudah berusaha biasa saja saat berjalan, tapi tetap saja terlihat olehnya.
"Masih sakit banget ya?" tanya alvaro dengan wajah khawatir.
"Ehh, nggak kok al, tadi aku udah berendam pakai air hangat, jadi udah nggak terlalu sakit" jawab jasmine sedikit malu.
Alvaro segera menghampiri jasmine dan menuntunnya untuk duduk di kasur, sementara jasmine jangan di tanya lagi dia sudah salah tingkah sekarang dibuatnya.
"Eum, aku bisa sendiri kok al" kata jasmine menahan rasa malunya.
"Ck, udah nggak usah sok kuat itu pasti sakit banget, aku udah bawain kamu sarapan jadi kamu diem aja makan disini, ehh tapi ini udah siang ya? makan siang berarti" balasnya terkekeh geli.
"Nggak usah ngeledek deh al" sahut jasmine sebal, pipinya pasti sudah merona sekarang.
"Hahahaha, pipi kamu kenapa merah gitu??" tanya alvaro tertawa meledek.
"Alvaro ishh" geram jasmine dengan bibir mencebik.
"Kenapa itu bibir maju-maju? minta dicium ya, masih kurang emang yang semalem hem?" tanya alvaro makin gencar meledek istrinya.
"Aa-paan sih al, nggak usah di bahas bisa??" balas jasmine gugup, semakin malu.
"Hahahaha" alvaro tertawa kencang, setelahnya dia mencuri kecupan singkat di bibir istrinya sambil mengelus lembut rambutnya.
Cup
__ADS_1
"Harusnya morning kiss, hehehe" ujarnya terkekeh.
Jasmine mendelik sinis, lebih memilih makan sarapan menjelang makan siangnya dengan tenang, dari pada harus meladeni suaminya yang sekarang menjadi lebih menjengkelkan, karena pasti ada saja jawaban dari lelaki itu.
"Kamu nggak ke kampus? tanya jasmine, setelah menyuapkan makanan terakhirnya ke dalam mulut.
"Nggak" jawab alvaro, menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? lagi gak ada kelas?"
Jasmine meletakkan piring kotor yang sudah bersih tanpa sisa.
"Eum, ada sih cuma satu kelas doang tapi males" sahut alvaro seenaknya.
"Dih, aneh banget biasanya paling rajin" sindir jasmine, mengingat suaminya jarang ada di rumah.
"Lagi pengen berduaan sama kamu" gombal alvaro tersenyum geli.
"Alay banget sumpah, jijik aku, al" balas jasmine bergidik.
Jasmine merinding melihat kelakuan suaminya yang semakin aneh saja.
"Terus kita mau ngapain?" tanya jasmine lagi.
"Nonton aja yuk" ajak alvaro.
Jasmine tersenyum lebar "ayook"
"Mau nonton apa?"
Alvaro menyalakan TV yang ada dikamar mereka.
"Terserah kamu aja, asal jangan horor loh" peringat jasmine mengacungkan jari telunjuknya.
"Hahaha kenapa? sama film aja takut" alvaro tergelak.
"Ck, udah pokoknya jangan yang horor" sahut jasmine berdecak kesal.
"Oke cantik!"
Ekor mata jasmine melirik suaminya yang serius menatap layar TV, lelaki itu memeluknya sesekali mengecup kepalanya.
'Anggep aja pacaran setelah nikah, ahh al jadi makin sayang'
...-------...
Sore ini rencananya jasmine akan pergi ke cafenya, memang uang hasil penjualan rumah peninggalan orangtuanya, sebagian dia gunakan untuk membangun cafe.
"Al... aku keluar sebentar ya"
"Hem, kamu mau kemana?"
Dia menarik tangan istrinya, sehingga jasmine kembali jatuh di ranjang, lebih tepatnya jatuh dalam pelukannya.
"Aku ada janji sama temen"
"Terus kalau kamu pergi aku sama siapa??" rajuk alvaro mulai merengek, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Sebentar aja al, aku ada janji sama temen aku" jawab jasmine jengah, melihat kelakuan alvaro.
Saat ini alvaro sedang memeluknya dengan sangat erat di kasur. Padahal jasmine sudah rapi dan siap untuk berangkat, tapi bayi besarnya tidak mau melepaskannya.
"Mau kemana sih emang, janjian sama siapa?" mata alvaro menatap tajam kearah istrinya.
'Belum saatnya gw kasih tau alvaro' batinnya berseru mengingatkan.
"Ketemuan sama temen SMP aku al, boleh ya..."
"Nggak!! kamu masih sakit mine, mending kamu istirahat sekalian temenin aku di rumah"
"Istirahat apaan? aku udah gak pa-pa al, lagian aku bete kalau harus rebahan mulu di kasur"
"Nggak!" cegah alvaro kekeuh.
"Ishh" wajah jasmine tertekuk masam "sebentar aja al aku janji deh" lanjutnya lagi cemberut.
Alvaro menulikan telinganya, makin menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
Sementara jasmine hanya bisa pasrah melihat tingkah aneh suaminya, dia mengirimkan pesan kepada karyawan sekaligus teman SMP-nya untuk membatalkan janji temunya hari ini.
"Al geser ihh" gerutu jasmine mendorong bahu suaminya.
"Hem" gumam alvaro acuh, malah makin erat memeluk istrinya dan menyusupkan wajahnya.
"Ck, sempit gini al geseran dikit dong" dengus jasmine sebal.
"Nope" balas alvaro menggeleng samar.
"Alvaro!!!!" jerit jasmine, menggeram kesal.
"You are mine jasmine..... You are mine" sahutnya melonggarkan pelukannya dan mengecup singkat bibir istrinya.
__ADS_1
Jasmine menahan senyum, sedikit salah tingkah mendengar ucapan suaminya "Hem... Aku milikmu al"
Sekarang malah jasmine yang mengeratkan pelukannya, kepalanya dia tenggelamkan di dada bidang alvaro agar di bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
Alvaro terkekeh geli melihat tingkah istrinya.
"Lepas dulu sebentar aku mau ganti baju" pinta jasmine, saat sadar dia masih menggunakan pakaian rapi.
"Makanya! izin dulu baru ganti baju" keluh alvaro sebal.
Dengan wajah tidak ikhlas akhirnya alvaro terpaksa melepaskan istrinya, wajahnya sudah tertekuk masam.
Jasmine menggeleng tak percaya melihat tingkahnya.
Jasmine segera berlalu menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya lagi.
Jasmine memakai kaos jumbo yang menutupi sebagian paha putihnya, dipadukan celana ketat hanya sebatas bokongnya saja.
Alvaro menatap jasmine intens dari atas hingga bawah, yang jasmine balas dengan kerutan dahi heran.
"Kenapa?" tanya jasmine bingung.
"Nggak" jawab alvaro menghela nafasnya gusar.
'Sabar al tahan, bini lu masih sakit. Semalem kan udah digempur!' batin alvaro berperang.
"Kenapa sih, al?" tanya jasmine sekali lagi karena penasaran.
Alvaro hanya menggeleng, lalu menyuruh jasmine untuk menghampirinya.
"Sini" titahnya mengulurkan sebelah tangannya.
Jasmine mengangguk kemudian berjalan mendekat kearahnya.
Alvaro menarik tangan istrinya, hingga jasmine jatuh di atas tubuh besarnya. Dia menaikkan selimut sampai ke batas dada, lalu mengusap punggung istrinya lembut, sambil sesekali mengecup pucuk kepala jasmine.
"Bobo mine" perintahnya sedikit tegas.
"Hem" jawab jasmine merasa nyaman dengan posisinya.
"Kamu nggak pakai itu ya mine?" tanya alvaro, begitu tangannya tidak merasakan adanya tali di punggung istrinya.
Jasmine menepuk pelan dada suaminya, merasa malu dibuatnya.
"Kenapa emang?" tanya jasmine gugup dan malu bersamaan.
"Berasa empuk, enak" jawab alvaro nyeleneh.
"Ishh dasar mesum!" cibir jasmine sebal.
Alvaro tertawa geli sambil mengeratkan pelukannya.
"Lah mesum sama istri sendiri mah halal"
"Nggak gitu juga konsepnya bang! 🤦"
...--------...
"Temen lu pada kenapa itu anjir, senyum-senyum sendiri"
Jordan bergidik ngeri, melihat dean dan rian yang sedari tadi tersenyum manis menatap layar ponsel mereka.
"Lagi jatuh cinta mereka" bayu mengangkat bahu acuh.
"Taii lah cinta, sama siapa? kok gw gak tau?" tanya jordan tak terima.
"Gimana lu mau tau, kalo tuh mata, cuma lu pakai buat lirik makanan doang gembul!!" sahut bayu terkekeh.
"Serius bangsat!!" jordan menatap sinis bayu.
"Lah gw juga serius anjenk! anak bahasa, siapa sih namanya lupa gw" seru bayu menggaruk pelipisnya, mencoba mengingat siapa nama gebetan kedua temannya.
Jordan menatap lekat dean dan rian bergantian "woii kampret! lu lagi pada ngapain dah?"
"Ck, ganggu aja lu bagong" sahut dean melirik sekilas kearah jordan.
"Setan, gw tanya baik-baik juga" sungut jordan, melempar bungkus rokok ke wajah dean.
"Anjing emang lu, dan" pekik dean kesal.
"Yang mana sih ceweknya?" tanya jordan semakin penasaran.
"Percuma, kita kasih tau juga lu gak bakal tau" sahut rian, memasukkan ponselnya kedalam kantong celana jeansnya.
"Udah lah dan, lu emang tercipta untuk jadi jomblo abadi" celetuk bayu enteng.
"Bangsat emang, kayak lu punya cewek aja!" sahut jordan ngegas.
"Lah gw mah tinggal tunjuk doang" balas bayu santai, memangku kakinya angkuh "gak kayak lo, lirikan sama piring mulu" lanjutnya lagi tertawa.
"Bangsat!" pekik jordan menendang tulang kering bayu tanpa perasaan, nafasnya memburu karena terpancing emosi.
__ADS_1
"Berisik sialan!!" umpat akbar keras.
Suara datar akbar mengalihkan tatapan mereka, kearah cowok yang sedang asik memejamkan matanya.