Jasmine

Jasmine
02. Kenyataannya


__ADS_3

"Jasmine" ucap desi heboh, desi hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya saat jasmine dan cika mendelik karena teriakannya.


"Gw gak nyangka jass impian lo buat dapetin alvaro sebentar lagi terwujud" riang desi yang diangguki mantap oleh cika.


"Hmm.... Akhirnya perjuangan lo selama ini ga sia-sia"ucapnya lagi.


Saat ini mereka sedang makan di salah satu resto di mall, desi dan cika akan menemani sahabatnya untuk memilih cincin pernikahan karena alvaro sibuk begitu yang dikatakan jasmine pagi tadi melalui chat group mereka.


Mata jasmine berbinar terang, tersenyum lebar dan manis karena ucapan temannya. Mukanya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.


"Eh tapi emang gapapa nih kita yang bantuin lo milih cincinnya? Maksud kita selera alvaro gimana ? Setuju atau enggak sama pilihan lo jass " tanya cika penasaran.


Jasmine hanya tersenyum kecut dan mengangguk, teringat pesan alvaro yang pagi tadi dia terima "aku ga bisa anterin kamu pilih cincinnya, kamu minta tolong temenin desi sama cika aja gak papa kan ? Aku sibuk banget ada yang harus aku kerjain" asli moodnya langsung anjlok setelah membaca pesan tersebut.


"Dia emang lagi sibuk banget belakangan ini, mungkin tugas kampusnya yang numpuk" tutur jasmine yang diangguki kedua temannya.


Padahal jasmine sendiri tidak tau apa yang lelaki itu sibukkan, tapi dia tetap berfikir positif.


"Lo beruntung banget jass, alvaro itu paket lengkap pake banget. Udah ganteng, kaya pula nikmat tuhan mana lagi yang mau kau dustakan" ujar cika dramatis.


"Tapi gw penasaran sama si safira itu, beneran sahabat apa bukan sih ? Kok kayaknya alvaro lebih deket dia ketimbang sama lo jass ?" Kata desi yang disetujui oleh cika.


"Mereka sahabat, kayak kita aja. Wajar kalau mereka deket kan safira kenal alvaro dari TK" jelas jasmine walaupun sebenarnya hatinya lebih kepo dari pada kedua sahabatnya.


"Ya udahlah kita harus positif thinking, sekarang kan jasmine udah mau nikah sama alvaro tinggal nunggu satu minggu lagi loh. Kalau emang mereka punya hubungan khusus, atau salah satunya punya perasaan lebih kenapa juga masih sahabatan sampai sekarang iya gak ?" Tutur desi meyakinkan.


"Bener juga tuh jass" ujar cika santai sambil mengetuk jari telunjuknya ke dagu.


"Udahlah mendingan sekarang kita berburu cincin kawin, ahh jadi pengen kawin juga gw tapi sama siapa ?" seru cika dengan dengan muka masamnya.


"Nikah bego" ucap desi sambil menoyor kepala cika. Sementara cika hanya mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Jasmine dan desi tertawa keras melihat tampang nelangsa cika. "Jahat lo berdua" ucapnya sinis.


"Gw ke toilet bentar ya, kebelet pipis nih gw" ujar desi sambil menggoyangkan kedua kakinya.


"Ck kualat kan lo sm gw, makanya jangan nistain gw begitu jadi beser kan lo sekarang" seru cika gemas.


"Ayo gw temenin, karena gw temen yang baik dan pengertian" Cengirnya sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Semerdeka lo aja markonah" seru desi tak kalah judesnya, sementara jasmine hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd kedua sahabatnya itu.


"Yaudah gw langsung nunggu di tokonya aja ya, yang di lantai lima jangan sampai nyasar lo berdua" ucap jasmine yang mendapatkan delikan tajam dari kedua sahabatnya. "Lo kata kita berdua bocah jass" seru desi dan cika kompak.


-------


Group Cecan Badai


Desi


Cika


Terima deritamu nak,, makanya jangan kualat sama yang lebih muda


Desi


Gak gitu konsepnya maemunah


Jasmine


Ckckck.. di toilet aja masih sibuk perang urat ya bund.


Cika

__ADS_1


Tau nih si desong efek kebelet jadi rada geser otaknya


Desi


Terus aja lo nistain gw, gw sumpahin jodoh lo jauh sejauh mata memandang.


Jasmine hanya tertawa melihat chat kedua temannya itu.


-----


"Berapa kali sih aku harus bilang ke kamu fir, kamu itu prioritas aku" Ucap seorang pria yang terdengar jelas oleh jasmine.


Jasmine samar-samar mendengar suara yang familiar, percakapan dua orang yang ada di belakang mejanya, posisi jasmine yang membelakangi mereka memudahkan jasmine untuk mendengarkannya.


Menoleh sedikit kebelakang matanya terbelalak kaget melihat alvaro dan safira disana. Bukannya lelaki itu bilang sibuk ?, jadi ini yang dimaksudkan dengan sibuknya itu, jasmine hanya tersenyum getir. Memang safira prioritas alvaro, seperti yang lelaki itu tadi ucapkan.


Safira menatap alvaro serius "Al, walau bagaimanapun kamu itu calon suaminya jasmine. Kamu harus sedikit lebih perduli sama dia" ujar safira gemas sendiri melihat tingkah sahabatnya itu.


"Dan kamu tau jawabannya fir, kalau bukan karena mami yang minta aku mana mau nikah sama dia, semua yang aku lakukan itu terpaksa kamu tau itu kan fir ? Bahkan kamu juga ikut-ikutan maksa aku untuk sama dia, kamu pernah mikirin perasaan aku sedikit aja ga sih fir ? Aku itu itu cintanya sama kamu bukan sama jasmine" alvaro  menjeda menatap lurus mata safira "kalau bukan kalian berdua yang minta, wanita special dihati aku. Mami sama kamu gak bakalan aku mau merelakan masa depan aku gini fir, aku ini masih 20 tahun fir kamu bayangin aja coba diusia aku yang masih muda gini aku harus terpaksa nikah sama orang yang sama sekali gak aku cinta. Aku itu cuma kasihan sama dia karena dia yatim piatu sekarang, tapi kalian semua menganggap lebih perasaan aku, aku ga nyaman begini fir" Curhat alvaro jujur, menghela nafas berat.


Hati jasmine mencelos mendengarkan semua perkataan alvaro, jadi selama ini alvaro hanya kasihan kepadanya tidak lebih. Jasmine hanya mampu menunduk dalam, berusaha keras menahan semua perasaannya.


Matanya sudah memanas, tenggorokannya tercekat, hatinya sakit mendengar kejujuran yang diucapkan alvaro. Sebegitu rendahkan dia menurut penilaian alvaro ?? Kasihan ?? Jasmine hanya wanita yang dikasihani tidak lebih.


"Aku yakin, pasti seiiring berjalan nya waktu kamu akan sayang sama jasmine. Dan untuk perasaan kamu itu, kamu tau kan jawabannya apa al ? Aku gak mau kasih kamu harapan lebih al" lirih safira pilu memalingkan wajahnya dari hadapan alvaro.


Alvaro hanya menghela nafas kasar, sebesar apapun dia berusaha hasilnya tetap sama safira wanita yang amat dicintainya tidak memiliki perasaaan yang lebih kepadanya selain sebagai sahabat, kenapa takdir begitu menyakitkan untuknya. Alvaro mengusap wajahnya frustasi.


Sementara Jasmine sudah tidak mau berlama-lama lagi disana, lebih baik dia pergi dari pada harus mendengar lebih jauh percakapan dua orang tersebut yang membuat hatinya lebih sakit.


Jasmine beranjak dari duduknya, berjalan cepat keluar dari restoran itu, dia menyeka air matanya yang sudah menetes dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2