
...Takdirku sudah ditentukan...
...Semesta dan alam akan menjadi saksi bisu...
...Bagaimana kuatnya aku menjalani semuanya...
...Clarissa Jasmine....
Happy Reading...
Jasmine menatap kosong layar ponselnya, membaca chat yang dikirim oleh alvaro benar-benar membuat dia muak. Kenapa sejak awal lelaki itu tidak bicara jujur saja kepadanya, jadi tidak perlu sejauh ini melangkah.
"Woi bengong lagi nih anak" cika menelisik raut wajah jasmine.
"Nggak kok, perasaan lo aja kali" balas jasmine mengelak.
Kami sedang berada di salon langganan kami, setelah berdebat cukup serius, ah lebih tepatnya desi dan cika yang berdebat, sementara jasmine hanya diam. Banyak yang sedang jasmine pikirkan sekarang, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke salon.
"Lah terus ngapain lu diem aja?" tanya cika lagi, masih belum puas dengan jawaban jasmine.
"Lagi baca chat dari al" sahut jasmine malas.
Kalau biasanya jasmine akan senyum-senyum sendiri, begitu mendapat chat dari alvaro, seperti anak SMP yang sedang kasmaran, kali ini dia hanya diam malas meladeni atau sekedar menjawabnya.
"Tumben, biasanya kayak lagi kesambet jin perawan aja lu senyum-senyum sendiri, kalo di chat sama, al" ujar desi bingung, dia menoleh sekilas kearah cika, namun cika masih sibuk menatap jasmine.
Jasmine mengangkat bahu acuh "lagi males aja" jawab jasmine acuh.
Desi dan cika saling pandang, kemudian menatap dalam mata jasmine, mencari sesuatu yang mungkin di sembunyikan cewek itu.
"Apa??" tanya jasmine, menghindari tatapan kedua sahabatnya
"Wah nggak beres lu" kata cika geleng-geleng kepala.
"Ck, dia cuma mau ngomong sama gw entar" jawab jasmine setengah kesal.
...------...
Jasmine duduk dalam diam sambil menatap kosong langit malam, saat ini dia sedang berada di taman belakang rumah alvaro, sore tadi alvaro memberikan pesan melalui chat agar datang ke rumah lelaki itu, karena ada hal penting yang harus alvaro bicarakan dengannya.
Pikiran jasmine sudah berkelana kemana-mana, pikiran negatif lebih mendominasi, setelah apa yang dia dengar tadi dari mulut alvaro sendiri saat bersama safira di restoran.
Jujur jasmine tidak pernah menyangka, bahwa alvaro selama ini hanya merasa kasian dan terpaksa menerimanya, lalu buat apa kami harus menikah??
Buat jasmine pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat sakral, yang akan dia lakukan dan jalani sekali seumur hidupnya. Lalu bagaimana nasib pernikahannya ke depan dengan alvaro, kalau lelaki itu saja mencintai wanita lain. Jasmine menghela nafas sesak, untuk saat ini dia benar-benar kalut, dan bingung dengan langkah yang akan dia ambil.
Lamunan jasmine buyar, saat dia merasakan seseorang duduk disampingnya, jasmine hanya menoleh sekilas kearah alvaro. Malas rasanya duduk bersama dengan lelaki yang jelas-jelas sudah mempermainkan hatinya selama ini.
Alvaro menatap jasmine lekat "Mine" panggil alvaro, mine adalah panggilan khusus dari alvaro, hanya lelaki itu saja yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
__ADS_1
Namun jasmine tetap diam bergeming, tanpa menjawab panggilan dari alvaro atau menoleh kepada lelaki itu.
Kening alvaro berkerut dalam, bertanya dalam hati apa yang sedang dipikirkan wanita riang disebelahnya saat ini. Karena biasanya jika sudah bertemu dengannya, jasmine akan lebih banyak berbicara dan bercerita atau bertanya, berceloteh hingga dia lelah sendiri.
"Jasmine" panggil alvaro sekali lagi, namun lagi-lagi jasmine tak meresponnya.
"Kamu kenapa? tumben diem aja, biasanya udah kayak kereta nanya gak berhenti" sambung alvaro heran, menatap jasmine intens.
Jasmine mengalihkan tatapannya kearah alvaro, dia terdiam bingung harus menjawab apa "Kamu mau ngomong apa, al? hal apa yang penting?" tanya jasmine mengalihkan pembicaraan.
Alvaro diam, dia menatap lekat mata bening milik jasmine yang biasanya berbinar riang. Sekarang terlihat jelas ada keraguan dan ketakutan di dalam mata wanita itu, alvaro menghela nafas berat sebelum dia berucap.
"Sebentar lagi kita akan menikah mine, aku mau nantinya kamu nggak akan larang-larang aku. Aku bakal jarang banget ada di rumah, kamu tau kan kalau safira juga butuh aku, untuk nemenin dia pemotretan baik di dalam maupun luar kota, jadi aku harap kamu bisa mengerti posisi aku" pinta alvaro tanpa perasaan dengan wajah datarnya.
Jasmine menghela nafas sesak, menghirup udara kemudian menghembuskannya pelan. Dia tersenyum getir menatap lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Al, memang kalaupun nantinya aku larang, kamu bakalan mau dan dengerin aku? aku paham posisi aku disini, jadi kamu gak perlu khawatir" balas jasmine sendu, hatinya terasa sesak saat mendengar permintaan alvaro. Jasmine segera mengalihkan tatapannya kearah lain, enggan menatap alvaro lebih lama lagi.
"Bagus kalau kamu sudah paham, karena aku nggak mau ini akan menjadi masalah kita kedepannya" ucap alvaro tegas "Lebih baik kamu sekarang pulang, sudah larut malam, maaf aku nggak bisa antar kamu, hari ini aku capek banget" lanjutnya lagi enteng tanpa memikirkan perasaan jasmine.
"Nggak pa-pa kok al, aku bisa pesan ojek online kok, udah biasa begitu juga, aku pulang sekarang!!" sahut jasmine berpamitan, lalu segera bangkit dari duduknya dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan alvaro sendiri di sana yang memandangnya dengan heran.
Alvaro merasa tertohok dengan ucapan jasmine barusan, namun dia hanya acuh tanpa mau bertanya, apalagi menahan wanita itu.
Jasmine melangkah dengan lebar dan cepat agar bisa keluar dari rumah besar alvaro dengan segera, dia sudah cukup muak dengan keadaan yang menghimpitnya saat ini. Lelaki itu masih tetap bersandiwara, ingin menikahinya hanya karena rasa iba.
Dia lebih baik menunggu pesanan ojek online di depan gerbang saja, dari pada harus duduk berlama-lama dengan lelaki pembual yang baru saja dia tinggalkan.
'Biasanya juga aku pulang sendiri al' batin jasmine menjerit kencang.
Sepi, selalu seperti ini setiap jasmine kembali dan membuka pintu rumah peninggalan orangtuanya. Jasmine menghela nafas berat, kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini kepadanya. Dia tidak bisa bergantung terus kepada alvaro dan keluarganya, dia harus segera mencari pekerjaan, karena jasmine sadar suatu saat nanti, cepat atau lambat alvaro akan meninggalkannya, dan memilih safira menggantikan posisinya nanti. Memang selama ini kebutuhannya terpenuhi atas pemberian dari orangtua alvaro, mereka memaksanya, untuk menerima semua bantuan mereka dengan dalih dia adalah calon istri anak mereka.
Jasmine sadar betul, bahwa hubungan yang terjalin karena rasa kasihan hanya akan menyakiti hati salah satu dari mereka, terutama hatinya yang sangat dirugikan, namun lagi-lagi dia terjebak dengan posisinya saat ini. Mami dan papi alvaro sangat baik kepadanya, dan dia berhutang banyak kepada mereka berdua, tidak mungkin jika jasmine membatalkan pernikahannya secara sepihak, dan mengecewakan mereka. Lagipula, dia tidak punya alasan yang tepat untuk diberikan kepada mereka. Biarlah untuk saat ini jasmine akan mengorbankan hatinya, dia harus siap dan kuat untuk menghadapi dan menjalani takdirnya kedepannya.
Jasmine menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan kacau. Air matanya menetes, pedih rasanya dia harus hidup bersama lelaki munafik yang sialnya masih dia cintai sampai detik ini.
...------...
Hari ini adalah hari yang seharusnya paling membahagiakan dan dinantikan oleh jasmine, hari ini adalah hari pernikahannya dengan alvaro. Namun tidak untuknya dan alvaro, jasmine yang sibuk dengan ketakutannya, sedangkan alvaro sibuk dengan keraguannya.
Sejak malam terakhir pembicaraannya dengan alvaro di rumah lelaki itu, jasmine menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Dia jadi jarang menghubungi alvaro atau sekedar mengirimkan chat untuk menanyakan keberadaan lelaki itu, tidak seperti yang biasanya dia lakukan untuk alvaro. Hatinya sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran alvaro.
Toh ada dia atau tidak sama saja, jasmine hanya seperti pajangan hidup bagi alvaro. Pernikahan antara mereka mungkin hanya sekedar status belaka untuk lelaki itu.
Jasmine sudah tampak cantik dengan gaun pengantin putih yang membalut tubuh indahnya, untuk rambut dia jepit kesamping, hingga memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Penampilannya sudah sangat cantik dan elegan dengan riasan natural pada wajahnya, dengan bantuan penata rias khusus yang di sewa oleh mami alvaro.
"Jass, akhirnya hari yang lo tunggu-tunggu datang juga" seru cika sambil menatap haru sahabatnya "Gw sama desi doain yang terbaik untuk pernikahan lo, jass, jangan lupa bikin ponakan yang lucu ya buat kita, jass" lanjut cika lagi terkekeh geli diakhir kalimatnya.
"Lo harus bahagia ya jass! sekarang kan udah ada mami dan papinya alvaro yang akan gantiin posisi orangtua lo, gw liat mereka nerima lo dan sayang banget sama lo jass" timpal desi dengan wajah serius.
__ADS_1
Jasmine tersenyum tulus pada kedua sahabatnya "makasih ya guys, lo berdua emang sahabat terbaik gw" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Yah, jangan nangis dong jass entar makeup lo berantakan gimana?" panik desi yang diikuti oleh cika saat melihat jasmine yang hampir menangis.
"Pokonya hari ini lo harus kasih senyuman terbaik lo, buat semua orang" seru desi dengan semangat.
"Nah tuh, tumben lo pinter des" sahut cika tanpa perasaan, tersenyum mengejek.
"Gw emang pinter ya" sungut desi tidak terima.
Jasmine tertawa kecil melihat perdebatan mereka, selalu seperti ini, mereka berdua mampu mengalihkan rasa sedihnya dengan kelakuan alamiah mereka.
"SAH" seruan itu membuat kedua sahabatnya tersenyum lebar, kecuali jasmine yang tersenyum kecut, menyadari fakta bahwa dia sudah menjadi istri sah alvaro, lelaki yang menikahinya hanya karena rasa kasihan saja.
"Akhirnya....." seru desi dan cika serempak, sambil tersenyum pepsodent, sementara jasmine menangis sedih dalam hatinya.
Pintu kamar terbuka, menampilkan wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan anggun.
"Duh, mantu mami emang nggak ada yang ngalahin deh cantiknya" pekik mami alvaro heboh sambil memeluk erat tubuh jasmine.
Jasmine tersipu malu mendengar ucapan mami "mami juga nggak kalah cantik kok mih" sahutnya tersenyum malu-malu.
Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, akan menikah di usia yang masih sangat muda menjelang dua puluh tahun dengan lelaki yang dia kagumi sejak dulu.
'Aku pasti bisa membuatmu benar-benar jatuh cinta kepadaku al' batinku berseru sendu.
"Ayo kita keluar sayang, proses ijab kabul sudah selesai. Sekarang kamu udah jadi istri sahnya alvaro, mami bahagia banget" ungkap mami tersenyum senang.
Kalimat itu langsung menyadarkan jasmine dari lamunannya, dia mengangguk dan berjalan keluar dari kamar, didampingi oleh mami yang berada disebelah mengapit lengannya dengan erat, dan kedua sahabatnya mengekor dibelakang.
Mereka keluar berjalan beriringan, jasmine berjalan seraya menundukkan kepalanya, ketika melihat tatapan alvaro yang sempat terkunci dengan tatapannya.
Pandangan alvaro terpaku, menatap takjub dan kagum pada perempuan cantik yang sedang berjalan menuju kearahnya. Hatinya mengakui bahwa jasmine sangat cantik dan elegan, tapi egonya menepis keras hal itu.
'Gw gak boleh sampai kebawa perasaan, ini cuma sementara aja. Perempuan yang gw sayang dan gw cinta tetap safira' ucapnya tegas didalam hati.
Alvaro segera memutuskan kontak matanya dari jasmine, dan kembali berwajah datar, menepis semua perasaan yang baru saja dia rasakan.
Jasmine mendesah berat dalam hatinya, tapi takdir sudah menentukan jalan hidupnya mulai hari ini. Dengan perasaan tak menentu, jasmine duduk persis disebelah alvaro sambil melirik melalui ekor matanya.
Alvaro memakaikan cincin ke jari manis jasmine, lalu mengecup singkat dahinya dengan wajah datar. Begitupun dengan jasmine, dia dengan ragu meraih tangan alvaro lalu memakaikan cincin ke jari manis alvaro, dan mengecup punggung tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
Bulir air mata tidak bisa dia ditahan, jasmine menangis bukan karena bahagia, tapi karena fakta bahwa suaminya menikahinya hanya karena kasihan semata, tapi dia tetap tersenyum tulus pada semua orang yang hadir di sana, terutama kepada kedua orangtua alvaro, dan kedua sahabatnya yang saat ini juga sedang menangis terharu.
'Semoga ini pernikahan pertama dan terakhirku' Batinnya berdoa.
Kedua bola mata jasmine menatap sekeliling, di sana banyak senyum bahagia yang membuatnya menjadi semakin dilanda dilema. Terutama senyuman mami dan papi alvaro, ahh rasanya dia ingin sekali semua acara ini berakhir dengan cepat.
Semakin lama berada ditempat ini rasanya hatinya semakin terhimpit perih.
__ADS_1
Alvaro, lelaki itu hanya diam tanpa senyum, yang menghiasi wajah tampannya. Tidak ada raut bahagia sedikitpun yang dia tunjukkan, ya karena memang pernikahan ini hanya karena paksaan untuknya.