Jasmine

Jasmine
Berbeda


__ADS_3

...Tetaplah pada jalurmu...


...Maka aku akan tetap pada jalurku...


...Clarissa Jasmine...


Happy Reading ♥️♥️♥️


Sejak malam itu alvaro semakin terlihat aneh padanya. Alvaro selalu bertanya kegiatannya seharian, saat dia tiba di rumah atau saat dia ingin tidur.


Tapi jasmine hanya menanggapi semua pertanyaan alvaro dengan seadanya, hanya basa-basi saja lelaki itu pikirnya.


Lagipula mana mungkin kan dia mulai perhatian kepadanya?? cih bisa hujan badai kalau itu sampai terjadi. Bertahun-tahun jasmine menjalin hubungan dengan alvaro, tak pernah sekalipun lelaki itu memberikannya perhatian lebih.


Terkadang jasmine sampai jengkel sendiri dibuatnya, karena alvaro sudah terlampau banyak bertanya banyak hal padanya. Alvaro sekarang selalu membombardir jasmine dengan berbagai macam pertanyaan saat dia tiba di rumah.


Seperti yang terjadi malam ini, setelah pergi keluar seharian jasmine kembali saat malam sudah tiba, lelaki itu sudah menunggunya dikamar sambil bertanya ini dan itu saat jasmine memasuki kamar besarnya.


"Kamu dari mana aja sih mine?? kenapa sekarang kamu jadi keluar tiap hari dan pulang malam??" tanya alvaro tidak suka.


Jasmine menatap malas kearah lelaki itu "aku ketemu sama teman SMP aku" jawabnya acuh lalu berjalan kearah kamar mandi.


Jasmine berjalan santai menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, alvaro sendiri sudah ada di rumah sejak sore tadi menurut informasi dari bik imah, tumben sekali lelaki itu pikirnya.


"Ngapain sih nanya mulu, ck berasa abis selingkuh aja, pertanyaannya detail amat" jasmine berdecak jengkel didepan cermin wastafel.


"Nggak usah sok perduli dan perhatian deh, lo" dumelnya lagi sambil melepaskan pakaiannya.


Sekarang alvaro jadi lebih sering berada di rumah, kalau dia free tidak ada kelas kuliah, dia akan tidur seharian atau menyelesaikan tugas kampusnya. Paling mentok nongkrong bersama dengan kelima sahabatnya itu.


Jasmine sudah menyelesaikan kegiatan mandinya, kakinya melangkah santai menuju walk in closet memakai pakaian tidur favoritnya, lalu melakukan ritual malamnya memakai cream malam, tidak lupa menyisir rambut panjangnya, jasmine masih bisa melihat alvaro terus memandangnya melalui pantulan cermin, mengangkat bahunya acuh dia menuju kasur dan langsung merebahkan tubuhnya memunggungi alvaro. Sementara alvaro masih memperhatikannya dalam diam membuatnya risih dan tak nyaman saja.


"Mine kamu udah mau tidur?" tanya alvaro, saat istrinya hendak memejamkan matanya.


"Hem" jawabnya dengan gumaman saja.


Dengan jengkel, alvaro menarik tangan jasmine sedikit keras sehingga istrinya berbalik menghadapnya. Jasmine menatapnya bingung, akhirnya dia duduk dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.


"Kenapa?" tanya jasmine heran, karena melihat wajah suaminya yang tak bersahabat.


"Kamu kenapa cuekin aku kayak gitu sih?" geram alvaro menatap jasmine tidak suka.


Jasmine menaikkan satu alisnya heran, apa-apaan sih lelaki ini, biasanya juga dia yang cuek dan nggak pernah menganggapnya ada.


"Maksudnya?" tanya jasmine malas, tubuhnya sudah sangat lelah, malas sekali menanggapi tingkah alvaro yang semakin hari semakin aneh saja.


"Kamu seharian pergi, nggak ngabarin aku kemana!!" jawa alvaro ketus, menatap dalam mata jasmine.


Jasmine memutar bola matanya, mendengus malas, semakin hari semakin aneh saja melihat tingkah alvaro yang sangat tidak biasa itu, seperti seorang bocah yang mencari perhatian dari ibunya.


"Bukannya kita udah sepakat untuk gak ikut campur urusan pribadi masing-masing" balas jasmine cuek menanggapinya.


Alvaro menatap jasmine tajam, saat jasmine menjawab seperti itu, dia tak suka! benar-benar tidak suka jasmine berbicara seperti itu padanya.


"Maksud kamu apa mine? aku tetap SUAMI kamu, dan berhak tau apa aja yang kamu lakuin seharian diluar sana" sahut alvaro sambil menekan kata SUAMI.

__ADS_1


Jujur saja jasmine semakin bingung dibuatnya, satu sisi lelaki itu seperti mengakui kalau dia istrinya walaupun faktanya memang begitu. Tapikan lelaki itu sendiri yang memintanya seperti ini, untuk tidak mencampuri urusan masing-masing, bahkan sebelumnya alvaro tidak pernah perduli sedikitpun apa saja kegiatannya seharian. Bahkan dulu seandainya jasmine tidak pulang pun mungkin suaminya tidak akan perduli.


"Al, aku juga kan kayak gini karena mau kamu, emang bener status aku itu istri sah kamu, tapi hanya di atas kertas aja kan? lagian juga kita akan cerai nantinya" balas jasmine berani, menatap intens mata alvaro.


Alvaro menggeram marah, matanya berkilat emosi mendengar jawaban istrinya.


"Mine!!!" tukas alvaro meninggikan suaranya, dia memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening.


"Apa?? kenapa??" tanya jasmine sedikit terkejut, mendengar suara alvaro yang mulai meninggi.


Ada apa dengan dua perempuan ini, bisa-bisanya membuat kepalanya mau pecah disaat bersamaan, safira yang jelas-jelas membohonginya selama setahun ini, dan jasmine yang tiba-tiba acuh, bahkan sekarang jarang di rumah.


"Setidaknya kamu bilang kemana kamu pergi, bukannya kamu juga yang minta biar jawaban kita kompak" ujarnya tak habis pikir.


"Tadi pagi aku ke makam orangtua aku, terus ada urusan sama temen SMP aku, udah kan??" jawab jasmine sedikit jengkel karena sudah sangat lelah.


"Urusan apa sampai selama itu??" tanya alvaro masih penasaran.


"Kenapa jadi kepo gini sih al? biasanya juga kamu nggak pernah perduli, lagian juga aku nggak pernah nanya sedetail itu kalau kamu keluar rumah. Udah ah al, aku capek mau tidur" sahut jasmine ketus, sambil merebahkan dirinya sedikit kasar dan menutup matanya lelah tanpa perduli lagi dengan respon alvaro.


'Dasar cowok aneh ! Bikin kesel aja malam-malam gini' batin jasmine menggerutu jengkel.


Alvaro mendengus kesal sambil komat-kamit tidak jelas, bibirnya mencebik kesal.


Dengan perasaan dongkol setengah mati, dia ikut merebahkan dirinya juga disebelah istrinya, bisa gila dia lama-lama menanggapi kelakuan jasmine yang semakin hari semakin cuek padanya.


Sementara jasmine tak habis pikir dalam hatinya, sungguh makin hari kelakuan suaminya itu semakin aneh dan kepo kepadanya, bodo ah pikirnya tak mau ambil pusing!!!


...------...


Sambil mengunyah, jasmine membalas pesan kedua sahabatnya, tentu saja dia akan menyetujuinya dengan senang hati.


"Kamu lagi chat sama siapa sih??" tanya alvaro masih dengan wajah kusut.


Jasmine menoleh sekilas "desi sama cika" jawabnya singkat, jarinya masih sibuk bergerak lincah di layar ponselnya.


"Happy banget kayaknya" sindir alvaro jutek, dia cukup kesal sejak semalam istrinya masih saja cuek kepadanya.


"Iya ini pada ngajakin ketemuan" kata jasmine memberitahu.


"Kapan??"


"Nanti siang"


"Mau kemana? terus mau pulang jam berapa?" tanya alvaro beruntun.


Jasmine menelisik dengan tatapan bingung "gak tau balik jam berapa, cuma kita pada mau jalan ke mall. Kenapa emangnya, tumben kamu nanya sampai segitunya"


Alvaro hanya menggeleng "gak pa-pa, jangan pulang malam-malam" pinta alvaro.


Jasmine hanya mengangkat bahu saja "hem, entar diusahain"


...------...


"Duh kangen gw udah lama banget gak ngumpul kayak gini" pekik desi hiperbola.

__ADS_1


"Hem... Sorry ya guys, gw sibuk banget akhir-akhir ini" sahut jasmine sedikit tidak enak pada kedua sahabatnya.


Desi dan cika menatapnya jahil, dengan seringai mengejek.


"Yang udah nikah mah beda, iya gak des? sibuk dia berduaan mulu sama lakinya" celetuk cika menaik turunkan alisnya menggoda.


Jasmine tersenyum kecut menanggapi


'Boro-boro berduaan cik, ngobrol berdua aja jarang gw' batinnya menjerit.


"Apaan deh lo, nggak gitu juga ya" sanggah jasmine, mendelik tajam, menatap tidak suka pada cika.


"BTW udah ada tanda-tanda belom jass?" tanya desi penasaran sambil tersenyum konyol.


Jasmine menatap cika dan desi bergantian dengan kening berkerut "Tanda apaan?" tanya jasmine bingung.


Cika mendengus keras, melirik sebal kearah sahabatnya.


"Tanda-tanda hamidun lah jass, gak peka banget sih lu" celetuk cika gemas sendiri.


Jasmine tersedak ludahnya sendiri, saat mendengar ucapan cika.


"Berisik lo berdua, tinggal tunggu aja" balas jasmine ambigu, malas sekali rasanya memperpanjang pembahasan sakral ini.


Seharian jasmine menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya. Shopping, nongkrong di cafe, nyalon, nonton, sampai ghibah bareng.


Jasmine memang sengaja men-silent ponselnya tidak ingin di ganggu, jam sudah menunjukkan pukul 8:45 malam. Tak terasa memang jika dia sudah kumpul bareng kedua sahabatnya.


"Lo yakin nggak mau bareng kita aja jass?" tanya cika sekali lagi yang diangguki desi, pasalnya jasmine kekeuh ingin pulang sendiri.


"Gw udah pesan gocar ini, kasihan abangnya kalau gw cancel" balas jasmine dengan wajah tidak enak.


"Yaudin, kita duluan yak jass" seru desi sambil memeluk erat tubuh jasmine.


"Hati-hati jass, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungin kita" timpal cika mengingatkan, tak lupa ikut memeluk sahabatnya.


Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk cepat "Pasti" jawabnya tersenyum cerah.


...------...


Jasmine mengecek ponselnya, detik selanjutnya matanya membulat kaget, melihat banyaknya pesan serta telepon dari alvaro yang tidak terangkat olehnya, ada apa dengan lelaki itu? akhir-akhir ini alvaro sering sekali mengiriminya pesan, atau telepon sekedar menanyakan keberadaannya, dan bertanya kapan dan jam berapa dia pulang.


"Ck, kenapa lagi deh ini orang" gumam jasmine membaca satu persatu chat dari alvaro.


Dia harus bergegas sampai rumah, kalau tidak mau mendengar ocehan protes dari alvaro entahlah dia juga bingung dibuatnya, habis terbentur dimana kepala suaminya itu, karena sekarang lelaki itu lebih banyak mengatur dan cerewet padanya.


Sementara jasmine sendiri, dia sudah terbiasa cuek terhadap suaminya dan selalu menatap suaminya datar.


Tidak ada lagi binar cinta yang biasa terpancar dari kedua bola mata cantiknya, untuk alvaro seperti dulu.


Alvaro sudah terlalu jauh, dan jasmine tidak mau lagi menambah rasa sakit di hatinya. Cukup sudah dia berjuang selama beberapa tahun belakangan ini, bukan balasan yang dia dapatkan, melainkan hanya rasa iba semata.


Jasmine harus tetap terus membiasakan diri tanpa kehadiran suaminya, setidaknya hingga beberapa bulan ke depan, sesuai dengan perjanjian yang sudah mereka buat saat mereka baru menikah dulu.


Walaupun tidak secara tertulis di atas kertas, namun ucapan lelaki itu terekam dengan jelas di otaknya, dan membekas di hatinya.

__ADS_1


Sulit, sangat sulit memang, melihat sesuatu yang jelas nyata tapi tidak bisa dia raih, menganggap sesuatu yang ada menjadi tak ada. Tapi itu semua harus jasmine lakukan untuk menyelamatkan hatinya.


__ADS_2