Jasmine

Jasmine
Kenyataannya


__ADS_3

...Nyatanya kamu hanya bayangan semu untukku...


...Nyatanya hatimu tak benar-benar ada untukku...


...Clarissa Jasmine...


Happy Reading.....


"Jasmine" pekik desi heboh, desi hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, saat jasmine dan cika mendelik tajam kearahnya saat mendengar teriakan cemprengnya.


"Gw gak nyangka jass, impian lo buat dapetin alvaro sebentar lagi terwujud" riang desi, yang diangguki mantap oleh cika.


"Hmm.... Akhirnya perjuangan lo selama ini nggak sia-sia" timpal cika tersenyum tulus.


Saat ini kami sedang makan siang di restoran yang cukup terkenal, di salah satu mall besar di jakarta.


Desi dan cika akan menemani sahabat mereka, untuk memilih cincin pernikahannya, karena alvaro yang sedang sibuk dan tidak bisa menemaninya, begitu yang dikatakan jasmine pagi tadi melalui chat group mereka.


Mata jasmine berbinar terang, tersenyum lebar dan sangat manis mendengar ucapan kedua sahabatnya. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.


"Eh, tapi emang nggak pa-pa nih kita yang bantuin lo milih cincinnya? maksud kita selera alvaro itu kayak gimana? setuju atau enggak sama pilihan lo jass?" tanya cika penasaran.


Jasmine tersenyum kecut seraya mengangguk, teringat dengan chat alvaro yang pagi tadi jasmine terima membuat moodnya langsung anjlok setelah membacanya.


Alvaro


aku gak bisa anterin kamu pilih cincinnya, kamu minta tolong temenin desi sama cika aja gak papa kan? Aku sibuk banget ada hal penting yang harus aku kerjain


"Dia emang lagi sibuk banget belakangan ini, mungkin tugas kampusnya banyak yang numpuk" alibi jasmine, yang diangguki oleh kedua sahabatnya. Padahal, dia sendiri tidak tau apa yang lelaki itu sibukkan, tapi dia tetap mencoba untuk berfikir positif.


"Lo beruntung banget jass, alvaro itu paket lengkap pakai banget!!" seru cika antusias "udah ganteng, kaya pula nikmat tuhan mana lagi yang mau kau dustakan" lanjut cika, sambil memegang dadanya dramatis tak lupa senyum mengembang yang tak luntur sejak tadi.


"Tapi gw penasaran sama sahabatnya si safira itu, mereka berdua beneran sahabat apa bukan sih? kok kayaknya alvaro lebih deket sama dia ketimbang sama lo jass?" tanya desi yang disetujui oleh cika.


"Mereka berdua beneran sahabat kok, kayak kita aja. Wajar kalau mereka berdua kelihatan lebih deket, kan safira kenal alvaro lebih dulu dibandingin gw mereka saling kenal dari TK" jawab jasmine menjelaskan, walaupun sebenarnya hatinya lebih kepo dari pada kedua sahabatnya.


"Ya udahlah, kita tuh harus positif thinking! sekarang kan jasmine udah mau nikah sama alvaro, tinggal nunggu seminggu lagi loh. Kalau emang mereka punya hubungan khusus, atau salah satunya punya perasaan lebih, kenapa juga masih sahabatan sampai sekarang iya gak sih?" Tutur desi menatap bergantian kedua sahabatnya.


"Bener juga tuh jass" ujar cika santai sambil mengetuk jari telunjuknya ke dagu "udahlah dari pada mikir yang aneh-aneh, mendingan sekarang kita berburu cincin kawin, ahh, jadi pengen kawin juga gw tapi sama siapa ya?" seru cika dengan dengan wajah masamnya.


"Nikah bego" sahut desi sambil menoyor kepala cika, membuat cewek itu mendelik sinis sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Jasmine dan desi tertawa keras melihat wajah nelangsa cika.ย 


"Jahat lo berdua" ucapnya sinis.


"Gw ke toilet bentar ya, kebelet pipis nih gw" kata desi tiba-tiba sambil menggoyangkan kedua kakinya.


"Ck kualat kan lo sama gw, makanya jangan nistain gw begitu jadi beser kan lo sekarang" seru cika jutek bercampur gemas "ayo gw temenin, karena gw temen yang baik dan pengertian" lanjutnya lagi nyengir lebar.


"Semerdeka lo aja markonah" seru desi tak kalah judesnya menatap jengkel cika.


Jasmine menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd kedua sahabatnya itu, mereka benar-benar mampu mengalihkan mood-nya yang sempat anjlok dengan tingkah mereka.


"Yaudah, gw langsung nunggu di tokonya aja ya, yang di lantai lima jangan sampai nyasar lo berdua" peringat jasmine terkekeh, mendapatkan lirikan tajam dari kedua sahabatnya.


"Lo kata kita berdua bocah jass, pakai acara nyasar segala" gerutu desi kesal diangguki cika.


Jasmine tertawa geli melihat kekesalan mereka, dengan wajah menahan sesuatu desi menarik tangan cika dengan tidak sabaran karena sudah tidak tahan.


"Pelan-pelan anjir, sakit tangan gw woii" pekik cika sebal.


"Bawel banget sih lo, gw udah kebelet monyet" balas desi berjalan cepat meninggalkan cika yang masih mengelus pergelangan tangannya.

__ADS_1


...Group Cecan Badai...


Desi


Anjirlah ngantri beut mau beser doang ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”


Cika


Terima deritamu nak,, makanya jangan kualat sama yang lebih muda ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹


Desi


Gak gitu konsepnya maemunah!!! ๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ 


^^^Jasmine^^^


^^^Ckckck.. di toilet aja masih sibuk perang urat ya lo berdua ๐Ÿ˜๐Ÿ˜^^^


Cika


Tau nih si desong efek kebelet jadi rada geser otaknya ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Desi


Terus aja lo nistain gw, gw sumpahin jodoh lo jauh sejauh mata memandang ๐Ÿ˜ค๐Ÿ˜ค๐Ÿ™„


Cika


Kayak jodoh lu deket aja kambing, cowok aja lu kaga punya anjir pakai ngomongin jodoh segala. Noh jodoh lu masihย ngeliatin lu dari langit pakai kekeran mainan bocah!!


Desi


Jauh banget nyet! pakai kekeran mainan pula ๐Ÿ˜ค๐Ÿ˜ค


Cika


Desi


Setan emang lu, bukannya doain supaya jodoh temen deket malah dibikin makin jauh, dasar laknat!!!


Jasmine tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala, tak habis pikir melihat chat kedua temannya itu.


...------...


"Berapa kali sih aku harus bilang ke kamu fir, kamu itu prioritas utama aku" ucap seorang pria yang terdengar jelas oleh telinga jasmine.


Jasmine samar-samar mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, percakapan antara dua orang yang berada tepat di belakang kursinya, posisi duduknya yang membelakangi mereka, memudahkan jasmine untuk mendengarkan semuanya.


Menoleh sedikit kebelakang, mata jasmine langsung terbelalak kaget melihat alvaro dan safira di sana. Bukannya lelaki itu bilang kalau dia sibuk? jadi ini yang di maksudkan dengan sibuknya itu, jasmine hanya mampu tersenyum getir sambil terus mendengarkan percakapan mereka dalam diam. Memang kenyataannya safira itu adalah prioritas utama alvaro, seperti yang lelaki itu tadi ucapkan.


Safira menatap alvaro serius "Al, walau bagaimanapun kamu itu sekarang calon suaminya jasmine. Kamu harus sedikit lebih perduli sama dia, kalian sebentar lagi akan menikah. Coba buka sedikit aja hati kamu untuk dia, al" balas safira gemas sendiri melihat tingkah sahabatnya.


"Dan kamu tau jawabannya kan fir, kalau bukan karena mami dan kamu yang minta, aku gak akan mau nikah sama dia, semua yang aku lakukan itu terpaksa dan kamu tau itu dengan jelas kan fir? bahkan kamu juga ikut-ikutan maksa aku untuk nikah sama dia, kamu pernah mikirin perasaan aku sedikit aja nggak sih fir? aku itu itu cintanya sama kamu, bukan sama jasmine" alvaroย menjeda, menatap dalam mata safira "kalau bukan kalian berdua yang minta, wanita spesial di hati aku. Mami sama kamu, nggak bakalan aku mau merelakan masa depan aku gini fir, aku ini masih 20 tahun, kamu bayangin aja coba, diusia aku yang masih muda kayak gini, aku harus terpaksa nikah sama orang yang sama sekali gak aku cinta. Aku itu cuma kasihan sama dia karena dia yatim piatu sekarang, tapi kalian semua menganggap lebih perasaan aku, jujur aja aku tuh benar-benar ngerasa nggak nyaman dengan keadaan ini fir" alvaro menghembuskan nafas lega setelah mengungkapkan semua isi hatinya, matanya masih menatap lekat safira.


Hati jasmine mencelos, mendengar semua perkataan jujur yang keluar dari bibir alvaro, jadi selama ini alvaro hanya kasihan kepadanya, tidak lebih!! jasmine hanya mampu menunduk dalam, berusaha keras menahan semua perasaan sesak di dadanya. Rasanya seperti dihantam palu besar tepat di bagian hatinya.


Mata jasmine berembun, tenggorokannya tercekat, hatinya sangat sakit mendengar kejujuran yang diucapkan alvaro. Sebegitu rendah dia menurut penilaian alvaro?? kasihan?? jasmine ternyata hanya seorang wanita yang dikasihani tidak lebih.


Ternyata selama ini bukan hanya jauh, tapi memang jasmine tidak pernah sanggup untuk menggapai hati seorang Alvaro Aldebaran.


Seperti terjun bebas dari tebing, semua usahanya rasanya sia-sia. Tidak ada yang menyangkut sedikitpun semua usahanya selama ini, semua berlalu begitu saja tidak ada artinya.


Jasmine merasa salah dengan semua keadaan, tidak seharusnya dia hadir diantara alvaro dan safira. Dia harus memikirkan bagaimana pergi secara perlahan tanpa menyakiti siapapun, terutama kedua orangtua alvaro yang sudah sangat baik kepadanya.

__ADS_1


"Aku yakin, pasti seiiring berjalan nya waktu kamu akan sayang sama jasmine. Dan untuk perasaan kamu itu, kamu tau kan jawabannya apa, al? aku gak mau kasih kamu harapan lebih, al" lirih safira memalingkan wajahnya dari hadapan alvaro.


Alvaro menghela nafas kasar, sebesar apapun dia berusaha hasilnya akan tetap sama. Safira wanita yang amat dicintainya tidak memiliki perasaaan yang lebih kepadanya selain sebagai seorang sahabat, kenapa takdir begitu menyakitkan untuknya. Alvaro mengusap wajahnya frustasi sambil mendesah berat.


Sementara jasmine sendiri, sudah tidak mau berlama-lama lagi berada disini, lebih baik dia segera pergi, dari pada dia harus mendengar lebih jauh percakapan kedua orang itu yang membuat hatinya lebih sakit nantinya. Seharusnya jasmine sudah sadar sejak awal, perhatian yang ditunjukkan alvaro kepada safira lebih dari sekedar perhatian kepada sahabatnya. Perhatian itu murni antara lelaki yang mencintai wanitanya.


Jasmine beranjak dari duduknya perlahan, lalu berjalan cepat keluar dari restoran itu dengan perasaan yang berkecamuk, dia menyeka air matanya yang sudah menetes dengan lancang tanpa persetujuannya. Ternyata dugaannya selama ini benar, bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


...------...


"Kayaknya cocok nih ditangan gw" celetuk cika, senyum-senyum sendiri, memperhatikan cincin cantik yang dia lihat sejak tadi.


Desi menatap jijik sahabatnya.


"Yang mau nikah jasmine dongo bukan lu, halu aja kerjaan lu" balas desi sewot.


"Ck, kaga bisa banget ngeliat temen seneng lu nyet" sahut cika sebal, namun desi hanya diam.


Desi menyenggol lengan cika, karena sejak tadi jasmine hanya diam tanpa suara.


"Mbak... Mbak jadi mau yang mane nih cincinnya?" tanya cika, menyodorkan beberapa model cincin yang menurutnya bagus.


"Lah dia bengong" desi menatap heran sahabatnya "woii jass, hellooowww" serunya heboh menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah jasmine.


"Ehh kenapa??" jawab jasmine terkejut.


"Dih lu yang kenapa woii?? dari tadi bengong mulu" tanya cika bingung.


"Ahh nggak" jawab jasmine tersenyum kikuk.


"Udah ini, mana yang mau lu pilih?" desi bertanya tanpa basa basi.


Jasmine menatap jejeran cincin emas putih berlapis berlian yang tampak mewah dihadapannya.


"Ini aja deh" setelah lama melihat jasmine menjatuhkan pilihannya pada cincin dengan design sederhana, toh cuma sekedar simbol saja pikirnya. Tidak perlu memilih yang bagus apalagi berlebihan.


"Yakin lo??" tanya cika memastikan.


Jasmine mengangguk tersenyum menyembunyikan semua perasaannya "iya, bagus kan sederhana"


"Coba dulu deh ukurannya, udah pas belom dijari lo" saran desi memberikan cincin yang di pilih oleh jasmine.


Jasmine memasukkan cincin dijari manisnya, menatap dengan pandangan yang menyiratkan banyak arti "pas nih" ucapnya menunjukkan jari manisnya kepada kedua sahabatnya.


Desi dan cika saling tatap dan tersenyum lebar.


"Bungkus mas!!" Pekik cika heboh.


Jasmine dan desi menatap tak enak pada pegawai toko yang dibuat tersentak kaget karena seruan heboh cika.


"Bikin malu aja lu! bener-bener dah nih anak satu" desi menoyor gemas kepala cika.


Yang diomongin cuek saja, seperti tak terjadi apa-apa.


"Kampret emang, kaga ada malunya nih bocah" desi menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Kita langsung balik nih??" tanya cika tidak nyambung.


"Iya langsung aja deh" jawab jasmine, yang memang sudah tidak mau berada di mall ini lagi.


"Oke cantik"


Desi dan cika menjawab serempak.

__ADS_1


__ADS_2