
...Ini baru awal...
...Aku harus kuat...
...Semoga jalanku dipermudah...
...Semoga saja...
...Clarissa Jasmine...
Happy Reading....
Pagi kembali menyambut saat jasmine menggeliat pelan dan membuka perlahan kelopak matanya, dia menguap lebar mencoba untuk mengambil kesadarannya secara penuh, rasa lelahnya cukup terbayar setelah seharian kemarin dia melangsungkan acara pernikahannya, terbukti jasmine terbangun dari tidur lelapnya saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi, saat jasmine menolehkan kepalanya kesamping pemandangan pertama yang dia lihat adalah alvaro suaminya.
Tapi hanya suami sementaranya saja selama setahun ini, dibilang suami kontrak bukan tapi dibilang suami sungguhan juga tidak. Sudahlah jasmine malas pagi-pagi harus memikirkannya.
'Aku pasti bisa melewati semuanya' batinnya berseru semangat.
Dimulai dengan senyum sempurna, jasmine merenggangkan tangannya, kakinya menapak pada dinginnya lantai kamar hotel.
Jasmine bergegas bangkit untuk membersihkan dirinya, setelah cukup rapih, dia berjalan kearah kasur untuk membangunkan alvaro.
Jasmine menepuk pelan bahu alvaro "al bangun dulu" panggilnya dengan hati-hati.
"Hem" gumam alvaro menerjapkan kedua matanya, dia sempat tersentak kaget saat melihat jasmine, namun begitu melihat ke sekeliling kamar dia mungkin sadar kenapa jasmine bisa satu kamar dengannya saat ini.
"Bangun dulu al, terus sarapan" ucap jasmine menatap alvaro.
"Hem" jawab alvaro dengan gumaman, dia berjalan gontai kearah kamar mandi dengan wajah yang masih sangat mengantuk.
"Mau makan apa?" tanya jasmine, sebelum alvaro masuk kedalam kamar mandi.
"Nasi goreng sama susu aja" balas alvaro menoleh sekilas kepada istrinya, lalu berjalan kembali ke kamar mandi.
Mereka berdua akan sarapan terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah alvaro. Jasmine lebih memilih untuk sarapan didalam kamar saja, toh keluar juga buat apa pikirnya. sambil menunggu alvaro mandi dia memesan makanan untuk mereka berdua, yang tentu saja sudah jasmine tanyakan terlebih dahulu, ingin makan apa pada suaminya itu.
Alvaro menghampiri Jasmine setelah keluar dari kamar mandi, dia duduk di sofa didepan istrinya. Mereka makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar.
Setelah sarapan, jasmine langsung bergegas untuk membereskan semua barang bawaan mereka. Tentu saja dia semua yang membereskannya, dia sudah meminta pada alvaro semalam, untuk tetap melayani suaminya itu yang telah disetujui oleh alvaro.
"Udah semua al" ucap jasmine, menatap semua barang bawaan mereka, yang sudah dia masukkan kedalam tas mereka masing-masing.
Alvaro mengalihkan tatapan matanya dari ponsel pada istrinya lalu mengangguk "ayo" ajaknya datar "nanti kita bersikap seperti pengantin baru didepan karyawan hotel, karena mami pasti akan menanyakan kita nantinya pada pihak hotel" ucapnya lagi saat hendak keluar membuka pintu kamar, yang hanya jasmine tanggapi dengan anggukan kepala saja.
Mereka berjalan beriringan menuju lobby hotel dan disambut senyum ramah dari seluruh karyawan di sana, sebelumnya alvaro meminta jasmine untuk bersikap sebagaimana pengantin baru pada umumnya. Agar mami dan papinya tidak curiga, karena sudah pasti maminya itu akan kepo bertanya pada pihak hotel.
Alvaro mengendarai mobilnya dalam diam, begitupun dengan jasmine yang duduk diam di bangku penumpang tepat disebelahnya, matanya sibuk melihat kearah jendela disampingnya. Setelah tadi berakting didepan hampir seluruh karyawan hotel kini mereka kembali ke awal. Sama-sama diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Saat ini alvaro dan jasmine sudah sampai di rumah alvaro, disambut dengan senyum ceria bik imah selaku art yang sudah lama bekerja di kediaman alvaro dan juga pak husein satpam rumah alvaro. Mereka sudah cukup dekat dengan jasmine.
"Selamat datang non, bibik gak nyangka akhirnya non jass udah jadi istri, den alvaro" ucap bik imah dengan sumringah.
"Makasih bik imah" jawab jasmine, sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
"Kalau gitu bibik kembali kebelakang ya non, kalau butuh bantuan jangan sungkan panggil bibik" ujar bik imah yang dibalas anggukan pasti dari jasmine.
Alvaro, lelaki itu sudah berjalan duluan setelah berbincang sebentar dengan bik imah dan pak husein. Dengan alasan lelah dia mendahului jasmine untuk berlalu ke kamarnya yang sekarang menjadi kamar jasmine juga. Sebenarnya agak risih juga kalau harus sekamar dengan lelaki itu selama satu tahun ke depan, tapi jasmine tidak bisa berbuat banyak selain menurut, karena ini memang bagian dari rencana mereka berdua agar semua orang tidak curiga dengan kesepakatan yang telah mereka bicarakan semalam.
-------
Saat ini jasmine dan alvaro sedang berada dikamar besar milik alvaro, pemandangan pertama saat memasuki kamar ini adalah rapih, bersih dan harum maskulin khas Alvaro.
Alvaro memang lelaki penyuka kebersihan, rasanya jasmine insecure kalau harus membandingkan dengan kamarnya dulu. Jasmine sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari, yang berada di walk in closet yang terhubung langsung dengan ruang tidur dan kamar mandi.
"Aku mau pergi, mungkin pulangnya terlambat, kamu gak perlu nungguin aku" ujar alvaro tiba-tiba masuk kedalam walk in closet menghampiri istrinya.
Jasmine mengalihkan perhatian sepenuhnya pada suaminya itu sambil tersenyum kecut, baru sehari saja sudah seperti ini bisakah dia bertahan sampai satu tahun ke depan.
"Kamu mau kemana al? maaf bukannya aku kepo, tapi jaga-jaga aja kalau mami atau papi tanya, jadi aku tau harus jawab apa. Dan bisa nggak kalau kamu mau pergi atau terlambat pulang bahkan kalaupun kamu nggak pulang sekalipun kamu kasih tau ke aku, via chat aja biar jawaban kita kompak aja" kata jasmine memberikan penjelasan.
Alvaro terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya samar "safira mau pemotretan hari ini, nanti kalau ada yang tanya bilang aja aku ada kerkom tugas kampus" jawab alvaro acuh tak acuh.
Jasmine tertegun sesaat, bahkan statusnya saat ini pun tak bisa merubah apapun "oke" balasnya singkat.
Jasmine harus segera merencanakan sesuatu, nggak mungkin dia terus bergantung hidup pada alvaro terus-menerus, apalagi hanya atas dasar kasihan, dia benci fakta itu.
"Aku berangkat mine" pamit alvaro, membuyarkan lamunan jasmine, dan dia balas hanya dengan anggukan kepala saja.
Jasmine harus memulai rencananya besok, dia tidak mau terlalu lama mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Kalau alvaro saja tidak perduli dengannya buat apa dia harus perduli dengan lelaki itu. Masa bodo!! yang penting jasmine menjalankan tugasnya sebagai istri, itu saja poinnya!!
Jasmine segera menyelesaikan merapikan seluruh bajunya, dia harus berfikir cepat, usaha apa kira-kira yang akan dia bangun untuk menghasilkan uang. Setidaknya dia tidak harus bergantung dengan uang yang alvaro berikan nantinya.
Harta satu-satunya yang jasmine miliki adalah rumah peninggalan kedua orangtuanya, jasmine berperang keras dengan batinnya yang tidak rela jika harus menjual rumah penuh kenangan itu. Mudah-mudahan nanti jalannya dipermudah kedepannya.
"Ck, gw kepo amat ini, kira-kira si jasmine udah buka segel apa belom ya?" tanya desi sangat kepo.
"Lah iya ya, gimana ya rasanya? gw denger-denger sih sakit pas diawal, sampai susah jalan gitu katanya" jawab cika sambil menerawang.
"Menurut lo, si alvaro itu romantis nggak sih cik? soalnya, gw gak pernah denger jasmine cerita hal-hal yang romantis gitu tentang lakinya" kata desi bingung.
"Kagak tau gw, kaku gitu sih orangnya, ck, tuh anak berasa married sama kulkas" sahut cika sambil tertawa.
"Gw juga mau kali punya suami yang ganteng kayak alvaro, kaya pula, tapi gw maunya yang romantis, baik, perhatian nggak kaku gitu" timpal cika lagi sambil menghayal.
Desi memutar bola matanya malas sambil menoyor keras pipi cika "khayalan lo kejauhan neng" gemas desi.
Cika menatap desi sengit "emangnya lo, cita-cita punya suami kayak rian noh, yang mesumnya tanpa batas" balas cika sambil tertawa kencang.
"Heh amit-amit, mending gw jadi jomblo terhormat deh, dari pada harus sama si rimes itu" sahut desi melotot sangar sambil mengetuk jarinya dimeja.
"Hahahaa.... Bae-bae kemakan omongan sendiri lo" balas cika sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
"Dasar temen laknat lo" teriak desi berapi-api.
Sementara cika tidak dapat menghentikan tawanya melihat wajah jengkel desi.
"Udah lah bacot lu, kita telepon gak nih si jasmine?" tanya cika setelah meredakan tawanya.
__ADS_1
"Menurut lu, gimana enaknya? ganggu gak kita nyet?" desi malah balik bertanya.
Cika menggaruk kepalanya yang tak gatal "ganggu kali yah, besok aja lah, kasian lagi istirahat mungkin mereka sekarang"
"Hem iya juga sih, pasti masih kecapean mereka sekarang" sahut desi setuju.
------
"Bik" jasmine mencolek bahu bik imah.
"Astaga, kaget bibik non jass"
Jasmine terkekeh "maaf bik, lagi masak apa?"
"Lagi masak soto ayam non, tapi cuma sedikit aja, soalnya den al tadi bilang pulangnya telat jadi nggak makan di rumah"
Jasmine mengangguk "iya, dia ada tugas kampus bik"
"Emang gak capek non? kemarin kan acaranya seharian, udah kerjain tugas kampus aja"
"Iya, ada kerkom bik, ngejar tugas yang belum selesai" alibi jasmine "eum, aku bantu ya bik"
"Ehh gak usah, non jass diem aja disitu, udah cantik entar jadi kotor lagi" cegah bik imah, menghalangi jasmine membantunya.
"Ya ampun bik, aku biasanya juga masak sendiri di rumah, udah biasa bik santai aja" kata jasmine, mengambil alih ayam yang sedang di suir-suir kecil oleh bik imah.
Jasmine mencoba kuah soto buatan bik imah setelah dirasa sudah matang.
"Gimana non ada yang kurang gak?" tanya bik imah penasaran.
Jasmine menggeleng lalu mengacungkan jempolnya "top bik, enak banget" jawanya tersenyum senang.
Jasmine kembali kedalam kamar, setelah selesai makan soto bersama bik imah dan pak husein, mereka sempat sungkan harus duduk satu meja makan dengannya. Namun jasmine merasa kesepian jika harus makan sendiri, jadilah dia memaksa mereka untuk menemaninya makan.
Membaca novel adalah pilihan jasmine untuk mengalihkan rasa bosannya, setelah lelah membaca, dia membuka laptopnya mencari situs penjualan rumah.
Jasmine menghitung dengan teliti, berapa uang yang akan dia dapatkan jika dia menjual rumahnya nanti.
"Masih cukup lah untuk modal, sewa apartemen dan sisanya ditabung untuk keperluan kedepannya" gumam jasmine bernafas lega.
"Duh, kira-kira gw bisnis apa ya yang gak cepet mati"
Jasmine menutup laptopnya, beralih berseluncur dengan ponselnya, jarinya bergerak lincah mencari bisnis yang pas untuk dia bangun nantinya, hingga dia terlelap karena lelah.
...Haiii pembaca setia Jasmine.....
...Seneng banget kalian mau menyempatkan diri membaca cerita pertamaku, semoga suka 😊😊...
...Satu kata untuk Alvaro 😁...
...Satu kata untuk Jasmine 😁...
...Jangan lupa klik Vote dan Comment ya......
__ADS_1
...See U ❤️❤️❤️❤️...