Jasmine

Jasmine
Rencana Jasmine


__ADS_3

...Salahkah aku jika aku mencoba menyelamatkan hatiku...


...Clarissa Jasmine...


Happy Reading ♥️♥️♥️


Sudah terhitung hampir tiga bulan usia pernikahan jasmine dengan alvaro, tidak ada yang berubah sedikitpun. Al, masih dengan sifat acuhnya seakan tidak pernah menganggap jasmine ada. Pagi ini safira datang yang sukses membuat jasmine terkejut bukan main.


"Pagi jass" sapa safira dengan senyuman cantik yang mengembang "gw numpang sarapan disini ya, al tadi hubungin gw supaya sarapan bareng disini aja, soalnya dia bangun telat jadi nggak bisa ke apartemen gw" ujarnya lagi dengan cuek.


Belum sempat jasmine menjawab, suara lembut alvaro mengalihkan perhatiannya "Pagi fir" sapa alvaro sambil tersenyum hangat pada safira.


"Kenapa bangun telat sih al?" tanya safira dengan wajah cemberut.


Alvaro berjalan kearah safira, mengecup pucuk kepalanya dan mengusapnya dengan sayang. "Sorry aku kerjain tugas kampus semalem, karena harus aku email pagi ini ke dosenku, jangan marah dong" ucap alvaro sambil terkekeh geli.


Jasmine hanya mampu tersenyum kecut, melirik sekilas kearah bik imah yang juga sedang tersenyum kikuk kepadanya. Apalagi ini ya Allah, mereka berbicara tanpa menghiraukan keberadaannya, seakan dia kasat mata. Sesakit ini ya ternyata kenyataannya.


Safira menghela nafas "yaudah, sekarang kita sarapan dulu, abis itu kita langsung jalan aja ya al" ucap safira pasrah.


"Siap princess" balas alvaro sambil tersenyum manis "Bik tolong siapin sarapan untuk safira" sambung alvaro melirik sekilas pada bik imah.


Bik imah mengangguk kikuk "baik den" lalu beralih menatap jasmine, tersenyum tak enak.


"Aku duluan" potong jasmine jengah, lalu berjalan cepat tanpa di jawab atau dihiraukan oleh alvaro dan safira di sana.


Bik imah memandang kepergian jasmine dengan tatapan sendu, namun dia tidak dapat berbuat lebih.


Jasmine segera mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi, hatinya sangat muak dan nyeri disaat bersamaan.


Menuruni tangga dengan tampang datar, dia menuju ruang makan, walau bagaimanapun jasmine harus tetap pamit pada suaminya bukan? meskipun matanya terasa panas, melihat dua manusia tak tau malu yang berada di sana.


"Aku pergi dulu al" pamit jasmine datar, tanpa memperdulikan respon dan jawaban dari suaminya, dia melangkah pergi.


Alvaro mengangkat bahunya acuh ketika jasmine pergi begitu saja.


"Al, jasmine gak marah kan kalau kamu anterin aku gini" tanya safira begitu melihat respon jasmine tadi.


"Gak pa-pa" jawab alvaro meyakinkan, toh dia sudah membicarakan hal ini dengan istrinya, seharusnya wanita itu tidak perlu marah kan.


"Ya, tapi aku gak enak aja liat mukanya yang kayak gitu tadi" keluh safira cemberut.


Alvaro menggeleng "udah gak usah dipikirin" balas alvaro enteng.


"Bener ya al, pokoknya aku gak mau gara-gara hal ini kalian jadi ribut" peringat safira tegas.


"Hem tenang aja, dia biar jadi urusan aku nantinya"


"Oke, yaudah yuk aku udah selesai ini langsung jalan aja"


"Ayo" alvaro menggandeng tangan safira dengan mesra, membukakan pintu mobil untuknya.


...------...


Jasmine harus cepat melaksanakan rencananya, pagi ini tujuannya berkunjung ke makan kedua orangtuanya. Dia harus minta izin kepada mereka terlebih dahulu, walaupun tidak akan pernah mendapatkan balasan setidaknya dia sudah mengatakannya.

__ADS_1


Jasmine memandang kosong bahu jalan memalui kaca mobil, terlintas dalam benaknya untuk pisah kamar dengan alvaro.


Tapi apa mungkin bisa? apa kata bik imah dan pak husein nantinya, bagaimana jika mami dan papi sampai tau.


Angin berhembus menerpa wajah dan rambut panjangnya, luruh sudah semua pertahanannya kala jasmine melihat dua buah gundukan dengan batu nisan bertuliskan nama kedua orangtuanya yang berada persis di depannya. Jasmine menangis terisak mengeluarkan seluruh isi hatinya.


"Assalamualaikum ma, pa" sapanya parau. "Apa kabar kalian di sana? Jass rindu sekali" ujarnya sesenggukan "ma, pa maafin aku, aku harus melakukan ini. Ini terlalu berat untukku ma, pa. Aku pikir dia mencintai aku dengan tulus tenyata aku salah besar. Dia hanya kasihan dengan nasibku, tolong izinin aku melakukan ini ma, pa" katanya dengan air mata yang sudah berderai di pipi. Setelah memanjatkan doa, jasmine bergegas pergi untuk melaksanakan rencananya.


Jasmine sudah memotret rumahnya sebelumnya, dan membuat iklan untuk menjualnya melalui situs online. Setelah melakukan negosiasi dengan beberapa pembeli, akhirnya dia menemukan pembeli yang pas untuk menjual rumahnya.


Hari ini, sesuai dengan kesepakatan mereka bersama sebelumnya melalui chat, mereka akan bertemu langsung di rumahnya.


Jasmine mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan rumahnya. "aku pasti akan sangat merindukan suasana ini, terlalu banyak kenangan indah bersama kedua orangtuaku" gumamnya pelan sambil tersenyum sendu.


Suara ketukan pintu membuat jasmine langsung tersadar, dia langsung berjalan menuju pintu. Dihadapannya sudah berdiri dua orang paruh baya, sepertinya mereka suami-istri.


"Dengan bapak indra?" sapa jasmine sambil tersenyum sopan.


"Ya benar, kamu yang bernama jasmine?" tanya pak indra.


"Betul pak" balasnya ramah.


"Kenalkan, ini mira istri saya" kata pak indra sambil merangkul mesra istrinya.


Jasmine tersenyum ramah "silahkan masuk pak, bu mari dilihat dulu rumahnya" ujarnya sopan.


Jasmine sudah berniat dan bertekad untuk menjual rumah peninggalan orangtuanya untuk memulai rencana yang sudah dia susun sebelumnya.


"Sesuai kesepakatan ya nak jasmine, istri saya juga sepertinya menyukai rumah ini" ucap pak indra tersenyum ramah.


Pak indra dan bu mira mengangguk setuju "baiklah kalau begitu, saya akan melakukan setengah dari pembayaran rumah ini, sisanya saya akan bayar lunas setelah kamu menyerahkan kunci" kata pak indra dengan tegas.


"Baik pak" balasnya tak kalah tegas.


"Kalau begitu kami pamit dulu" ucap bu mira, dengan senyuman hangatnya.


"Silahkan pak, bu hati-hati dan terimakasih" sahut jasmine balas tersenyum.


...------...


"Ini sebulannya dua juta belum termasuk biaya listrik dan maintenance" ucap seorang pria bernama rudi.


"Baik pak, saya akan mengambil unit ini" balas jasmine sambil menatap sekeliling.


"Baik kalau begitu, anda bisa menyelesaikan pembayarannya segera" sahut pak rudi setelah itu pergi.


Setelah menimbang dengan baik, jasmine memutuskan untuk menyewa apartemen saja. Lebih baik dan lebih aman menurutnya, toh dia juga akan jarang berkunjung kesini. Ini hanya tempat persinggahan sementara dan yang terpenting ada tempat untuk menaruh barang-barang milik orangtuanya.


Jasmine memegang erat besi pinggiran balkon unit apartemen yang akan dia sewa.


"Semangat !!!! gw pasti bisa ngelewatin semuanya" jasmine menutup matanya, membiarkan angin menembus kulit wajahnya, dengan senyum dia akan memulai kembali semuanya dari nol.


...------...


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, jasmine baru saja tiba di rumah alvaro. Dia akan segera mandi dan beristirahat, badannya sudah sangat lengket dan lelah, setelah seharian ini memindahkan sebagian barang miliknya dan barang kedua orangtuanya ke apartemen yang baru saja dia sewa.

__ADS_1


"Baru pulang non?" tanya bik imah tiba-tiba.


"Loh bik belum tidur?" jasmine cukup kaget dan balik bertanya.


"Ini, tadi bibi haus, jadi ambil minum dulu di dapur, non jass mau makan biar bibi panasin?"


"Nggak usah bik, tadi aku udah makan diluar, bibi istirahat gih udah malam gini"


"Yaudah non, bibi duluan ya" bik imah tersenyum hangat.


Jasmine balas tersenyum "iya bik"


Jasmine memijat punggungnya yang terasa remuk sambil menaiki tangga, mungkin karena dia sudah lama tidak olahraga jadi berasa sakit semua badannya.


"Dari mana aja jam segini baru pulang?" tanya alvaro heran, pasalnya jasmine pergi seharian tanpa memberitahunya.


Jasmine menolehkan kepalanya kearah alvaro yang sedang duduk di sofa menatap lekat kearahnya, dia cukup terkejut menemukan sosok lelaki itu didalam kamar mereka, karena biasanya alvaro akan pulang tengah malam saat dia sudah terlelap.


"Ada urusan" jawab jasmine datar, dia masih kesal dengan kejadian pagi tadi.


Alvaro mengerutkan dahinya heran, karena biasanya jasmine tidak pernah pergi seharian apalagi tanpa memberitahunya  "urusan apa?" tanya alvaro penasaran.


"Ada urusan penting" jawab jasmine cuek sambil berlalu ke kamar mandi.


Rahang alvaro mengeras, dia tidak pernah suka saat jasmine cuek begitu padanya, ada rasa tak nyaman dihatinya, seperti ada yang hilang saat wanita itu menjadi lebih cuek kepadanya.


Belum lagi, tadi saat safira dengan enteng mengenalkan pacarnya leo, sudah hampir satu tahun mereka berpacaran dan alvaro baru saja mengetahui fakta itu. Kesal dan marah tentu saja saat dia mengetahui fakta itu, lalu selama ini dia hanya dianggap sebagai ban serep saja ketika kekasih safira sibuk? ck, menyebalkan.


Jasmine keluar dari kamar mandi dengan santai menggunakan bathrobes kearah walk in closet yang ada didalam kamar, lalu memakai pakaian santainya, pakaian favoritnya untuk tidur yaitu celana pendek dan tanktop.


Alvaro menatap jasmine dari atas hingga kebawah, dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jasmine hanya mengangkat kedua bahunya acuh, menuju meja rias untuk menyisir rambutnya.


Alvaro memperhatikan jasmine dalam diam, sebenarnya dia sangat kepo. Tapi dia cukup sadar pasti istrinya kesal setengah mati dengan kejadian tadi pagi. Jadi alvaro lebih memilih jalur aman saja, lebih baik diam.


Setelah menyisir rambutnya, jasmine segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelumnya dia bertanya kepada alvaro karena sejak tadi lelaki itu hanya diam melihatnya.


"Kenapa? ada yang mau diomongin?" tanya jasmine penasaran.


"Nggak" sahut alvaro, lalu ikut merebahkan dirinya di samping istrinya.


Jika sebelumnya kami tidur saling memunggungi, tapi tidak dengan malam ini.


Malam ini hanya jasmine yang memunggunginya, tapi alvaro terus menghadap kearahnya membuatnya jadi salah tingkah saja.


Tunggu buat apa dia harus salah tingkah, mungkin saja suaminya pegal karena harus tidur menghadap kanan terus kan. Sudahlah dia malas mencari tau, matanya sudah berat ingin segera beristirahat.


Sebelum jasmine benar-benar terlelap, dia samar mendengar alvaro berucap.


"Good night mine, sweet dream" kata alvaro lembut.


Jasmine pasti berkhayal! mana mungkin seorang alvaro mengucapkan kalimat semanis itu padanya kan. Akhirnya jasmine tertidur pulas, setelah lelah menjalani harinya yang cukup berat.


yeyy udah di Up bab ke tujuh, jangan lupa kasih vote dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2