JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 1 KOLONEL HAMZAH


__ADS_3

Tahun 1989, terjadi perang antara Indonesia dengan


separatis yang ingin memisahkan diri dan mendirikan Negara sendiri. “Kolonel,


di baris depan terjadi baku tembak dengan pasukan separatis, pasukan kita kalah


jumlah”, kata prajurit kepada Kolonel Hamzah. “cepat minta bantuan ke pasukan


di Bandung, minta batalyon yonif 44 untuk segera membantu kita.” “dan, tolong


bilang ke jendral Nasution untuk menjaga keluarga saya dari bahaya yang akan


mengintai mereka, karena istri saya sedang hamil anak pertama kami.” Lanjut Kolonel


Hamzah.


“Siap Kolonel laksanakan” jawab prajurit. Kolonel


Hamzah mendapatkan tugas berat untuk menumpas separatis yang sudah meresahkan


Negara dan telah banyak membunuh warga sipil yang tidak bersalah, hanya karena


tidak mau mengikuti ideologi mereka. Sudah banyak anak-anak yang telah


ditinggal mati oleh orangtuanya karena kekejaman kelompok separatis. Saat ini


istri Kolonel Hamzah sedang hamil 8 bulan dan sebentar lagi akan melahirkan


anak pertamanya. “Nak, maafkan papa mu yang sepertinya tidak akan bisa menemani


mama melahirkan mu. Semoga kamu dapat mengerti, bahwa tugas papa mu adalah


tugas yang sangat mulia bagi Negara kita” kata Hera istri Kolonel Hamzah. “Kamu


akan melebihi papa mu dan akan menjadi prajurit terbaik dan ditakuti oleh


seluruh dunia dan Indonesia akan aman berada ditangan mu kelak, Nak” Lanjut


Hera.


***


Cerita singkat berdirinya separatis, berawal dari


PKI pada tahun 1960-an yang memulai api permusuhan dengan Islam. Disaat PKI


dibubarkan, beberapa kelompok Islam mengikrarkan janji sumpah setia kepada


pemimpin mereka yaitu Ir. H. Syamsudin, dan maka berdirilah kelompok separatis di


Jawa Barat, tepatnya di daerah Majalengka, Bandung. Berdirinya kelompok


separatis dikarenakan mereka kecewa dengan sikap Presiden saat itu “Soebono”


yang lebih condong ke PKI yang ingin membatalkan hukuman mati kepada para


pemimpin PKI yang telah biadab membunuh para jenderal dan warga sipil.


***


Di medan perang di Garut, Pasukan Kolonel Hamzah


dipukul mundur oleh pasukan separatis yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.


“Kolonel, pasukan batalyon yonif 44 sedang dalam perjalan, estimasi sampai


kesini sekitar 2 / 3 jam-an” prajurit memberi informasi kepada Kolonel Hamzah.


“Baik, cepat buat perimeter pertahanan sementara untuk menghalau pasukan


separatis” perintah Kolonel Hamzah. Di saat genting dan terpojok oleh pasukan


musuh, Kolonel Hamzah membuat surat untuk istri dan anaknya, karena menurutnya


dia tidak bisa menjamin keluar dengan selamat dari peperangan ini, Dia pun


menulis surat dan meminta prajuritnya untuk mengirimkan surat tersebut kepada


istrinya sekarang juga.


Sementara itu Hera sudah merasakan kontraksi dan di


bawa ke rumah sakit oleh keluarganya. dan tepat jam 5 subuh telah lahir bayi


laki-laki yang sangat tampan dan di beri nama “ARSEAN HAMZAH”. Di medan perang,


“Kolonel, saya mendapat informasi bahagia bahwa anak bapak telah lahir dan


berjenis kelamin laki-laki, saya berdoa kelak anak bapak akan menjadi anak yang


akan mengguncang dunia dan dunia akan tunduk kepada anak Kolonel” Seloroh


prajurit. “Aamiin, terima kasih atas informasi dan doanya” balas Kolonel


Hamzah. “Apa Kolonel sudah tahu nama anak anda?” Tanya prajurit tersebut. “Ya,


dia adalah ARSEAN HAMZAH” jawab Kolonel Hamzah. “Dia akan menjadi jenderal


terbaik di dunia ini, semua Negara akan tunduk kepadanya dan semua musuh akan


dia hancurkan” lanjut Kolonel Hamzah.

__ADS_1


Di saat bahagia Kolonel Hamzah, musuh terus menerus


menggempur pertahanan pasukan Kolonel Hamzah, hingga membuat pasukan Kolonel


Hamzah banyak yang gugur di medan perang. “Bagaimana posisi pasukan yonif 44?”


Tanya Kolonel Hamzah kepada prajuritnya. “Mereka sudah setengah perjalanan Kolonel,


estimasi tiba disini sekitar 1 / 1,5 jam lagi Kolonel” jawab prajurit. Dengan


situasi ini membuat pusing Kolonel Hamzah, dan saat itu pula pikirannya terbang


kepada istri dan anaknya yang baru lahir “Nak, maafkan papa jika papa tidak


bisa melihat mu tumbuh dewasa dan melihat mu membawa gadis pujaan mu untuk di


kenalkan ke papa, jadilah anak yang baik dan berbakti kepada mama mu ya, Nak.”


Dalam hati Kolonel berbicara.


“Semuanya, pertahankan pertahanan kita jika sampai


lepas maka Garut akan dikuasai oleh pasukan separatis. Kerahkan jiwa dan raga


kalian untuk Negara dan keluarga kalian dirumah. Jika ada yang ingin pulang ke


keluarga kalian silahkan, saya tidak akan melarang. Karena saya tidak dapat


menjamin keselamatan kalian” kata Kolonel Hamzah. “Lebih baik Kolonel pulang


saja, anda baru saja mendapat kabar bahwa anak anda telah lahir. Biarkan kami


disini mempertahankan benteng ini.” Kata prajurit disertai teriakan semua


prajurit yang ada di ruangan tersebut. “Tidak, saya tidak akan pernah


meninggalkan tugas ini dan juga kalian” kata Kolonel Hamzah, “Kita akan


memperjuangkan benteng ini hingga titik darah penghabisan.” Lanjut Kolonel


Hamzah disertai teriakan semangat seluruh prajurit.


Semangat Kolonel Hamzah menular hingga seluruh


prajuritnya, dan pertempuran pun terjadi sangat sengit dan sesuai prediksi


pasukan Kolonel Hamzah kalah oleh pasukan separatis, hanya menyisakan sekitar


50-an saja termasuk Kolonela hamzah yang sudah lelah dan terluka. Kolonel


Hamzah dan 50-an prajuritnya harus mundur meninggal kan banteng pertahanan


terakhir dan dikuasai oleh pasukan separatis. Disaat terpojok dan kelelahan


keluar untuk mereka melarikan diri dari kepungan tersebut. “Kolonel Hamzah,


menyerahlah. Jika kamu dan pasukan mu menyerah, saya akan jamin keselamatan


kalian, ingat kamu baru saja mendapatkan putra yang sangat tampan, jangan


karena ke egoisan mu membuat anak mu tidak dapat melihat mu hingga dia dewasa


kelak” seloroh pemimpin musuh dan ternyata adalah sepupunya Kolonel hamzah


sendiri yang bernama “ISA”


Mendengar kata-kata pemimpin musuh, membuat beberapa


prajuritnya membujuk Kolonela hamzah untuk menyerah. “Kolonel, lebih baik kita


menyerah saja, anda baru saja mendapatkan putra apalagi pemimpin musuh adalah


sepupu anda sendiri, saya yakin…..” belum selesai prajurit tersebut berbicara


sudah dipotong oleh Kolonel hamzah “kamu kira dengan menyerah kita akan


baik-baik saja, kamu tidak kenal siapa itu “ISA”, dia saja berani membunuh


bapak dan kakaknya sendiri hanya karena tidak sepaham dengan dia. Kamu kira


kamu akan dibiarkan hidup sedangkan orangtua dan saudara kandungnya sendiri


saja dia bunuh, apalagi kamu” kata Kolonela hamzah disertai nada menekan


menahan emosi.


Tidak mendengar jawaban dari pasukan Kolonel


Hamzah, membuat Isa geram dan mulai memberikan perintah kepada pasukannya untuk


membunuh mereka semua. “Maju jangan biarkan satu pun selamat, aku ingin kepala


Hamzah untuk saya tunjukan ke keluarga saya dan juga seluruh Indonesia.” Geram


Isa. “Siap laksanakan Jenderal” jawab seluruh pasukannya.


Dan terjadilah pertempuran sengit kembali antara


pasukan Kolonel hamzah dan pasukan separatis, di situasi terkepung dan


kekurangan amunisi, Kolonel Hamzah pasrah dengan keadaan dan siap mati demi

__ADS_1


Negara. Satu per satau prajurit yang tersisa gugur di medan perang, situasi ini


membuat psikologis prajurit Kolonel hamzah menurun dan tidak dapat berfikir


jernih saat ini, hanya Kolonel Hamzah yang masih bersikap tenang diluar namun


didalamnya dia merasakan gugup namun tidak mau melihatkannya di depan


prajuritnya. Di saat kritis, Kolonel Hamzah mendapatkan ide untuk mengulur


waktu. “semuanya ambil pakaian dan helm dari teman-teman kita yang telah gugur,


tancapkan di sebatang kayu hingga menyerupai manusia untuk mengelabui pasukan


musuh” perintah Kolonel hamzah dan langsung dilakukan oleh seluruh sisa


prajuritnya.


Setelah selesai memasang prajurit palsu, Kolonel


hamzah dan sisa prajuritnya menggali tanah untuk membuat persembunyian dan


beberapa galian tanah untuk mengelabui pasukan musuh. “semuanya segara gali


tanah di beberapa tempat untuk mengelabui pasukan musuh” perintah Kolonel


hamzah. “berapa lama lagi pasukan yonif dating?” Tanya Kolonel hamzah. “kurang


dari 15 menit lagi Kolonel” jawab salah satu prajuritnya. “Bagus, segera


lakukan penggalian, beberapa coba untuk terus menembak ke musuh” perintah Kolonel


Hamzah.


Setelah selesai menggali tanah, Kolonel hamzah


memerintahkan sisa prajuritnya untuk bersembunyi, sedangkan dia akan memanjat


pohon tinggi untuk mengintai musuh dan memberikan informasi kepada pasukan


yonif 44 posisi musuh. Saat semua terhenti dan suasana begitu hening, Jenderal


Isa memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengecek situasi di lokasi Kolonel


Hamzah saat ini. Saat itulah Kolonel Hamzah melihat pergerakan pasukan musuh


dan di saat yang sama Kolonel Hamzah melihat pergerakan dari ujung barat


pasukan yonif 44 sudah mulai mendekal. Berbekal HT, Kolonel hamzah memberikan


informasi kepada pasukan yonif 44. “Maung hejo disini maung hideung over” kata Kolonel


hamzah, “disini maung hejo, gimana kondisi Kolonel?” Tanya prajurit dari dalam


HT. “saya tidak begitu baik, begitupun sisa 15 orang prajurit saya” kata Kolonel


Hamzah, “saya sedang di atas pohon saya dapat melihat kalian dan juga musuh


dari sini, musuh sedang mendekat siapkan arteleri saya akan infokan


koordinatnya begitu musuh mendekat, over” lanjut Kolonel hamzah. “Siap


laksanakan Kolonel, over” jawab prajurit dari dalam HT


Sementara pihak musuh mulai makin mendekat, disaat


yang sama di dalam tanah sisa prajurit Kolonel hamzah merasa gelisah. Disaat


yang sama “Maung hejo siap untuk menembak arteleri!, over” perintah Kolonel


hamzah, “siap laksanakan Kolonel, over” jawab prajurit dalam HT. “koordinat


33,5 LT – 33 LB, 32 BT – 32,5 BB, over” perintah Kolonel hamzah, “koordinat


telah ditentukan, over”.


Sementara dari pihak musuh, Jenderal Isa merasakan


pirasat buruk, dia pun memerintahkan pasukannya untuk berhenti dan kembali,


namun semuanya terlambat. “Tembak” perintah Kolonel Hamzah, begitu perintah


dari Kolonel hamzah, pasukan yonif 44 langsung menembakan artelerinya dan tepat


menngenai pasukan musuh yang tadi akan mendekati posisi Kolonel hamzah. begitu


terjadi ledakan, Kolonel hamzah langsung turun dari pohon dan memberikan


perintah kepada sisa pasukannya untuk cepat-cepat melarikan diri ke arah


pasukan yonif 44, di saat yang sama beberapa kendaraan lapis baja datang untuk


menjemput Kolonel hamzah. Kolonel Hamzah beserta sisa pasukannya pun akhirnya


selamat dari maut dan dapat pulang ke istri dan akanya yang baru lahir.


Di posisi pasukan separatis, setelah penembakan


arteleri berakhir, jenderal Isa sangat marah dan berteriak dengan kencang


“HAMZAH KAMU MUNGKIN BISA LOLOS SAAT INI, NAMUN SUATU HARI NANTI KAMU AKAN

__ADS_1


MENANGGUNG AKIBAT DARI SEMUA PERBUATAN MU INI” teriak Jenderal Isa hingga


membuat anak buahnya ketakutan.


__ADS_2