
30 Tahun setelahnya, Kolonel hamzah pensiun setelah
rekomendasi dari dokter setelah peperangan 30 tahun yang lalu, kondisi Kolonel
Hamzah tidak dapat memungkinkan untuk kembali kedalam militer, beliau pun
pensiun dan menikmati hari-hari tuanya bersama istri dan anaknya. Anak Kolonel Hamzah,
Arsean Hamzah pun mengikuti jejak papa nya untuk masuk kedalam dunia militer,
dia pun lulus dengan nilai terbaik dari yang terbaik di akademi militer. Dengan
serangkaian perang di Negara-negara konflik di timur tengah yang di lalui oleh Arsean,
sehingga dia terkenal dengan kepandaian dalam strategi perang dan ahli dalam
bela diri, membuat Arsean di takuti oleh militer Negara-negara lain dan juga
oleh musuh-musuhnya.
Setelah kembali ke Indonesia dengan segala
prestasinya, sehingga Arsean di angkat menjadi Jenderal dan merupakan sejarah
bagi Indonesia mempunyai Jenderal muda yang sangat handal dalama segala bidang
kemiliteran dan disegani oleh militer di seluruh penjuru dunia. Hal ini membuat
keluarganya bangga terutama papanya Purnawirawan Kolonel Hamzah. “Nak, papa
bangga dengan segala pencapaian mu, Kamu telah melebihi ekspetasi papa, Nak”
seloroh Kolonel Hamzah dengan senyuman bahagianya, “ini semua berkat doa papa
dan mama, hingga saya bisa seperti ini. Dan jangan lupa di dalam tubuh ku ada
darah sang Kolonel Hamzah, ha…ha…ha” seloroh Arsean dengan disertai senyuman
keluarganya.
“Apakah kamu sudah ada calon nak, kapan kamu akan
menikah?” Tanya Hera dengan tiba-tiba, sehingga Arsean yang sedang minum
menjadi tersedak “Nanti juga aku kenalin mah, tunggu saja” jawab Arsean sambil
memeluk ringan mamanya sambil tersenyum. “boro-boro calon mah, aku sibuk perang
selama ini, mana ada yang mau saya aku, he…he..he” seloroh Arsean dalam
hatinya.
Pada saat itu datang rombongan mobil yang di kawal
oleh polisi, ya yang datang adalah sang Gubernur Jawa Barat Bpk Aan Suhaimi
untuk menyambut kembalinya sanga jenderal Arsean. Sambil untuk memperkenalkan
putrinya kepada sang jenderal, ya bapak gubernur punya niat untuk menjadikan
jenderal Arsean menjadi menantunya. “Selamat dating kembali jenderal, saya
merasa terhormat bisa menjabat tangan anda dan lebih terhormat lagi jika saya
mempunyai menantu seperti jenderal, ho…ho…ho” seloroh sang Gubernur di barengi
dengan tawa semua yang ada disana. “saya lebih merasa terhormat di datangi oleh
Gubernur, yang sangat sibuk namun masih menyempatkan datang ke rumah saya. Atau
memang anda tidak ada kerjaan, ha….ha….ha” jawab Arsean sambil tertawa. “Husss”
senggol Hera kepada anaknya. Arsean pun mengerti dan langsung meminta maaf
kepada Gubernur, “Just joking Gubernur jangan marah ya, kalo marah cepet tua
loh, he….he…he” canda Arsean kepada Gubernur yang membuat semuanya tertawa
termasuk Gubernur. “Silahkan tertawa sesuka mu Jenderal, karena nanti kau tidak
akan bisa tertawa seperti ini lagi” seloroh gubernur dalam hatinya. Gubernur Aan
Suhaimi merupakan boneka dari separatis yang saat ini masih sembunyikan
identitasnya setelah kekalahan 25 tahun yang lalu, mereka menunggu untuk balas
dendam kepada keluarga Kolonel Hamzah termasuk anaknya Jenderal Arsean. Maka
itu Gubernur datang untuk menikahkan anaknya supaya dapat lebih leluasa
menghancurkan sang Jenderal dari dalam keluarganya dahulu, setelah itu baru
menghancurkan sang Jenderal itu sendiri.
Sang Gubernur memperkenalkan anaknya yang bernama
“Widya” kepada jenderal Arsean, “Perkenalkan anak saya Widya, Jenderal” widya pun menjulurkan tanganya untuk
jabat tangan dengan sang jenderal “Widya”, “Arsean” jawab Jenderal Arsean
sambil menjabat tangan Widya. Widya adalah wanita cantik dan seksi, bodynya yang aduhai dapat
menaklukan laki-laki manapun dengan mudah, namun tidak dengan sang jenderal
yang terlihat datar saja melihat Widya yang terlihat seksi di mata laki-laki
yang ada di ruangan itu, semua mata laki-laki tidak lepas memperhatikan setiap
lekukan tubuh Widya. Melihat ekspresi jenderal biasa saja, membuat Widya penasaran
dan makin menggebu-gebu di dalam hatinya untuk mendapatkan sang jenderal muda
ini. “Lihatnya saja, tidak ada satupun lelaki di dunia ini yang tidak bisa aku
taklukan, semua lelaki sudah aku taklukan tanpa terkecuali kamu jenderal” dalam
hari widya berbicara.
Melihat gerak gerik Widya membuat Arsean tidak
nyaman, hingga dia pamit untuk menyapa tamu-tamu yang lainnya. Dan disaat itu
datanglah Wanita bernama “Rafailah” yang merupakan wanita yang di idamkan oleh
jenderal Arsean, jenderal pun langsung mendatangi dan menyapa “Hai, Rafailah
kamu datang, apa kabar?” Tanya jenderal Arsean sambil menjulurkan tangannya
untuk menjabat tangan Rafailah, “ya pasti aku datang dong, masa temen aku
pulang tidak aku sambut sih” sambil agak memanyunkan bibirnya, dan membuat sang
jendral gemas dengan tingkah laku Rafailah. “aku baik-baik saja, kamu bagaimana
kabarnya, sepertinya aku lihat kamu sangat sehat” lanjut Rafailah dengan nada
juteknya, yang membuat sang jenderal makin gemas saja “ihhh pengen aku cubit
deh tuh pipinya gemes banget” seloroh Arsean dalam hati.
“Ya aku sangat sehat setelah kamu datang, hehehe….”
Canda Arsean yang di balas dengan jutek oleh Rafailah. “Aku dengar kamu
__ADS_1
sekarang menajdi dokter spesialis bedah otak ya?” Tanya Arsean, “oh itu, ya
betul” jawab singkat Rafailah. “wow… hebat sekali kamu sekarang ya udah jadi
dokter bedah otak, yang mana belum banyak di Indonesia” bangga Arsean. “Terima
kasih dan ya aku tidak bisa lama-lama karena aku ada janji dengan pasien aku,
aku pamit ya” kata Rafailah sambil beranjak keluar, namun di tahan oleh Arsean.
“Tunggu, kamu kesana dengan siapa pakai apa?”pertanyaan tiba-tiba dari Arsean
yang langsung ditatap oleh Rafailah dengan tatapan aneh “aduh bego ngapain
nanya kaya gitu sih, aku ini jenderal kenapa pertanyaan ku harus begitu sih”
seloroh dalam hati Arsean. “pertanyaan kamu ngga penting banget sih, ya aku
pergi sendiri pakai mobil aku sendiri lah” jawab ketus Rafailah.
“Aku antar ya, aku mau sekalian ke kantor pusat
juga, kan melewati Rumah sakit papa kamu” Tanya Arsean. “tidak perlu, aku bisa
sendiri kok, aku tidak mau orang-orang melihat aku jalan dengan sang jenderal
muda, yang ada aku jadi musuh seluruh wanita di Indonesia ini gara-gara aku
diantar oleh kamu, terima kasih” jawab Rafailah sambil beranjak pergi.
Mendengar jawaban Rafailah membuat sang jendral bengong “emang kenapa kok bisa
di musuhi seluruh wanita di Indonesia? ”Tanya Arsean kepada dirinya sendiri dalam hati.
Dia tidak tahu bahwa diluaran sana banyak wanita bermimpi untuk menjadi pasanganya. Melihat sang jenderal berbicara sambil
tersenyum dengan Rafailah membuat Widya tidak senang dan akan berniat untuk
menjauhkan jenderal Arsean dengan dokter Rafailah. “kau hanya akan menjadi
milik ku selamanya jenderal Arsean” seloroh Widya dalam hatinya.
Sementara itu, melihat anaknya bengong setelah
ditinggal oleh Rafailah, Hera merasa
bahwa anaknya menyukai Dokter muda bernama Rafailah itu, “hei…ngapain bengong,
tar kesambet loh” canda Hera sambil membuat kaget anaknya. “kalo cuman diem
aja, yang ada dokter Rafailah malah bakalan diambil oleh pria lain loh, ngga
saying apa udah cantik masih muda sudah jadi dokter ahli bedah otak, yang di
Indonesia cuman baru ada beberapa saja” lanjut Hera. "ihh….mama apaan sih,
maksudnya mama apa diambil pria lain? Siapa yang mau diambil pria lain?” Tanya Arsean.
Mendengar pertanyaan anaknya membuat hera tersenyum “kamu boleh jago dalam
militer, namun dalam percintaan kamu masih harus belajar dari mama nak” seloroh
Hera kepada anaknya. “ah…mama ini, siapa bilang aku hanya jago dalam militer,
aku jago semuanya kok” “jago makan makanan mama yang sangat lezat itu” canda Arsean
sambil memeluk mamanya.
“Nak, mama tau kamu menyukai teman kamu dokter Rafailah
itu dan mama sangat setuju jika punya menantu seperti Rafailah” kata Hera
sambil membelai punggung anaknya. Arsean pun terdiam mendengar perkataan dari
mamanya itu. Saat itu terdengar sapaan halus dari suara wanita “hai tante, aku
suara Widya. Mendengar itu mereka berdua langsung menoleh ke asal suara
tersebut dan tampak Widya sudah ada di belakang mereka. Mendengar itu Hera pun
menjawab “oh iya silahkan dong, Arsean kan sudah gede masa harus izin sama aku
sih, he…he..he” jawab hera sambil tersenyum paksa, padahal Hera tau tingkah
laku Widya diluar sana yang sering gonta-ganti pria hanya untuk kepuasan
nafsunya sendiri, namun Hera tidak mau membuat gaduh di acara kepulangan
anaknya, hanya saja dia takut kalo Arsean akan terpengaruh dengan tipu daya
Widya dan bapaknya. “Sepertinya aku tidak bisa Widya sorry yah, aku harus ke
markas untuk membuat laporan” jawab Arsean sambil tersenyum. “oh okay tidak
masalah aku bisa menunggu mu setelah selesai buat laporan baru kita pergi jalan
bsia kan? Hmm” Tanya Widya sambil tersenyum semanis mungkin.
“Baiklah, nanti aku kabari kamu ya jika laporan aku
sudah selesai” jawab Arsean, dia tidak mau menolak sekarang, dia akan
menolaknya nanti setelah dia selesai membuat laporan di markas pusat. Widya pun
tersenyum mendengar jawaban Arsean. Semua tamu yang datang telah pulang namun
tidak dengan gubernur dan Widya yang masih setia tinggal di rumah keluarga Kolonel
Hamzah untuk membicarakan perihal perjodohan antara Widya dengan Arsean. “Kolonel
Hamzah, kedatangan saya kemari adalah untuk menjodohkan anak-anak kita antara
Widya dengan Arsean, bagaimana?” kata Gubernur tanpa ada basa-basi langsung to
the point, dan ini yang membuat kedua orang tua Arsean kaget dan beberapa detik
terdiam. Selang beberapa detik kemudian “Untuk perjodohan ini saya tidak bisa
jawab sekarang gubernur karena saya harus bicarakan dahulu dengan Arsean” jawab
Kolonel Hamzah “Arsean bukan anak kecil yang harus saya atur kehidupannya, dia
sekarang sudah dewasa dan malahan melebih saya sebagai ayahnya yang dahulu di
militer” lanjut Kolonel Hamzah, Hera hanya terdiam tak bisa berbicara karena
dia sangat tidak sudak dengan Widya yang teralu vulgar dalam berpakaian dan
juga sikapnya yang selalu gonta ganti pria. “Tenang saja Kolonel Hamzah, saya
tidak akan memaksa anda sekarang, dan memang betul semua keputusan ada di
Jenderal Arsean. Ya saya sangat yakin jika Jenderal Arsean tidak akan bisa
menolak peson anak saya Widya ini” jawab Gubernur sambil memeluk ringan
anaknya.
“Baiklah Gubernur, saya akan kabari anda setelah
kami bicarakan dengan Arsean” jawab Kolonel Hamzah. Setelah itu Gubernur dan
Widya pun pergi dari rumah keluarga Kolonel Hamzah. “Pah bagaimana ini dan
__ADS_1
apa-apa an ini Gubernur mau menjadikan anak kita jadi menantunya?” Tanya Hera
kepada Hamzah. “Tenang mah, papa juga tidak setuju dan papa yakin Arsean tidak
akan mau dengan Widya” jawab Hamzah. “ya betul juga, dan tadi aku lihat Arsean
berbicara dengan dokter muda, dokter ahli bedah otak Rafailah. Dan aku lihat Arsean
sepertinya menyukai Rafailah, pah” kata Hera kepada Hamzah sambil tersenyum.
“Oh…dokter muda itu ya” jawab Hamzah datar.
Sementara di markas pusat milter, Jenderal Arsean
datang untuk membuat laporan sekaligus mengajukan cuti dari militer untuk 3
bulan kedepan. “Selamat datang Jenderal Arsean” Sapa Jenderal Gunarto. Jenderal
Gunarto Jenderal Bintang 3, yang merupakan mentor untuk Jenderal Arsean
sendiri. “Selamat siang Jenderal Gunarto” Sapa Arsean sambil Hormat. “sudah
tidak perlu hormat begitu, pangkat lebih tinggi dari saya, saya sangat bangga
kamu dapat melebihi saya, kamu adalah jendral satu satunya yang bintang 5 di
Indonesia” jawab Jendral Gunarto, “ini juga semua berkat bimbingan jendral
dahulu kepada saya” jawab Arsean. “Ha…ha…ha…kamu ini terlalu rendah hati persis
dengan papa mu, saya hanya mentor dan yang melalui semua perang dan mencapai
ini semua kan kamu sendiri jenderal Arsean” jawab Jendral Gunarto sambil mengajak
jalan jenderal Arsean.
“Silahkan duduk jenderal Arsean” Pinta jenderal
Gunarto, “Terima kasih Jenderal” jawab Jenderal Arsean. “Maaf Jenderal, saya
harus membicarakan ini dengan anda” kata Gunarto sambil menghela napas, “anda
mungkin sudah mendengar dari papa anda perihal gerakan separatis?” Tanya
Gunarto. “ya saya pernah mendengar dari papa, ada apa jendral dengan mereka?”
Tanya Arsean. “Intel kita mendapatkan informasi bahwa mereka sedang siap-siap
untuk melakukan aksinya kembali” kata Gunarto, sambil mengambil nafas panjang
“Pemimpin mereka sekarang memang bukan lagi Paman anda Jenderal Isa, namun
anaknya lah yang meneruskannya” lanjut Gunarto, “maksud anda, Ryan?” Tanya Arsean.
“Betul” Jawab Gunarto, “mereka sekarang infonya sedang mempersiapkan kekuatan
mereka di markas pusatnya, dan untuk markas pusatnya saya masih belum tahu
lokasi persisnya jenderal” lanjut Gunarto. “Hmmmh” jawaban Arsean sambil
mencoba berfikir, “lalu apa yang harus kita lakukan jenderal untuk
mengantisipasinya pergerakan mereka?” Tanya Arsean.
“Info dari team intel, mereka mempunyai sosok-sosok
yang berpengaruh saat ini, entah di pemerintahan pusat atau pemerintahan
provinsi / daerah” kata Gunarto. “Untuk itulah saya belum bisa berbuat banyak
untuk membuat strategi, karena saya yakin di militer kita pun saat ini ada
mata-mata mereka” lanjut Gunarto, “saya hanya menginformasikan ini ke jenderal Arsean,
jika nanti suatu saat kami membutuhkan anda, anda tidak merasa terganggu karena
sedang mengambil cuti” lanjut Gunarto. “Tidak perlu sungkan jenderal,
kepentingan dan keselamatan warga Negara Indonesia adalah prioritas saya” kata Arsean.
“saya senang mendengarnya, anda mengingatkan saya dengan papa anda”,”diapun
rela meninggalkan keluarga, istrinya yang akan melahirkan demi membela tanah
air Indonesia” lanjut Gunarto. “Saya pun akan melakukan yang sama persis dengan
apa yang papa lakukan dulu.” Kata Arsean Sambil mengepalkan tangannya.
Sementara itu di kediaman Gubernur Aan Suhaimi,
telah berkumpul para petinggi dari kelompok separatis, diantaranya ada Ryan Isa
(pemimpin tertinggi kelompok separatis), H. Suhaib (Jenderal tertinggi atau
tangan kanan Ryan), Amri (pimpinan intelegensi), Dadang (eks TNI yang
membelot), dll termasuk Aan Suhaimi dan istri dan anak-anaknya yang memang
sangat mendukung kelompok separatis. Mereka mengadakan pertemuan untuk mengatur
strategi yang akan digunakan untuk melawan milter Indonesia sekaligus melepas
diri dari Indonesia dan membuat Negara sendiri yang berbasiskan Islam. “Kita
sudah bersabar selama 30 tahun ini bersembunyi diantara mereka, sudah saatnya
kita keluar menampakan diri kita yang baru kepada Indonesia” imbuh Ryan, di
barengi anggukan kepala semua yang hadir disana. “Namun kita masih belum
siapkan strategi yang handal, pimpinan. Saya takut jika kita tergesa-gesa
menyerang Indonesia akan menjadi boomerang buat kita” imbuh Dadang, dan sekali
lagi dibarengi anggukan kepala semua yang hadir disana. “Kita harus
menghancurkan kekuatan milter Inonesia terlebih dahulu, apa lagi sepupu anda
merupakan jenderal termuda di dunia dan juga yang terkuat saat ini” imbuh
Gubernur Aan Suhaimi, “saya sedang merencanakan pernikahan anak saya Widya
dengan jenderal Arsean, setelah mereka menikah kita bias menghancurkan keluarga
Kolonel hamzah terlebih dahulu untuk membuat efek psikologis untuk milter
Indonesia, setelah itu baru kita bias menghancurkan basis-basi militer
Indonesia” lanjut Aan Suhaimi, yang lain menyimak dan sesekali menganggukan
kepala mereka.
“Baiklah saya serahkan keluarga Kolonel Hamzah
kepada anda Gubernur Aan” imbuh Ryan, “dan juga Amri cepat cari lebih dalam
informasi-informasi penting tentang militer Indonesia, atau mungkin kita bisa
mengajaka beberapa petinggi militer Indonesia untuk bergabung dengan kita”
perintah Ryan kepada Amri. “Baik saya coba lakukan yang terbaik, pimpinan”
jawab Amri. “Kita sudahi pertemuan ini, dan jangan lakukan pertemuan kembali
__ADS_1
dalam waktu dekat ini jika tidak ada yang penting” perintah Ryan kepada semua
yang hadir disana. “siap pimpinan” jawab serempak semuanya yang hadir disana.