JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 2 JENDERAL ARSEAN HAMZAH


__ADS_3

30 Tahun setelahnya, Kolonel hamzah pensiun setelah


rekomendasi dari dokter setelah peperangan 30 tahun yang lalu, kondisi Kolonel


Hamzah tidak dapat memungkinkan untuk kembali kedalam militer, beliau pun


pensiun dan menikmati hari-hari tuanya bersama istri dan anaknya. Anak Kolonel Hamzah,


Arsean Hamzah pun mengikuti jejak papa nya untuk masuk kedalam dunia militer,


dia pun lulus dengan nilai terbaik dari yang terbaik di akademi militer. Dengan


serangkaian perang di Negara-negara konflik di timur tengah yang di lalui oleh Arsean,


sehingga dia terkenal dengan kepandaian dalam strategi perang dan ahli dalam


bela diri, membuat Arsean di takuti oleh militer Negara-negara lain dan juga


oleh musuh-musuhnya.


Setelah kembali ke Indonesia dengan segala


prestasinya, sehingga Arsean di angkat menjadi Jenderal dan merupakan sejarah


bagi Indonesia mempunyai Jenderal muda yang sangat handal dalama segala bidang


kemiliteran dan disegani oleh militer di seluruh penjuru dunia. Hal ini membuat


keluarganya bangga terutama papanya Purnawirawan Kolonel Hamzah. “Nak, papa


bangga dengan segala pencapaian mu, Kamu telah melebihi ekspetasi papa, Nak”


seloroh Kolonel Hamzah dengan senyuman bahagianya, “ini semua berkat doa papa


dan mama, hingga saya bisa seperti ini. Dan jangan lupa di dalam tubuh ku ada


darah sang Kolonel Hamzah, ha…ha…ha” seloroh Arsean dengan disertai senyuman


keluarganya.


“Apakah kamu sudah ada calon nak, kapan kamu akan


menikah?” Tanya Hera dengan tiba-tiba, sehingga Arsean yang sedang minum


menjadi tersedak “Nanti juga aku kenalin mah, tunggu saja” jawab Arsean sambil


memeluk ringan mamanya sambil tersenyum. “boro-boro calon mah, aku sibuk perang


selama ini, mana ada yang mau saya aku, he…he..he” seloroh Arsean dalam


hatinya.


Pada saat itu datang rombongan mobil yang di kawal


oleh polisi, ya yang datang adalah sang Gubernur Jawa Barat Bpk Aan Suhaimi


untuk menyambut kembalinya sanga jenderal Arsean. Sambil untuk memperkenalkan


putrinya kepada sang jenderal, ya bapak gubernur punya niat untuk menjadikan


jenderal Arsean menjadi menantunya. “Selamat dating kembali jenderal, saya


merasa terhormat bisa menjabat tangan anda dan lebih terhormat lagi jika saya


mempunyai menantu seperti jenderal, ho…ho…ho” seloroh sang Gubernur di barengi


dengan tawa semua yang ada disana. “saya lebih merasa terhormat di datangi oleh


Gubernur, yang sangat sibuk namun masih menyempatkan datang ke rumah saya. Atau


memang anda tidak ada kerjaan, ha….ha….ha” jawab Arsean sambil tertawa. “Husss”


senggol Hera kepada anaknya. Arsean pun mengerti dan langsung meminta maaf


kepada Gubernur, “Just joking Gubernur jangan marah ya, kalo marah cepet tua


loh, he….he…he” canda Arsean kepada Gubernur yang membuat semuanya tertawa


termasuk Gubernur. “Silahkan tertawa sesuka mu Jenderal, karena nanti kau tidak


akan bisa tertawa seperti ini lagi” seloroh gubernur dalam hatinya. Gubernur Aan


Suhaimi merupakan boneka dari separatis yang saat ini masih sembunyikan


identitasnya setelah kekalahan 25 tahun yang lalu, mereka menunggu untuk balas


dendam kepada keluarga Kolonel Hamzah termasuk anaknya Jenderal Arsean. Maka


itu Gubernur datang untuk menikahkan anaknya supaya dapat lebih leluasa


menghancurkan sang Jenderal dari dalam keluarganya dahulu, setelah itu baru


menghancurkan sang Jenderal itu sendiri.


Sang Gubernur memperkenalkan anaknya yang bernama


“Widya” kepada jenderal Arsean, “Perkenalkan anak saya Widya, Jenderal” widya pun menjulurkan tanganya untuk


jabat tangan dengan sang jenderal “Widya”, “Arsean” jawab Jenderal Arsean


sambil menjabat tangan Widya. Widya adalah wanita cantik dan seksi, bodynya yang aduhai dapat


menaklukan laki-laki manapun dengan mudah, namun tidak dengan sang jenderal


yang terlihat datar saja melihat Widya yang terlihat seksi di mata laki-laki


yang ada di ruangan itu, semua mata laki-laki tidak lepas memperhatikan setiap


lekukan tubuh Widya. Melihat ekspresi jenderal biasa saja, membuat Widya penasaran


dan makin menggebu-gebu di dalam hatinya untuk mendapatkan sang jenderal muda


ini. “Lihatnya saja, tidak ada satupun lelaki di dunia ini yang tidak bisa aku


taklukan, semua lelaki sudah aku taklukan tanpa terkecuali kamu jenderal” dalam


hari widya berbicara.


Melihat gerak gerik Widya membuat Arsean tidak


nyaman, hingga dia pamit untuk menyapa tamu-tamu yang lainnya. Dan disaat itu


datanglah Wanita bernama “Rafailah” yang merupakan wanita yang di idamkan oleh


jenderal Arsean, jenderal pun langsung mendatangi dan menyapa “Hai, Rafailah


kamu datang, apa kabar?” Tanya jenderal Arsean sambil menjulurkan tangannya


untuk menjabat tangan Rafailah, “ya pasti aku datang dong, masa temen aku


pulang tidak aku sambut sih” sambil agak memanyunkan bibirnya, dan membuat sang


jendral gemas dengan tingkah laku Rafailah. “aku baik-baik saja, kamu bagaimana


kabarnya, sepertinya aku lihat kamu sangat sehat” lanjut Rafailah dengan nada


juteknya, yang membuat sang jenderal makin gemas saja “ihhh pengen aku cubit


deh tuh pipinya gemes banget” seloroh Arsean dalam hati.


“Ya aku sangat sehat setelah kamu datang, hehehe….”


Canda Arsean yang di balas dengan jutek oleh Rafailah. “Aku dengar kamu

__ADS_1


sekarang menajdi dokter spesialis bedah otak ya?” Tanya Arsean, “oh itu, ya


betul” jawab singkat Rafailah. “wow… hebat sekali kamu sekarang ya udah jadi


dokter bedah otak, yang mana belum banyak di Indonesia” bangga Arsean. “Terima


kasih dan ya aku tidak bisa lama-lama karena aku ada janji dengan pasien aku,


aku pamit ya” kata Rafailah sambil beranjak keluar, namun di tahan oleh Arsean.


“Tunggu, kamu kesana dengan siapa pakai apa?”pertanyaan tiba-tiba dari Arsean


yang langsung ditatap oleh Rafailah dengan tatapan aneh “aduh bego ngapain


nanya kaya gitu sih, aku ini jenderal kenapa pertanyaan ku harus begitu sih”


seloroh dalam hati Arsean. “pertanyaan kamu ngga penting banget sih, ya aku


pergi sendiri pakai mobil aku sendiri lah” jawab ketus Rafailah.


“Aku antar ya, aku mau sekalian ke kantor pusat


juga, kan melewati Rumah sakit papa kamu” Tanya Arsean. “tidak perlu, aku bisa


sendiri kok, aku tidak mau orang-orang melihat aku jalan dengan sang jenderal


muda, yang ada aku jadi musuh seluruh wanita di Indonesia ini gara-gara aku


diantar oleh kamu, terima kasih” jawab Rafailah sambil beranjak pergi.


Mendengar jawaban Rafailah membuat sang jendral bengong “emang kenapa kok bisa


di musuhi seluruh wanita di Indonesia? ”Tanya Arsean kepada dirinya sendiri dalam hati.


Dia tidak tahu bahwa diluaran sana banyak wanita bermimpi untuk menjadi pasanganya. Melihat sang jenderal berbicara sambil


tersenyum dengan Rafailah membuat Widya tidak senang dan akan berniat untuk


menjauhkan jenderal Arsean dengan dokter Rafailah. “kau hanya akan menjadi


milik ku selamanya jenderal Arsean” seloroh Widya dalam hatinya.


Sementara itu, melihat anaknya bengong setelah


ditinggal oleh Rafailah,  Hera merasa


bahwa anaknya menyukai Dokter muda bernama Rafailah itu, “hei…ngapain bengong,


tar kesambet loh” canda Hera sambil membuat kaget anaknya. “kalo cuman diem


aja, yang ada dokter Rafailah malah bakalan diambil oleh pria lain loh, ngga


saying apa udah cantik masih muda sudah jadi dokter ahli bedah otak, yang di


Indonesia cuman baru ada beberapa saja” lanjut Hera. "ihh….mama apaan sih,


maksudnya mama apa diambil pria lain? Siapa yang mau diambil pria lain?” Tanya Arsean.


Mendengar pertanyaan anaknya membuat hera tersenyum “kamu boleh jago dalam


militer, namun dalam percintaan kamu masih harus belajar dari mama nak” seloroh


Hera kepada anaknya. “ah…mama ini, siapa bilang aku hanya jago dalam militer,


aku jago semuanya kok” “jago makan makanan mama yang sangat lezat itu” canda Arsean


sambil memeluk mamanya.


“Nak, mama tau kamu menyukai teman kamu dokter Rafailah


itu dan mama sangat setuju jika punya menantu seperti Rafailah” kata Hera


sambil membelai punggung anaknya. Arsean pun terdiam mendengar perkataan dari


mamanya itu. Saat itu terdengar sapaan halus dari suara wanita “hai tante, aku


suara Widya. Mendengar itu mereka berdua langsung menoleh ke asal suara


tersebut dan tampak Widya sudah ada di belakang mereka. Mendengar itu Hera pun


menjawab “oh iya silahkan dong, Arsean kan sudah gede masa harus izin sama aku


sih, he…he..he” jawab hera sambil tersenyum paksa, padahal Hera tau tingkah


laku Widya diluar sana yang sering gonta-ganti pria hanya untuk kepuasan


nafsunya sendiri, namun Hera tidak mau membuat gaduh di acara kepulangan


anaknya, hanya saja dia takut kalo Arsean akan terpengaruh dengan tipu daya


Widya dan bapaknya. “Sepertinya aku tidak bisa Widya sorry yah, aku harus ke


markas untuk membuat laporan” jawab Arsean sambil tersenyum. “oh okay tidak


masalah aku bisa menunggu mu setelah selesai buat laporan baru kita pergi jalan


bsia kan? Hmm” Tanya Widya sambil tersenyum semanis mungkin.


“Baiklah, nanti aku kabari kamu ya jika laporan aku


sudah selesai” jawab Arsean, dia tidak mau menolak sekarang, dia akan


menolaknya nanti setelah dia selesai membuat laporan di markas pusat. Widya pun


tersenyum mendengar jawaban Arsean. Semua tamu yang datang telah pulang namun


tidak dengan gubernur dan Widya yang masih setia tinggal di rumah keluarga Kolonel


Hamzah untuk membicarakan perihal perjodohan antara Widya dengan Arsean. “Kolonel


Hamzah, kedatangan saya kemari adalah untuk menjodohkan anak-anak kita antara


Widya dengan Arsean, bagaimana?” kata Gubernur tanpa ada basa-basi langsung to


the point, dan ini yang membuat kedua orang tua Arsean kaget dan beberapa detik


terdiam. Selang beberapa detik kemudian “Untuk perjodohan ini saya tidak bisa


jawab sekarang gubernur karena saya harus bicarakan dahulu dengan Arsean” jawab


Kolonel Hamzah “Arsean bukan anak kecil yang harus saya atur kehidupannya, dia


sekarang sudah dewasa dan malahan melebih saya sebagai ayahnya yang dahulu di


militer” lanjut Kolonel Hamzah, Hera hanya terdiam tak bisa berbicara karena


dia sangat tidak sudak dengan Widya yang teralu vulgar dalam berpakaian dan


juga sikapnya yang selalu gonta ganti pria. “Tenang saja Kolonel Hamzah, saya


tidak akan memaksa anda sekarang, dan memang betul semua keputusan ada di


Jenderal Arsean. Ya saya sangat yakin jika Jenderal Arsean tidak akan bisa


menolak peson anak saya Widya ini” jawab Gubernur sambil memeluk ringan


anaknya.


“Baiklah Gubernur, saya akan kabari anda setelah


kami bicarakan dengan Arsean” jawab Kolonel Hamzah. Setelah itu Gubernur dan


Widya pun pergi dari rumah keluarga Kolonel Hamzah. “Pah bagaimana ini dan

__ADS_1


apa-apa an ini Gubernur mau menjadikan anak kita jadi menantunya?” Tanya Hera


kepada Hamzah. “Tenang mah, papa juga tidak setuju dan papa yakin Arsean tidak


akan mau dengan Widya” jawab Hamzah. “ya betul juga, dan tadi aku lihat Arsean


berbicara dengan dokter muda, dokter ahli bedah otak Rafailah. Dan aku lihat Arsean


sepertinya menyukai Rafailah, pah” kata Hera kepada Hamzah sambil tersenyum.


“Oh…dokter muda itu ya” jawab Hamzah datar.


Sementara di markas pusat milter, Jenderal Arsean


datang untuk membuat laporan sekaligus mengajukan cuti dari militer untuk 3


bulan kedepan. “Selamat datang Jenderal Arsean” Sapa Jenderal Gunarto. Jenderal


Gunarto Jenderal Bintang 3, yang merupakan mentor untuk Jenderal Arsean


sendiri. “Selamat siang Jenderal Gunarto” Sapa Arsean sambil Hormat. “sudah


tidak perlu hormat begitu, pangkat lebih tinggi dari saya, saya sangat bangga


kamu dapat melebihi saya, kamu adalah jendral satu satunya yang bintang 5 di


Indonesia” jawab Jendral Gunarto, “ini juga semua berkat bimbingan jendral


dahulu kepada saya” jawab Arsean. “Ha…ha…ha…kamu ini terlalu rendah hati persis


dengan papa mu, saya hanya mentor dan yang melalui semua perang dan mencapai


ini semua kan kamu sendiri jenderal Arsean” jawab Jendral Gunarto sambil mengajak


jalan jenderal Arsean.


“Silahkan duduk jenderal Arsean” Pinta jenderal


Gunarto, “Terima kasih Jenderal” jawab Jenderal Arsean. “Maaf Jenderal, saya


harus membicarakan ini dengan anda” kata Gunarto sambil menghela napas, “anda


mungkin sudah mendengar dari papa anda perihal gerakan separatis?” Tanya


Gunarto. “ya saya pernah mendengar dari papa, ada apa jendral dengan mereka?”


Tanya Arsean. “Intel kita mendapatkan informasi bahwa mereka sedang siap-siap


untuk melakukan aksinya kembali” kata Gunarto, sambil mengambil nafas panjang


“Pemimpin mereka sekarang memang bukan lagi Paman anda Jenderal Isa, namun


anaknya lah yang meneruskannya” lanjut Gunarto, “maksud anda, Ryan?” Tanya Arsean.


“Betul” Jawab Gunarto, “mereka sekarang infonya sedang mempersiapkan kekuatan


mereka di markas pusatnya, dan untuk markas pusatnya saya masih belum tahu


lokasi persisnya jenderal” lanjut Gunarto. “Hmmmh” jawaban Arsean sambil


mencoba berfikir, “lalu apa yang harus kita lakukan jenderal untuk


mengantisipasinya pergerakan mereka?” Tanya Arsean.


“Info dari team intel, mereka mempunyai sosok-sosok


yang berpengaruh saat ini, entah di pemerintahan pusat atau pemerintahan


provinsi / daerah” kata Gunarto. “Untuk itulah saya belum bisa berbuat banyak


untuk membuat strategi, karena saya yakin di militer kita pun saat ini ada


mata-mata mereka” lanjut Gunarto, “saya hanya menginformasikan ini ke jenderal Arsean,


jika nanti suatu saat kami membutuhkan anda, anda tidak merasa terganggu karena


sedang mengambil cuti” lanjut Gunarto. “Tidak perlu sungkan jenderal,


kepentingan dan keselamatan warga Negara Indonesia adalah prioritas saya” kata Arsean.


“saya senang mendengarnya, anda mengingatkan saya dengan papa anda”,”diapun


rela meninggalkan keluarga, istrinya yang akan melahirkan demi membela tanah


air Indonesia” lanjut Gunarto. “Saya pun akan melakukan yang sama persis dengan


apa yang papa lakukan dulu.” Kata Arsean Sambil mengepalkan tangannya.


Sementara itu di kediaman Gubernur Aan Suhaimi,


telah berkumpul para petinggi dari kelompok separatis, diantaranya ada Ryan Isa


(pemimpin tertinggi kelompok separatis), H. Suhaib (Jenderal tertinggi atau


tangan kanan Ryan), Amri (pimpinan intelegensi), Dadang (eks TNI yang


membelot), dll termasuk Aan Suhaimi dan istri dan anak-anaknya yang memang


sangat mendukung kelompok separatis. Mereka mengadakan pertemuan untuk mengatur


strategi yang akan digunakan untuk melawan milter Indonesia sekaligus melepas


diri dari Indonesia dan membuat Negara sendiri yang berbasiskan Islam. “Kita


sudah bersabar selama 30 tahun ini bersembunyi diantara mereka, sudah saatnya


kita keluar menampakan diri kita yang baru kepada Indonesia” imbuh Ryan, di


barengi anggukan kepala semua yang hadir disana. “Namun kita masih belum


siapkan strategi yang handal, pimpinan. Saya takut jika kita tergesa-gesa


menyerang Indonesia akan menjadi boomerang buat kita” imbuh Dadang, dan sekali


lagi dibarengi anggukan kepala semua yang hadir disana. “Kita harus


menghancurkan kekuatan milter Inonesia terlebih dahulu, apa lagi sepupu anda


merupakan jenderal termuda di dunia dan juga yang terkuat saat ini” imbuh


Gubernur Aan Suhaimi, “saya sedang merencanakan pernikahan anak saya Widya


dengan jenderal Arsean, setelah mereka menikah kita bias menghancurkan keluarga


Kolonel hamzah terlebih dahulu untuk membuat efek psikologis untuk milter


Indonesia, setelah itu baru kita bias menghancurkan basis-basi militer


Indonesia” lanjut Aan Suhaimi, yang lain menyimak dan sesekali menganggukan


kepala mereka.


“Baiklah saya serahkan keluarga Kolonel Hamzah


kepada anda Gubernur Aan” imbuh Ryan, “dan juga Amri cepat cari lebih dalam


informasi-informasi penting tentang militer Indonesia, atau mungkin kita bisa


mengajaka beberapa petinggi militer Indonesia untuk bergabung dengan kita”


perintah Ryan kepada Amri. “Baik saya coba lakukan yang terbaik, pimpinan”


jawab Amri. “Kita sudahi pertemuan ini, dan jangan lakukan pertemuan kembali

__ADS_1


dalam waktu dekat ini jika tidak ada yang penting” perintah Ryan kepada semua


yang hadir disana. “siap pimpinan” jawab serempak semuanya yang hadir disana.


__ADS_2