JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 10 MAUKAH KAU JADI PASANGAN KU SEHIDUP SEMATI


__ADS_3

Hari ini dimana saat-saat menegangkan bagi jenderal Arsean,


Dia belum pernah merasakan gugup seperti ini sebelumnya. Di medan perang pun Arsean


masih bisa tenang untuk mengatur strategi kepada anak buahnya, namun saat ini


entah kenapa hatinya merasa resah takut akan di tolak lamarannya oleh Dr Rafailah.


“Ahhhh kenapa aku jadi seperti ini sih, urusan nanti lah. Lagi pula Rafailah


ngga mungkin tolak aku kan?” gumam Arsean kepada dirinya sendiri dengan percaya


diri. Arsean pun mengirim pesan kepada Rafailah untuk bertemu “Hai, Rafailah


kamu ada waktu untuk bertemu dengan ku hari ini?” pinta Arsean dalam isi


pesannya. Sementara Rafailah siap-siap mau berangkat ke RS, melihat ada


notifikasi dari Arsean “Arsean ngajak ketemuan hari ini?” gumam Rafailah sambil


tersenyum bahagia. “Ya bisa, tapi diatas jam dua siang ya, aku ada pasien hari


ini sampai jam 2 siang ini” jawab Rafailah. “Baiklah, kalau bisa jangan bawa


mobil ya, nanti siang aku jemput kamu di RS” pinta Arsean kepada Rafailah. “eh


kenapa ngga boleh bawa mobil sendiri?” gumam Rafailah dalam hati sambil


mengerutkan keningnya. Namun Ia tidak mau bertanya karena percaya Arsean tidak


akan berbuat yang macam-macam. “Ya baiklah aku tidak bawa mobil hari ini,


sampai ketemu nanti siang ya” jawab Arsean. “Melihat jawaban Rafailah, membuat Arsean


loncat-loncat kegirangan, hingga membuat Hera terheran-heran melihat anaknya


yang sudah dewasa loncat-loncat sendiri seperti anak kecil yang mendapatkan


sesuatu yang dia mau saja. “Hei. Seneng banget sepertinya anak mama, ada apa


sih cerita dong sama mama?” ucap Hera kepada anak semata wayangnya itu. “Eh


mama, ada deh nanti aku kasih tau mama setelah aku bertemu Rafailah. Upssss”


celoteh Arsean keceplosan kalo dia mau bertemu dengan Dr Rafailah. Mendengar


ini, Hera pun tersenyum dan mulai menggoda anaknya “ehemm, cie yang mau ketemu


mantu mama” canda Hera yang membuat Arsean malu dan mukanya memerah “Apa sih


mama belum jadi mantu kali, tapi doain aja ya mah” celoteh Arsean sambil


mencium pipi Hera dan pergi meninggalkannya. “Ya mama doa kan semoga dia


menerima mu” teriak Hera. “Aamiin mah, terima kasih. Aku pergi dulu ya,


Assalamualaikum” jawab Arsean. “Waalaikumsalam, hati-hati nak jangan ngebut”


Jawab Hera, namun yang di Tanya sudah menjalankan mobilnya keluar dari rumahnya.


      Mendengar


ada teriakan di luar, membuat Hamzah keluar kamar. “Ada apa mah kok


teriak-teriakan gitu?” Tanya Hamzah, Hera pun menoleh kearah suara tersebut


“Oh, itu anak mu lagi kasmaran pah, ha…ha…” jawab Hera sambil tertawa.


“Kasmaran sama siapa? Apa jangan-jangan sama Dr Rafailah mah?” Tanya Hamzah


penasaran, namun jawaban diharapkan hanya menjadi angan-angan saja “Papa kepo


deh” canda Hera sambil meninggalkan suaminya. Melihat istrinya pergi


meninggalkannya, Hamzah memasang muka mengkerut.


      Jam 2


siang sudah di depan mata, namun Arsean sudah ada di RS dari jam 11 siang. Dia


dengan setia menunggu Naisah selesai melakukan tugas mulianya sebagai dokter,


dan tanpa dia sangka ternyata Rafailah pun melihat Arsean sedang menungg di


ruangan tunggu depan pendaftaran. Melihat ini, hati Naisah menjadi hangat


melihat Arsean sudah berada di RS lebih cepat. Namun Dia tidak bisa


menghampirinya karena sedang ada pasien.


      Lalu


tiba-tiba, seseorang yang tidak diharapkan muncul di depan Arsean. Ya dia


adalah Widya yang entah bagaimana bisa ada di RS di waktu yang sama dengan Arsean,


seperti dia tau bahwa Arsean akan ada rencana untuk bertemu dengan Rafailah


hari ini. “Oh sialan kenapa tuh cewe ada disini sih” gumam Arsean dalam hati,


Ia pun pura-pura tidak melihat dan langsung pergi dari situ. Namun Widya yang


sudah melihat Arsean terlebih dahulu berusaha mengejar dan memanggil Arsean,


namun Arsean tidak menoleh kearah suara yang memanggil namanya. Bukan karena


tidak mendengar, namun Ia sengaja tidak mendengar karena tidak mau rencana hari


ini gagal gara-gara wanita itu. Namun bukan Widya namanya jika harus menyerah


begitu saja, lalu dia pun dapat mengejar Arsean dan langsung merangkul tangan Arsean.

__ADS_1


“Hei, dipanggil kok ngga nengok sih?” Tanya Widya sambil memasang muka senyum


secantik mungkin. “Eh Widya, emang kamu manggil aku ya? Maaf aku tidak


mendengar” jawab Arsean bohong.


      “kamu


lagi ngapain disini?” Tanya Widya. “ohhh…aku baru selesai checkup dan harus ke


markas untuk memberikan hasil checkup dan meeting dengan pak Jibowo” ucap Arsean


bohong. “ohhhh, baru mau aku ajak makan siang. Kalo gitu gimana…..”ucap Widya,


namun belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Arsean “Aku harus segera


balik ke markas, meetingnya akan segera dimulai, aku tinggal dulu yah” ucap Arsean


sambil melepaskan tangannya dari rangkulan Widya. Lalu dengan cepat Arsean


meninggalkan Widya di RS.


      “Untung


aku bisa kabur dari Widya, aku harus parker agak jauh dari RS nih supaya tidak


terlihat oleh Widya, nanti aku balik RS kalo sudah jam dua saja” imbuh Arsean


sambil menghela napas. Jam sudah mau menunjukan jam dua siang “hai, kamu sudah


siap aku jemput?” isi pesan Arsean kepada Rafailah. “Ya aku sudah siap, ini aku


mau turun ke lobby, kamu dimana?”Tanya Rafailah. “Aku masih diluar RS, cuman


butuh waktu dua menit saja kesana, tunggu ya” jawab Arsean. “Baiklah aku


tunggu” jawab Rafailah. Arsean pun melajukan mobilnya kearah RS kembali. Dan di


Lobby Rafailah sudah menunggu, namun jauh di belakangnya ada Widya yang sedang


melihat kearah Rafailah. “Siapa yang lagi dia tunggu ya? Apa jangan-jangan dia


lagi nunggu cowo.” Gumam Widya dalam hati. “Aku harus mendapatkan foto atau


video sebagai bukti bahwa Dr centil itu sudah mempunyai pacar, biar Arsean


tidak perlu lagi mengejar Dr centil itu” gumam Widya kembali, sambil mengambil


video. Namun kejadian setelahnya akan membuat Widya terkejut, dan benar saja


alangkah terkejutnya Widya setelah tahu pria yang menjemput Rafailah adalah Arsean.


“Bukannya Arsean katanya ada meeting dengan Pak Jibowo? Kok malah jemput Dr


centil itu?” gumam Widya sambil mengepalkan tangannya dan menghentakan kakinya.


      “Hai,


baru sampai” jawab Rafailah. “Ayo masuk” ajak Arsean sambil membukakan pintu


mobil untuk Rafailah masuk. “Terima kasih” jawab Rafailah. “Tadi aku lihat kamu


ada di ruang tunggu, tapi kok sekarang kamu dari luar?” Tanya Rafailah.


“oh..anu…itu tadi ada Widya, makannya aku tadi keluar dulu untuk mengelabui


dia. He…he….” Ucap Arsean. “karena tadi dia ajak aku makan siang, lalu aku


jawab saja kalo aku ada meeting dengan menteri pertahanan. Ha…..ha…..ha” ucap Arsean


sambil ketawa, begitupun Rafailah yang tertawa mendengarnya. “kamu tuh ya nama


menteri kamu catut buat bohongi orang” ucap Rafailah sambil tersenyum. “Kamu


jangan tersenyum!” ucap Arsean sambil menggunakan nada penekanan yang membuat Rafailah


agak kaget “kenapa kok tidak boleh senyum?” Tanya Rafailah penasaran. “pokoknya


tidak boleh, karena kamu bikin jantung aku bedetak cepat karena melihat senyum


manis mu itu” gombal Arsean. Mendengar ini membuat Rafailah malu dan pipinya


memerah dan menengokan kepalanya ke sebelah kiri, supaya tidak terlihat oleh Arsean


“ternyata seorang bisa menggombal juga ya? Apa di medan perang semua


musuh-musuhnya dikalahkan oleh rayuan gombal mu itu ya?” ucap Rafailah tanpa


menolehkan kepalanya sedikit pun karena masih merasakan pipinya merah. “kok


lihat kesebalah kiri mulu, kenapa? Apa kamu malu aku rayu ya? Hah” canda Arsean


kepada Rafailah. “kenapa harus malu, pemandangan diluar lagi bagus hari ini”


imbuh Rafailah, yang membuat Arsean tersenyum mendengar jawabannya. “Apa


pemandangan di dalam tepatnya sebelah kananmu tidak bagus ya?” taya Arsean


sambil memasanga bunga datar pura-pura kesal. Mendengar ini membuat Rafailah


menoleh dan melihat muka kesalnya Arsean dan Ia pun merasa bersalah. Namun


bukannya minta maaf, ini malah dijadikan kesempatan Rafailah untuk menggoda


balik Arsean. “Ehmmm, ternyata sang jenderal bisa ngambek juga ya” ucap Rafailah,


namun tidak dijawab oleh Arsean. “Kalo mukanya seperti itu ganteng hilang


ah…aku jadi tidak mau makan siang sama kalo mukanya seperti itu” ancam Rafailah.


Mendengar perkataan Rafailah seolah-olah disihir olehnya hingga dengan sekejap Arsean

__ADS_1


pun berubah “tidak kok, ini lihat muka ku yang ganteng ini sedang senyum”


sambil tersenyum sabagus mungkin sambil menoleh kan kepalanya ke sebalah kiri


sambil agak mendekatkan mukanya ke Rafailah, di saat bersamaan Rafailah pun


menoleh ke sebelah kanan dan terjadi lah saling pandang memandang antar dua


sejoli ini yang membuat hati mereka berdua berdetak kencang dan suasana


canggung pun datang hingga jangkrik pun datang. “krik….krik…krik”.


      Lalu


selang beberapa detik mereka pun tersadar dan kembali melihat kedepan, dengan


muka mereka berdua memerah dan tidak ada yang berbicara untuk sementara waktu.


“Kita mau makan dimana?” Tanya Rafailah untuk mencairkan suasana. “ehmm yang


pasti tempatnya special” jawab Arsean sambil tersenyum. Rafailah pun tidak


bertanya kembali dan kembali terdiam, hingga saatnya tiba di tempat tujuan Rafailah


terkagum dengan tempat yang akan dijadikan tempat makan siangnya. “ini kan


restaurant termahal di Bandung bahkan di Indonesia. Apa tidak terlalu mahal


kita makan disini?”Tanya Rafailah, di saat bersamaan Arsean mengerutkan


keningnya “tempat ini tidak mahal jika aku makan sama kamu” rayu Arsean yang


kembali membuat pipi Rafailah merah mendengarnya. “selamat datang tuan dan


nyonya” sapa salah satu pegawai di sana yang membukakan pintu Rafailah.


      Mereka


berdua pun turun dari mobil, lalu diajak oleh salah satu pegawai disana ke


tempat yang sudah dipesan oleh Arsean, ruangan khusu privasi hanya untuk mereka


berdua. Melihat ruanganya yang akan digunakan Rafailah pun terkagum melihat


dekorasinya. Lalu tanpa menunggu lama, makananpun sudah datang dan disediakan


dimeja makan. Karena sebelumnya pada saat reservasi Arsean sudah memesan makan


yang akan dihidangkan jadi tidak perlu melihat menu dan menunggu lama. Lalu


merekapun menikmati makan di restaurant tersebut dengan sambil bersenda gurau.


Setelah selesai makan,momen yang ditunggu pun akan segera datang. Namun Arsean


masih kebingungan harus mulai dari mana dan terlihat seperti orang yang gelisah.


Melihat ini Rafailah bingung “apa karena tempatnya mahal dia tidak bisa bayar?


Tapi mana mungkin seorang jenderal tidak bisa bayar sih?” gumam Rafailah dalam


hati. “Kamu kenapa, kok seperti orang gelisah begitu?” Tanya Rafailah.


Mendengar ini Arsean pun tersadar dan “lah bodo amat lah ditolak, yang penting


udah berusaha” gumam Arsean dalam hati. “Rafailah apakah kamu maukah kau jadi


pasanganku sehidup semati?” Tanya Arsean sambil memberikan kotak yang berisikan


kalung. Melihat ini membuat Rafailah terharu dan dan menunggu lama Ia pun


menjawab “Iya aku bersedia jadi pasanganmu sehidup semati” jawab Rafailah


sambil tersipu malu dengan pipinya yang kembali memerah. Mendengar ini membuat Arsean


bahagia bukan main hingga loncat loncat kegirangan, melihat ini membuat Rafailah


tersenyum melihat tingkah laku sang jenderal yang seperti anak kecil yang baru


saja mendapatkan hadiah. “eh ya Maaf” Arsean pun tersadar dari kegirangannya


dan berjalan kearah Rafailah untuk memasangkan kalungnya. “Maaf aku hanya bisa


memberikan kalung ini untuk mu” ucap Arsean. “Kalungnya sangat bagus aku suka”


jawab Rafailah yang membuat Arsean tersenyum bahagia. Ketakutan yang dia takuti


akan penolakan dari Rafailah yang sebelumnya Ia pikirkan tidak terjadi sama


sekali. Dan mereka pun kembali duduk sambil berhadapan dan saling pandang,


“saat ini aku tidak meminta kamu untuk jadi pacar aku” ucap Arsean yang mana


membuat dahi Rafailah mengkerut kebingungan. “Saat ini aku meminta kamu untuk


jadi istriku apakah kamu bersedia?” Tanya Arsean kembali yang membuat Rafailah


terkejut sekaligus bahagia. “apa kamu yakin mau menjadikan aku sebagai


istrimu?” Tanya kembali Rafailah. “aku tidak pernah meragukan kamu, dan aku


yakin seratus persen bahwa Allah mengirim mu hanya untuk aku” ucap Arsean


sambil sedikit merayu Rafailah yang membuat Rafailah kembali tersipu malu den


kembali memerah pipinya. “Jika kamu sudah meminta aku menjadi istri mu, dan aku


bersedia untuk menjadi istri mu” jawab Rafailah yang membuat Arsean bahagia


menedengarnya. “terima kasih kamu mau menerima aku dan lusa aku akan mengajak


orang tua aku untuk kerumah mu untuk melamar kamu bagaimana?” Tanya Arsean. Rafailah

__ADS_1


hanya bisa menganggukan kepalanya tanda bahwa dia setuju.


__ADS_2