
Hari ini dimana saat-saat menegangkan bagi jenderal Arsean,
Dia belum pernah merasakan gugup seperti ini sebelumnya. Di medan perang pun Arsean
masih bisa tenang untuk mengatur strategi kepada anak buahnya, namun saat ini
entah kenapa hatinya merasa resah takut akan di tolak lamarannya oleh Dr Rafailah.
“Ahhhh kenapa aku jadi seperti ini sih, urusan nanti lah. Lagi pula Rafailah
ngga mungkin tolak aku kan?” gumam Arsean kepada dirinya sendiri dengan percaya
diri. Arsean pun mengirim pesan kepada Rafailah untuk bertemu “Hai, Rafailah
kamu ada waktu untuk bertemu dengan ku hari ini?” pinta Arsean dalam isi
pesannya. Sementara Rafailah siap-siap mau berangkat ke RS, melihat ada
notifikasi dari Arsean “Arsean ngajak ketemuan hari ini?” gumam Rafailah sambil
tersenyum bahagia. “Ya bisa, tapi diatas jam dua siang ya, aku ada pasien hari
ini sampai jam 2 siang ini” jawab Rafailah. “Baiklah, kalau bisa jangan bawa
mobil ya, nanti siang aku jemput kamu di RS” pinta Arsean kepada Rafailah. “eh
kenapa ngga boleh bawa mobil sendiri?” gumam Rafailah dalam hati sambil
mengerutkan keningnya. Namun Ia tidak mau bertanya karena percaya Arsean tidak
akan berbuat yang macam-macam. “Ya baiklah aku tidak bawa mobil hari ini,
sampai ketemu nanti siang ya” jawab Arsean. “Melihat jawaban Rafailah, membuat Arsean
loncat-loncat kegirangan, hingga membuat Hera terheran-heran melihat anaknya
yang sudah dewasa loncat-loncat sendiri seperti anak kecil yang mendapatkan
sesuatu yang dia mau saja. “Hei. Seneng banget sepertinya anak mama, ada apa
sih cerita dong sama mama?” ucap Hera kepada anak semata wayangnya itu. “Eh
mama, ada deh nanti aku kasih tau mama setelah aku bertemu Rafailah. Upssss”
celoteh Arsean keceplosan kalo dia mau bertemu dengan Dr Rafailah. Mendengar
ini, Hera pun tersenyum dan mulai menggoda anaknya “ehemm, cie yang mau ketemu
mantu mama” canda Hera yang membuat Arsean malu dan mukanya memerah “Apa sih
mama belum jadi mantu kali, tapi doain aja ya mah” celoteh Arsean sambil
mencium pipi Hera dan pergi meninggalkannya. “Ya mama doa kan semoga dia
menerima mu” teriak Hera. “Aamiin mah, terima kasih. Aku pergi dulu ya,
Assalamualaikum” jawab Arsean. “Waalaikumsalam, hati-hati nak jangan ngebut”
Jawab Hera, namun yang di Tanya sudah menjalankan mobilnya keluar dari rumahnya.
Mendengar
ada teriakan di luar, membuat Hamzah keluar kamar. “Ada apa mah kok
teriak-teriakan gitu?” Tanya Hamzah, Hera pun menoleh kearah suara tersebut
“Oh, itu anak mu lagi kasmaran pah, ha…ha…” jawab Hera sambil tertawa.
“Kasmaran sama siapa? Apa jangan-jangan sama Dr Rafailah mah?” Tanya Hamzah
penasaran, namun jawaban diharapkan hanya menjadi angan-angan saja “Papa kepo
deh” canda Hera sambil meninggalkan suaminya. Melihat istrinya pergi
meninggalkannya, Hamzah memasang muka mengkerut.
Jam 2
siang sudah di depan mata, namun Arsean sudah ada di RS dari jam 11 siang. Dia
dengan setia menunggu Naisah selesai melakukan tugas mulianya sebagai dokter,
dan tanpa dia sangka ternyata Rafailah pun melihat Arsean sedang menungg di
ruangan tunggu depan pendaftaran. Melihat ini, hati Naisah menjadi hangat
melihat Arsean sudah berada di RS lebih cepat. Namun Dia tidak bisa
menghampirinya karena sedang ada pasien.
Lalu
tiba-tiba, seseorang yang tidak diharapkan muncul di depan Arsean. Ya dia
adalah Widya yang entah bagaimana bisa ada di RS di waktu yang sama dengan Arsean,
seperti dia tau bahwa Arsean akan ada rencana untuk bertemu dengan Rafailah
hari ini. “Oh sialan kenapa tuh cewe ada disini sih” gumam Arsean dalam hati,
Ia pun pura-pura tidak melihat dan langsung pergi dari situ. Namun Widya yang
sudah melihat Arsean terlebih dahulu berusaha mengejar dan memanggil Arsean,
namun Arsean tidak menoleh kearah suara yang memanggil namanya. Bukan karena
tidak mendengar, namun Ia sengaja tidak mendengar karena tidak mau rencana hari
ini gagal gara-gara wanita itu. Namun bukan Widya namanya jika harus menyerah
begitu saja, lalu dia pun dapat mengejar Arsean dan langsung merangkul tangan Arsean.
__ADS_1
“Hei, dipanggil kok ngga nengok sih?” Tanya Widya sambil memasang muka senyum
secantik mungkin. “Eh Widya, emang kamu manggil aku ya? Maaf aku tidak
mendengar” jawab Arsean bohong.
“kamu
lagi ngapain disini?” Tanya Widya. “ohhh…aku baru selesai checkup dan harus ke
markas untuk memberikan hasil checkup dan meeting dengan pak Jibowo” ucap Arsean
bohong. “ohhhh, baru mau aku ajak makan siang. Kalo gitu gimana…..”ucap Widya,
namun belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Arsean “Aku harus segera
balik ke markas, meetingnya akan segera dimulai, aku tinggal dulu yah” ucap Arsean
sambil melepaskan tangannya dari rangkulan Widya. Lalu dengan cepat Arsean
meninggalkan Widya di RS.
“Untung
aku bisa kabur dari Widya, aku harus parker agak jauh dari RS nih supaya tidak
terlihat oleh Widya, nanti aku balik RS kalo sudah jam dua saja” imbuh Arsean
sambil menghela napas. Jam sudah mau menunjukan jam dua siang “hai, kamu sudah
siap aku jemput?” isi pesan Arsean kepada Rafailah. “Ya aku sudah siap, ini aku
mau turun ke lobby, kamu dimana?”Tanya Rafailah. “Aku masih diluar RS, cuman
butuh waktu dua menit saja kesana, tunggu ya” jawab Arsean. “Baiklah aku
tunggu” jawab Rafailah. Arsean pun melajukan mobilnya kearah RS kembali. Dan di
Lobby Rafailah sudah menunggu, namun jauh di belakangnya ada Widya yang sedang
melihat kearah Rafailah. “Siapa yang lagi dia tunggu ya? Apa jangan-jangan dia
lagi nunggu cowo.” Gumam Widya dalam hati. “Aku harus mendapatkan foto atau
video sebagai bukti bahwa Dr centil itu sudah mempunyai pacar, biar Arsean
tidak perlu lagi mengejar Dr centil itu” gumam Widya kembali, sambil mengambil
video. Namun kejadian setelahnya akan membuat Widya terkejut, dan benar saja
alangkah terkejutnya Widya setelah tahu pria yang menjemput Rafailah adalah Arsean.
“Bukannya Arsean katanya ada meeting dengan Pak Jibowo? Kok malah jemput Dr
centil itu?” gumam Widya sambil mengepalkan tangannya dan menghentakan kakinya.
“Hai,
baru sampai” jawab Rafailah. “Ayo masuk” ajak Arsean sambil membukakan pintu
mobil untuk Rafailah masuk. “Terima kasih” jawab Rafailah. “Tadi aku lihat kamu
ada di ruang tunggu, tapi kok sekarang kamu dari luar?” Tanya Rafailah.
“oh..anu…itu tadi ada Widya, makannya aku tadi keluar dulu untuk mengelabui
dia. He…he….” Ucap Arsean. “karena tadi dia ajak aku makan siang, lalu aku
jawab saja kalo aku ada meeting dengan menteri pertahanan. Ha…..ha…..ha” ucap Arsean
sambil ketawa, begitupun Rafailah yang tertawa mendengarnya. “kamu tuh ya nama
menteri kamu catut buat bohongi orang” ucap Rafailah sambil tersenyum. “Kamu
jangan tersenyum!” ucap Arsean sambil menggunakan nada penekanan yang membuat Rafailah
agak kaget “kenapa kok tidak boleh senyum?” Tanya Rafailah penasaran. “pokoknya
tidak boleh, karena kamu bikin jantung aku bedetak cepat karena melihat senyum
manis mu itu” gombal Arsean. Mendengar ini membuat Rafailah malu dan pipinya
memerah dan menengokan kepalanya ke sebelah kiri, supaya tidak terlihat oleh Arsean
“ternyata seorang bisa menggombal juga ya? Apa di medan perang semua
musuh-musuhnya dikalahkan oleh rayuan gombal mu itu ya?” ucap Rafailah tanpa
menolehkan kepalanya sedikit pun karena masih merasakan pipinya merah. “kok
lihat kesebalah kiri mulu, kenapa? Apa kamu malu aku rayu ya? Hah” canda Arsean
kepada Rafailah. “kenapa harus malu, pemandangan diluar lagi bagus hari ini”
imbuh Rafailah, yang membuat Arsean tersenyum mendengar jawabannya. “Apa
pemandangan di dalam tepatnya sebelah kananmu tidak bagus ya?” taya Arsean
sambil memasanga bunga datar pura-pura kesal. Mendengar ini membuat Rafailah
menoleh dan melihat muka kesalnya Arsean dan Ia pun merasa bersalah. Namun
bukannya minta maaf, ini malah dijadikan kesempatan Rafailah untuk menggoda
balik Arsean. “Ehmmm, ternyata sang jenderal bisa ngambek juga ya” ucap Rafailah,
namun tidak dijawab oleh Arsean. “Kalo mukanya seperti itu ganteng hilang
ah…aku jadi tidak mau makan siang sama kalo mukanya seperti itu” ancam Rafailah.
Mendengar perkataan Rafailah seolah-olah disihir olehnya hingga dengan sekejap Arsean
__ADS_1
pun berubah “tidak kok, ini lihat muka ku yang ganteng ini sedang senyum”
sambil tersenyum sabagus mungkin sambil menoleh kan kepalanya ke sebalah kiri
sambil agak mendekatkan mukanya ke Rafailah, di saat bersamaan Rafailah pun
menoleh ke sebelah kanan dan terjadi lah saling pandang memandang antar dua
sejoli ini yang membuat hati mereka berdua berdetak kencang dan suasana
canggung pun datang hingga jangkrik pun datang. “krik….krik…krik”.
Lalu
selang beberapa detik mereka pun tersadar dan kembali melihat kedepan, dengan
muka mereka berdua memerah dan tidak ada yang berbicara untuk sementara waktu.
“Kita mau makan dimana?” Tanya Rafailah untuk mencairkan suasana. “ehmm yang
pasti tempatnya special” jawab Arsean sambil tersenyum. Rafailah pun tidak
bertanya kembali dan kembali terdiam, hingga saatnya tiba di tempat tujuan Rafailah
terkagum dengan tempat yang akan dijadikan tempat makan siangnya. “ini kan
restaurant termahal di Bandung bahkan di Indonesia. Apa tidak terlalu mahal
kita makan disini?”Tanya Rafailah, di saat bersamaan Arsean mengerutkan
keningnya “tempat ini tidak mahal jika aku makan sama kamu” rayu Arsean yang
kembali membuat pipi Rafailah merah mendengarnya. “selamat datang tuan dan
nyonya” sapa salah satu pegawai di sana yang membukakan pintu Rafailah.
Mereka
berdua pun turun dari mobil, lalu diajak oleh salah satu pegawai disana ke
tempat yang sudah dipesan oleh Arsean, ruangan khusu privasi hanya untuk mereka
berdua. Melihat ruanganya yang akan digunakan Rafailah pun terkagum melihat
dekorasinya. Lalu tanpa menunggu lama, makananpun sudah datang dan disediakan
dimeja makan. Karena sebelumnya pada saat reservasi Arsean sudah memesan makan
yang akan dihidangkan jadi tidak perlu melihat menu dan menunggu lama. Lalu
merekapun menikmati makan di restaurant tersebut dengan sambil bersenda gurau.
Setelah selesai makan,momen yang ditunggu pun akan segera datang. Namun Arsean
masih kebingungan harus mulai dari mana dan terlihat seperti orang yang gelisah.
Melihat ini Rafailah bingung “apa karena tempatnya mahal dia tidak bisa bayar?
Tapi mana mungkin seorang jenderal tidak bisa bayar sih?” gumam Rafailah dalam
hati. “Kamu kenapa, kok seperti orang gelisah begitu?” Tanya Rafailah.
Mendengar ini Arsean pun tersadar dan “lah bodo amat lah ditolak, yang penting
udah berusaha” gumam Arsean dalam hati. “Rafailah apakah kamu maukah kau jadi
pasanganku sehidup semati?” Tanya Arsean sambil memberikan kotak yang berisikan
kalung. Melihat ini membuat Rafailah terharu dan dan menunggu lama Ia pun
menjawab “Iya aku bersedia jadi pasanganmu sehidup semati” jawab Rafailah
sambil tersipu malu dengan pipinya yang kembali memerah. Mendengar ini membuat Arsean
bahagia bukan main hingga loncat loncat kegirangan, melihat ini membuat Rafailah
tersenyum melihat tingkah laku sang jenderal yang seperti anak kecil yang baru
saja mendapatkan hadiah. “eh ya Maaf” Arsean pun tersadar dari kegirangannya
dan berjalan kearah Rafailah untuk memasangkan kalungnya. “Maaf aku hanya bisa
memberikan kalung ini untuk mu” ucap Arsean. “Kalungnya sangat bagus aku suka”
jawab Rafailah yang membuat Arsean tersenyum bahagia. Ketakutan yang dia takuti
akan penolakan dari Rafailah yang sebelumnya Ia pikirkan tidak terjadi sama
sekali. Dan mereka pun kembali duduk sambil berhadapan dan saling pandang,
“saat ini aku tidak meminta kamu untuk jadi pacar aku” ucap Arsean yang mana
membuat dahi Rafailah mengkerut kebingungan. “Saat ini aku meminta kamu untuk
jadi istriku apakah kamu bersedia?” Tanya Arsean kembali yang membuat Rafailah
terkejut sekaligus bahagia. “apa kamu yakin mau menjadikan aku sebagai
istrimu?” Tanya kembali Rafailah. “aku tidak pernah meragukan kamu, dan aku
yakin seratus persen bahwa Allah mengirim mu hanya untuk aku” ucap Arsean
sambil sedikit merayu Rafailah yang membuat Rafailah kembali tersipu malu den
kembali memerah pipinya. “Jika kamu sudah meminta aku menjadi istri mu, dan aku
bersedia untuk menjadi istri mu” jawab Rafailah yang membuat Arsean bahagia
menedengarnya. “terima kasih kamu mau menerima aku dan lusa aku akan mengajak
orang tua aku untuk kerumah mu untuk melamar kamu bagaimana?” Tanya Arsean. Rafailah
__ADS_1
hanya bisa menganggukan kepalanya tanda bahwa dia setuju.