
Di pagi hari, jenderal Arsean melakukan jogging pagi
di sekitar komplek perumahannya, sambil beristirahat sejenak Arsean berfikir
untuk menyatakan cinta kepada Dr Rafailah, namun Dia tidak tahu bagaimana
caranya dan harus seperti apa, “Rafailah aku suka kepada mu” imbuh Arsean
sambil memeragakannya. “ahh kalo gitu doang bocah SD juga bisa, masa aku yang
seorang jenderal menyatakan cinta saja kesulitan begini sih, akhhh” sambil
mengacak-acak rambutnya, “Rafailah sudah sekian lama aku suka padamu, apakah
kamu mau jadi pacar ku?” gumam Arsean kembali “Aduhhhh kok susah banget ya
cuman mau menyatakan cinta doang” sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri. “oh
ada bunga tuh, aku coba peruntungan ku deh pake bu” sambil mengabil bunga yang
ada di depannya. “katakan, jangan, katakan, jangan, katakan,” gumam Arsean
hingga di bunga terakhir “Jangan”, “jangan katakana cinta kata nih bunga, aduh
gimana ini” gumam Bilesa dalam hati. “coba ambil bunga lagi deh” celoteh Arsean
sambil kembali mengambil bunga yang ada di depan, dan sekali lagi memberikan
peruntungannya kepada setangkai bunga, lalu di bunga terakhir “Katakan”, “harus
katakana cinta kata bunga yang, kata bunga yang tadi jangan, aduh pilih yang
mana ini?” gumam Arsean sambil mengacak-acak rambutnya.
Melihat
tidak ada cara yang bagus untuk menyatakan cinta, akhirnya Arsean pun pulang
dan menelpon salah satu bawahannya “Halo Yusuf, kamu bisa bantu saya?” Tanya Arsean.
“Siap komandan, bantu apa ya pak?” Tanya Yusuf. “Aku mau menyatakan cinta namun
aku bingung harus bagaimana, kamu bisa bantu aku untuk membuat suasananya lebih
bagus supaya aku punya kesempatan untuk tidak ditolak?” Tanya Arsean kembali.
“Baik pak, untuk urusan percintaan serahkan kepada saya, he..he” selorah Yusuf.
“Baiklah aku percayakan kepada mu, kamu bisa datang ke rumah saya hari ini?”
Tanya Arsean sambil memberikan penekanan seolah-olah barusan merupakan perintah
kepada bawahannya. “Siap komandan laksanakan” jawab Yusuf.
Saat
sedang berbincang dengan Yusuf, Hera mendengar sekilas bahwa anaknya akan
menyatakan cinta kepada Rafailah, mendengar itu membuat hati Hera menghangat
dan bahagia, karena anaknya mulai berani untuk bertindak terlebih dahulu,
walaupun Hera tau bahwa begitupun Rafailah sama menyukai anaknya, namun karena
dia wanita dan tidak etis untuk bertindak terlebih dahulu.
Sementara
itu di RS Rafailah Hospital, Rafailah sedang mengecek berkas salah satu
pasiennya yang telah selesai di operasi. Tiba-tiba hidung Rafailah gatal dan
“hachii…hachii” Rafailah bersin. “wah sepertinya ada yang sedang membicarakan
aku ni, apa mungkin Arsean sedang membicarakan aku atau dia sedang
mempersiapkan kata-kata untuk menyatakan cintanya kepada ku?” gumam Rafailah.
“Hushhh, mikir apa sih kamu Rafailah?” sambil memukul keningnya. “Tapi aku kok
kepikiran sama Arsean ya, dia lagi ngapain ya?” “apa aku harus beri kabar
dahulu sama dia ya?” gumam Rafailah
__ADS_1
kembali gumam Rafailah. Memberanikan diri untuk mengirim pesan dahulu kepada Arsean
“Hai Arsean kamu sedang apa?” Niatnya mau mengirim pesan tersebut, namun malah
di hapus lagi oleh Rafailah. “Buat apa aku kirim pesan duluan, nanti
disangkanya aku yang mengejar cintanya Arsean, walaupun sebenarnya iya juga
sih, he…he…he… Tapi aku kan wanita masa harus duluan katakana cintanya sih,
udahlah lupakan biar Arsean duluan yang menyatakan cintanya, aku akan
menunggunya sampai kapan pun” gumam Rafailah sambil geleng-geleng kepala dan
memasukan kembali HP nya kedalam saku bajunya.
Sementara
itu, Arsean dan Yusuf masih berdiskusi tentang acara menyatakan cinta terhadap Rafailah.
“Ide kamu apa tidak terlalu berlebihan, aku takutnya Rafailah malah tidak suka
dan jadinya malah jijik kepadaku, kamu gada yang lebih simple caranya?” Tanya Arsean.
“Begini saja pak, bapak ajak makan malam romantis Dr Rafailah dan bapak belikan
cicin atau kalung, lalu bapak minta pemilik restaurant untuk memutarkan lagu
cinta yang cocok, seperti itu saja pak bagaimana?” ujar Yusuf memberi ide “tapi
bapak harus sewa ruangan privasi yang tidak orang selain kalian berdua disana,
supaya bapak tidak terlalu malu jika amit-amit bapak ditolak gitu, he…he…”
canda Yusuf. “Sialan kamu, kamu doain saya supaya ditolak gitu?” celetuk Arsean
sambil ditekan nada suaranya. “Bukan gitu pak, saya hanya bercanda. Itu kan
hanya jika” canda Yusuf sambil tersenyum. “Senyum mu menjengkelkan Yusuf asal
kamu tau” ucap Arsean sambil memasang muka marah, walaupun sebenarnya dia tidak
marah.
Kemudian
mendapatkan apa yang mau di beli, tiba-tiba Widya memeluk Arsean dari belakang
tanpa sepengetahuan Arsean. Adegan ini membuat Arsean terdiam sejenak,
seolah-olah ada bola besar dua yang menabrak punggungnya. Setelah terdiam
beberapa detik, akhirnya Arsean sadar dan melepaskan pelukan Widya secara halus
karena tidak mau mempermalukannya di depan umum, karena mereka saat ini sedang
ada di mall. Melihat Arsean melepaskan tangannya, Widya pun tidak mau menyerah
dia langsung merangkul tangan Arsean. "Hei..kamu lagi ngapain di mall
sendirian?” Tanya Widya. Sambil melepaskan rangkulan Widya “jangan seperti ini
Widya, malu dilihat orang” gumam Arsean “aku habis beli kalung buat hadiah
mamaku” bohong Arsean, karena tidak mau membuat Widya malah emosi mendengarnya,
karena Arsean tau bahwa Widya menyukainya, namun Arsean tidak menyukai Widya
sama sekali, karena dia tau kelakuan Widya. “Kamu udah makan belum? makan yuk
aku laper nih, aku yang traktir ya” ajak Widya kepada Arsean. Arsean sempat
terdiam haruskah dia menolak atau tidak, kalau menolak yang ada Widya akan
mengikuti dia kemana pun, kalo aku iya kan, waktu ku terbuang sia-sia hanya
untuk menemani Widya makan. “Hello….kenapa diam saja? Ngga mau ya makan bareng
aku?” Tanya Widya memelas sambil berakting memasang muka sedih. Melihat ini
membuat Arsean tidak tega dan akhirnya mengabulkan ajakan Widya untuk makan
bareng. Di sela-sela makan siang, Arsean mengirim pesan ke Yusuf untuk
__ADS_1
bersandiwara untuk menelpon Arsean dan bilang ada kejadian penting dan Arsean
harus hadir di markas segera. “Yusuf, jangan banyak bertanya ya, ikuti saja
permintaan saya” isi pesan pertama Arsean kepada Yusuf. “Bersandiwaralah menelpon
saya bahwa ada kejadian penting dan mengharuskan saya ada di markas segera,
sekarang juga” isi pesan kedua. Melihat Arsean bermain Hp membuat Widya
penasaran, “Lagi berbalas pesan dengan sih, sibuk banget sampai aku di cuekin”
ucap Widya sambil masang bibir manyun. “oh ini dari papa,soal kalung mama udah
dibeli belum katanya” bohong Arsean. Mendengar ini membuat Widya diam sejenak.
“emang ada acara apa kamu sama papa kamu mau memberikan kalung untuk mama
kamu?” Tanya Widya. “oh itu anu. Ehmmm papa mau memberikan kejutan buat mama
aja katanya” bohong Arsean kembali, sambil melihat HP nya yang belum berdering
juga. “ini si Yusuf kemana lagi adehhhh” gumana Arsean dalam hati. “oh gitu,
kalo gitu aku boleh……” belum sempat melanjutkannya, HP Arsean bordering telepon
dari Yusuf, “akhirnya” gumam Arsean dalam hati, “halo Yusuf ada apa? Bukannya
aku sedang cuti dan tidak mau diganggu!” bentak Arsean yang membuat Widya
tertegun. Sama halnya juga dengan Yusuf “pak, bukannya tadi bapak suruh saya
untuk bersandiwara ya?” jawab Yusuf yang membuat geram Arsean mendengarnya.
“ini bocah kok malah nanya balik, ini bocah emang polos atau bodoh si, adehhh”
gumam Arsean dalam hati. “Ada apa kamu telpon aku, apa adahal penting sehingga
kamu telepon aku?” pancing Arsean kepada Yusuf. Mendengar ini membuat langsung
Yusuf mengerti “Siap komandan, maafkan saya mengganggu liburnya…..” kata Yusuf
yang langsung di potong oleh Arsean “sebentar saya speaker dulu, silahkan
lanjutkan kopral Yusuf” perintah Arsean yang membuat Widya terkesima dengan
aura kepemimpinannya. “Siap komandan, maaf saya mengganggu cuti anda. Ada hal
penting yang sangat mendesak yang mengharuskan bapak hadir di markas saat ini
juga segera” sandiwara Yusuf memang bagus cocok sepertinya untuk jadi actor nih
Yusuf. “Baiklah saya segera kesna sekarang kopral, terima kasih atas
informasinya” ucap Arsean. “Siap komandan laksanakan, sya izin tutup teleponnya
komandan” jawab Yusuf “silahkan kopral” jawab Arsean dibarengi dengan
ditutupnya sambungan telepon oleh Yusuf.
“Maaf
Widya, saya harus pergi ke markas saat ini juga” gumam Arsean. Mendengar ini
mebuat Widya geram, belum makanan datang Arsean sudah harus pergi, namun ya mau
gimana lagi kalo sudah panggilan Negara, bahkan dia sedang bercinta dengan
istrinya pun kalo memang Negara memanggil sudah jadi kewajiban untuk hadir.
“ehmm baiklah, aku antar ya” pinta Widya yang langsung segera ditolak oleh Arsean.
“Tidak perlu, terima kasih atas ajakannya. Aku bawa mobil sendiri kok, aku
pergi dulu sampai jumpa di lain waktu Widya” salam Arsean kepada Widya sambil
pergi meninggalkan Widya secepat mungkin. Begitu sampai di mobil, Arsean
menghela napas lega dan mengirim pesan kepada Yusuf “Terima kasih banyak Yusuf,
kau telah menyelamatkan nyawaku, aku berhutang budi kepadamu” isi pesan Arsean.
Membaca pesan dari Arsean membuat Yusuf mengerutkan keningnya “Menyelamatkan
__ADS_1
nyawa jenderal? Apa maksudnya ya” gumam yusuf namun tidak berani untuk bertanya
hanya bsia membalas “sama-sama pak” balas Yusuf.