JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 9 KATAKAN CINTA ATAU TIDAK!!!


__ADS_3

Di pagi hari, jenderal Arsean melakukan jogging pagi


di sekitar komplek perumahannya, sambil beristirahat sejenak Arsean berfikir


untuk menyatakan cinta kepada Dr Rafailah, namun Dia tidak tahu bagaimana


caranya dan harus seperti apa, “Rafailah aku suka kepada mu” imbuh Arsean


sambil memeragakannya. “ahh kalo gitu doang bocah SD juga bisa, masa aku yang


seorang jenderal menyatakan cinta saja kesulitan begini sih, akhhh” sambil


mengacak-acak rambutnya, “Rafailah sudah sekian lama aku suka padamu, apakah


kamu mau jadi pacar ku?” gumam Arsean kembali “Aduhhhh kok susah banget ya


cuman mau menyatakan cinta doang” sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri. “oh


ada bunga tuh, aku coba peruntungan ku deh pake bu” sambil mengabil bunga yang


ada di depannya. “katakan, jangan, katakan, jangan, katakan,” gumam Arsean


hingga di bunga terakhir “Jangan”, “jangan katakana cinta kata nih bunga, aduh


gimana ini” gumam Bilesa dalam hati. “coba ambil bunga lagi deh” celoteh Arsean


sambil kembali mengambil bunga yang ada di depan, dan sekali lagi memberikan


peruntungannya kepada setangkai bunga, lalu di bunga terakhir “Katakan”, “harus


katakana cinta kata bunga yang, kata bunga yang tadi jangan, aduh pilih yang


mana ini?” gumam Arsean sambil mengacak-acak rambutnya.


      Melihat


tidak ada cara yang bagus untuk menyatakan cinta, akhirnya Arsean pun pulang


dan menelpon salah satu bawahannya “Halo Yusuf, kamu bisa bantu saya?” Tanya Arsean.


“Siap komandan, bantu apa ya pak?” Tanya Yusuf. “Aku mau menyatakan cinta namun


aku bingung harus bagaimana, kamu bisa bantu aku untuk membuat suasananya lebih


bagus supaya aku punya kesempatan untuk tidak ditolak?” Tanya Arsean kembali.


“Baik pak, untuk urusan percintaan serahkan kepada saya, he..he” selorah Yusuf.


“Baiklah aku percayakan kepada mu, kamu bisa datang ke rumah saya hari ini?”


Tanya Arsean sambil memberikan penekanan seolah-olah barusan merupakan perintah


kepada bawahannya. “Siap komandan laksanakan” jawab Yusuf.


      Saat


sedang berbincang dengan Yusuf, Hera mendengar sekilas bahwa anaknya akan


menyatakan cinta kepada Rafailah, mendengar itu membuat hati Hera menghangat


dan bahagia, karena anaknya mulai berani untuk bertindak terlebih dahulu,


walaupun Hera tau bahwa begitupun Rafailah sama menyukai anaknya, namun karena


dia wanita dan tidak etis untuk bertindak terlebih dahulu.


      Sementara


itu di RS Rafailah Hospital, Rafailah sedang mengecek berkas salah satu


pasiennya yang telah selesai di operasi. Tiba-tiba hidung Rafailah gatal dan


“hachii…hachii” Rafailah bersin. “wah sepertinya ada yang sedang membicarakan


aku ni, apa mungkin Arsean sedang membicarakan aku atau dia sedang


mempersiapkan kata-kata untuk menyatakan cintanya kepada ku?” gumam Rafailah.


“Hushhh, mikir apa sih kamu Rafailah?” sambil memukul keningnya. “Tapi aku kok


kepikiran sama Arsean ya, dia lagi ngapain ya?” “apa aku harus beri kabar


dahulu sama dia ya?”  gumam Rafailah

__ADS_1


kembali gumam Rafailah. Memberanikan diri untuk mengirim pesan dahulu kepada Arsean


“Hai Arsean kamu sedang apa?” Niatnya mau mengirim pesan tersebut, namun malah


di hapus lagi oleh Rafailah. “Buat apa aku kirim pesan duluan, nanti


disangkanya aku yang mengejar cintanya Arsean, walaupun sebenarnya iya juga


sih, he…he…he… Tapi aku kan wanita masa harus duluan katakana cintanya sih,


udahlah lupakan biar Arsean duluan yang menyatakan cintanya, aku akan


menunggunya sampai kapan pun” gumam Rafailah sambil geleng-geleng kepala dan


memasukan kembali HP nya kedalam saku bajunya.


      Sementara


itu, Arsean dan Yusuf masih berdiskusi tentang acara menyatakan cinta terhadap Rafailah.


“Ide kamu apa tidak terlalu berlebihan, aku takutnya Rafailah malah tidak suka


dan jadinya malah jijik kepadaku, kamu gada yang lebih simple caranya?” Tanya Arsean.


“Begini saja pak, bapak ajak makan malam romantis Dr Rafailah dan bapak belikan


cicin atau kalung, lalu bapak minta pemilik restaurant untuk memutarkan lagu


cinta yang cocok, seperti itu saja pak bagaimana?” ujar Yusuf memberi ide “tapi


bapak harus sewa ruangan privasi yang tidak orang selain kalian berdua disana,


supaya bapak tidak terlalu malu jika amit-amit bapak ditolak gitu, he…he…”


canda Yusuf. “Sialan kamu, kamu doain saya supaya ditolak gitu?” celetuk Arsean


sambil ditekan nada suaranya. “Bukan gitu pak, saya hanya bercanda. Itu kan


hanya jika” canda Yusuf sambil tersenyum. “Senyum mu menjengkelkan Yusuf asal


kamu tau” ucap Arsean sambil memasang muka marah, walaupun sebenarnya dia tidak


marah.


      Kemudian


mendapatkan apa yang mau di beli, tiba-tiba Widya memeluk Arsean dari belakang


tanpa sepengetahuan Arsean. Adegan ini membuat Arsean terdiam sejenak,


seolah-olah ada bola besar dua yang menabrak punggungnya. Setelah terdiam


beberapa detik, akhirnya Arsean sadar dan melepaskan pelukan Widya secara halus


karena tidak mau mempermalukannya di depan umum, karena mereka saat ini sedang


ada di mall. Melihat Arsean melepaskan tangannya, Widya pun tidak mau menyerah


dia langsung merangkul tangan Arsean. "Hei..kamu lagi ngapain di mall


sendirian?” Tanya Widya. Sambil melepaskan rangkulan Widya “jangan seperti ini


Widya, malu dilihat orang” gumam Arsean “aku habis beli kalung buat hadiah


mamaku” bohong Arsean, karena tidak mau membuat Widya malah emosi mendengarnya,


karena Arsean tau bahwa Widya menyukainya, namun Arsean tidak menyukai Widya


sama sekali, karena dia tau kelakuan Widya. “Kamu udah makan belum? makan yuk


aku laper nih, aku yang traktir ya” ajak Widya kepada Arsean. Arsean sempat


terdiam haruskah dia menolak atau tidak, kalau menolak yang ada Widya akan


mengikuti dia kemana pun, kalo aku iya kan, waktu ku terbuang sia-sia hanya


untuk menemani Widya makan. “Hello….kenapa diam saja? Ngga mau ya makan bareng


aku?” Tanya Widya memelas sambil berakting memasang muka sedih. Melihat ini


membuat Arsean tidak tega dan akhirnya mengabulkan ajakan Widya untuk makan


bareng. Di sela-sela makan siang, Arsean mengirim pesan ke Yusuf untuk

__ADS_1


bersandiwara untuk menelpon Arsean dan bilang ada kejadian penting dan Arsean


harus hadir di markas segera. “Yusuf, jangan banyak bertanya ya, ikuti saja


permintaan saya” isi pesan pertama Arsean kepada Yusuf. “Bersandiwaralah menelpon


saya bahwa ada kejadian penting dan mengharuskan saya ada di markas segera,


sekarang juga” isi pesan kedua. Melihat Arsean bermain Hp membuat Widya


penasaran, “Lagi berbalas pesan dengan sih, sibuk banget sampai aku di cuekin”


ucap Widya sambil masang bibir manyun. “oh ini dari papa,soal kalung mama udah


dibeli belum katanya” bohong Arsean. Mendengar ini membuat Widya diam sejenak.


“emang ada acara apa kamu sama papa kamu mau memberikan kalung untuk mama


kamu?” Tanya Widya. “oh itu anu. Ehmmm papa mau memberikan kejutan buat mama


aja katanya” bohong Arsean kembali, sambil melihat HP nya yang belum berdering


juga. “ini si Yusuf kemana lagi adehhhh” gumana Arsean dalam hati. “oh gitu,


kalo gitu aku boleh……” belum sempat melanjutkannya, HP Arsean bordering telepon


dari Yusuf, “akhirnya” gumam Arsean dalam hati, “halo Yusuf ada apa? Bukannya


aku sedang cuti dan tidak mau diganggu!” bentak Arsean yang membuat Widya


tertegun. Sama halnya juga dengan Yusuf “pak, bukannya tadi bapak suruh saya


untuk bersandiwara ya?” jawab Yusuf yang membuat geram Arsean mendengarnya.


“ini bocah kok malah nanya balik, ini bocah emang polos atau bodoh si, adehhh”


gumam Arsean dalam hati. “Ada apa kamu telpon aku, apa adahal penting sehingga


kamu telepon aku?” pancing Arsean kepada Yusuf. Mendengar ini membuat langsung


Yusuf mengerti “Siap komandan, maafkan saya mengganggu liburnya…..” kata Yusuf


yang langsung di potong oleh Arsean “sebentar saya speaker dulu, silahkan


lanjutkan kopral Yusuf” perintah Arsean yang membuat Widya terkesima dengan


aura kepemimpinannya. “Siap komandan, maaf saya mengganggu cuti anda. Ada hal


penting yang sangat mendesak yang mengharuskan bapak hadir di markas saat ini


juga segera” sandiwara Yusuf memang bagus cocok sepertinya untuk jadi actor nih


Yusuf. “Baiklah saya segera kesna sekarang kopral, terima kasih atas


informasinya” ucap Arsean. “Siap komandan laksanakan, sya izin tutup teleponnya


komandan” jawab Yusuf “silahkan kopral” jawab Arsean dibarengi dengan


ditutupnya sambungan telepon oleh Yusuf.


      “Maaf


Widya, saya harus pergi ke markas saat ini juga” gumam Arsean. Mendengar ini


mebuat Widya geram, belum makanan datang Arsean sudah harus pergi, namun ya mau


gimana lagi kalo sudah panggilan Negara, bahkan dia sedang bercinta dengan


istrinya pun kalo memang Negara memanggil sudah jadi kewajiban untuk hadir.


“ehmm baiklah, aku antar ya” pinta Widya yang langsung segera ditolak oleh Arsean.


“Tidak perlu, terima kasih atas ajakannya. Aku bawa mobil sendiri kok, aku


pergi dulu sampai jumpa di lain waktu Widya” salam Arsean kepada Widya sambil


pergi meninggalkan Widya secepat mungkin. Begitu sampai di mobil, Arsean


menghela napas lega dan mengirim pesan kepada Yusuf “Terima kasih banyak Yusuf,


kau telah menyelamatkan nyawaku, aku berhutang budi kepadamu” isi pesan Arsean.


Membaca pesan dari Arsean membuat Yusuf mengerutkan keningnya “Menyelamatkan

__ADS_1


nyawa jenderal? Apa maksudnya ya” gumam yusuf namun tidak berani untuk bertanya


hanya bsia membalas “sama-sama pak” balas Yusuf.


__ADS_2