
Seluruh mata di dunia melihat apa yang sedang
terjadi saat ini, dimana Jenderal termuda dan terhebat di dunia sedang ditawan
oleh kelompok separatis, dan akan segera di eksekusi secara langsung. “Hai
people around the world, morning or evening or afternoon. Be a witness of
history of Your life, at this very moment You’ll seeing this machete and do You
know who he is?” ucap Ryan sambil mulai melepaskan penutup kain yang di kepala
Jenderal Arsean. “Yah, He is the great General Arsean. Every milter around the
world stood in fear of Him, shrunk from Him.” Lanjut Ryan sambil memainkan
goloknya di leher Jenderal Arsean. “And now take a look of His face, there is
no need to scare anymore. His like a wet cat right now, karena
kamu Arsean, karena kamu… Begitu ditakuti oleh seluruh militer diseluruh dunia
ini. Ada beberapa Negara yang mengingkan kepalamu, dan sekarang keinginan
Mereka akan Aku kabulkan. Mereka akan membayar mahal untuk kepalamu.” Lanjut
Ryan sambil menjambak kepala Arsean dan memasang golok tepat dileher Arsean
yang mengeluarkan darah sedikit akibat gesekan golok tersebut. “Maung Bodas, if
You clear to shoot, tidak perlu perintah dari saya, just kill Him straightaway”
perintah Lion King “copy that” jawab Maung Bodas. “T-Rex, Kuya. It’s time to
rumble” perintah Lion King. “Roger that, ready to rumble” jawab T-Rex sambil
menepuk pundak Kuya Hideung tanda untuk bergerak, begitupun dengan Lion King
menepuk pundak Wolfgang. Maka setelah dari perintah Lion King, perperangan pun
dimulai. Lima anggota kopasus versus kelompok separatis. Dimulai dengan
merangseknya Lion King dan Wolfgang dari arah timur, mereka mulai menembaki
musuh, karena senjata mereka menggunakan silencer (peredam) suara yang
dikeluarkan tidak terlalu bising yang membuat Ryan dan yang lainnya tidak bisa
mendengarkan secara jelas apa yang terjadi diluar. Begitupun T-Rex dan Kuya
Hideung, mereka merangsek masuk dari arah barat menembaki musuh, musuh tidak bisa
membalas karena kecepatan keempat anggota kopasus dibantu oleh sniper, tidak
ada sedetikpun yang terbuang dan amunisi yang terbuang, karena slogan mereka
adalah one bullet one life (satu peluru satu nyawa). Puluhan musuh meregang
nyawa oleh kelima anggota kopasus tersebut, dimana keempatnya mulai dekat
dengan ruangan siaran langsung, ada salah satu pasukan separatis melihat
pergerakan anggota kopasus dan menyalakan alarm bahaya sambil menembaki anggota
kopasus. Begitu bunyi alarm berbunyi semuanya panik termasuk Ryan yang secara
langsung mengambil senjatanya dan melemparkan sembarang goloknya. Maung Bodas
mulai menembaki musuh yang ada diruangan tersebut, namun saat akan menembak
Ryan, ada salah satu pasukannya yang menghalangi dan menjadi tameng hidup untuk
Ryan, melihat itu Ryan langsung menepi kepinggir tembok untuk menghindari
tembakan dari sniper. Ada salah satu pasukan mau mengangkat Jenderal Arsean
namun tidak dapat menyentuhnya sama sekali karena Maung Bodas menembaki siapaun
yang akan mendekati Arsean. “Sial. Arrgghhhhh” teriak Ryan dibelakang tembok
yang menutupinya dari pandangan Maung Bodas. Keempat anggota kopasus sudah
berada diluar ruangan tersebut, dari arah timur Lion King dan wolfgang
bersiap-siap begitupula dari arah barat T-Rex dan Kuya Hideung bersiap-siap.
“saya akan melemparkan stunt grenade” ucap T-Rex, lalu
melemparkannya ke dalam ruangan yang membuat musuh didalamnya pengang kupingnya dan buyar penglihatannya akibat stunt grenade tersebut. Lalu keempat anggota
kopasus tersebut merangsek masuk dan menembaki musuh yang ada didalamnya, namun
Ryan berhasil lolos melalui ruangan rahasia yang telah disiapkan sebagai akses
untuk melarikan diri.
Lion king berhasil membawa Arsean kesisi tembok
untuk menghindari tembakan dari musuh, dan mulai melepaskan ikatan yang ada
dibadannya. “Halo Lion, kenapa lama sekali hah?” Tanya Arsean sambil memasang
mata melotot kearah Lion “Maaf Jenderal agak tersendat tadi sambil
menyelamatkan DR Rafailah” jawab Lion, mendengar Pasangannya telah diselamatkan,
mukanya Arsean pun mulai kendur dan rileks. “Kerja bagus kawan” jawab Arsean
sambil mengambil sembarang senjata dan amunisi. “Maung Bodas situation?”
perintah Lion King. “All clear” jawab Maung Bodas. “Baiklah segera bergabung
dengan kami disini” jawab Lion King. “Roger that” jawab Maung sambil turun dari
pohon dan mulai bergabung dengan yang lainnya. Setelah Maung Bodas bergabung,
kelima anggota kopasus dan Arsean mengadakan breefing on the spot. “Ryan telah
kabur melalui celah dari kamar sana” ucap Arsean, yang ternyata pada saat baku
tembak tadi, Dia masih sempat melihat Ryan kabur. “Semuanya ikuti saya, tidak
yang berpencar kali ini, kita akan menangkap Ryan hidup atau mati” perintah
Arsean “Siap Jenderal” jawab kelima anggota kopasus tersebut. “Tapi
Jenderal…..” belum sempat menyelesaikannya Maung Bodas sudah di sikut oleh Lion
King “ada apa?” jawab ketus Arsean, “jika ada yang ingin dibicarakan sekarang
waktunya, jika tidak ada kita lanjut” ucap Arsean. Hanya dibalas gelengan
kepala oleh Maung Bodas. Disaat semua akan masuk ke celah tersebut, tiba-tiba
dari balik ruangan tersebut ada yang menggedor pintu ruangan tersebut dari
dalam “Hei siapapun diluar sana, cepat keluarkan saya, kalian tidak tau siapa
saya, hah?” ucap orang tersebut yang ternyata adalah suara Gunarto. Begitu Lion
King mendobrak pintu tersebut, terlihat Gunarto bersiap akan menyerang dan
berhenti begitu melihat siapa yang ada didepannya. “Jenderal Gunarto?” Tanya
selidik Arsean “Arsean kamu selamat nak?” ucap Gunarto, dijawab anggukan oleh
Arsean. “Kenapa Jenderal ada disini?” Tanya Arsean. “Saya juga tidak tau, saya
diajak makan malam oleh kolega di restoran di Kemang, tiba-tiba kepala saya
pusing dan bangun-bangun saya ada disini, ini dimana Arsean?” Tanya Gunarto,
ternyata Gunarto sedang menyamar sebagai korban penculikan agar Arsean dan
kelima anggota kopasus tersebut tidak mencurigainya, namun Ia salah besar,
bahwa kelima anggota kopasus telah mengetahui kedok aslinya, hanya Arsean saja
yang belum mengetahuinya, nantipun Arsean akan mengetahuinya dan Gunarto akan
menyesali perbuatannya kelak segera. Melihat sandiwara ini, Maung Bodas hampir
menarik pistolnya untuk menodongkan kea rah Gunarto, namun di tahan oleh
Wolfgang sambil menggelengkan kepala tanda “tidak sekarang” mungkin itu maksud
dari gelengan kepala Wolfgang. Sudah cukup dengan sandiwara Gunarto, Mereka
melanjutkan perjalanan melalui celah yang ternyata dibawahnya adalah terowongan
yang sudah disediakan sebelumnya oleh kelompok separatis sebagai jalan keluar
dari serbuan musuh.
Penerangan diterowongan tersebut sangat minim,
udara pengap dan lembab, membuat bulu kuduk merinding jika orang biasa yang
__ADS_1
melewatinya. Sementara itu, Ryan dan beberapa anak buahnya yang berhasil
melarikan diri dan keluar dari terowongan tersebut, “Kita istirahat ditempat
persembunyian kita, sambil menunggu mereka lewat. Biar mereka kita sudah jauh,
persembunyian yang aman adalah didekat musuh itu sendiri.” Ucap Ryan, namun
sesaat kemudian Ia akan menyesalinya. “Telepon kontak kita di Australia, kita
butuh helicopter segera” perintah Ryan. “Siap pimpinan” jawab salah satu anak
buahnya sambil menelpon.
Dr Rafailah telah tiba dimarkas TNI Malang, dan
langsung dibawa ketempat persembunyian oleh anak buah Gunarto, disaat
helicopter mendarat, saat itu pula Joshua telah menunggunya dan memantau dari
jauh, Ia harus melihat situasinya, tempat Dr Rafailah dimana akan ditempatkan,
dan yang paling penting ada berapa pasukan Gunarto. Karena salah perhitungan
sedikit saja, nyawa Dr Rafailah taruhannya. Joshua hanya mengikuti dari jarak
aman yang tidak dicurigai oleh pasukan Gunarto, setelah mengetahui tempat
dimana Dr Rafailah ditempatkan, setelahnya adalah memantau berapa orang yang
berjaga dan berapa orang pasukan Gunarto. Setelah memantau semuanya Joshua
kembali ke baraknya untuk memberitahukan kepada Lion King. “Halo Capt… Dr
Rafailah sudah tiba di markas dan saya juga sudah tau dimana tempatnya, namun
yang jadi masalah adalah berapa orang yang menjadi kaki tangan Jenderal Gunarto”
ucap Joshua. “Jangan bertindak, jika tidak mendesak Josh. Saya yakin Dr
Rafailah sudah ditempat yang aman saat ini” jawab Lion King, “Maksudnya Capt?
Bukannya tadi bilang Dr Rafailah belum sepenuhnya terselamatkan ada penghianat
disini?” jawab Joshua heran. “Percayalah, Dia aman untuk saat ini, keep eyes on
Her” ucap Lion sambil menutup teleponnya. “Siapa yang telepon Lion?” Tanya
Arsean selidik. “Oh… itu Joshua, katanya pasukan lain minta ikut juga untuk
menyelamatkan Jenderal” jawab Lion King asal.
Ditempat persembunyian Ryan dan pasukannya yamg
selamat, Mereka mulai menelpon asset mereka di Australia. “Hallo, Ace siapkan
heli dan beberapa pasukan untuk menjemput kami, lokasi sudah saya kirim.” Ucap
salah satu pasukan Ryan. “Siap laksanakan” jawab Ace dari balik telepon satelit
mereka. “Bagaimana?” Tanya Ryan, “Mereka sedang mempersiapkannya pimpinan”
jawab anak buahnya, “Bagus, kamu suruh dua atau tiga orang untuk berjaga di
luar, saya yakin mereka sedang dalam terowongan yang tad kita lewati, hanya
masalah waktu mereka akan menemukan kita, dan siapkan persenjataan, sebelum tim
jemputan kita dating. Saya yakin mereka akan menemukan kita” Perintah Ryan,
“Siap laksanakan pimpinan” jwab serentak anak buahnya yang ada di ruangan
tersebut. Jenderal Arsean dan pasukan kopasus telah keluar dari terowongan.
“Kemana kita sekarang Arsean?” Tanya Gunarto, Sambil melihat sekeliling Arsean
sambil memberikan perintah kepada Maung Bodas untuk melacak jejak musuh.
"Maung lacak kemana musuh pergi, saya percayakan tugas ini kepadamu”
Perintah Arsean “Siap Jenderal laksanakan” jawab Maung Bodas, dijawab oleh
Arsean dengan anggukan. “Kuya kamu ikut dengan Maung” perintah Arsean kepada
Kuya “Siap laksanakan Jenderal” jawab Kuya. “Saya mau buang air kecil dulu,
kalian tunggu disini” ucap Gunarto “Biar saya ikut Jenderal” ucap Lion King.
“Tidak perlu, Saya bisa sendiri. Saya bukan anak kecil” dengus Gunarto, namun
menghina Jendral Gunarto, namun dengan keadaan seperti ini, musuh dapat melihat
keadaan kita dan jika Anda pergi sendirian tanpa penjagaan, Saya khawatir
terjadi apa-apa dengan Anda Jenderal” ucap Lion King dengan memasang muka tulus
sambil memegang pundak Gunarto dan memasang mini speaker untuk bias
mendengarkan pembicaran Gunarto dan supaya Jenderal Arsean tahu bahwa Gunarto
adalah seorang penghianat musuh dalam selimut dalam tubuh TNI selama ini.
“TIDAK PERLU”sanggah Gunarto sambil melepaskan tangan Lion King dari pundaknya,
lalu Gunarto balik kanan dan pergi meninggalkan Lion King. Begitu punggung
Gunarto tidak terlihat oleh Lion King, segera Dia memberikan alat pendengar
kepada Jenderal Arsean “pakai ini Jenderal, nanti Anda akan terkejut
mendengarnya” ucap Lion King, Arsean mengambil alat tersebut dan memasanganya
dikupingnya “terkejut akan hal apa heh?” ucap Arsean. “dipasang saja dulu
Jenderal, nanti Anda akan tahu sendiri” jawab Lion King. Alat pendengar itu
terpasang dikuping Arsean dan mulai mendengarkan suara Gunarto yang sedang kesal
tadi dengan Lion King, namun sesaat kemudian, Gunarto mulai berbicara dengan
orang lain sepertinya dia sedang menelpon seseorang. Pambicaraan Gunarto bukan
hanya di dengarkan oleh Arsean, namun dengan kelima anggota kopasus juga dapat
mendengarkan pembicaraan tersebut “Halo, gimana amankah target?... baik jangan
sampai ada yang mengetahuinya tentang Dokter itu kita sembunyikan, namun dengan
Dokter itu kalian harus memperlakukan dengan baik supaya Dia tidak merasa kita
sekap, mengerti?...” ucap Gunarto yang akan menjadi pemicu kematiannya segera,
mendengarkan ini Arsean mengerenyitkan dahinya, “apa yang dimaksud dengan
dokter yang harus disembunyikan dan harus diperlakukan dengan baik?” ucap
Arsean dalam hatinya. “Heh, Lion maksudnya apa ini, kenapa gunarto membicarakan
tentang dokter? Siapa dokter yang Ia maksudkan?” Tanya Arsean sambil melotot
kepada Lion. Melihat ini Lion merasa ketakutan “Maaf Jenderal, yang Gunarto
maksud dokter itu adalah Dr Rafailah calon istri jenderal” jawab Lion sambil
menunduk tidak mau melihat mata Arsean karena ketakutan. “Apaaaaa, Kamu bilang
Rafailah sudah aman sudah terselamatkan? Bagaimana bisa Dia kembali diculik
hah?” ucap Arsean sambil menarik kerah Lion. Melihat ini membuat Wolfgang dan
T-Rex reflek menghampiri mereka berdua “Sebelumnya memang seperti itu jenderal,
namun saya mengetahui bahwa tim penyelamat yang menyelamatkan calon istri Anda
ternyata anak buah Gunarto, namun jendral jangan cemas, Saya sudah
memerintahkan Joshua untuk memantau dan menyelamatkan Dr Rafailah. Untuk saat
ini sebaiknya Anda tenang jangan terbawa emosi, karena saat ini pun calon istri
anda dalam keadaan aman dan tidak dikat, karena sekarang Beliau ada dimarkas
TNI di Malang. Saya sarankan Jenderal tenagkan diri, tetap seperti sebelumnya,
karena saya takut jika Gunarto mengetahuinya. Keselamatan calon istri Anda
dalam bahaya, biarkan Joshua bekerja disana untuk menyelamatkan Dr Rafailah”
Ucap Lion King, mendengarkan penjelasan ini membuat Arsean reda emosinya dan
kembali tenang seperti sebelumnya, dan mulai mengambil nafas panjang. Sesaat
kemudian Gunarto kembali dari balik pohon. Bagaimana sudah ketemu tempat
persembunyian musuh?” Tanya Gunarto. “Belum jenderal, saya belum dapat
konfirmasi dari Maung” Jawab Arsean dengan tenang, padahal dalam hatinya Arsean
__ADS_1
emosinya menggebu-gebu. “Maung bagaimana apakah sudah ketemu jejak musuh?”
Tanya Arsean. “Kami baru menemukan beberapa jejak yang kesembarang arah
jenderal, berikan kami waktu lima belas menit” jawab Maung. “Baik lima belas
menit” jawab Arsean Namun tidak butuh waktu sampai lima belas menit Maung sudah
mendapatkan jejak musuh. “Jenderal saya sudah mendapatkannya” ucap Maung Bodas.
“Baik, segera saya kesana” jawab Arsean. Arsean dan yang lainnya menuju lokasi
Maung. Ditempat persembunyian Ryan dan pasukannya, “Pimpinan heli lima menit
lagi tiba” ucap salah pasukannya. “Baiklah…” belum sempat selesai berbicara,
terdengar suara rentetan senapan dari luar “Pimpinan musuh mulai mendekati”
ucap salah satu pasukannya sambil terngah-engah bernafas. “Baiklah, kamu cepat
hubungi tim extractdition, dan berikan koordinat musuh supaya mereka bisa
mneghabisi mereke, sekarang” perintah Ryan, “Siap laksanakan pimpinan” jawab
anak buahnya sambil berlari keluar. “Arsean, kamu sepertinya keberuntunganmu
hanya sampai disini, saudaraku” gumam Ryan. Sementara itu Arsean telah kembali
berkumpul dengan Maung Bodas, “Jenderal persembunyian mereka ada didepan sana
sekitar dua ratus meter dari tempat kita saat ini” ucap Maung Bodas. “Tangkap
Ryan hidup-hidup….” Ucap Jenderal namun sebelum bergerak mereka sudah ditembaki
oleh musuh, salah satu peluru mengenai dada Wolfgang, namun beruntung terhalang
oleh rompi anti peluru, namun tetap saja sakitnya sangat terasa di dada. “Are
You okay, Wolfgang?” Tanya T-Rex, “Never been better” jawab Wolfgang sambil
berdiri kembali dan membalas menembak kearah musuh. Saling balas menembak
terjadi, kesiung suara peluru berterbangan mengenai pohon-pohon, dedaunan,
batu. Beberapa ada yang melintas hanya beberapa centi dari kepala
masing-masing. Suara ledakan geranat terdengar memekakan telinga, saling lempar
geranat antara kedua belah pihak, namun persenjataan musuh lebih kuat dan lebih
banyak, sedangkan amunisi Arsean dan timnya mulai menipis, “Need a mag” teriak
Lion King, T-Rex melemparkan amunisi kepada Lion King sambil menjawab “Last
Mag”. Disela-sela pertempuran tersebut Arsean menyelinap diantar tingginya
dahan rumput, Arsean menyelinap agak memutar untuk melumpuhkan musuh. Setelah
menyelinap dan memutar beberapa menit, Arsean mulai menyergap musuh satu per
satu. “Jleb” bunyi Pisau yang digunakan Arsean menghujam ketubuh musuh, musuh
pun langsung jatuh seketika, namun masih sadar. Belum sempat kembali bangun
musuh tersebut, Arsean kembali menyerangnya dan kembali menghujamkan pisaunya.
Musuh pun tewas bersimbah darah, senjata yang digunkan musuh diambil oleh
Arsean untuk menyerang musuh dari belakang. Arsean mulai bergerak lincah,
menembaki musuh dengan cepat dan tepat. “Dor…dor…dor” suara senjata colt yang
digunakan Arsean untuk menembak dari jarak dekat ke musuh, tiga musuh
tersungkur terkena tembakan Arsean. Arsean masih melanjutkan keahliannya dalam
menyelinap dan menghabisi musuh tanpa suara, seperti hantu. Satu per satu musuh
tewas ditangan Arsean. Keadaan mulai hening setelah Arsean menghabisi musuh
yang terakhir. “Hold Your fire” Teriak Arsean, kelima anggota kopasus berhenti
menembak setelah mendengar suara Arsean. Yang lain langsung berkumpul dengan
Arsean setelah terjadi baku tembak, “Welldone jenderal, keren banget tadi” ucap
Maung sambil meberikan dua jempol. “Tidak masalah” Jawab Arsean singkat. “Ambil
senjata dan amunisi musuh” perintah Arsean, dijawab oleh kelima anggota kopasus
dengan langsung jalan melakukan perintah tanpa suara. “Sudah semuanya?” Tanya
Arsean, “sudah jenderal” jawab Lion King. Tidak jauh dari lokasi Arsean,
terdengar suar helikopter. “Itu sepertinya heli musuh, akan menjemput Ryan.
Cepat, cepat, cepat” perintah Arsean sambil berlari menuju kearah suara
helikopter.
Ada tiga helikopter mengudara, satu helikopter
mendarat untuk menyelamatkan Ryan sisanya tetap mengudara sambil berjaga-jaga. “Cepat,
musuh semakin dekat dengan lokasi kita” perintah Ryan. Ryan dan pasukannya yang
selamat telah menaiki helikopter. Sisa pasukannya tetap dibawah menunggu heli
yang lainnya untuk turun menjemput mereka. Begitu helikopter kedua akan
mendarat, salah satu pasukan yang ada didalam heli tewas tertembak oleh Maung
Bodas. “Enemies is coming” teriak salah satu pasukan yang ada didalam heli
sambil membalas tembakan menggunakan senapan mesin M134 yang dapat menembak
dengan cepat hingga 2,000 hingga 6,000 putaran permenit. Saling tembak menembak
kembali terjadi antara pasukan kopasus dan pasukan Ryan, “Hurry up, hurry up.
Shoot back, shoot back” teriak pasukan yang ada di dalam heli tersebut, yang
sepertinya bukan orang Indonesia. Karena perawakannya yang tinggi dan berkulit
putih. Menerima serangan balik dari musuh, Arsean dan pasukannya berlindung
diantara pepohonan dan batu, “Maung tahan tembakan, kamu foto tiga pesawat
tesebut. Siapa mereka dan dari mana mereka!” perintah Arsean. Among hanya
menganggukan kepalanya dan mengeluarkan alat seperti DSLR namun versi khusus
untuk militer. “Yang lain shoot back” perintah Arsean.
Didalam heli, Ryan mulai memberikan perintah untuk
tembak musuh dengan roket. “Shoot Them, shoot with rocket” perintah Ryan. “But,
there is still Our Man down there” jawab salah satu pasukan yang ada di dalam
heli, “I don’t care, They are just mercenaries, they knew what’s gonna happen”
perintah Ryan. Dibalas anggukan kepala oleh pasukan tersebut, sesaat kemudian
Dia memberikan komando kepada heli yang ketiga utuk menembakan rocket kearah
Arsean. Bunyi suara rocket ditembakan, “siuuu…siuuuu” dua rocket ditembakan. Melihat
ada rocket mengarah kearah mereka, Arsean berteriak “its coming, lari,
berlindung” perintah Arsean. Merekapun mulai menyelamatkan diri, lalu diikuti
suara ledakan dua kali yang sangat besar. Seketika hening setelah ledakan
tersebut, “Roll out” perintah Ryan sambil memutarkan telunjuk keatas. Tiga
helikopter tersebut pergi meninggalkan lokasi yang masih terbakar hebat akibat
ledakan tersebut.
Dibalik kepulan asap dan kobaran api yang masih
menyala, Arsean bangkit sambil terbatuk-batuk melihat sekeliling dan memanggil
anak buahnya "Semuanya baik-baik saja?” Tanya Arsean. “Lion good” jawab
Lion, “Maung good” jawab Maung, “I’M okay” ucap Gunarto sambil mengangkat
tangannya. “WOLFGANG, T-REX, KUYA?” teriak Arsean, “Wolfgang good, but T-Rex
dan Kuya, They didn’t made it” jawab Wolfgang, mendengar ini, semuanya
menghampiri Wolfgang, dan ternyata T-Rex dan Kuya Hideung mereka tewas akibat
ledakan tadi. Melihat ini membuat Arsean emosi. “RYAAAAAAAAAANNNNN,
ARGGGGHHHHH” Teriakan Arsean menggema dihutan.
__ADS_1