JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 4 STRATEGI BALAS DENDAM RYAN


__ADS_3

Sementara itu di markas pusat kelompok separatis di


Kalimantan Selatan, Ryan sedang merencanakan strategi balas dendam yang akan


dia lakukan kepada Indonesia. Bersama dengan H. Suhaib dan petinggi militernya


mengadakan pertemuan untuk mematangkan stategi yang akan di lakukan. “Saat ini,


Indonesia sedang bahagia dikarenakan mereke mempunyai jenderal termuda dan


katanya sangat ditakuti oleh militer seluruh dunia” kata Ryan, “tapi saya tidak


ada rasa takut sama sekali dengannya” geram Ryan, yang lainnya hanya diam dan


menganggukan kepala mereka. Ada salah sorang petinggi militer mengangkat


tangannya “pemimpin, izin saya memberi ide” imbuh Zulham yang merupakan salah


satu jenderal kepercayaan Ryan. “Silahkan jenderal” jawab Ryan.


      “Sebelum


kita menyerang militer Indonesia, alangkah lebih baik kita rencanakan strategi


jangka pendek kita” imbuh Zulham, “Yaitu dengan menyingkirkan Jenderal Arsean


terlebih dahulu, kita hancurkan hatinya dahulu. Maka dia akan terpukul secara


psikologis, setelah itu kita bunuh dia untuk menunjukan keberadaan kita ke[ada


Indonesia” lanjut Zulham. “Bagaimana caranya kita menghancurkan keluarga Kolonel


hamzah?” Tanya Ryan kepada Zulham. “Untuk menjauhi masalah dikemudian hari,


kita untuk saat ini tidak akan turun tangan langsung. Saya ada kenal seseorang


yang dapat melakukan tugas ini, pimpinan” lanjut Zulham.


      Setelah


itu Zulham menelpon seseorang di ujung HP nya “Halo, saya ada pekerjaan untuk


kamu, untuk detailnya akan saya sampaikan begitu bertemu, lokasi dan waktunya


akan saya infokan selanjutnya, persiapkan dirimu” Imbuh Zulham kepada seseorang


di ujung HP nya. “Saya sudah menghubungi kenalan saya untuk menjalankan tugas


ini, saya akan bertemu denganya untuk membahas detail dan juga targetnya” imbuh


Zulham, “bagus jenderal, saya suka dengan cara anda melakukan ini. Semoga


berhasil jenderal” imbuh Ryan dibalas dengan anggukan dan senyuman Zulham.


      Ryan


pulang kerumahnya yang sederhana, hanya sebagai kedok saja supaya tidak terlalu


terekspos oleh intel-intel dari Indonesia. Di rumah, ayah Ryan Jenderal Isa


sedang merokok sambil minum kopi untuk menghilangkan kejenuhannya. Jenderal Isa


sudah tidak aktif lagi di kemiliteran separatis, dia sekarang hanya menjadi


tetua dari kelompok separatis. “Ryan, bagaimana dengan pertemuan dengan


petinggi yang lainnya? Apakah sudah siap kita memulai penyerangan kepada


Indonesia?” Tanya Isa kepada anaknya Ryan. “sabar ayah, saat ini bukan waktu

__ADS_1


yang tepat untuk melakukan penyerangan, kita harus memulai rencana kecil dahulu


sebelum memulia rencana yang besar kedepannya” jawab Ryan.


      “Kamu


adalah kebanggaan ayah, dan ayah percaya kamu akan membuat kita bangga” imbuh


Isa “Ayah berharap sebelum ajal menjemput ayah bisa melihat kita berhasil bebas


dari Indonesia dan mendirikan Negara sendiri” lanjut Isa. “Ayah percayakan saja


kepada ku, aku akan mengabulkan doa ayah itu segera” jawab Ryan. Mendengar


janji dari anaknya mebuat Isa tersenyum, “jangan biarkan Hamzah terlalu lama


hidup tenang dan bahagia, segera kamu akan merasakan pahitnya kehilangan orang


tercinta” gumam Isa dengan nada suara yang pelan, namun tetap bsia terdengar


oleh Ryan.


      Zulham


bertemu dengan orang yang tadi dia telepon, ternyata orang itu adalah pembunuh


bayaran asal ukraina bernama Yuri Klitscko. “Selamat datang di Indonesia


kawanku” sapa Zulham kepada Yuri. “lama sudah kita tidak jumpa kawanku,


bagaimana kabar mu?” Tanya yuri. “aku tidak terlalu baik sebenarnya, setelah


kekalahan kami beberapa tahun yang lalu. Kami semua terpencar dan hidup dalam


kesusahan” imbuh Zulham. Yuri hanya bergumam dan mengangguk saja “Hmmm”, “jadi


apa yang bisa aku bantu kawan ku?” Tanya Yuri. “Pimpinan ku sekarang adlah


menderita jenderal Arsean beserta orang-orang terdekatnya. Apakah kamu sanggup


Yuri?” Tanya Zulham. “Maksud kamu Jenderal Arsean, sang jenderal bintang 5


satu-satunya yang termuda didunia ini?” Tanya balik Yuri. “Ya betul” jawab


Zulham. “Hmmm….tugas yang berat…….aku perlu bayaran yang sangat tinggi untuk


tugas ini” imbuh Yuri, “Target sekarang bukan orang yang biasa, bahkan sangat


luar biasa. Dan saya butuh bayaran yan tinggi untuk ini, apakah kamu


menyanggupinya kawanku?” Tanya Yuri.


      Zulham


pun terdiam dan berfikir sejenak, “kamu minta berapa untuk tugas berat ini?”


Tanya Zulham. Yuri terdiam untuk berfikir sejenak “aku takut tidak bisa


menyanggupinya. Walaupun kita berteman baik, namun tugas yang berikan ini


bukanlah tugas mudah dan sembarangan, kau pasti mengerti maksud ku kan? Tanya


Yuri. “aku mau mendengar penawaran dari mu terlebih dahulu kawan!” lanjut Yuri.


Mendengar ini membuat Zulham berfikir kebingungan. “Aku hanya bisa memberimu


seperti biasa max 10 miliar, karena harga itulah yang bisa aku berikan kepada


mu kawan” imbuh Zulham. “Maaf kawan, 10 miliar untuk jenderal Arsean itu

__ADS_1


terlalu murah, dengan resiko yang aku akan hadapi lebih besar dan nyawa ku lah


yang jadi taruhannya, jika target selain dia mungkin aku bisa ambil harga


segitu. Namun untuk jenderal Arsean, ehmmm…ehemmm….ehemmmm” imbuh Yuri sambil


menggoyangkan jari telunjuknya di depan mukanya.


      “Aku


mengerti dengan tugas yang bahaya, aku tahu kau pasti akan meminta bayaran yang


lebih dari biasanya. Namun aku harus bicarakan dahulu dengan pimpinan kami,


segera saya kabari kau kawan” imbuh Zulham, “kalau bisa jangan kau tinggalkan


Indonesia terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan penginapan untuk kau” lanjut


Zulham. “Baiklah” jawab Yuri sambul menganggukana kepalanya. Setelah itu,


Zulham mengirimkan pesan kepada Ryan “Pimpinan, kenalan saya meminta bayaran


yang sangat tinggi setelah tahu targetnya adalah jenderal Arsean, saya hanya


bisa berikan tawaran maksimal 10 miliar, namun dia tidak menyanggupi jika


bayarannya hanya 10 miliar” tulis Zulham dalam isi pesannya. Pesan pun


terkirim, namun belum dibalas oleh Ryan. Sebenarnya Ryan sudah membaca isi


pesan melalui notifikasi di layar HP nya, namun dia belum bisa balas karena


harus memikirikan bagaimana dengan cara untuk mendapatkan uangnya yang lebih


dari 10 miliar, dikarenakan keadaan saat ini kelompok separatis sedang


membangun rencana besar dan membutuhkan biaya yang besar juga. Sambil berfikir,


tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ryan pun mengerutkan


keningnya, karena nomor ini belum pernah ada sebelumnya, “halo siapa ini?”


jawab Ryan, di ujung telepon suara baritone pria terdengar familiar di telinga


Ryan. “Halo Ryan, ini aku Herbert kawan lama mu, apa kabar kawan?” jawab


Herbert yang ternyata teman lama Ryan saat masih kuliah di Bandung.


      “Hai


Herbert, kabar baik , bagaimana kabar mu kawan?” Tanya balik Ryan.


“ha…ha…ha…aku sangat baik kawan, akhirnya aku mendapatkan nomor mu, setelah


sekian lama aku mencari kamu Ryan” imbuh Herbert. “Aku ingin menginformasikan


kepada mu tentang ajakan mu tempo dulu saat masih kuliah, aku akan ikut dengan


mu dan bergabung dengan mu” lanjut Herbert yang di tanggapi oleh Ryan dengan


sangat bahagia, namun tidak mau mengeluerkannya supaya tetap terlihat berwibawa


sebagai pimpinan tertinggi. “Kabar yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini”


jawab Ryan. “Bagaimana kalo kita ketemuan, sekarang kamu ada dimana biar aku


saja yang mendatangi mu” imbuh Herbert. “Aku ada di Kalimantan selatan


sekarang, untuk detail lokasi pertemuan akan akau kirim melalui pesan” jawab

__ADS_1


Ryan. “baiklah aku tunggu kawan” jawab Herbert.


__ADS_2