
Sementara itu di markas pusat kelompok separatis di
Kalimantan Selatan, Ryan sedang merencanakan strategi balas dendam yang akan
dia lakukan kepada Indonesia. Bersama dengan H. Suhaib dan petinggi militernya
mengadakan pertemuan untuk mematangkan stategi yang akan di lakukan. “Saat ini,
Indonesia sedang bahagia dikarenakan mereke mempunyai jenderal termuda dan
katanya sangat ditakuti oleh militer seluruh dunia” kata Ryan, “tapi saya tidak
ada rasa takut sama sekali dengannya” geram Ryan, yang lainnya hanya diam dan
menganggukan kepala mereka. Ada salah sorang petinggi militer mengangkat
tangannya “pemimpin, izin saya memberi ide” imbuh Zulham yang merupakan salah
satu jenderal kepercayaan Ryan. “Silahkan jenderal” jawab Ryan.
“Sebelum
kita menyerang militer Indonesia, alangkah lebih baik kita rencanakan strategi
jangka pendek kita” imbuh Zulham, “Yaitu dengan menyingkirkan Jenderal Arsean
terlebih dahulu, kita hancurkan hatinya dahulu. Maka dia akan terpukul secara
psikologis, setelah itu kita bunuh dia untuk menunjukan keberadaan kita ke[ada
Indonesia” lanjut Zulham. “Bagaimana caranya kita menghancurkan keluarga Kolonel
hamzah?” Tanya Ryan kepada Zulham. “Untuk menjauhi masalah dikemudian hari,
kita untuk saat ini tidak akan turun tangan langsung. Saya ada kenal seseorang
yang dapat melakukan tugas ini, pimpinan” lanjut Zulham.
Setelah
itu Zulham menelpon seseorang di ujung HP nya “Halo, saya ada pekerjaan untuk
kamu, untuk detailnya akan saya sampaikan begitu bertemu, lokasi dan waktunya
akan saya infokan selanjutnya, persiapkan dirimu” Imbuh Zulham kepada seseorang
di ujung HP nya. “Saya sudah menghubungi kenalan saya untuk menjalankan tugas
ini, saya akan bertemu denganya untuk membahas detail dan juga targetnya” imbuh
Zulham, “bagus jenderal, saya suka dengan cara anda melakukan ini. Semoga
berhasil jenderal” imbuh Ryan dibalas dengan anggukan dan senyuman Zulham.
Ryan
pulang kerumahnya yang sederhana, hanya sebagai kedok saja supaya tidak terlalu
terekspos oleh intel-intel dari Indonesia. Di rumah, ayah Ryan Jenderal Isa
sedang merokok sambil minum kopi untuk menghilangkan kejenuhannya. Jenderal Isa
sudah tidak aktif lagi di kemiliteran separatis, dia sekarang hanya menjadi
tetua dari kelompok separatis. “Ryan, bagaimana dengan pertemuan dengan
petinggi yang lainnya? Apakah sudah siap kita memulai penyerangan kepada
Indonesia?” Tanya Isa kepada anaknya Ryan. “sabar ayah, saat ini bukan waktu
__ADS_1
yang tepat untuk melakukan penyerangan, kita harus memulai rencana kecil dahulu
sebelum memulia rencana yang besar kedepannya” jawab Ryan.
“Kamu
adalah kebanggaan ayah, dan ayah percaya kamu akan membuat kita bangga” imbuh
Isa “Ayah berharap sebelum ajal menjemput ayah bisa melihat kita berhasil bebas
dari Indonesia dan mendirikan Negara sendiri” lanjut Isa. “Ayah percayakan saja
kepada ku, aku akan mengabulkan doa ayah itu segera” jawab Ryan. Mendengar
janji dari anaknya mebuat Isa tersenyum, “jangan biarkan Hamzah terlalu lama
hidup tenang dan bahagia, segera kamu akan merasakan pahitnya kehilangan orang
tercinta” gumam Isa dengan nada suara yang pelan, namun tetap bsia terdengar
oleh Ryan.
Zulham
bertemu dengan orang yang tadi dia telepon, ternyata orang itu adalah pembunuh
bayaran asal ukraina bernama Yuri Klitscko. “Selamat datang di Indonesia
kawanku” sapa Zulham kepada Yuri. “lama sudah kita tidak jumpa kawanku,
bagaimana kabar mu?” Tanya yuri. “aku tidak terlalu baik sebenarnya, setelah
kekalahan kami beberapa tahun yang lalu. Kami semua terpencar dan hidup dalam
kesusahan” imbuh Zulham. Yuri hanya bergumam dan mengangguk saja “Hmmm”, “jadi
apa yang bisa aku bantu kawan ku?” Tanya Yuri. “Pimpinan ku sekarang adlah
menderita jenderal Arsean beserta orang-orang terdekatnya. Apakah kamu sanggup
Yuri?” Tanya Zulham. “Maksud kamu Jenderal Arsean, sang jenderal bintang 5
satu-satunya yang termuda didunia ini?” Tanya balik Yuri. “Ya betul” jawab
Zulham. “Hmmm….tugas yang berat…….aku perlu bayaran yang sangat tinggi untuk
tugas ini” imbuh Yuri, “Target sekarang bukan orang yang biasa, bahkan sangat
luar biasa. Dan saya butuh bayaran yan tinggi untuk ini, apakah kamu
menyanggupinya kawanku?” Tanya Yuri.
Zulham
pun terdiam dan berfikir sejenak, “kamu minta berapa untuk tugas berat ini?”
Tanya Zulham. Yuri terdiam untuk berfikir sejenak “aku takut tidak bisa
menyanggupinya. Walaupun kita berteman baik, namun tugas yang berikan ini
bukanlah tugas mudah dan sembarangan, kau pasti mengerti maksud ku kan? Tanya
Yuri. “aku mau mendengar penawaran dari mu terlebih dahulu kawan!” lanjut Yuri.
Mendengar ini membuat Zulham berfikir kebingungan. “Aku hanya bisa memberimu
seperti biasa max 10 miliar, karena harga itulah yang bisa aku berikan kepada
mu kawan” imbuh Zulham. “Maaf kawan, 10 miliar untuk jenderal Arsean itu
__ADS_1
terlalu murah, dengan resiko yang aku akan hadapi lebih besar dan nyawa ku lah
yang jadi taruhannya, jika target selain dia mungkin aku bisa ambil harga
segitu. Namun untuk jenderal Arsean, ehmmm…ehemmm….ehemmmm” imbuh Yuri sambil
menggoyangkan jari telunjuknya di depan mukanya.
“Aku
mengerti dengan tugas yang bahaya, aku tahu kau pasti akan meminta bayaran yang
lebih dari biasanya. Namun aku harus bicarakan dahulu dengan pimpinan kami,
segera saya kabari kau kawan” imbuh Zulham, “kalau bisa jangan kau tinggalkan
Indonesia terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan penginapan untuk kau” lanjut
Zulham. “Baiklah” jawab Yuri sambul menganggukana kepalanya. Setelah itu,
Zulham mengirimkan pesan kepada Ryan “Pimpinan, kenalan saya meminta bayaran
yang sangat tinggi setelah tahu targetnya adalah jenderal Arsean, saya hanya
bisa berikan tawaran maksimal 10 miliar, namun dia tidak menyanggupi jika
bayarannya hanya 10 miliar” tulis Zulham dalam isi pesannya. Pesan pun
terkirim, namun belum dibalas oleh Ryan. Sebenarnya Ryan sudah membaca isi
pesan melalui notifikasi di layar HP nya, namun dia belum bisa balas karena
harus memikirikan bagaimana dengan cara untuk mendapatkan uangnya yang lebih
dari 10 miliar, dikarenakan keadaan saat ini kelompok separatis sedang
membangun rencana besar dan membutuhkan biaya yang besar juga. Sambil berfikir,
tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ryan pun mengerutkan
keningnya, karena nomor ini belum pernah ada sebelumnya, “halo siapa ini?”
jawab Ryan, di ujung telepon suara baritone pria terdengar familiar di telinga
Ryan. “Halo Ryan, ini aku Herbert kawan lama mu, apa kabar kawan?” jawab
Herbert yang ternyata teman lama Ryan saat masih kuliah di Bandung.
“Hai
Herbert, kabar baik , bagaimana kabar mu kawan?” Tanya balik Ryan.
“ha…ha…ha…aku sangat baik kawan, akhirnya aku mendapatkan nomor mu, setelah
sekian lama aku mencari kamu Ryan” imbuh Herbert. “Aku ingin menginformasikan
kepada mu tentang ajakan mu tempo dulu saat masih kuliah, aku akan ikut dengan
mu dan bergabung dengan mu” lanjut Herbert yang di tanggapi oleh Ryan dengan
sangat bahagia, namun tidak mau mengeluerkannya supaya tetap terlihat berwibawa
sebagai pimpinan tertinggi. “Kabar yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini”
jawab Ryan. “Bagaimana kalo kita ketemuan, sekarang kamu ada dimana biar aku
saja yang mendatangi mu” imbuh Herbert. “Aku ada di Kalimantan selatan
sekarang, untuk detail lokasi pertemuan akan akau kirim melalui pesan” jawab
__ADS_1
Ryan. “baiklah aku tunggu kawan” jawab Herbert.