
Hari dimana acara lamaran dilaksanakan. “pah, mah
sudah siap semua untuk acara lamarannya?” Tanya Arsean. “ya semua sudah siap,
kamu sudah siapkan perhiasannya?” Tanya Hera. “Ya sudah aku bawa mah” jawab Arsean.
Mereka pun bersiap untuk berangkat ke kediaman Dr Rafailah. Sementara itu di
kediaman Dr Rafailah. “Masakan sudah siap semuanya Bi?” Tanya papinya Rafailah
kepada salah satu asisten rumah tangganya. “Semua sudah siap pak” jawab ART
tersebut. “Baguslah, jangan sampai ada yang kelupaan ya bi!” pinta papinya Rafailah.
“Baik pak, semuanya sudah sesuai permintan ibu” Jawab ART. Sementara di kamar Rafailah, Rafailah terlihat canti dengan
make-up tipis dan sederhana, namun di balik itu Ia merasa gugup. “Baru pertama
kalinya aku gugup seperti ini.” Ucap Rafailah. Melihat anaknya yang gugup,
maminya pun menghampiri untuk membuat tenang anaknya. “Kamu kenapa gugup gitu?
Ambil napas yang panjang keluarkan dari pantat” canda maminya Rafailah.
Mendengar ini membuat Rafailah tertawa dan lupa akan rasa gugupnya. “Mama
bercanda aja nih, masa harus di keluarin dari pantat, kentut dong itu mah.
Ha…ha…ha…” celoteh Rafailah sambil tertawa.
Disaat
yang bersamaan, keluarga Kolonel Hamzah telah tiba di kediaman Dr Rafailah.
“Selamat datang Kolonel Hamzah” sapa pak RD sambil menjabat tangan Hamzah, dan
disambut jabatan tangan dari Hamzah. “Mari silahkan masuk semuanya” ajak pak RD
“terima kasih pak RD” jawab Hamzah. Mendengar suara rombongan keluarga Kolonel
Hamzah telah tiba, rasa gugup yang sebelumnya hilang kini kembali hadir.
Melihat anaknya kembali gugup, Novi pun memberikan pelukan hangat dan kata-kata
“tenang, ini hari bagagia kamu, tidak usah gugup. Kamu tunggu disini, jika
sudah saat untuk pemakaian cincin kamu baru keluar ya” imbuh Novi
“Maaf
pak RD, kami hanya membawa sedikit bingkisan (sebenarnya bingkisan yang di bawa
sangat banyak, hingga ART keluarga pak RD kewalahan)” imbuh Kolonel Hamzah.
“Ini sih bukan sedikit Kolonel, ini terlalu banyak. He…he…he…” jawab Pak RD
sambil bercanda. “Mari silahkan duduk, acaranya lebih baik kita mulai sekarang”
imbuh Pak RD. lalu proses lamaran pun dilakukan dengan pembukaan dari setiap
__ADS_1
keluarga, dll. Hingga masuk ke acara menentukan tanggal pernikahannya. “Begini
pak RD, kami bertiga sudah berdiskusi bahwa untuk pernikahan lebih cepat lebih
bagus” imbuh Kolonel Hamzah, “karena anak saya ini takut jika terlalu lama anak
bapak di ambil orang. Ha…ha…ha…” canda Kolonel Hamzah dengan disertai tawa
semua orang yang hadir disana, kecuali Arsean yang mukanya merah karena malu.
“Lihat muka anak saya, padahal dia seorang jenderal tapi ketika saat ini bukan
terlihat seperti jenderal betul kan, ha.ha..ha…” kembali canda Kolonel Hamzah.
“papa sudah cukup, lihat muka anakmu itu sudah merah banget udah mateng
sepertinya tuh, he…he…”lanjut Hera yang dikira akan membela anaknya malah
menambahi bumbu-bumbu candaan. “Baiklah Kolonel, saya tidak melihat wajah calon
mantu saya merah begitu akibat diledekin oleh orang tuanya. Ha..ha…” imbuh pak
RD. “Terima kasih papi udah mau belain aku” imbuh Arsean, “Upsss” lanjut Arsean
sambil menutup mulutnya. “belum jadi mantu sudah panggil papi-papi aja kamu”
ledek Hera yang disertai tawa kembali semua orang yang ada disana.
“Baiklah
sudah cukup kita membuat sang jenderal merah wajahnya karena menahan malu,
“baik pak, kami sekeluarga sudah berdikusi untuk tanggal pernikahannya,
bagaimana jika kita laksanakan pernikahannya 3 bulan kedepan di tanggal 1lima
Februari, bagaimana menurut bapak?” Tanya Kolonel Hamzah. Pak RD dan Novi
saling memandang “apakah tidak terlalu cepat jika harus 3 bulan kedepan Kolonel?”
Tanya pak RD. “kami yang akan menyiapkan semuanya dari gedung, catering,
make-up hingga lainnya, pak RD dan sekeluarga tidak perlu repot” imbuh Kolonel
Hamzah. “Namun Kolonel, saya tidak enak hati jika semuanya keluarga Kolonel
hamzah yang menyiapkannya, bagaiman untuk catering dan make-up biar kami saja
yang atur?” Tanya RD. “Saya tidak masalah, jika itu tidak merepotkan keluarga
bapak” imbuh Kolonel Hamzah. “Tidak sama sekali Kolonel” jawab RD. Lalu kedua
keluarga tersebut setuju untuk tanggal dan bulan pernikahannya. Maka saatnya
untuk penyematan cincin di jari Rafailah. Rafailah pun keluar dari kamarnya dan
turun, semua mata melihat Rafailah turun dari tangga tanpa terkecuali Arsean
yang terpesona dengan kecantikan Rafailah yang sebenarnya hanya menggunakan
__ADS_1
make-up tipis saja. Melihat anaknya tidak berkedip melihat Rafailah membuat
Hera tersenyum dan mulai menggodanya. “Hei…” ucap Hera mengejutkan Arsean dari
lamunannya. “Biasa saja dong melihat mantu mama, sampai tidak berkedip begitu.
Gimana mantu mama cantik kan?” Tanya Hera, tanpa sepengetahuan Arsean
sendiripun Ia langsung menjawab “Iya mah cantik, cantik sekali” imbuh Arsean
tanpa sadar. Akhirnya Rafailah mendekati orang tuanya dan bersalaman dengan
calon mertuanya. Begitu Arsean mau salaman dengan Rafailah, ditepuk tanganya
oleh Hera. “jangan di pegang dulu sabar, bukan muhrim, he…he…” canda Hera yang
disertai gelak tawa semua orang, namun hanya Arsean yang cemberut melihat
mamanya melakukan itu. Tidak dengan Rafailah, Ia melihat wajah cemberut Arsean
membuat dia semakin gemas dengan Arsean. “lihat wajah cemberut mu itu, bikin
gemes deh” ucap Rafailah dalam hatinya. “Mana cincinnya?” Tanya Hera kepada Arsean,
namun yang di Tanya tidak merespon hanya terus melihat kearah Rafailah. Melihat
Arsean tidak merespon, membuat Hera jengkel. “Udah tidak usah dilihatin terus,
nanti juga bakal setiap hari ketemu” ucap Hera yang membangunkan Arsean dari
lamunannya. “Oh iya mah apa?” Tanya Arsean yang membuat Hera geleng-geleng
kepala. “cincinnya mana bambang?” kesal Hera, “aku Arsean mah bukan bambang,
jawab Arsean sambil memberikan cincannya kepada Hera yang disertai tawa semua
orang. “iya mama tau, tapi dipanggil nama kamu kamu tidak nengok dipannggil
bambang baru nengok” ucap Hera. Akhirnya cincin lamaran disematkan di jari
manis Dr Rafailah, “mama senang kamu mau terima anak mama yang suka melamun
itu” Tanya Hera, “mama anaknya di godain mulu sih, he…he…” jawab Rafailah. “Iya
mah aku terima Arsean apa adanya, apa mama mau terima aku sebagai menantu
mama?” Tanya Rafailah. “ya tentu mama terima dong, mama sangat menerima kamu,
Cantik” ucap Hera sambil mengecup kening Rafailah, entah kenapa hati Rafailah
merasakan kehangatan setelah mendapat kecupan oleh calon mertuanya, hingga Ia
meneteskan air mata tanpa sengaja. Melihat Rafailah meneteskan air mata membuat
Hera bingung “kamu kenapa menangis saying? Apa kamu tidak suka dengan anak
mama?” Tanya Hera. “Bukan mah, bukan itu maksudnya. Saya entah kenapa merasakan
kehangatan di hati aku setelah mama cium kening aku” ucap Rafailah sambil
__ADS_1
memeluk calon mertuanya itu. Akhirnya acara Lamaran pun selesai.