JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 12 RENCANA PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari dimana acara lamaran dilaksanakan. “pah, mah


sudah siap semua untuk acara lamarannya?” Tanya Arsean. “ya semua sudah siap,


kamu sudah siapkan perhiasannya?” Tanya Hera. “Ya sudah aku bawa mah” jawab Arsean.


Mereka pun bersiap untuk berangkat ke kediaman Dr Rafailah. Sementara itu di


kediaman Dr Rafailah. “Masakan sudah siap semuanya Bi?” Tanya papinya Rafailah


kepada salah satu asisten rumah tangganya. “Semua sudah siap pak” jawab ART


tersebut. “Baguslah, jangan sampai ada yang kelupaan ya bi!” pinta papinya Rafailah.


“Baik pak, semuanya sudah sesuai permintan ibu”  Jawab ART. Sementara di kamar Rafailah, Rafailah terlihat canti dengan


make-up tipis dan sederhana, namun di balik itu Ia merasa gugup. “Baru pertama


kalinya aku gugup seperti ini.” Ucap Rafailah. Melihat anaknya yang gugup,


maminya pun menghampiri untuk membuat tenang anaknya. “Kamu kenapa gugup gitu?


Ambil napas yang panjang keluarkan dari pantat” canda maminya Rafailah.


Mendengar ini membuat Rafailah tertawa dan lupa akan rasa gugupnya. “Mama


bercanda aja nih, masa harus di keluarin dari pantat, kentut dong itu mah.


Ha…ha…ha…” celoteh Rafailah sambil tertawa.


      Disaat


yang bersamaan, keluarga Kolonel Hamzah telah tiba di kediaman Dr Rafailah.


“Selamat datang Kolonel Hamzah” sapa pak RD sambil menjabat tangan Hamzah, dan


disambut jabatan tangan dari Hamzah. “Mari silahkan masuk semuanya” ajak pak RD


“terima kasih pak RD” jawab Hamzah. Mendengar suara rombongan keluarga Kolonel


Hamzah telah tiba, rasa gugup yang sebelumnya hilang kini kembali hadir.


Melihat anaknya kembali gugup, Novi pun memberikan pelukan hangat dan kata-kata


“tenang, ini hari bagagia kamu, tidak usah gugup. Kamu tunggu disini, jika


sudah saat untuk pemakaian cincin kamu baru keluar ya” imbuh Novi


      “Maaf


pak RD, kami hanya membawa sedikit bingkisan (sebenarnya bingkisan yang di bawa


sangat banyak, hingga ART keluarga pak RD kewalahan)” imbuh Kolonel Hamzah.


“Ini sih bukan sedikit Kolonel, ini terlalu banyak. He…he…he…” jawab Pak RD


sambil bercanda. “Mari silahkan duduk, acaranya lebih baik kita mulai sekarang”


imbuh Pak RD. lalu proses lamaran pun dilakukan dengan pembukaan dari setiap

__ADS_1


keluarga, dll. Hingga masuk ke acara menentukan tanggal pernikahannya. “Begini


pak RD, kami bertiga sudah berdiskusi bahwa untuk pernikahan lebih cepat lebih


bagus” imbuh Kolonel Hamzah, “karena anak saya ini takut jika terlalu lama anak


bapak di ambil orang. Ha…ha…ha…” canda Kolonel Hamzah dengan disertai tawa


semua orang yang hadir disana, kecuali Arsean yang mukanya merah karena malu.


“Lihat muka anak saya, padahal dia seorang jenderal tapi ketika saat ini bukan


terlihat seperti jenderal betul kan, ha.ha..ha…” kembali canda Kolonel Hamzah.


“papa sudah cukup, lihat muka anakmu itu sudah merah banget udah mateng


sepertinya tuh, he…he…”lanjut Hera yang dikira akan membela anaknya malah


menambahi bumbu-bumbu candaan. “Baiklah Kolonel, saya tidak melihat wajah calon


mantu saya merah begitu akibat diledekin oleh orang tuanya. Ha..ha…” imbuh pak


RD. “Terima kasih papi udah mau belain aku” imbuh Arsean, “Upsss” lanjut Arsean


sambil menutup mulutnya. “belum jadi mantu sudah panggil papi-papi aja kamu”


ledek Hera yang disertai tawa kembali semua orang yang ada disana.


      “Baiklah


sudah cukup kita membuat sang jenderal merah wajahnya karena menahan malu,


“baik pak, kami sekeluarga sudah berdikusi untuk tanggal pernikahannya,


bagaimana jika kita laksanakan pernikahannya 3 bulan kedepan di tanggal 1lima


Februari, bagaimana menurut bapak?” Tanya Kolonel Hamzah. Pak RD dan Novi


saling memandang “apakah tidak terlalu cepat jika harus 3 bulan kedepan Kolonel?”


Tanya pak RD. “kami yang akan menyiapkan semuanya dari gedung, catering,


make-up hingga lainnya, pak RD dan sekeluarga tidak perlu repot” imbuh Kolonel


Hamzah. “Namun Kolonel, saya tidak enak hati jika semuanya keluarga Kolonel


hamzah yang menyiapkannya, bagaiman untuk catering dan make-up biar kami saja


yang atur?” Tanya RD. “Saya tidak masalah, jika itu tidak merepotkan keluarga


bapak” imbuh Kolonel Hamzah. “Tidak sama sekali Kolonel” jawab RD. Lalu kedua


keluarga tersebut setuju untuk tanggal dan bulan pernikahannya. Maka saatnya


untuk penyematan cincin di jari Rafailah. Rafailah pun keluar dari kamarnya dan


turun, semua mata melihat Rafailah turun dari tangga tanpa terkecuali Arsean


yang terpesona dengan kecantikan Rafailah yang sebenarnya hanya menggunakan

__ADS_1


make-up tipis saja. Melihat anaknya tidak berkedip melihat Rafailah membuat


Hera tersenyum dan mulai menggodanya. “Hei…” ucap Hera mengejutkan Arsean dari


lamunannya. “Biasa saja dong melihat mantu mama, sampai tidak berkedip begitu.


Gimana mantu mama cantik kan?” Tanya Hera, tanpa sepengetahuan Arsean


sendiripun Ia langsung menjawab “Iya mah cantik, cantik sekali” imbuh Arsean


tanpa sadar. Akhirnya Rafailah mendekati orang tuanya dan bersalaman dengan


calon mertuanya. Begitu Arsean mau salaman dengan Rafailah, ditepuk tanganya


oleh Hera. “jangan di pegang dulu sabar, bukan muhrim, he…he…” canda Hera yang


disertai gelak tawa semua orang, namun hanya Arsean yang cemberut melihat


mamanya melakukan itu. Tidak dengan Rafailah, Ia melihat wajah cemberut Arsean


membuat dia semakin gemas dengan Arsean. “lihat wajah cemberut mu itu, bikin


gemes deh” ucap Rafailah dalam hatinya. “Mana cincinnya?” Tanya Hera kepada Arsean,


namun yang di Tanya tidak merespon hanya terus melihat kearah Rafailah. Melihat


Arsean tidak merespon, membuat Hera jengkel. “Udah tidak usah dilihatin terus,


nanti juga bakal setiap hari ketemu” ucap Hera yang membangunkan Arsean dari


lamunannya. “Oh iya mah apa?” Tanya Arsean yang membuat Hera geleng-geleng


kepala. “cincinnya mana bambang?” kesal Hera, “aku Arsean mah bukan bambang,


jawab Arsean sambil memberikan cincannya kepada Hera yang disertai tawa semua


orang. “iya mama tau, tapi dipanggil nama kamu kamu tidak nengok dipannggil


bambang baru nengok” ucap Hera. Akhirnya cincin lamaran disematkan di jari


manis Dr Rafailah, “mama senang kamu mau terima anak mama yang suka melamun


itu” Tanya Hera, “mama anaknya di godain mulu sih, he…he…” jawab Rafailah. “Iya


mah aku terima Arsean apa adanya, apa mama mau terima aku sebagai menantu


mama?” Tanya Rafailah. “ya tentu mama terima dong, mama sangat menerima kamu,


Cantik” ucap Hera sambil mengecup kening Rafailah, entah kenapa hati Rafailah


merasakan kehangatan setelah mendapat kecupan oleh calon mertuanya, hingga Ia


meneteskan air mata tanpa sengaja. Melihat Rafailah meneteskan air mata membuat


Hera bingung “kamu kenapa menangis saying? Apa kamu tidak suka dengan anak


mama?” Tanya Hera. “Bukan mah, bukan itu maksudnya. Saya entah kenapa merasakan


kehangatan di hati aku setelah mama cium kening aku” ucap Rafailah sambil

__ADS_1


memeluk calon mertuanya itu. Akhirnya acara Lamaran pun selesai.


__ADS_2