JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 3 JENDERAL ARSEAN & DOKTER RAFAILAH


__ADS_3

Di rumah sakit pusat Rafailah Hospital, Dokter Rafailah


baru saja selesai melakukan operasi bedah otak dan hasilnya sangat memuaskan.


Pasiennya dalam keadaan normal setelah operasi selesai, dan ini membuat nama Dr


Rafailah semakin terkenal di Indonesia bahkan dunia kedoteran di seluruh dunia


mengagumi kecerdasan Dr Rafailah. “Hufftt, Alhamdulillah operasi ini berjalan


dengan lancar. Terima kasih ya Allah atas pertolongan Mu terhadap pasien saya” seloroh Dr Rafailah


berbicara dengan dirinya sendiri di ruangannya. Ya Dr Rafailah sangat taat


terhadap Agama yang dianutnya, bukannya hanya cantik dan cerdas tapi juga


sangat bagus Agamanya. Inilah yang membuat semua kolega-kolega dokter yang


praktek disana beserta seluruh karyawan RS Rafailah sangat menghormati Dr Rafailah,


walaupun sebenarnya orang jutek, tapi sikapnya terhadap karyawan sangat baik.


“Assamualaikum pih” jawab Dr Rafailah sambil


memegang HP nya, ternyata Dr Rafailah sedang melakukan VC dengan Papi nya.


“Walaikumsalam sayang, gimana operasinya lancar” Tanya papi nya, “Alhamdulillah


lancar pih, berkat pertolongan Allah juga yang mengizinkan pasien aku untuk


melanjutkan hidupnya di dunia ini” jawab Dr Rafailah. “Alhamdulillah, papi ikut


senang dengarnya” jawab papi nya. “Oh iya, nanti malam papi sama mami mau ajak


kamu makan malam bisa?” Tanya papi nya. “Bisa dong pih, masa makan malam sama


keluarga aku ngga bisa” jawab Dr Rafailah, tanpa menanyakan makan malam dimana


dan dengan siapa saja. Itu lah Dr Rafailah, tidak pernah menolak ajakan orang


tuanya selama itu bukan yang buruk, karena selama ini orang tuanya tidak pernah


berbuat yang membuat Dr Rafailah kecewa, maka dari itu Dr Rafailah tidak pernah


menolak ajakan Orang tuanya jika bukan karena alasan penting seperti Operasi


dadakan misalnya.


Di malam hari di kediaman Dr Rafailah, “Pih kita


jadi makan malamnya?” Tanya Rafailah “Jadi dong” jawab papinya. “Tapi kok kita


ngga keluar pih?” kembali Rafailah bertanya, “kita makan malam dirumah saja,


tidak apa-apa kan?” Tanya balik papinya. “Oh…. Ya tidak apa-apa pih” jawab Rafailah.


“Kita akan kedatangan tamu istimewa untuk makan malam bareng dengan kita”


lanjut papinya, yang membuat kening Rafailah mengkerut kebingungan “ngga usah


bingung gitu mukanya” canda papinya sambil menyentil kening Rafailah. “aduh


sakit pih” kata Rafailah sambil memanyunkan bibirnya. “Emangnya siapa tamu kita


pih?” Tanya Rafailah, tanpa di jawab oleh papinya dan papinya langsung bangun


dan meninggalkan Rafailah yang kebingungan, karena penasaran Rafailah pun


akhirnya bertanya ke mami nya. “Mah, mami tahu siapa tamu yang diundang papi


untuk makan malam dengan kita?” Tanya penasaran Rafailah, “nanti kamu juga tahu


sendiri, nak” jawaban sederhana maminya, yang kembali membuat Rafailah bingung


sambil memanyunkan bibirnya.


Tepat sebelum makan malam dimulai, tamu yang


ditunggu sudah hadir di kediaman keluarga Dr Rafailah. “Assalamualaikum” salam Kolonel


Hamzah, “Walaikumsalam, mari masuk Kolonel Hamzah” jawab papinya Dr Rafailah.


Melihat siapa yang dating, Dr Rafailah memasang muka datar hanya memberikan


senyuman tipis saja, namun dalam hatinya dia sangat senang bahwa yang datdang


adalah keluarga Kolonel Hamzah yang man pasti ada Jenderal Arsean. Sebenarnya Rafailah


menyukai Arsean, namun karena menjaga sikapnya dan tidak mau mempelihatkan


bahwa dia suka dengan Arsean, dia ingin tahu terlebih dahulu apakah Arsean

__ADS_1


mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang dia rasakan terhadapnya.


Melihat Dr Rafailah dengan tampilan sederhana


dengan make-up tipis, tidak mengurangi aura kecantikan dalam diri Dr Rafailah,


ini membuat hati sang Jenderal muda berdebar-debar dan menjadi gugup. Pertama


kalinya sang jenderal yang ditakuti di seluruh dunia begitu gugup dihadapkan


dengan wanita secantik Dr Rafailah. “Aku lebih baik berperang melawan musuh


daripada harus berhadapan dengan Rafailah, ya Allah apakah ini yang dinamakan


cinta, kenapa adrenalin dalam diri saya begitu bergejolak hingga aku gugup


begini, apakah wanita di depan ini adalah jodoh yang Engkau berikan kepada


saya? Jika memang bukan jodoh hamba maka dekatkan lah, jika memang jodoh hamba


maka jadikanlah” gumam Arsean dalam hati sambil tersenyum. Melihat tingkah laku


anaknya yang bengong sambil senyum-senyum sendiri, membuat Hera tersenyum


melihatnya hinga dia menyenggol anaknya untuk terbangun dari lamunannya.


“Eh….ya saya juga senang diundang makan malam disini om, tante” seloroh Arsean


setelah sadar dari lamunannya tanpa ada yang menanyakan apapun kepadanya.


Mendengar ini, semua yang ada disitu tertawa melihat tingkah laku sang jenderal


yang terkenal ditakuti oleh mush-musuhnya ini. “kamu ngomong sih, nak” jawab


Hera sambil menahan tawanya sambil menutup mulutnya supaya tidak terlalu


tertawa lebar, sementara Kolonel Hamzah tertawa lebar melihat tingkah laku


anaknya, “ha…..ha….ha….baru pertama kalo papa melihat kamu salting dan gugup


seperti ini” seloroh Kolonel hamzah, “wajar memang jika melihat kecantikan Dr Rafailah


siapa yang tidak terpukau” lanjut Kolonel hamzah di barengi dengan memerahnya


pipi Dr Rafailah karena malu di puji oleh calon papa mertuanya, “dulu papa juga


gitu melihat mama untuk pertama kalinya, saking cantiknya mama kamu papa juga


Melihat tingkah laku jenderal Arsean, membuat keluarga Dr Rafailah tertawa


lebar, “ha…ha…ha…ternyata jenderal muda yang ditakuti oleh seluruh dunia, bisa


gugup juga ya, ha…ha…ha…” goda papinya Rafailah, di barengi tawa semua yang ada


kecuali Arsean yang mukanya merah menahan malu.


“Mari masuk, makannya sudah siap, mari kita makan


malam dahulu setelah itu kita lanjut ngobrol-ngobrol santai” pinta papinya Rafailah.


Merekapun jalan berbarengan kea rah meja makan yang sudah siap dengan makan


malamnya. Makan malampun dimulai dengan hangat dan ceria sambil melempar senyum


antara Jenderal Arsean dan Dr Rafailah. Setelah makan malam selesai mereka


lanjut mengobrol di ruang tamu, “terima kasih atas makan malamnya om, tante,


makannya enak-enak banget, kapan-kapan boleh ya saya makan malam disini lagi,


he…he…he” seloroh Arsean yang di jawab dengan tawa semua orang yang ada disini,


“husss. Kamu tuh emang masakan mama ngga enak apa?” Tanya Hera, “atau


jangan-jangan kamu mau makan malam disini hanya untuk ketemu Dr Rafailah?”Tanya


canda Hera yang membuat muka sang jenderal merah menahan malu. “mama apaan sih,


masakan mama enak kok, enak” jawab Arsean. “tidak apa-apa kalo kamu mau sering


makan malam disini, atau mau makan malam setiap hari disini juga boleh kok,


betul tidak Rafailah?” jawab maminya Rafailah yang membuat pipi Rafailah merah


“Kok malah Tanya aku mah, kan ini rumah mama sama papi bukan rumah aku” jawab Rafailah


sambil memanyunkan bibirnya.


Canda tawa dua keluarga ini begitu hangat dan enak


dilihat, malam semakin larut keluarga Kolonel Hamzah pamit untuk pulang. “Terima

__ADS_1


kasih atas undangan makan malamnya pak RD bu Novi” kata Kolonel hamzah, “sudah


makin larut, kami izin pulang dahulu ya, takut mengganggu istirahat keluarga


bapak apalagi Dr Rafailah yang seorang dokter pasti butuh istirahat yang


banyak, betul begitu Dr Cantik?” Tanya Kolonel Hamzah. “tidak kok Om, saya juga


seneng om dan keluarga datang makan malam dengan kami malam ini” jawab Rafailah


sambil tersenyum manis di hadapan calon mertuanya. “sama-sama Kolonel hamzah,


saya dan keluarga merasa sangat terhormat keluarga Kolonel hamzah dapat hadir


memenuhi undangan makam malam sederhana bersama keluarga kami” jawab papinya Rafailah,


“Baiklah kami pamit pulang, semoga dikemudian hari kami bsia sering datang


kemari bukan hanya sebagai tamu tapi sebagai besan, he…he…he…” canda Kolonel


hamzah.


Mendengar perjataan Kolonel Hamzah, membuat hati Dr


Rafailah berbunga-bunga mendengar kata-kata “BESAN”, “Apakah aku bisa jadi


menantunya Kolonel hamzah?” Tanya Rafailah dalam hati, begitupun dengan Arsean


“Apakah aku bisa jadi menantunya pak RD?” Tanya Arsean dalam hatinya juga.


Sementara itu di semua club malam, Widya bersama


teman-temannya sedang asik hangout sambil berjoget-joget di lantai dansa,


sambil berpegangan pada pundak seorang laki-laki yang tidak dia kenal sama


sekali. Itulah Widya yang begitu gampangnya didekati laki-laki yang hanya


menginginkan tubunya saja dan melewati cinta satu malam, begitupun dengan Widya


yang entah sudah berapa banyak laki-laki yang tidur denganya, hingga semua


orang di Bandung pun tahu dia seperti apa orangnya, hanya Karena dia anak


seorang gubernur dia bisa mendapatkan apapu dan siapapun yang dia kehendaki. Di


topang dengan paras yang cantik, body yang aduhai semampai, membuat laki-laki


manapun tidak akan bisa menolaknya.


Setelah melakukan cinta satu malam dengan seorang


pria yang tidak dia kenal, Widya terbangun dari tidurnya dan langsung terpikir


olehnya wajah tampan jenderal Arsean. Dia pun langsung menelpon papanya untuk


melakukan lamaran secepatnya karena dia takut Arsean akan di ambil oleh Dr Rafailah.


“Halo pah, kapan papa akan melamar jenderal Arsean untuk aku? Aku sudah tidak


sabar nih untuk menjadi istrinya jenderal Arsean” seloroh Widya di HP nya, ini


membuat sang gubernur emosi baru bangun pagi sudah mendengar ocehan anaknya,


“Sabar, tidak mudah membalikan telapak tangan untuk membuat Arsean mau dengan


mu” jawab Aan, “pertama-tama kamu harus merubah sifat urakan mu yang suka gonta


ganti pria dan sering ke club malam, karena Jenderal Arsean tidak suka wanita


seperti itu” lanjut Aan, sementara itu di ujung telepon Widya mengerutkan


keningnya mendengar permintaan papanya untuk berubah, yang mana itu tidak


mungkin bisa dia lakukan karena dia sudah terlanjur kecanduan *** bebas dan


tidak bisa 1 haripun tanpa melakukan hubungan suami istri. Tidak mendengar


jawaban dari anaknya gubernur pun menegurnya “kenapa kamu tidak bisa berubah


hanya untuk sementara sampai rencana kita berhasil, hah?” Tanya Aan


“Baiklah pah, aku akan coba berubah, tapi hanya


untuk sementara ya pah, kan papa tahu aku tidak bisa jika ****** ku


tidak ada yang nengokin?” seloroh Widya yang membuat Aan gusar “kamu


itu ya, sudah lah jangan ganggu papa, papa mau berangkat kerja” jawab Aan


sambil tutup teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2