
Ketika Widya mengetahui
bahwa Arsean akan menikah dengan Rafailah, emosinya memuncak dan menghancurkan
apa saja yang ada di hadapannya yang membuat kamarnya berantakan, kaca rias pecah, ranjangnya sudah tidak beraturan
bantal dan guling ada dimana-mana, tembok terkelupas, lukisan hancur, foto-foto
yang dipajang dikamarnyapun tidak lepas dari amukan Widya, kamarnya sudah
seperti kapal yang karam di lautan. Ketika mendengar suara
barang terjatuh, seketika semua orang yang ada dirumah itu menghampiri ke
tempat asal suara itu terjadi. “Widya apa yang kamu lakukan?” Tanya Aan kepada
anaknya, sambil melihat sekeliling kamar anaknya yang sudah tidak beraturan.
“Widya kamu kenapa, nak?” Tanya Aan kembali. “Jika papa tidak mau bantu aku untuk
membatalkan pernikahan mereka, aku yang akan bertindak sesuai keinginan ku”
ucap Widya sambil berteriak. “Maksud kamu siapa mereka yang akan menikah?"
Tanya Aan, yang mana memang Ia tidak tahu perihal pernikahan antara Arsean dan Rafailah.
“Arsean akan menikah si Dr gatel itu dalam tiga bulan kedepan pah, hu…hu…hu…”
teriak Widya sambil menangis. “Apa, mereka akan melangsungkan pernikahan tiga
bulan kedepan?” Tanya Aan. “iya pah, hu..hu..hu…” jawab Widya.
Mendengar ini, Aan langsung pergi meninggalkan kamar Widya dan
menelpon seseorang. “Halo pimpinan, apakah anda sudah mengetahui kabar
pernikahan jenderal Arsean dan Dr Rafailah?” Tanya Aan, di ujung telepon
seorang yang sedang mendengarkan berita tersebut agak terkejut
namun tidak memperlihatkannya, Ryan hanya mengangguk saja “saya belum tahu
untuk kabar itu, terima kasih sudah memberitahu saya, aku akan lakukan apapun
untuk membatalkan mereka” ucap Ryan. “Kamu pergilah ke kediaman Hamzah untuk cari
tahu sedetail-detailnya
semua informasi sangat penting, oke” ucap Ryan
Sementara itu Widya menelpon seseorang. “Halo, kamu dimana? Kita
ketemuan?” Tanya Widya kepada seseorang dibalik telepon tersebut. Tidak lama berselang
Widya pun pergi untuk bertemu dengan temannya yang baru saja Ia telepon. Tidak lama kemudian Widya bertemu dengan seorang pria
di salah satu café. “Ada apa Widya mau bertemu dengan ku mendadak seperti ini?” Tanya seorang pria yang
berperawakan tinggi besar, “Aku ingin kamu menculik wanita ini, dan jangan kamu
bunuh dia. Cukup kamu tiduri saja dia dan harus ada buktinya berupa video. Aku
__ADS_1
mau dia tidak dibunuh. Bagaimana apa kamu bisa?” Tanya Widya. Melihat foto seorang wanita cantik pria
tersebut menganggukan kepalanya. “Baiklah, tapi ini tidak gratis, walaupun
wanita dalam foto ini cantik, namun tetap saya mau bayarannya, dan dibayar dimuka tidak boleh tidak, bagaimana?” Tanya pria
tersebut. “Baiklah tidak masalah aku transfer kamu saat ini juga, namun ingat
kamu hanya cukup tiduri dia saja, jangan kamu sakiti dia!” perintah Widya.
Widya sengaja membiarkan Rafailah hidup untuk menanggung malu, sehingga Ia
akan bunuh diri karena tidak kuat menahan malu yang akan diterimanya. Itu lah
yang ada dalam pikiran Widya, namun segala sesuatu tidak selalu sesuai
harapannya.
“Lebih cepat kamu bertindak lebih baik, aku mau tugas ini kamu
lakukan segera sebelum tiga bulan kedepan, apa
kamu bisa?” Tanya Widya. “Baiklah akan saya laksanakan tugasnya dalam dua
minggu kedepan” jawab pria tersebut. “Bagus, aku tunggu kabar darimu” jawab
Widya dengan senyum jahatnya. Sementara itu Aan juga merencanakan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Widya menargetkan Dr Rafailah
sebagai targetnya,
anak dan orangtua sama-sama merencanakan penculikan, namun ke duanya tidak
saling berkomunikasi, malahan berjalan sendiri-sendiri. “Kamu harus culik wanita
yang terpenting jangan sampai ketahuan, kalian mengerti?” perintah Aan, yang
ternyata orang-orang yang diperintah merupakan tentara bayaran dari Negara
tetangga. “Baik kami lakukan sebaik mungkin tuan” jawab salah satu tentara
bayaran tersebut.
Sementara itu Widya, seperti biasa melampiaskan segala
kekesalan dan penat kepalanya dengan pergi ke sebuah club malam, bermabuk-mabukan, berdansa dilantai dansa club
malam Bersama pria-pria hidung belang yang mana mereka sama sekali belum pernah
bertemu dan ya pasti tahu lah apa yang selanjutnya terjadi,
tidak perelu dijelaskan detailnya.
Setelah itu Widya mendatangi kediaman Kolonel Hamzah. Melihat kehadiran Widya,
Hera yang saat itu sedang berada di pekarangan halaman
rumahnya, mengkerutkan keningnya melihat Widya datang ke rumahnya.
“Assalamualaikum tante Hera” Sapa Widya dengan senyum semanis mungkin,
“Walaikumsalam Widya, mari masuk, nak” ajak Hera kepada Widya. “Maaf tante
__ADS_1
aku datang tanpa memberitahu sebelumnya, kebetulan aku lewat daerah sini, jadi
aku sekalian mampir kerumah tante, apa kedatangan saya mengganggu tante?” tanya Widya pura-pura tidak
enak, padahal Ia sengaja datang ke kediaman Hera untuk bertemu dengan Arsean.
“Oh tidak sama sekali kok” jawab Hera, “kamu mau minum
apa Widya?” Tanya Hera. “Tidak usah repot-repot tante” jawab Widya. “Arsean ada
tante?” Tanya Widya. “Oh, Arsean sedang ke markas pusat, katanya ada laporan
perihal gerakan separatis” jawab Hera. Mendengar itu, Widya mengerutkan
keningnya “Gerakan separatis, apa jangan-jangan?” imbuh Widya dalam hati.
Melihat Widya diam saja, Hera pun terdiam padahal dia hanya asal bilang saja,
sebenarnya Arsean saat
ini sedan gada jadawal ke tempat Wedding EO untuk
acara pernikahannya nanti. “Separatis apa ya tante?” Tanya Widya penasaran. “Oh
itu katanya yang dulu kelompok separatis yang di kalahkan oleh papanya Arsean,
katanya mau mulai menyerang lagi” bohong Hera. “Kamu ada keperluan apa sama
anak tante, kemungkinan dia pulang malam atau malah tidur di barak markas
pusat.” Ucap Hera. “Oh begitu ya tante” jawab Widya. “aku mau Tanya tante apa
benar Arsean akan menikah dengan Rafailah?” Tanya Widya. “Iya benar itu” jawab
Hera tanpa harus menjaga hatinya Widya yang sakit hati mendengarnya, namun Ia
pandai menutupinya didepan Hera, Namun Hera bisa merasakan perubahan di wajah
Widya walaupun hanya sedikit. Hera tahu bahwa Widya sakit hati mendengar
perkataannya, namun Ia tidak peduli. Karena Hera tidak menyukai Widya. “oh
selamat ya tante kalo begitu, nanti aku tunggu undangannya ya tante” ucap Widya
sambil berdiri dan pergi dari rumahnya Hera. “Widya kamu tidak minum dulu,
nak?” Tanya Hera pura-pura, padahal dia senang dengan kepergian Widya dari
rumahnya. Widya tidak menjawab pertanyaan dari Hera dan terus jalan menuju
mobilnya dan pergi. Di dalam mobil Widya mengeluarkan kekesalannya sumpah serapah Ia keluarkan yang sebelumnya mungkin
sudah ditahan-tahan di depan mamanya Arsean, “sialan dasar Dr centil,
kamu, kamu,
KAMU tidak akan pernah mendapatkan Arsean sehelai rambut pun, aku pastikan kamu
akan menderita, dasar
centil” ucap Widya kesal sambil memukul-mukul setir
__ADS_1
mobilnya. Dan kembali, untuk melepaskan rasa kesalnya Widya pergi ke suatu club
malam dan kembali lagi, tahu lah apa yang terjadi selanjutnya.