JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 13 RENCANA JAHAT WIDYA


__ADS_3

Ketika Widya mengetahui


bahwa Arsean akan menikah dengan Rafailah, emosinya memuncak dan menghancurkan


apa saja yang ada di hadapannya yang membuat kamarnya berantakan, kaca rias pecah, ranjangnya sudah tidak beraturan


bantal dan guling ada dimana-mana, tembok terkelupas, lukisan hancur, foto-foto


yang dipajang dikamarnyapun tidak lepas dari amukan Widya, kamarnya sudah


seperti kapal yang karam di lautan. Ketika mendengar suara


barang terjatuh, seketika semua orang yang ada dirumah itu menghampiri ke


tempat asal suara itu terjadi. “Widya apa yang kamu lakukan?” Tanya Aan kepada


anaknya, sambil melihat sekeliling kamar anaknya yang sudah tidak beraturan.


“Widya kamu kenapa, nak?” Tanya Aan kembali. “Jika papa tidak mau bantu aku untuk


membatalkan pernikahan mereka, aku yang akan bertindak sesuai keinginan ku”


ucap Widya sambil berteriak. “Maksud kamu siapa mereka yang akan menikah?"


Tanya Aan, yang mana memang Ia tidak tahu perihal pernikahan antara Arsean dan Rafailah.


“Arsean akan menikah si Dr gatel itu dalam tiga bulan kedepan pah, hu…hu…hu…”


teriak Widya sambil menangis. “Apa, mereka akan melangsungkan pernikahan tiga


bulan kedepan?” Tanya Aan. “iya pah, hu..hu..hu…” jawab Widya.


      Mendengar ini, Aan langsung pergi meninggalkan kamar Widya dan


menelpon seseorang. “Halo pimpinan, apakah anda sudah mengetahui kabar


pernikahan jenderal Arsean dan Dr Rafailah?” Tanya Aan, di ujung telepon


seorang yang sedang mendengarkan berita tersebut agak terkejut


namun tidak memperlihatkannya, Ryan hanya mengangguk saja “saya belum tahu


untuk kabar itu, terima kasih sudah memberitahu saya, aku akan lakukan apapun


untuk membatalkan mereka” ucap Ryan. “Kamu pergilah ke kediaman Hamzah untuk cari


tahu sedetail-detailnya


semua informasi sangat penting, oke” ucap Ryan


      Sementara itu Widya menelpon seseorang. “Halo, kamu dimana? Kita


ketemuan?” Tanya Widya kepada seseorang dibalik telepon tersebut. Tidak lama berselang


Widya pun pergi untuk bertemu dengan temannya yang baru saja Ia telepon. Tidak lama kemudian Widya bertemu dengan seorang pria


di salah satu café. “Ada apa Widya mau bertemu dengan ku mendadak seperti ini?” Tanya seorang pria yang


berperawakan tinggi besar, “Aku ingin kamu menculik wanita ini, dan jangan kamu


bunuh dia. Cukup kamu tiduri saja dia dan harus ada buktinya berupa video. Aku

__ADS_1


mau dia tidak dibunuh. Bagaimana apa kamu bisa?” Tanya Widya. Melihat foto seorang wanita cantik pria


tersebut menganggukan kepalanya. “Baiklah, tapi ini tidak gratis, walaupun


wanita dalam foto ini cantik, namun tetap saya mau bayarannya, dan dibayar dimuka tidak boleh tidak, bagaimana?” Tanya pria


tersebut. “Baiklah tidak masalah aku transfer kamu saat ini juga, namun ingat


kamu hanya cukup tiduri dia saja, jangan kamu sakiti dia!” perintah Widya.


Widya sengaja membiarkan Rafailah hidup untuk menanggung malu, sehingga Ia


akan bunuh diri karena tidak kuat menahan malu yang akan diterimanya. Itu lah


yang ada dalam pikiran Widya, namun segala sesuatu tidak selalu sesuai


harapannya.


      “Lebih cepat kamu bertindak lebih baik, aku mau tugas ini kamu


lakukan segera sebelum tiga bulan kedepan, apa


kamu bisa?” Tanya Widya. “Baiklah akan saya laksanakan tugasnya dalam dua


minggu kedepan” jawab pria tersebut. “Bagus, aku tunggu kabar darimu” jawab


Widya dengan senyum jahatnya. Sementara itu Aan juga merencanakan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Widya menargetkan Dr Rafailah


sebagai targetnya,


anak dan orangtua sama-sama merencanakan penculikan, namun ke duanya tidak


saling berkomunikasi, malahan berjalan sendiri-sendiri. “Kamu harus culik wanita


yang terpenting jangan sampai ketahuan, kalian mengerti?” perintah Aan, yang


ternyata orang-orang yang diperintah merupakan tentara bayaran dari Negara


tetangga. “Baik kami lakukan sebaik mungkin tuan” jawab salah satu tentara


bayaran tersebut.


      Sementara itu Widya, seperti biasa melampiaskan segala


kekesalan dan penat kepalanya dengan pergi ke sebuah club malam, bermabuk-mabukan, berdansa dilantai dansa club


malam Bersama pria-pria hidung belang yang mana mereka sama sekali belum pernah


bertemu dan ya pasti tahu lah apa yang selanjutnya terjadi,


tidak perelu dijelaskan detailnya.


Setelah itu Widya mendatangi kediaman Kolonel Hamzah. Melihat kehadiran Widya,


Hera yang saat itu sedang berada di pekarangan halaman


rumahnya, mengkerutkan keningnya melihat Widya datang ke rumahnya.


“Assalamualaikum tante Hera” Sapa Widya dengan senyum semanis mungkin,


“Walaikumsalam Widya, mari masuk, nak” ajak Hera kepada Widya. “Maaf tante

__ADS_1


aku datang tanpa memberitahu sebelumnya, kebetulan aku lewat daerah sini, jadi


aku sekalian mampir kerumah tante, apa kedatangan saya mengganggu tante?” tanya Widya pura-pura tidak


enak, padahal Ia sengaja datang ke kediaman Hera untuk bertemu dengan Arsean.


“Oh tidak sama sekali kok” jawab Hera, “kamu mau minum


apa Widya?” Tanya Hera. “Tidak usah repot-repot tante” jawab Widya. “Arsean ada


tante?” Tanya Widya. “Oh, Arsean sedang ke markas pusat, katanya ada laporan


perihal gerakan separatis” jawab Hera. Mendengar itu, Widya mengerutkan


keningnya “Gerakan separatis, apa jangan-jangan?” imbuh Widya dalam hati.


Melihat Widya diam saja, Hera pun terdiam padahal dia hanya asal bilang saja,


sebenarnya Arsean saat


ini sedan gada jadawal ke tempat Wedding EO untuk


acara pernikahannya nanti. “Separatis apa ya tante?” Tanya Widya penasaran. “Oh


itu katanya yang dulu kelompok separatis yang di kalahkan oleh papanya Arsean,


katanya mau mulai menyerang lagi” bohong Hera. “Kamu ada keperluan apa sama


anak tante, kemungkinan dia pulang malam atau malah tidur di barak markas


pusat.” Ucap Hera. “Oh begitu ya tante” jawab Widya. “aku mau Tanya tante apa


benar Arsean akan menikah dengan Rafailah?” Tanya Widya. “Iya benar itu” jawab


Hera tanpa harus menjaga hatinya Widya yang sakit hati mendengarnya, namun Ia


pandai menutupinya didepan Hera, Namun Hera bisa merasakan perubahan di wajah


Widya walaupun hanya sedikit. Hera tahu bahwa Widya sakit hati mendengar


perkataannya, namun Ia tidak peduli. Karena Hera tidak menyukai Widya. “oh


selamat ya tante kalo begitu, nanti aku tunggu undangannya ya tante” ucap Widya


sambil berdiri dan pergi dari rumahnya Hera. “Widya kamu tidak minum dulu,


nak?” Tanya Hera pura-pura, padahal dia senang dengan kepergian Widya dari


rumahnya. Widya tidak menjawab pertanyaan dari Hera dan terus jalan menuju


mobilnya dan pergi. Di dalam mobil Widya mengeluarkan kekesalannya sumpah serapah Ia keluarkan yang sebelumnya mungkin


sudah ditahan-tahan di depan mamanya Arsean, “sialan dasar Dr centil,


kamu, kamu,


KAMU tidak akan pernah mendapatkan Arsean sehelai rambut pun, aku pastikan kamu


akan menderita, dasar


centil” ucap Widya kesal sambil memukul-mukul setir

__ADS_1


mobilnya. Dan kembali, untuk melepaskan rasa kesalnya Widya pergi ke suatu club


malam dan kembali lagi, tahu lah apa yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2