
Melihat kedekatan antara Rafailah dan Arsean yang
semakin intense, membuat Widya Geram dan menyalurkan kekesalannya dengan datang
ke club malam untuk melupakan rasa sakit dihatinya setelah melihat mereka
berdua bersama tadi siang. Di club malam, Widya seperti biasa minum minuman
keras dan berjoget-joget dilantai dansa, namun bedanya saat ini tidak ada
laki-laki yang mendekatinya, yang biasanya laki-laki mengantri untuk dekat
dengannya walaupun hanya sekedar untuk melakukan cinta satu malam. Merasa
bingung dengan keadaan sekarang, Widya pun melihat-lihat sekitar club malam
namun tidak ada laki-laki yang kosong semuanya sudah ada pasangannya
mashing-masing. Disaat bersamaan, datang Herbert dan temannya untuk
bersenang-senang, melihat ada kelompok laki-laki yang datang membuat Widya
mulai untuk mengeluarkan jurusnya untuk memikat laki-laki, dan tidak menunggu
lama Herbert dan temannya menghampiri Widya sambil berkenalan dan berjoget ria.
“Hai, mau bersenang dengan kita?” Tanya teman Herbert, “maksud kamu kalian
berdua mau lawan aku sendiri gitu?” Tanya Widya sambil menunjuk dirinya
sendiri. Dan temannya Herbert hanya mengangguk saja. Melihat itu Widya pun
mengeritkan keningnya, selama ini dia belum pernah melakukan hubungan badan
dengan dua laki-laki sekaligus. Widya pun berfikir dan melayang-layang pikirannya,
“jika dua laki-laki sekaligus, sepertinya seru nih” gumam Widya dalam hatinya.
“Bagaimana mau tidak?” Tanya temannya Herbert yang membangunkan Widya dari
lamunannya. “Oke siapa takut, awas aja kalau kalian keluarnya cepet, aku potong
nanti senjata mu itu, he…he..he…” celetuk Widya sambil tertawa di balas dengan
senyuman oleh temannya Herbert.
Di pagi harinya, setelah bangun, Widya
hanya mendapatkan satu laki-laki saja yang masih tertidur, sedang satu
laki-laki yang mana adalah Herbert sudah tidak ada di kamar atau di kamar
mandi. Melihat ada laki-laki disampingnya tertidur pulas tanpa busana yang
dipakainya sama dengan apa yang Widya sekarang, dengan sigap Widya langsung
memegang senjata laki-laki itu hingga langsung bangun dalam sekejap, dan pergulatan
panas di pagi hari pun dimulai. Itulah Widya, entah itu laki-laki manapun
selama laki-laki itu dapat memuaskan nafsunya, dia akan selalu melayaninya.
Bahkan dia yang mambayar laki-laki yang tidur denganya.
Setelah
selesai melakukan pergulatan panas pada malam hari dan pagi hari, Widya pun
pulang untuk berbicara dengan ayahnya untuk segera melakukan lamaran dengan
__ADS_1
Jenderal Arsean. Sesampainya di rumah, Widya memanggil papanya “pah…papa
dimana?” panggil Widya, namun orang yang dipanggil tidak memunculkan batang
hidungnya sama sekali, karena kesal papanya dipanggil tidak keluar, kemudian
Widya memanggil asisten rumah tangganya, “Bi Asoh…..Bi papa gada dirumah?”
Tanya Widya kepada Asoh. “Bapak tidak pulang dari semalam Teh” Jawab Asoh sambil menunduk takut melihat wajah
Widya yang sepertinya sedang kesal. “Apa papa tidak pulang dari semalam?” Tanya
Widya, Aosh hanya jawab dengan anggukan kepalanya. “Papa bilang pergi kemananya
Bi?” Tanya kembali Widya kepada Asoh. “Bibi tidak tau the, bapak tidak bilang
mau pergi kemana” jawab Asoh sambil menunduk. “Akhhh…kemana lagi tuh
bapak-bapak, lagi ada yang penting malah tidak ada dirumah” gerutu Widya sambil
menghentakan kakinya.
“Aku
coba telepon papa dulu ya Bi” imbuh Widya, “Ya the, bibi balik kebelakang dulu
ya” pinta Asoh, hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Widya. Sementara itu
Widya coba menelpon papanya namun tidak diangkat-angkat, “akhhhh kemana lagi
tuh bapak tua?” gerutu Widya sambil menghentakan kakinya. Setelah menelpon
beberapa kali tidak ada jawaban membuat Widya marah semarah-marahnya, Widya pun
jalan ke kamarnya lalu masuk ke kamarnya sambil menutup pintu sekeras-kerasnya
karena saking kesalnya. Widya pun coba untuk Mandi dulu sambil merefresh
pria yang kembali tidak dia kenal.
Semantar
itu ditempat Aan Suhaimi berada, dia melihat notifikasi di HP ada beberapa kali
telepon masuk dari anaknya, “tuh anak pagi-pagi udah ganggu aja” seloroh Aan.
“Kenapa pagi-pagi udah ditekuk gitu mukanya, hah?” imbuh wanita di sampingnya
sambil memeluk Aan. Ternyata Aan tidak pulang semalaman karena sedang bercinta
dengan wanita simpanannya disebuah hotel. “oh, ini biasa si Widya pagi-pagi
udah telepon aku” imbuh Aan. “yaudah telepon balik atuh anaknya, mungkin ada
yang lebih penting sepertinya” imbuh wanita tersebut. “dia udah gede, dia bisa
selesaikan masalah dia sendiri, sepenting apa sih masalahnya, masih lebih
penting kamu lah yang selalu melayani ku dengan sangat baik.” Rayu Aan kepada
wanita itu sambil mencium bibir wanita tersebut.
“Kamu
bisa aja, baru juga bangun pagi udah ngerayu-rayu aja sih, jadi bikin kepengan
di masukin lagi nih, he…he…he” seloroh wanita tersebut. “kalo itu mah ngga usah
ditanya, sekarang juga kita lanjutin ya” imbuh Aan dengan semangat sambil mulai
__ADS_1
menyingkap selimut dan mulai mengambil posisi di atas wanita tersebut, lalu
terjadilah pergulatan panas antara dua orang tersebut.
Maka
jangan heran jika Widya pun sering melakukan hubungan intim dengan laki-laki
manapun, karena papanya sendiri pun seperti itu sering gonta ganti wanita untuk
memuaskan nafsu birahinya, ibarat pepatah “buah tidak akan jatuh jauh dari
pohonnya”.
Setelah
selasai membersihkan diri, Widya mencoba menelpon papanya kembali dan langsung
di angkat oleh papanya. “Halo pah, papa dimana?” Tanya Widya. “papa lagi ada
acara dengan teman-teman papa, kenapa pagi-pagi sudah telepon papa?” Tanya
balik Aan kepada Widya. “Pah, gimana rencana kita untuk melamar Arsean?” Tanya
balik Widya. “Papa sudah bilang sama kamu sabar dulu, kita tunggu waktu yang
tepat, dan papa masih kecewa sama kamu yang masih belum bisa berubah, papa
dengar kamu kembali tidur pria lain lagi?” Tanya balik Aaan, “loh emang kenapa
kalo aku tidur lagi sama pria lain, toh ini kan badan aku ya bebas dong mau
tidur sama siapa saja sesuai keinginan ku?” jawab santai Widya, yang membuat
Aan kesal “papa sudah bilang sama kamu, berubahlah dulu sikap kamu untuk
sementara saja setelah kita mendapatkan jenderal Arsean” jawab Aan. “setelah
kamu mendapatkan Arsean, kamu bebas mau ngapain aja terserah kamu.” Lanjut Aan.
“ya…ya…ya…aku ikutin permintaan papa, tapi kapan aku bisa ketemu Arsean lagi
pah?” Tanya Widya. “Tunggu moment yang tepat, papa sedang merencanakan sesuatu
dengan teman-teman papa” imbuh Aan. “aku tidak suka jika haru s menunggu lama,
karena papa tahu?” Tanya Widya ke Aan “Tahu apa?” Tanya balik Aan. “Aku melihat
Arsean dengan Dr Rafailah bercengkrama di sebuah restaurant dan aku melihat
mereka sangat akrab dan terlihat sangat dekat, aku tidak mau keduluan Dr sok
cantik itu” imbuh Widya sambil memanyunkan bibirnya. “Baiklah papa akan segera
berbicara untuk rencana yang akan digunakan untuk mendapatkan Arsean dipellukan
mu, Nak” imbuh Aan. “baiklah papa pergi dulu, nanti papa kabari kamu
secepatnya” lanjut Aan sambil menutup teleponnya.
“Dr sok
cantik, apa sih bagsunya kamu, cantikan aku daripada kamu, badan juga lebih
sexy dan berisi aku daripada kamu. Sedangkan kamu, kurus, tidak ada bagus-bagusnya
badan kamu. Hanya menang gelar dokter saja kamu mau ambil hati Arsean, hemmm
tidak mungkin. Lihat saja jika Arsean sudah tidur dengan ku, dia tidak akan
__ADS_1
melupakan aku atas pelayanan aku diranjang, ha…ha..ha…” imbuh Widya sambil
berbicara depan cermin kepada dirinya sendiri.