JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 22 DURI DALAM INTERNAL TNI AD


__ADS_3

Setelah perginya Ryan melarikan diri menggunakan


helicopter. Arsean memutuskan kembali kemarkas musuh untuk mencari petunjuk


tentang Ryan dan kelompoknya. “Lion, infokan ke markas pusat di Malang, siapkan


jemputan untuk kawan kita yang gugur. Saya akan kembali kemarkas musuh, Maung


kamu ikut saya. Yang lainnya kembali kemarkas segera” Perintah Arsean, dibalas


anggukan oleh yang lainnya. Lion King mulai berbicara melalui radio militer


untuk segera menjemput mereka. “Let’s go Maung” perintah Arsean, “siap


jenderal” jawab Maung sambil mengikuti Arsean dari belakang.


       Arsean


berjalan beriringan dengan Maung, “laporan segera apa yang Kamu ketahui Maung!


Jangan berani Kamu bohongi Saya!” ucap Arsean dengan penekanan nada, yang


membuat Maung sedikit terkejut. “Siap Jenderal” jawab Maung. “Sebenarnya Gunar…


Eh maksud Saya Jenderal Gunarto. Dia penghianat, duri dalam daging di internal


TNI, jenderal.” Ucap Maung sambil takut-takut berbicarakannya. “Maksud Kamu apa


bilang Jenderal Gunarto adalah seorang penghianat? Apakah Kamu ada bukti


konkritnya?” ucap Arsean. “Hati-hati Kamu jangan asal bicara Maung, ucapanmu


bisa buat kamu nanti dalam masalah dipengadilan militer” ucap Arsean kembali.


“Eh….. tidak Jenderal, tidak mungkin saya asal bicara, semua bukti ada dikamera


saya jenderal. Silahkan jenderal lihat sendiri” ucap Maung sambil mengarahkan kameranya kepada


Arsean, Arsean seketika mengambil kamera tersebut dan mulai melihat-lihat semua


yang ada didalam kamera tersebut, bergitu terkejutnya Arsean saat melihat


Gunarto sedang berbincang dengan Ryan. Arsean mengepalkan tangannya “Kamu


simpan baik-baik bukti ini, kalau perlu kamu copy semua foto dan video.”


Perintah Arsean. “Baik jenderal, laksanakan” jawab Maung Bodas.


       Sementara


itu dimarkas TNI di Malang, Para prajurit TNI berkumpul untuk memberi


penghormatan kepada anggota kopasus yang gugur, sepanjang jalan antara helipad


hingga ke ruangan duka berbaris para prajurit sambil memberikan hormat,


beberapa ada yang menahan emosi termasuk Yusuf yang ternyata sudah kembali ke


Markas setelah tahu lokasi markas musuh kosong. Namun hanya satu orang yang


keluar dari barisan prajurit TNI dan langsung menuju tempat dimana Dr Rafailah


ditempatkan, namun tanpa sepengetahuan Gunarto, Joshua melihat terlebih dahulu


gerak gerik mencurigakan dari Gunarto yang tiba-tiba memisahkan diri dari


rombongan yang baru saja tiba. Joshua mengikuti hingga ketempat dimana Dr


Rafailah berada. “Gimana semuanya aman terkendalikah?” Tanya Gunarto kepada


anak buahnya yang menjaga pintu ruangan dimana Dr Rafailah berada, “aman


Jenderal, tidak satupun yang curiga, namun langkah selanjutnya apa jenderal?”


Tanya balik salah satu anak buahnya. “Apakah kita harus menyingkirkan Dr itu?”


Tanya kembali anak buahnya. “Jangan sekarang, kita lihat kondisi reda, jaga Dia


jangan sampai pergi dari ruangan ini. Buka pintunya!” perintah Gunarto. Dibalas


anggukan oleh anak buahnya sambil membuka pintu. Mendengar pintu dibuka,


Rafailah langsung menengok kearah pintu. Dia kira yang datang adalah Arsean,


ternyata bukan. “Halo Dr bagaimana kabar Anda?” Tanya Gunarto basa basi sambil


tersenyum, “oh…. Saya baik Jenderal, terima kasih sudah bertanya, Arsean dimana


jenderal? Ko bukan dia yang masuk kesini? Apakah Dia baik-baik saja Jenderal?”


Tanya Rafailah beruntun kepada Gunarto. “Kalo bertanya satu-satu dong dok, Saya


bingung harus jawab yang mana dulu?” jawab Gunarto sambil tersenyum, Rafailah


hanya bisa berdiam diri dan menggaruk kepalanya. “Maaf jenderal, Saya terlalu

__ADS_1


tegang setelah kejadian sebelumnya, sekali lagi maaf Jenderal” jawab Rafailah.


“Tenang saja dok, Anda aman sekarang, dan untuk Arsean Dia masih di hutan sana


mencari petunjuk tentang musuh Kita. Tenang saja, Dia orang yang kuat dan tidak


ada satupun musuh yang dapat menjatuhkannya apalagi membununhnya” jawab


Gunarto. “Baiklah, terima kasih Jenderal atas informasinya” jawab Rafailah.


“Baiklah kalo begitu, Saya permisi dulu. Namun saya hanya bisa mengingatkan


Anda jangan keluar dulu dari ruangan ini. Karena saya dengar, ada penghianat


didalam TNI sendiri. Saya tidak mau Anda mengalami penculikan untuk yang kedua


kalinya” ucap Gunartao yang membuat Rafailaj kembali merasa tidak nyaman dan


ingatan akan penculikannya yang sebelumnya yang belum tuntas kembali teringat.


“padahal kamu saat ini sedang diculik oleh penghianat itu dok, hahaha” gumam


Gunarto dalam hatinya. Rafailaha hanya bisa membalas dengan anggukan kepala,


kemudian Gunarto balik kanan dan menutup pintunya kembali. “Saya pergi dulu,


kalian jaga dengan benar jangan sampai dia meninggalkan ruangan ini dan


siapapun yang mau masuk keruangan ini, jangan kalian perbolehkan. Mengerti?”


perintah Guarto. “Siap jenderal, laksanakan” jawab serempak anak buahnya.


Sementara itu, masih dalam pengintaian dari jauh Joshua hanya bisa melihat dan


belum bisa bertindak, mengingat situasinya belum memungkinkan dan sepertinya Dr


Rafailah masih aman untuk sementara ini. Kemudian Joshua balik kanan pergi


meninggalkan tempat tersebut.


        Di kantor BIN, Letjen Rizky dan tim telah


mendapatkan data-data Negara mana saja yang memasok senjata kepada kelompok


separatis dan melalui jalur mana. Dan yang lebih mengejutkan adalah, BIN


menemukan lingkaran internal TNI yang melalkukan kontak dengan beberapa Negara


dan orang-orang yang berhubungan kelompok separatis. “Pak, Kami mendapati


beberapa hasil yang semua menjurus kepada satu orang yaitu Ryan pemimpin


ucap salah satu tim BIN memaparkan temuannya kepada Letjen Rizky. Dilihat dari


diagram tersebut terdapat nama-nama yang tidak asing, ada nama Gunarto dan juga


kapten pasukan setan yang saat ini sedang ditugaskan dimedan pertempuran yaitu


Timo. Melihat nama Timo tertera didiagram tersebut membuat Letjen Rizky


terkejut. “Kamu sudah benar melakukan semua ini? Dengan semua pola yang


didiagram tersebuut apakah semuanya valid?” Tanya Rizky. “Benar pak, semua pola


yang saya cari semuanya valid, sesuai perintah, bapak” jawab anak buahnya.


“Baiklah, sepertinya kita harus bergerak dalam bayangan, jangan sampai semua


data ini bocor. Saya takut di BIN juga ada orang-orang mereka” ucap Rizky.


“Baiklah, lanjtkan pekerjanmu, kirimkan filenya ke email saya sekarang, ya”


perintah Rizky. “Siap pak, filenya sudah saya kirimkan ke email bapak


sebelumnya” jawab anak buahnya. “Bagus, kerja bagus” jawab Rizky singkat.


        Sementara itu, setelah mengumpulkan dan menemukan


temuan – temuannya perihal Ryan dan kelompok separatisnya, Arsean beserta Maung


kembai ke Markas TNI di Malang.”Lihat Jenderal telah kembali, jenderal Arsean


telah kembali,” salah satu pasukan TNI berteriak kearah pintu masuk gerbang


yang terlihat Arsean dan Maung berjalan kaki memasuki komplek TNI AD. Seluruh


pasukan yang ada disana, yang sedang berjaga, sedang bercengkrama atau sedang


latihan, mereka berhenti melakukan aktivitasnya dan mulai berkerumun untuk


mendekati Arsean. "Jenderal kita selamat, jnderal kita selamat” ucap salah


satu pasukan sambil berlari menuju Arsean untuk bersalaman, “terima kasih ya


tuhan, Kau telah menyelamatkan jenderal kami” ucap salah satu pasukan yang telah ada dihadapan Arsean,

__ADS_1


mendengar semua ucapan – ucapan dari anak buahnya, Arsean hanya membalas


tersenyum dan sesekali membalas uluran tangan anak buahnya. “Okay cukup –


cukup, Jenderal baru saja selamat dan baru saja sampai, biarkan beliau


istarahat dahulu kawan – kawan” ucap Maung sambil berdiri didepan Arsean untuk


menghadang para pasukan TNI yang berdatangan hingga Arsean kesulitan untuk


berjalan. Kemudian setelah diberi jalan oleh pasukannya, Arsean dan Maung


melanjutkan perjalanan menuju tempat peristirahatannya. “Bagaimana tentang Gunarto,


Jenderal?” Tanya Maung, “tidak sekarang kawan, dia tidak akan berani melakukan


sesuatu kepada Rafailah, percayalah. Kamu segera panggil Joshua sekarang!”


perintah Arsean. “Siap jenderal” jawab Maung. Tidak lama berselang, Joshua


telah hadir diruangan Arsean, “Jenderal, saya sangat senang anda selamat dan


pulang tanpa ada sesuatu yang hilang sedikitpun” ucap Joshua. “Terima kasih


Josh” jawab Arsean. “Kamu tahu dimana ruangan Rafailah berada?” Tanya Arsean


kepada Joshua. “Iya, sata tahu jenderal” jawab Joshua “Baiklah mari kita


kesana, tunjukan jalannya” ucap Arsean. “Baik jenderal” jawab Joshua. Merekapun


jalan ketempat Rafailah ditempatkan. Sementara itu, anak buah Gunarto yang


sedang berjaga, melihat ada dua orang yang dating dan terkejut bahwa yang


dating adalah Arsean, mereka kebingungan harus berbat apa, sedangkan tugasnya


adalah melarang siapapun masuk kecuali Gunarto. Arsean dan Joshua tepat didepan


pintu ruangan yang dijaga oleh anak buah Gunarto, “Buka pintunya” perintah


Arsean dengan nada penekanan, yang mebuat penjaga tersebut ketakutan. “Ta…ta…pi


perintah Jenderal Gunarto, bahwa siapapun tidak boleh masuk keruangan ini”


jawab salah satu penjag, “Biarkan Saya masuk, atau terpaksa Saya harus


menggunakan cara kasar, hah?” ucap Arsean dengan nada menagancam yang membuat


kedua penjaga tersebut mengeluarkan keringat dan mengusap keringat yang


meluncur melalui dahinya. Kedua penjaga tersebut saling lirik satu sama lain,


dan bingung harus berbuat apa, sebelum sesuatu yang mengerikan akan terjadi,


tiba – tiba Gunarto dating dan kemudian menyuruh anak buahnya untuk membuka


Pintunya. “buka pintunya” ucap Gunarto, semua prang yang ada disana menengok


kearah suara tersebut. “Baik jenderal” ucap anak buahnya dan pintupun


dibukanya. “Maafkan anak buahku Arsean, mereka tidak mau membukanya karena saya


yang memerintahkannya, Saya tidak mau terjadi sesuatu kepada Dr Rafailah” ucap


Gunarto sambil tersenyum dan menepuk pundak Arsean. Arsean hanya terdiam dan


hanya membalas dengan senyuman, kemudian setelah pintu dibuka Arsean masuk


kedalam, melihat pintu dibuka Rafailah berjalan kerah pintu dan terkejut


melihat siapa yang ada didepan pintu, ternyata ada Arsean disana, tanpa


menunggu lagi Rafailah berlari dan memeluk Arsean dengan erat sambil menangis.


“Kamu selamat, terma kasih ya Allah Kau terlah menyelamatkan calon suamiku”


ucap Rafailah sambil tersedu-sedu menangis, kemudian Rafailah melihat wajah


Arsean, lalu matanya menscan seluruh tubuh Arsean lalu kemudian menangis


kembali “Kenapa menangis saying?” Tanya Arsean, “Kamu kembali dengan utuh tanpa


ada satupun yang hilang, puji syukur Alhamdulillah” jawab Rafailah, mendengar


ini, hati Arsean menghangat dan melupakan sejenak kebenciannya terhadap


Gunarto. “Mari pulang, orang tua Kamu pasti sangat mengkhawatirkan Kamu” ucap


Arsean sambil berjalan keluar dari ruanga tersebut, dan sesaat kemudian


Rafailah melihat Gunarto dan menghampirinya “terima kasih jenderal telah


menjaga saya” ucap Rafailah, “sama-sama dokter” jawab Gunarto sambil tersenyum


namun dalam hatinya sangat kesal sekali dengan keadaannya yang tidak sesuai

__ADS_1


rencananya. Melihat ini Arsean dan Joshua hanya memasang muka datar, namun


dalam hati mereka sedang menahan emosi.


__ADS_2