
Setelah perginya Ryan melarikan diri menggunakan
helicopter. Arsean memutuskan kembali kemarkas musuh untuk mencari petunjuk
tentang Ryan dan kelompoknya. “Lion, infokan ke markas pusat di Malang, siapkan
jemputan untuk kawan kita yang gugur. Saya akan kembali kemarkas musuh, Maung
kamu ikut saya. Yang lainnya kembali kemarkas segera” Perintah Arsean, dibalas
anggukan oleh yang lainnya. Lion King mulai berbicara melalui radio militer
untuk segera menjemput mereka. “Let’s go Maung” perintah Arsean, “siap
jenderal” jawab Maung sambil mengikuti Arsean dari belakang.
Arsean
berjalan beriringan dengan Maung, “laporan segera apa yang Kamu ketahui Maung!
Jangan berani Kamu bohongi Saya!” ucap Arsean dengan penekanan nada, yang
membuat Maung sedikit terkejut. “Siap Jenderal” jawab Maung. “Sebenarnya Gunar…
Eh maksud Saya Jenderal Gunarto. Dia penghianat, duri dalam daging di internal
TNI, jenderal.” Ucap Maung sambil takut-takut berbicarakannya. “Maksud Kamu apa
bilang Jenderal Gunarto adalah seorang penghianat? Apakah Kamu ada bukti
konkritnya?” ucap Arsean. “Hati-hati Kamu jangan asal bicara Maung, ucapanmu
bisa buat kamu nanti dalam masalah dipengadilan militer” ucap Arsean kembali.
“Eh….. tidak Jenderal, tidak mungkin saya asal bicara, semua bukti ada dikamera
saya jenderal. Silahkan jenderal lihat sendiri” ucap Maung sambil mengarahkan kameranya kepada
Arsean, Arsean seketika mengambil kamera tersebut dan mulai melihat-lihat semua
yang ada didalam kamera tersebut, bergitu terkejutnya Arsean saat melihat
Gunarto sedang berbincang dengan Ryan. Arsean mengepalkan tangannya “Kamu
simpan baik-baik bukti ini, kalau perlu kamu copy semua foto dan video.”
Perintah Arsean. “Baik jenderal, laksanakan” jawab Maung Bodas.
Sementara
itu dimarkas TNI di Malang, Para prajurit TNI berkumpul untuk memberi
penghormatan kepada anggota kopasus yang gugur, sepanjang jalan antara helipad
hingga ke ruangan duka berbaris para prajurit sambil memberikan hormat,
beberapa ada yang menahan emosi termasuk Yusuf yang ternyata sudah kembali ke
Markas setelah tahu lokasi markas musuh kosong. Namun hanya satu orang yang
keluar dari barisan prajurit TNI dan langsung menuju tempat dimana Dr Rafailah
ditempatkan, namun tanpa sepengetahuan Gunarto, Joshua melihat terlebih dahulu
gerak gerik mencurigakan dari Gunarto yang tiba-tiba memisahkan diri dari
rombongan yang baru saja tiba. Joshua mengikuti hingga ketempat dimana Dr
Rafailah berada. “Gimana semuanya aman terkendalikah?” Tanya Gunarto kepada
anak buahnya yang menjaga pintu ruangan dimana Dr Rafailah berada, “aman
Jenderal, tidak satupun yang curiga, namun langkah selanjutnya apa jenderal?”
Tanya balik salah satu anak buahnya. “Apakah kita harus menyingkirkan Dr itu?”
Tanya kembali anak buahnya. “Jangan sekarang, kita lihat kondisi reda, jaga Dia
jangan sampai pergi dari ruangan ini. Buka pintunya!” perintah Gunarto. Dibalas
anggukan oleh anak buahnya sambil membuka pintu. Mendengar pintu dibuka,
Rafailah langsung menengok kearah pintu. Dia kira yang datang adalah Arsean,
ternyata bukan. “Halo Dr bagaimana kabar Anda?” Tanya Gunarto basa basi sambil
tersenyum, “oh…. Saya baik Jenderal, terima kasih sudah bertanya, Arsean dimana
jenderal? Ko bukan dia yang masuk kesini? Apakah Dia baik-baik saja Jenderal?”
Tanya Rafailah beruntun kepada Gunarto. “Kalo bertanya satu-satu dong dok, Saya
bingung harus jawab yang mana dulu?” jawab Gunarto sambil tersenyum, Rafailah
hanya bisa berdiam diri dan menggaruk kepalanya. “Maaf jenderal, Saya terlalu
__ADS_1
tegang setelah kejadian sebelumnya, sekali lagi maaf Jenderal” jawab Rafailah.
“Tenang saja dok, Anda aman sekarang, dan untuk Arsean Dia masih di hutan sana
mencari petunjuk tentang musuh Kita. Tenang saja, Dia orang yang kuat dan tidak
ada satupun musuh yang dapat menjatuhkannya apalagi membununhnya” jawab
Gunarto. “Baiklah, terima kasih Jenderal atas informasinya” jawab Rafailah.
“Baiklah kalo begitu, Saya permisi dulu. Namun saya hanya bisa mengingatkan
Anda jangan keluar dulu dari ruangan ini. Karena saya dengar, ada penghianat
didalam TNI sendiri. Saya tidak mau Anda mengalami penculikan untuk yang kedua
kalinya” ucap Gunartao yang membuat Rafailaj kembali merasa tidak nyaman dan
ingatan akan penculikannya yang sebelumnya yang belum tuntas kembali teringat.
“padahal kamu saat ini sedang diculik oleh penghianat itu dok, hahaha” gumam
Gunarto dalam hatinya. Rafailaha hanya bisa membalas dengan anggukan kepala,
kemudian Gunarto balik kanan dan menutup pintunya kembali. “Saya pergi dulu,
kalian jaga dengan benar jangan sampai dia meninggalkan ruangan ini dan
siapapun yang mau masuk keruangan ini, jangan kalian perbolehkan. Mengerti?”
perintah Guarto. “Siap jenderal, laksanakan” jawab serempak anak buahnya.
Sementara itu, masih dalam pengintaian dari jauh Joshua hanya bisa melihat dan
belum bisa bertindak, mengingat situasinya belum memungkinkan dan sepertinya Dr
Rafailah masih aman untuk sementara ini. Kemudian Joshua balik kanan pergi
meninggalkan tempat tersebut.
Di kantor BIN, Letjen Rizky dan tim telah
mendapatkan data-data Negara mana saja yang memasok senjata kepada kelompok
separatis dan melalui jalur mana. Dan yang lebih mengejutkan adalah, BIN
menemukan lingkaran internal TNI yang melalkukan kontak dengan beberapa Negara
dan orang-orang yang berhubungan kelompok separatis. “Pak, Kami mendapati
beberapa hasil yang semua menjurus kepada satu orang yaitu Ryan pemimpin
ucap salah satu tim BIN memaparkan temuannya kepada Letjen Rizky. Dilihat dari
diagram tersebut terdapat nama-nama yang tidak asing, ada nama Gunarto dan juga
kapten pasukan setan yang saat ini sedang ditugaskan dimedan pertempuran yaitu
Timo. Melihat nama Timo tertera didiagram tersebut membuat Letjen Rizky
terkejut. “Kamu sudah benar melakukan semua ini? Dengan semua pola yang
didiagram tersebuut apakah semuanya valid?” Tanya Rizky. “Benar pak, semua pola
yang saya cari semuanya valid, sesuai perintah, bapak” jawab anak buahnya.
“Baiklah, sepertinya kita harus bergerak dalam bayangan, jangan sampai semua
data ini bocor. Saya takut di BIN juga ada orang-orang mereka” ucap Rizky.
“Baiklah, lanjtkan pekerjanmu, kirimkan filenya ke email saya sekarang, ya”
perintah Rizky. “Siap pak, filenya sudah saya kirimkan ke email bapak
sebelumnya” jawab anak buahnya. “Bagus, kerja bagus” jawab Rizky singkat.
Sementara itu, setelah mengumpulkan dan menemukan
temuan – temuannya perihal Ryan dan kelompok separatisnya, Arsean beserta Maung
kembai ke Markas TNI di Malang.”Lihat Jenderal telah kembali, jenderal Arsean
telah kembali,” salah satu pasukan TNI berteriak kearah pintu masuk gerbang
yang terlihat Arsean dan Maung berjalan kaki memasuki komplek TNI AD. Seluruh
pasukan yang ada disana, yang sedang berjaga, sedang bercengkrama atau sedang
latihan, mereka berhenti melakukan aktivitasnya dan mulai berkerumun untuk
mendekati Arsean. "Jenderal kita selamat, jnderal kita selamat” ucap salah
satu pasukan sambil berlari menuju Arsean untuk bersalaman, “terima kasih ya
tuhan, Kau telah menyelamatkan jenderal kami” ucap salah satu pasukan yang telah ada dihadapan Arsean,
__ADS_1
mendengar semua ucapan – ucapan dari anak buahnya, Arsean hanya membalas
tersenyum dan sesekali membalas uluran tangan anak buahnya. “Okay cukup –
cukup, Jenderal baru saja selamat dan baru saja sampai, biarkan beliau
istarahat dahulu kawan – kawan” ucap Maung sambil berdiri didepan Arsean untuk
menghadang para pasukan TNI yang berdatangan hingga Arsean kesulitan untuk
berjalan. Kemudian setelah diberi jalan oleh pasukannya, Arsean dan Maung
melanjutkan perjalanan menuju tempat peristirahatannya. “Bagaimana tentang Gunarto,
Jenderal?” Tanya Maung, “tidak sekarang kawan, dia tidak akan berani melakukan
sesuatu kepada Rafailah, percayalah. Kamu segera panggil Joshua sekarang!”
perintah Arsean. “Siap jenderal” jawab Maung. Tidak lama berselang, Joshua
telah hadir diruangan Arsean, “Jenderal, saya sangat senang anda selamat dan
pulang tanpa ada sesuatu yang hilang sedikitpun” ucap Joshua. “Terima kasih
Josh” jawab Arsean. “Kamu tahu dimana ruangan Rafailah berada?” Tanya Arsean
kepada Joshua. “Iya, sata tahu jenderal” jawab Joshua “Baiklah mari kita
kesana, tunjukan jalannya” ucap Arsean. “Baik jenderal” jawab Joshua. Merekapun
jalan ketempat Rafailah ditempatkan. Sementara itu, anak buah Gunarto yang
sedang berjaga, melihat ada dua orang yang dating dan terkejut bahwa yang
dating adalah Arsean, mereka kebingungan harus berbat apa, sedangkan tugasnya
adalah melarang siapapun masuk kecuali Gunarto. Arsean dan Joshua tepat didepan
pintu ruangan yang dijaga oleh anak buah Gunarto, “Buka pintunya” perintah
Arsean dengan nada penekanan, yang mebuat penjaga tersebut ketakutan. “Ta…ta…pi
perintah Jenderal Gunarto, bahwa siapapun tidak boleh masuk keruangan ini”
jawab salah satu penjag, “Biarkan Saya masuk, atau terpaksa Saya harus
menggunakan cara kasar, hah?” ucap Arsean dengan nada menagancam yang membuat
kedua penjaga tersebut mengeluarkan keringat dan mengusap keringat yang
meluncur melalui dahinya. Kedua penjaga tersebut saling lirik satu sama lain,
dan bingung harus berbuat apa, sebelum sesuatu yang mengerikan akan terjadi,
tiba – tiba Gunarto dating dan kemudian menyuruh anak buahnya untuk membuka
Pintunya. “buka pintunya” ucap Gunarto, semua prang yang ada disana menengok
kearah suara tersebut. “Baik jenderal” ucap anak buahnya dan pintupun
dibukanya. “Maafkan anak buahku Arsean, mereka tidak mau membukanya karena saya
yang memerintahkannya, Saya tidak mau terjadi sesuatu kepada Dr Rafailah” ucap
Gunarto sambil tersenyum dan menepuk pundak Arsean. Arsean hanya terdiam dan
hanya membalas dengan senyuman, kemudian setelah pintu dibuka Arsean masuk
kedalam, melihat pintu dibuka Rafailah berjalan kerah pintu dan terkejut
melihat siapa yang ada didepan pintu, ternyata ada Arsean disana, tanpa
menunggu lagi Rafailah berlari dan memeluk Arsean dengan erat sambil menangis.
“Kamu selamat, terma kasih ya Allah Kau terlah menyelamatkan calon suamiku”
ucap Rafailah sambil tersedu-sedu menangis, kemudian Rafailah melihat wajah
Arsean, lalu matanya menscan seluruh tubuh Arsean lalu kemudian menangis
kembali “Kenapa menangis saying?” Tanya Arsean, “Kamu kembali dengan utuh tanpa
ada satupun yang hilang, puji syukur Alhamdulillah” jawab Rafailah, mendengar
ini, hati Arsean menghangat dan melupakan sejenak kebenciannya terhadap
Gunarto. “Mari pulang, orang tua Kamu pasti sangat mengkhawatirkan Kamu” ucap
Arsean sambil berjalan keluar dari ruanga tersebut, dan sesaat kemudian
Rafailah melihat Gunarto dan menghampirinya “terima kasih jenderal telah
menjaga saya” ucap Rafailah, “sama-sama dokter” jawab Gunarto sambil tersenyum
namun dalam hatinya sangat kesal sekali dengan keadaannya yang tidak sesuai
__ADS_1
rencananya. Melihat ini Arsean dan Joshua hanya memasang muka datar, namun
dalam hati mereka sedang menahan emosi.