
Pagi hari dikediaman Dr Rafailah
berjalan seperti biasa, namun sebenarnya bahaya sedang mengintai Dr Rafailah di
luar rumah. Di sebrang jalan ada dua orang menggunakan sepeda motor sedang
memantau kediaman Dr Rafailah untuk memberi kabar temannya yang menggunakan
mobil untuk siap-siap melakukan rencana penculikan Dr Rafailah.
Sementara itu di kediaman Kolonel Hamzah, Arsean merasakan
tidak enak hati dan selalu memikirkan Dr Rafailah, “Pah, aku kok kepikiran Rafailah
terus ya, sepertinya akan terjadi hal-hal kurang mengenakan nih” imbuh Arsean.
“Kamu jika merasakan hal seperti itu, lebih baik kamu ke rumah Rafailah dan
kamu jaga dia. Karena papa juga dulu merasakan hal sama kepad mama mu, dan kamu
apa yang terjadi?” Tanya Hamzah. “apa pah?” Tanya balik Arsean. “Mama kamu di
ikuti oleh sekelompok pemuda, untung papa langsung merasakan hal-hal yang tidak
mengenakan, maka dari itu lebih baik kamu pergi sana” ucap Hamzah sambil memberi
saran kepada anaknya.
Sementara itu di kediaman Dr Rafailah. “Papi, mami. Aku jalan
dulu ya soalnya ada janji dengan pasien pagi ini.” Ucap Rafailah sambil salam
dan mencium pipi kedua orang tuanya. “Assalamualaikum” salam Rafailah. “Waalaikumsalam”
jawab kedua orang tuanya. “Hati-hati sayang, jangan ngebut bawa mobilnya” ucap Novi.
“Iya mah” jawab Rafailah.
Sementara di sebrang salah seorang mengeluarkan HP dan
memberitahu temannya yang sedang berada di luar gerbang komplek perumahan Dr Rafailah.
“Target sedang jalan keluar rumahnya, bersiap.” Perintah salah satunya. Mereka
berdua pun mengikuti Rafailah menggunakan motor dari jarak yang agak jauh
supaya tidak mencurigakan. Di saat yang sama ada 2 mobil yang sedang siap-siap
melakukan penculikan. Namun dua mobil tersebut adalah dua kawanan penjahat yang
berbeda, satunya adalah kawanan yang disewa oleh Widya, dan satunya lagi adalah
kawanan yang disewa oleh Aan.
Sementara itu, Arsean sampai di kediaman Dr Rafailah dengan
menggunakan sepeda motor. “Assalamualaikum” sapa Arsean. “Walaikumsalam” sapa Novi maminya Rafailah.
“Eh Arsean ada apa pagi-pagi begini datang kemari, mari masuk, nak” ajak Novi.
“Terima kasih Mah, Rafailahnya ada, mah?” Tanya Arsean. “Oh Rafailah sekitar
lima belas menit yang lalu berangkat, katanya ada pasien pagi ini” jawab Novi.
“Oh begitu ya mah, yasudah aku menyusul Rafailah ke RS ya” ucap Arsean sambil
pamit pergi. Sebelum melangkah jauh, Arsean sudah dipanggil oleh Papinya Rafailah.
“Arsean, mau kemana baru sampai sudah pergi lagi, nak” Tanya pak RD. “Aku mau
ketemu Rafailah pah, aku susul dulu ya Rafailah” ucap Arsean sambil mengucap
salam “Assalamualaikum”. “Walaikumsalam” ucap keduanya. “Sepertinya ada yang
tidak beres nih mah” ucap pak RD kepada Novi. “Tidak beres gimana maksudnya
pah?” Tanya Novi. “Arsean itu jenderal, dan sudah sering di zona perang. Dia
pasti punya firasat buruk yang akan terjadi dengan Rafailah, makannya dia
datang kesini untuk ketemu Rafailah namun Rafailah sudah pergi duluan. Mami
tidak lihat ekspresi Arsean sangat serius?” Tanya pak RD. “Iya mami melihatnya,
dan mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Rafailah ya” ucap Novi
Sementara itu Rafailah
sedang mengendarai mobilnya seperti hari-hari biasanya, namun setelah melihat
ke spion belakang ada kendaraan yang dari tadi selalu ada di belakangnya.
Melihat ini membuat Rafailah menjadi gugup, “siapa mereka ya?” ucap Rafailah
dan Rafailah pun mulai menambah kecepatannya memecah jalanan dipagi hari di
Bandung. Melihat Rafailah menambah kecepatannya, para tentara bayaran ini mulai
menambah kecepatannya juga dan mulai beraksi. Namun yang tidak mereka ketahui
__ADS_1
adalah ada tentara bayaran lainnya juga yang sama-sama mengincar Rafailah di
belakangnya.
Kejar-kejaran antara mobil Rafailah dan mobil tentara bayaran
tersebut menjadi tontonan warga sekitar. Rafailah ternyata sangat lihai
mengendarai mobilnya yang membuat para penjahat tersebut kewalahan dengan
aksi-aksi dari Rafailah, dan mereka pun mulai mengeluarkan senjata dan mulai
menembaki kendaraan Rafailah dan mereka membidik ban mobil Rafailah. Melihat
mobil didepan sepertinya akan melakukan hal yang sama, penjahat yang ada di
mobil belakang pun mulai beraksi namun bukan Rafailah yang menjadi target,
namun mobil penjahat didepanlah yang mereka tembaki. Karena mereka tidak mau
target mereka diambil oleh penjahat lain dan mereka tidak mendapatkan bayaran
untuk tugas ini. Melihat mobil di belakang menembaki mereka, mereka terkejut
dan langsung membalas menembaki mobil di belakangnya. “sialan siapa mereka?
Balas tembakan mereka” ucap salah satu penjahat di mobil depan. “siapa mereka
berani-beraninya ambil target kita, singkirkan mereka cepat. Saya tidak mau
target kita lolos gara-gara mereka.” Ucap panjahat di mobil belakang. Aksi
kejar-kejaran dan saling tembak membuat warga disekitar lari untuk mencari
tempat berlindung, Karena takut terkena peluru menyasar ke badan mereka.
Melihat ada dua kendaraan sedang saling balas menembak, membuat
Rafailah lebih terkejut lagi. “Siapa mereka dan apa yang mau mereka lakukan
kepada ku?” ucap Rafailah sambil mengeratkan pegangan pada stir mobilnya. Di
lain tempat, Yusuf mendengar dari radio militer bahwa ada dua kendaraan sedang
saling baku tembak, dan langsung dengan cepat melaporkannya kepada Arsean.
“Komandan, terjadi baku tembak di jalan Asia Afrika” ucap Yusuf. “Itu mereka,
kamu siapkan beberapa orang dengan 3 kendaraan untuk kesana” perintah Arsean.
“Siap laksanakan komandan” jawab Yusuf. Mendengar lokasi tersebut, Arsean
kencang kearah dimana terjadi baku tembak tersebut. Sesampainya dilokasi, Arsean
melihat ada dua kendaraan yang saling bersebrangan dan saling baku tembak, ada
beberapa yang terluka akibat terkena tembakan. “Sial, pangggil bantuan cepat”
ucap salah satu penjahat. “Bantuan sedang dalam perjalanan, kita harus bertahan
sebentar saja” jawab salah satu penjahat yang baru saja meminta bantuan kepada
Aan, Aan mendengar ini langsung mengetahui siapa yang menyuruh tentara bayaran
lainnya untuk menculik Rafailah, dia bukan lain adalah Widya anaknya sendiri.
Aan pun langsung menelpon anaknya Widya untuk meminta tentara bayarannya
menghentikan tembakan dan keluar dari rencana penculikan Rafailah. “Widya, papa
minta kamu hubungi tentara kamu untuk berhenti menembaki tentara bayaran papa,
dan biarkan papa menangkap Dr Rafailah” ucap Aan sambil menekan nada suaranya,
“Papa juga membayar tentara untuk menangkap Rafailah, kalo begitu lebih baik kerja
sama saja, dua team lebih baik daripada satu team, benar kan , pah?” jawab
Widya. “Widya, ini tidak bisa disamakan, karena tentara bayaran papa adalah
yang terbaik, lebih baik kamu suruh tentara bayaran mu untuk mundur, biar
sisanya papa yang bayar bagaimana?” imbuh Aan kepada Widya. “Tidak bisa pah, aku
sudah merencanakan untuk menghancurkan Dr centil itu tanpa harus membunuhnya,
justru papa berencana untuk mnyingkarkan Rafailah untuk selamanya, betul kan,
pah?” Tanya Widya kembali, dan Membuat Aan emosi. “Jangan harap papa akan
membiarkan duri yang akan menghancurkan rencana papa dan kelompok papa
berantakan, hanya karena ke egoisan mu, cepat menyingkir atau papa tidak akan
segan-segan membunuh semua tentara bayaran kamu!” ucap Aan sambil emosi. “silahkan
papa jalankan rencana papa, aku tetap rencana aku sebelumnya” ucap Widya sambil
menutup teleponnya. Melihat sambungan telepon terputus membuat Aan emosi.
__ADS_1
“Sial, anak kurang ajar” ucap Aan sambil emosi. “Jajang” panggil Aan kepada
salah satu anak buahnya. “Iya tuan, ada apa?” jawab Jajang. “Kamu ikut dengan
team yang lain untuk membunuh tentara bayaran yang saat ini sedang menyerang
tentara kita, ingat jangan biarkan satupun hidup dan sisanya untuk terus
mengejar Dr Rafailah, mengerti?” perintah Aan. “Siap mengerti tuan” ucap Jajang
sambil pergi dari hadapan Aan untuk melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, Arsean melihat
kondisi sekeliling dan tidak melihat ada mobil Rafailah, Ia pun menelpon Rafailah
untuk beberapa saat tidak di angkat. “Ayo sayang angkat teleponnya, kamu dimana
sekarang?” imbuh Arsean gelisah. Ia coba sekali lagi telepon dan diangkat.
Namun yang mengangkat bukanlah suara yang seharusnya di dengar oleh Arsean,
namun suara baritone yang terdengar. “Hallo jenderal Arsean, jika ingin calon
istri mu masih hidup. Jangan lapor kepada siapapun cukup kamu saja datang
sendiri. Untuk loaksinya kamu stand by saja, aku akan menghubungi mu
setelahnya.” Ucap pria tersebut dan ternyata suara itu adalah suara Ryan. “Siapa
kamu, jangan kamu sakiti Rafailah, sehelai saja rambut Rafailah kamu ambil,
nyawa kamu yang akan aku ambil” ancam Arsean. “uhhh…aku takut sekali mendengar
ancaman mu, justru yang aku takuti adalah kamu tidak akan pernah bertemu dan
menikahi calon istri mu ini yang sangat cantik, ha…ha..ha…” ucap Ryan sambil
menutup telepon dan langsung tidak mengaktifkan teleponnya. Melihat ini membuat
Arsean gelisah. “Sial, siapapun kamu berani menyakiti Rafailah tidak akan pernah
aku maafkan” ucap Arsean sambil Emosi, jika anak buahnya melihat ini sudah
pasti mereka akan ketakutan. Siapa yang berani membangunkan singa yang sedang
tertidur itu.
Bagaimana Rafailah bisa tertangkap oleh Ryan?
***
Begini ceritanya. Sebenarnya
Ryan membawa tiga orang elite di militernya untuk ikut dengannya, di saat terjadi
kejar-kejaran dan baku tembak antara kedua kelompok tentara bayaran tersebut, Rafailah
berhasil meloloskan diri dari kejaran mereka, namun di saat yang bersamaan di
saat Rafailah mengurangi kecepatannya, mobil Rafailah di tabrak dari belakang
oleh Ryan dan membuat mobil yang dikendarai oleh Rafailah oleng dan membentur
pembatas jalan. Di saat itulah anak buah Ryan menangkap Rafailah. Kepala Rafailah
ditutup dengan kain hitam. Sesaat kemudian panggilan telepon masuk dari Arsean,
dan Ryan pun tersenyum sambil mengangkat telepon tersebut. “Hallo jenderal Arsean,
jika ingin calon istri mu masih hidup. Jangan lapor kepada siapapun cukup kamu
saja datang sendiri. Untuk lokasinya kamu stand by saja, aku akan menghubungi
mu setelahnya.” Ucap Ryan.
Setelah itu, Ryan membawa Rafailah
pergi entah kemana. Di saat sedang tertangkap oleh penjahat, Rafailah berusaha
untuk tenang dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Namun dalam hatinya Ia
sangatlah ketakutan. Disaat bersamaan, Arsean menemukan mobil Rafailah, namun
tidak dengan Rafailah karena sepuluh menit yang lalu, Ryan baru saja
meninggalkan lokasi yang saat ini Arsean berada. “Sial aku telat” ucap Arsean
emosi sambil memukul mobil Rafailah. Di saat itu pula Arsean teringat akan
kalung yang pernah Ia berikan, di kalung tersebut terdapat alat GPS yang akan
memungkinkan mengetahui lokasi Rafailah saat ini berada. Begitu ingat itu, Arsean
menelpon Yusuf. “Halo Yusuf, bisakah kita bertemu di markas sekarang?” Tanya Arsean.
“Siap komandan bisa” jawab Yusuf.
__ADS_1