JENDERAL HAMZAH

JENDERAL HAMZAH
BAB 14 RENCANA PENCULIKAN RAFAILAH


__ADS_3

Pagi hari dikediaman Dr Rafailah


berjalan seperti biasa, namun sebenarnya bahaya sedang mengintai Dr Rafailah di


luar rumah. Di sebrang jalan ada dua orang menggunakan sepeda motor sedang


memantau kediaman Dr Rafailah untuk memberi kabar temannya yang menggunakan


mobil untuk siap-siap melakukan rencana penculikan Dr Rafailah.


      Sementara itu di kediaman Kolonel Hamzah, Arsean merasakan


tidak enak hati dan selalu memikirkan Dr Rafailah, “Pah, aku kok kepikiran Rafailah


terus ya, sepertinya akan terjadi hal-hal kurang mengenakan nih” imbuh Arsean.


“Kamu jika merasakan hal seperti itu, lebih baik kamu ke rumah Rafailah dan


kamu jaga dia. Karena papa juga dulu merasakan hal sama kepad mama mu, dan kamu


apa yang terjadi?” Tanya Hamzah. “apa pah?” Tanya balik Arsean. “Mama kamu di


ikuti oleh sekelompok pemuda, untung papa langsung merasakan hal-hal yang tidak


mengenakan, maka dari itu lebih baik kamu pergi sana” ucap Hamzah sambil memberi


saran kepada anaknya.


      Sementara itu di kediaman Dr Rafailah. “Papi, mami. Aku jalan


dulu ya soalnya ada janji dengan pasien pagi ini.” Ucap Rafailah sambil salam


dan mencium pipi kedua orang tuanya. “Assalamualaikum” salam Rafailah. “Waalaikumsalam”


jawab kedua orang tuanya. “Hati-hati sayang, jangan ngebut bawa mobilnya” ucap Novi.


“Iya mah” jawab Rafailah.


      Sementara di sebrang salah seorang mengeluarkan HP dan


memberitahu temannya yang sedang berada di luar gerbang komplek perumahan Dr Rafailah.


“Target sedang jalan keluar rumahnya, bersiap.” Perintah salah satunya. Mereka


berdua pun mengikuti Rafailah menggunakan motor dari jarak yang agak jauh


supaya tidak mencurigakan. Di saat yang sama ada 2 mobil yang sedang siap-siap


melakukan penculikan. Namun dua mobil tersebut adalah dua kawanan penjahat yang


berbeda, satunya adalah kawanan yang disewa oleh Widya, dan satunya lagi adalah


kawanan yang disewa oleh Aan.


      Sementara itu, Arsean sampai di kediaman Dr Rafailah dengan


menggunakan sepeda motor. “Assalamualaikum” sapa Arsean.  “Walaikumsalam” sapa Novi maminya Rafailah.


“Eh Arsean ada apa pagi-pagi begini datang kemari, mari masuk, nak” ajak Novi.


“Terima kasih Mah, Rafailahnya ada, mah?” Tanya Arsean. “Oh Rafailah sekitar


lima belas menit yang lalu berangkat, katanya ada pasien pagi ini” jawab Novi.


“Oh begitu ya mah, yasudah aku menyusul Rafailah ke RS ya” ucap Arsean sambil


pamit pergi. Sebelum melangkah jauh, Arsean sudah dipanggil oleh Papinya Rafailah.


“Arsean, mau kemana baru sampai sudah pergi lagi, nak” Tanya pak RD. “Aku mau


ketemu Rafailah pah, aku susul dulu ya Rafailah” ucap Arsean sambil mengucap


salam “Assalamualaikum”. “Walaikumsalam” ucap keduanya. “Sepertinya ada yang


tidak beres nih mah” ucap pak RD kepada Novi. “Tidak beres gimana maksudnya


pah?” Tanya Novi. “Arsean itu jenderal, dan sudah sering di zona perang. Dia


pasti punya firasat buruk yang akan terjadi dengan Rafailah, makannya dia


datang kesini untuk ketemu Rafailah namun Rafailah sudah pergi duluan. Mami


tidak lihat ekspresi Arsean sangat serius?” Tanya pak RD. “Iya mami melihatnya,


dan mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Rafailah ya” ucap Novi


Sementara itu Rafailah


sedang mengendarai mobilnya seperti hari-hari biasanya, namun setelah melihat


ke spion belakang ada kendaraan yang dari tadi selalu ada di belakangnya.


Melihat ini membuat Rafailah menjadi gugup, “siapa mereka ya?” ucap Rafailah


dan Rafailah pun mulai menambah kecepatannya memecah jalanan dipagi hari di


Bandung. Melihat Rafailah menambah kecepatannya, para tentara bayaran ini mulai


menambah kecepatannya juga dan mulai beraksi. Namun yang tidak mereka ketahui

__ADS_1


adalah ada tentara bayaran lainnya juga yang sama-sama mengincar Rafailah di


belakangnya.


      Kejar-kejaran antara mobil Rafailah dan mobil tentara bayaran


tersebut menjadi tontonan warga sekitar. Rafailah ternyata sangat lihai


mengendarai mobilnya yang membuat para penjahat tersebut kewalahan dengan


aksi-aksi dari Rafailah, dan mereka pun mulai mengeluarkan senjata dan mulai


menembaki kendaraan Rafailah dan mereka membidik ban mobil Rafailah. Melihat


mobil didepan sepertinya akan melakukan hal yang sama, penjahat yang ada di


mobil belakang pun mulai beraksi namun bukan Rafailah yang menjadi target,


namun mobil penjahat didepanlah yang mereka tembaki. Karena mereka tidak mau


target mereka diambil oleh penjahat lain dan mereka tidak mendapatkan bayaran


untuk tugas ini. Melihat mobil di belakang menembaki mereka, mereka terkejut


dan langsung membalas menembaki mobil di belakangnya. “sialan siapa mereka?


Balas tembakan mereka” ucap salah satu penjahat di mobil depan. “siapa mereka


berani-beraninya ambil target kita, singkirkan mereka cepat. Saya tidak mau


target kita lolos gara-gara mereka.” Ucap panjahat di mobil belakang. Aksi


kejar-kejaran dan saling tembak membuat warga disekitar lari untuk mencari


tempat berlindung, Karena takut terkena peluru menyasar ke badan mereka.


      Melihat ada dua kendaraan sedang saling balas menembak, membuat


Rafailah lebih terkejut lagi. “Siapa mereka dan apa yang mau mereka lakukan


kepada ku?” ucap Rafailah sambil mengeratkan pegangan pada stir mobilnya. Di


lain tempat, Yusuf mendengar dari radio militer bahwa ada dua kendaraan sedang


saling baku tembak, dan langsung dengan cepat melaporkannya kepada Arsean.


“Komandan, terjadi baku tembak di jalan Asia Afrika” ucap Yusuf. “Itu mereka,


kamu siapkan beberapa orang dengan 3 kendaraan untuk kesana” perintah Arsean.


“Siap laksanakan komandan” jawab Yusuf. Mendengar lokasi tersebut, Arsean


kencang kearah dimana terjadi baku tembak tersebut. Sesampainya dilokasi, Arsean


melihat ada dua kendaraan yang saling bersebrangan dan saling baku tembak, ada


beberapa yang terluka akibat terkena tembakan. “Sial, pangggil bantuan cepat”


ucap salah satu penjahat. “Bantuan sedang dalam perjalanan, kita harus bertahan


sebentar saja” jawab salah satu penjahat yang baru saja meminta bantuan kepada


Aan, Aan mendengar ini langsung mengetahui siapa yang menyuruh tentara bayaran


lainnya untuk menculik Rafailah, dia bukan lain adalah Widya anaknya sendiri.


Aan pun langsung menelpon anaknya Widya untuk meminta tentara bayarannya


menghentikan tembakan dan keluar dari rencana penculikan Rafailah. “Widya, papa


minta kamu hubungi tentara kamu untuk berhenti menembaki tentara bayaran papa,


dan biarkan papa menangkap Dr Rafailah” ucap Aan sambil menekan nada suaranya,


“Papa juga membayar tentara untuk menangkap Rafailah, kalo begitu lebih baik kerja


sama saja, dua team lebih baik daripada satu team, benar kan , pah?” jawab


Widya. “Widya, ini tidak bisa disamakan, karena tentara bayaran papa adalah


yang terbaik, lebih baik kamu suruh tentara bayaran mu untuk mundur, biar


sisanya papa yang bayar bagaimana?” imbuh Aan kepada Widya. “Tidak bisa pah, aku


sudah merencanakan untuk menghancurkan Dr centil itu tanpa harus membunuhnya,


justru papa berencana untuk mnyingkarkan Rafailah untuk selamanya, betul kan,


pah?” Tanya Widya kembali, dan Membuat Aan emosi. “Jangan harap papa akan


membiarkan duri yang akan menghancurkan rencana papa dan kelompok papa


berantakan, hanya karena ke egoisan mu, cepat menyingkir atau papa tidak akan


segan-segan membunuh semua tentara bayaran kamu!” ucap Aan sambil emosi. “silahkan


papa jalankan rencana papa, aku tetap rencana aku sebelumnya” ucap Widya sambil


menutup teleponnya. Melihat sambungan telepon terputus membuat Aan emosi.

__ADS_1


“Sial, anak kurang ajar” ucap Aan sambil emosi. “Jajang” panggil Aan kepada


salah satu anak buahnya. “Iya tuan, ada apa?” jawab Jajang. “Kamu ikut dengan


team yang lain untuk membunuh tentara bayaran yang saat ini sedang menyerang


tentara kita, ingat jangan biarkan satupun hidup dan sisanya untuk terus


mengejar Dr Rafailah, mengerti?” perintah Aan. “Siap mengerti tuan” ucap Jajang


sambil pergi dari hadapan Aan untuk melaksanakan tugasnya.


      Sementara itu, Arsean melihat


kondisi sekeliling dan tidak melihat ada mobil Rafailah, Ia pun menelpon Rafailah


untuk beberapa saat tidak di angkat. “Ayo sayang angkat teleponnya, kamu dimana


sekarang?” imbuh Arsean gelisah. Ia coba sekali lagi telepon dan diangkat.


Namun yang mengangkat bukanlah suara yang seharusnya di dengar oleh Arsean,


namun suara baritone yang terdengar. “Hallo jenderal Arsean, jika ingin calon


istri mu masih hidup. Jangan lapor kepada siapapun cukup kamu saja datang


sendiri. Untuk loaksinya kamu stand by saja, aku akan menghubungi mu


setelahnya.” Ucap pria tersebut dan ternyata suara itu adalah suara Ryan. “Siapa


kamu, jangan kamu sakiti Rafailah, sehelai saja rambut Rafailah kamu ambil,


nyawa kamu yang akan aku ambil” ancam Arsean. “uhhh…aku takut sekali mendengar


ancaman mu, justru yang aku takuti adalah kamu tidak akan pernah bertemu dan


menikahi calon istri mu ini yang sangat cantik, ha…ha..ha…” ucap Ryan sambil


menutup telepon dan langsung tidak mengaktifkan teleponnya. Melihat ini membuat


Arsean gelisah. “Sial, siapapun kamu berani menyakiti Rafailah tidak akan pernah


aku maafkan” ucap Arsean sambil Emosi, jika anak buahnya melihat ini sudah


pasti mereka akan ketakutan. Siapa yang berani membangunkan singa yang sedang


tertidur itu.


      Bagaimana Rafailah bisa tertangkap oleh Ryan?


***


Begini ceritanya. Sebenarnya


Ryan membawa tiga orang elite di militernya untuk ikut dengannya, di saat terjadi


kejar-kejaran dan baku tembak antara kedua kelompok tentara bayaran tersebut, Rafailah


berhasil meloloskan diri dari kejaran mereka, namun di saat yang bersamaan di


saat Rafailah mengurangi kecepatannya, mobil Rafailah di tabrak dari belakang


oleh Ryan dan membuat mobil yang dikendarai oleh Rafailah oleng dan membentur


pembatas jalan. Di saat itulah anak buah Ryan menangkap Rafailah. Kepala Rafailah


ditutup dengan kain hitam. Sesaat kemudian panggilan telepon masuk dari Arsean,


dan Ryan pun tersenyum sambil mengangkat telepon tersebut. “Hallo jenderal Arsean,


jika ingin calon istri mu masih hidup. Jangan lapor kepada siapapun cukup kamu


saja datang sendiri. Untuk lokasinya kamu stand by saja, aku akan menghubungi


mu setelahnya.” Ucap Ryan.


Setelah itu, Ryan membawa Rafailah


pergi entah kemana. Di saat sedang tertangkap oleh penjahat, Rafailah berusaha


untuk tenang dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Namun dalam hatinya Ia


sangatlah ketakutan. Disaat bersamaan, Arsean menemukan mobil Rafailah, namun


tidak dengan Rafailah karena sepuluh menit yang lalu, Ryan baru saja


meninggalkan lokasi yang saat ini Arsean berada. “Sial aku telat” ucap Arsean


emosi sambil memukul mobil Rafailah. Di saat itu pula Arsean teringat akan


kalung yang pernah Ia berikan, di kalung tersebut terdapat alat GPS yang akan


memungkinkan mengetahui lokasi Rafailah saat ini berada. Begitu ingat itu, Arsean


menelpon Yusuf. “Halo Yusuf, bisakah kita bertemu di markas sekarang?” Tanya Arsean.


“Siap komandan bisa” jawab Yusuf.


__ADS_1


__ADS_2