
Seharian ini Pak Prapto hanya membalik-balik berkas pembunuhan Pak Misnanto. Ia sibuk membaca ulang isi di dalam berkas itu. Kepalanya pusing karena ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di berkas tersebut. Namun, suara hati polisi senior itu terus saja mengatakan bahwa masih ada misteri yang belum terpecahkan dalam kasus pembunuhan Pak Misnanto. Kemudian Pak Prapto memegang fotokopi identitas pelaku yang ia peroleh dari dinas kependudukan setempat.
Dengan berbekal alamat yang ada di fotokopi KTP Mang Dirin, polisi tersebut pun berangkat menuju rumah Mang Dirin setelah ia pulang dari kantor. Rumah Mang Dirin letaknya cukup jauh jaraknya dari kantor. Setelah tanya sana dan tanya sini, akhirnya Pak Prapto pun sampai di sebuah rumah tua yang cukup sederhana. Dari tampilan luar rumah tersebut sepertinya rumah tersebut tidak cukup terawat.
Tok Tok Tok!
“Assalamualaikum …”
Tidak ada sahutan.
Tok Tok Tok!
“Assalamualaikum …”
“Kok seperti nggak ada orangnya, ya? Atau jangan-jangan rumah ini memang sudah lama tidak dihuni? Aku coba sekali saja ketuk pintunya. Kalau tetap tidak ada yang menyahut, mungkin sebaiknya aku bertanya kepada salah satu penduduk sekitar.”
Tok Tok Tok!
“Assalamualaikum …”
Masih tidak ada sahutan. Namun, kali ini Pak Prapto seperti mendengar suara langkah dari arah belakangnya. Suaranya agak bikin merinding juga karena rumah yang sedang ia kunjungi itu letaknya agak terpisah dari rumah yang lain. Begitu suara langkah kaki itu berhenti, Pak Prapto memberanikan diri berbalik badan.
__ADS_1
“Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya, Pak!” ucap seorang ibu yang usianya hampir sama dengan Pak Prapto.
“Oh ya? Ke mana mereka pergi, Bu?”
Ibu tersebut menatap nanar ke arah Pak Prapto. Cukup lama Pak Prapto menunggu jawaban dari perempuan tersebut sebelum akhirnya perempuan itu berkata.
“Ceritanya panjang, Pak! Sebaiknya Bapak segera pulang sebelum petang.”
“Saya punya cukup banyak waktu untuk mendengarkan cerita Ibu.”
“Sudahlah! Sebaiknya Bapak segera pulang saja!” Perempuan itu membalikkan badannya dan berniat meninggalkan Pak Prapto.
“Tolong, Bu! Saya adalah polisi yang menangani kasus pembunuhan yang melibatkan Mang Dirin sebagai pelakunya. Selama beberapa hari ini saya tidak bisa tidur nyenyak karena kepikiran dengan kasus tersebut. Saya ingin mengungkap kasus ini sejelas mungkin. Tolong bantu saya, Bu!” Pak Prapto berdiri di depan perempuan itu.
Perempuan itu menatap wajah Pak Prapto dengan cukup dalam. Ia seperti sedang mengamati raut wajah pria di depannya. Dengan wajah yang terlihat ketus perempuan itu pun mengambil ruang kosong di sebelah Pak Prapto untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah tua tersebut.
“Ikut saya!” bisik perempuan yang menggunakan baju model kebaya tersebut.
Rona kebahagiaan terpancar di wajah Pak Prapto karena mendapatkan undangan dari perempuan itu. Pak Prapto sangat berharap banyak bahwa ia akan mendapatkan banyak info tentang Mang Dirin dari perempuan itu. Ia pun bersegera menyusul langkah perempuan itu.
Ternyata perempuan itu mengajak Pak Prapto berjalan ke rumahnya. Rumah perempuan itu letaknya di depan rumah tua itu. Namun kedua rumah itu dipisahkan oleh jalan desa. Di antara rumah-rumah yang lain, rumah perempuan itu lah yang letaknya paling dekat dengan rumah Mang Dirin.
__ADS_1
“Silakan duduk!”
“Terima kasih”
Pak Prapto duduk di ruang tamu sederhana yang ada di rumah perempuan itu. Setelah itu perempuan itu masuk ke ruang belakang. Di sebelah ruang tamu tu terdapat kaca yang ukurannya cukup lebar. Pak Prapto melihat perempuan itu sedang berbicara dengan perempuan muda. Mungkin itu adalah anak perempuan itu. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka, Pak Prapto tidak dapat mendengarnya. Setelah berbicara dengan perempuan muda itu, perempuan itu kembali masuk ke dalam rumahnya dan muncul kembali di ruang tamu mendatangi Pak Prapto yang terlihat kebingungan.
“Saya tinggal bertiga dengan anak dan cucu saya,” ucap perempuan itu membuka pembicaraan sambil duduk disalah satu kursi kayu.
“Perkenalkan nama saya Prapto. Kalau boleh tahu nama Ibu siapa?”
“Nama saya Rodiah. Tapi, orang-orang biasa memanggil saya Bu Yati.”
“Mohon maaf! Apa itu karena Yati adalah nama anak Ibu?”
“Ya, begitulah. Sambil menunggu teh yang akan dibuat oleh anak saya, silakan Pak Prapto mau tanya apa saja tentang Mang Dirin?”
Pak Prapto merasa ada angin segar yang tibatiba bertiup ketika Bu Yati menawarkan hal itu. Entah kenapa ia merasa keterangan dari perempuan itu akan sangat banyak membantu penyelidikannya terhadap kasus pembunuhan Pak Misnanto yang sedang ia tangani.
Sementara Pak Prapto mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia utarakan kepada Bu Yati, anak perempuan Bu Yati sedang menuangkan kristal berwarna putih ke cairan berwarna kuning kecoklatan yang baru saja ia buat. Setelah itu perempuan bernama Yati itu pun membawa minuman panas itu ke ruang tamu dengan menggunakan nampan usang yang terbuat dari plastik.
BERSAMBUNG
__ADS_1