JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
SAPU BERSIH


__ADS_3

Sementara itu di dalam terminal terlihat beberapa orang sedang berkeliling terminal dengan ekspresi wajah penuh amarah. Di antara orang-orang itu terdapat anak yang rambutnya agak panjang yang tadi sempat mau memalak Imran dan Bondan. Hanya dia sendirian yang berada bersama bapak-bapak yang lagaknya seperti preman pasar itu. Dua temannya tidak ikut. Mungkin sedang mengobati lebamnya karena dihajar oleh Bondan.


“Seperti apa orang yang berani menghajarmu?” teriak pria yang biasa dipanggil Tarjo oleh warga di sekitar terminal sambil matanya melotot mencari batang hidung pemuda yang sedang mereka cari.


“Anu, Pak. Yang satu tinggi besar yang satunya biasa saja. Keduanya pakai seragam SMU 14,” jawab anaknya dengan sedikit terbata-bata.


“Ooooo … Anak SMU 14. Kalau tidak ketemu di sini biar besok kita datangi saja sekolahnya. Berani-Beraninya mereka menghajar anaknya Si Tarjo!” teriak Tarjo jumawa.


“Iya, Kang. Si Asep juga sampai babak belur begitu. Ibunya sampai histeris nggak tega melihatnya. Kalau sampai aku ketemu dengan orang yang menghajar anakku itu, tidak akan aku kasih ampun!” sahut temannya yang agak kurus.


“Karyo … Karyo … Anakmu itu babak belur atau enggak kayaknya susah dibedakan. Maklum wajahnya kan nggak jauh beda sama bapaknya. Amburadul!” ledek Tarjo.


“Jangan gitu, Kang! Jelek-Jelek begini, aku kan pengikut paling setia Kang Tarjo!” rengek Karyo.


“Maaf, aku cuma bercanda barusan. Nggak usah diambil hati. Oh ya, anakmu gimana Darno?”


“Duh! Ancur mukanya, Kang! Ngga tega aku ngelihatnya pokoknya. Tadi sudah langsung ditangani ibunya. Tolong Kang carikan pelakunya sampai ketemu ntar mau aku hajar orang yang berani melukai anakku!”


“Yakin kamu bisa, Darno? Lah, badanmu kurus kayak gitu, apa ya bisa kamu ngelawan orang yang menghajar anakmu? Lah wong anakmu yang badannya lumayan berisi saja kalah sama orang itu.”


“Kan ada Kang Tarjo yang akan membantuku?”


“Dasar, pentol korek! Ya sudah, sekarang kita sapu bersih terminal ini. Kita cari anak dengan ciri-ciri yang diceritakan oleh anakku barusan! Paham!”


“Paham, Kang!” mereka menjawab dengan kompak.

__ADS_1


Semua orang itu pun berpencar untuk mencari dua orang pemuda yang telah menghajar anak-anak mereka. Namun, meskipun sudah berkeliling ke seluruh penjuru terminal, dua orang yang mereka cari tak kunjung ditemukan. Malah, mereka beberapa kali hampir salah orang. Yang pertama Karyo dan beberapa temannya hampir mengeroyok dua orang pemuda yang menggunakan seragam SMU 14. Ternyata dia salah orang. Salah satu dari dua pemuda itu ternyata agak kemayu. Bukannya mereka yang mengeroyok pemuda itu, malah Karyo dikejar-kejar oleh anak yang kemayu itu sehingga dia lari terbirit-birit.


“Sini kamu! Nakal kamu, ya? Sini kalau berani pukul aku! Beraninya sama perem …. Eh … lekong!” teriak anak yang kemayu itu dengan kenesnya.


“Kenapa kamu lari, Karyo? Sikat!” ledek teman Karyo.


“Hiiiii … geli aku …,” sahut Karyo sambil buru-buru menjauh dari tempat itu.


Sementara itu Darno juga hampir salah sasaran. Waktu itu dia dan rombongannya melihat ada dua anak menggunakan seragam yang ia kira bertuliskan SMK 14. Ciri-Ciri kedua anak itu hampir sama dengan yang diceritakan oleh anaknya Tarjo. Salah satu anak berbadan tinggi besar dan satu anak lainnya berbadan sedang-sedang saja serta cukup ganteng. Tanpa ba-bi-bu, Darno langsung saja memegangi kerah baju anak yang badannya lebih kecil. Dengan ekspresi ala-ala mafia korea, Darno yang berbadan kurus itu pun berkata dengan nada mengancam pada anak tersebut.


“Heh … Berani-Beraninya kamu menghajar anakku di wilayah kekuasaanku ini? Kamu mau jadi jagoan di sini, ya?”


“Maksud Kakek apa? Saya tidak paham,” sahut anak itu dengan ekspresi kebigungan.


“Kakek … Kakek … Saya masih muda begini kamu panggil kakek!” Darno marah karena dipanggil ‘Kakek’ oleh anak itu.


“Kurang ajar kamu, ya? Emangnya tampangku kayak tukang cilok makanya kamu panggil ‘Mamang’? Panggil saya Mas atau Kakak saja!”


Salah satu teman Darno membisiki telinga pria kurus itu.


“Maaf, Darno! Penampilan kamu memang mirip kayak pedagang cilok. Jadi, biarkan saja anak itumanggil kamu ‘Mamang’ biar urusannya cepat selesai.”


“Oooo begitu? Ya sudah …”


Suara percakapan mereka berdua didengar oleh anak itu.

__ADS_1


“Tolong lepaskan saya! Saya tidak paham dengan maksud kalian ini. Saya baru datang ke terminal ini dari kota sebelah untuk mengadakan sparing dengan rival kami di sini. Tiba-Tiba kalian ini datang dan menunduh saya dengan sesuatu yangsaya tidak mengerti. Coba jelaskan kepada saya! Kalian mencari siapa?” Pemuda itu berbicara dengan santainya.


“Hm … Kamu nggak usah berpura-pura, Bocah! Kamu dan temanmu ini anak SMA 14 yang tadi menghajar anak-anak sini, kan?” teriak Darno.


“SMA 14?” pemuda itu menggumam sambil melirik ke arah temannya yang badannya tinggi besar dan berotot.


Tidak ada yang berani memegangi teman pemuda itu. Apalagi sampai menarik kerah bajunya. Hanya dua orang yang sedang berdiri di sebelah temannya itu dengan ekspresi takut, tapi tangan mereka dengan ragu-ragu seperti mau memegangi temanny itu, tapi takut karena kalah besar badannya.


“Mamang ini tahu, nggak? Kami berdua dan teman kami yang satu bus itu bukan anak SMA 14, tapi kami ini anak SMK 14 dari kota sebelah! Tahu kan anak SMK 14 kota sebelah?” pemuda itu berkata dengan nada melotot dan memperlihatkan teman-temannya di dalam bus yang sedang menatap ke arah mereka.


Darno dan teman-temannya menoleh ke arah bus dan mereka langsung terkejut karena bus itu penuh dengan anak-anak berbadan besar layaknya binaragawan. Terlebih ia memeriksa kembali lokasi di lengan pemuda yang ada di depannya. Ternyata benar, pemuda itu tidak berasal dari SMA 14, melainkan dari SMK 14 kota sebelah. Mereka tahu betul bahwa anak-anak SMK 14 kota sebelah terkenal dengan prestasinya dibidang olah raga angkat besi, tinju, karate, dan juga silat. Wajah Darno dan teman-temannya langsung ciut seketika begitu menyadari kekeliruan yang sudah mereka perbuat saat itu.


Darno hanya punya waktu beberapa detik untuk berpikir agar ia dan teman-temannya bisa selamat dari pemuda-pemuda istmewa itu.


“M-m-maaf ya, Dik … Eh … Mas … Se-benarnya kami ini anggota theater yang sedang melakukan latihan di sekitar sini. Kami ini sudah tahu kalau kalian ini anak SMK 14 yang terkenal keren itu. Makanya kami sengaja mau menguji mental kami gitu kalau tampil di depan kalian. Dan ternyata kalian ini memang anak-anak yang luar biasa, ya? Selain jago olah raga kalian juga jago akting. Iya, kan?” rayu Darno dengan gaya kemayu.


“Tapi, kami tidak sedang berakting,” sahut pemuda yang badannya besar itu.


“M-m-maafkan kami sudah mengganggu kalian berdua, ya? Biar kami mencari orang yang lain saja untuk beradu akting. Kami doakan acara kalian sukses di sini.” Darno kembali berlagak kemayu.


“Kalian sudah membuat kami marah.” Pemuda itu berkata dengan nada tinggi.


“M-maafkan kami, Mas .. Kak … Kami ini hanya pria-pria tua yang hanya bekerja menjadi penghibur untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ampuni kami, Kak?” Darno bersujud di kaki kedua pemuda itu.


Teman-Teman Darno juga ikutan bersujud di kaki kedua pemuda itu. Kedua pemuda itu lama tidak bereaksi. Darno terus saja memohon kepada kedua pemuda itu untuk dimaafkan. Sementara kedua pemuda itu cengangas-cengenges melihat aksi konyol mereka. Tanpa sepengetahuan Darno dan kawan-kawannya mereka diam-diam pergi meninggalkan bapak-bapak itu karena bus mereka sudah bersiap melanjutkan perjalanan. Alhasil, aksi Darno dan kawan-kawan yang sujud di depan tong sampah itu menjadi bahan tertawaan seluruh pengunjung terminal sore itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2