JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
PERTEMUAN


__ADS_3

Siang itu Pak Prapto mendatangi SMUN 14 untuk mengumpulkan bukti-bukti tambahan. Ia sudah berencana untuk menemui Pak Rudi untuk meminta ijin agar bisa melakukan pemeriksaan di ruang arsip. Namun, saat pria itu baru saja keluar dari mobilnya di parkiran, tiba-tiba ada suara seseorang sedang memanggilnya.


“Pak Prapto!”


Pria itu pun menoleh ke arah sumber suara. Dengan mata tuanya ia pun berusaha memusatkan penglihatannya ke arah seseorang yang sedang berdiri di depan ruang Satpam.


“Imran?” suara yang keluar dari mulut Pak Prapto secara spontan.


Remaja itu pun berlari ke arah Pak Prapto dengan penuh semangat. Pak Prapto pun melempar senyuman manisnya terhadap remaja itu. Imran pun langsung menjabat tangan dan mencium punggung tangan Pak Prapto dengan penuh rasa hormat.


“Bagaima kabarmu, Im?”


“Alhamdulillah, saya sehat, Pak. Pak Prapto ngapain ke sini?”


“Saya mau ketemu Pak Rudi, Im.”


“Ketemu Pak Rudi? Mau ngapain?”


“Hm … Saya mau mencari bukti-bukti tambahan di lokasi penemuan mayat Pak Misnanto.”


“Hm … bukankah sidangnya sudah mau selesai? Kenapa baru sekarang Pak Prapto mau mencari bukti tambahan?”


“Ceritanya panjang, Im. Intinya saya merasa masih ada yang janggal dengan kasus ini.”


“Janggal?” Imran nampak berpikir keras mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Pak Prapto. Remaja itu jadi teringat dengan beberapa hal yang ia temukan selama mengungkap kasus Pak Misnanto.


“Loh, kok malah ngelamun kamu? Pak Rudi kira-kira ada nggak, ya?” Pak Prapto menegur Imran dengan mengelus kepala remaja itu.


“Hm … sepertinya kalau hari Sabtu begini Pak Rudi jarang ada di kantor, Pak. Sepertinya ada agenda pertemuan dengan kepala-kepala sekolah yang lain di luar.”


“Kamu yakin setiap hari Sabtu beliau keluar?”


“Tidak setiap hari Sabtu sih. Tapi, pertemuan itu dilaksanakan hari Sabtu. Ya, semoga hari ini beliau ada di ruangannya.”


“Antar aku ke sana, ya?”


“Siap, Pak!”


Imran pun mengantar Pak Prapto menuju ruangan kepala sekolah. Mereka berjalan beriringan sambil bercengkrama.


“Im, di mana Bondan dan Indah?”

__ADS_1


“Mereka masih di kelasnya, Pak. Maklum mereka berdua kan anak OSIS seksi kesenian jadi sibuk dengan kegiatan pentas seni yang akan diadakan minggu depan.”


“Loh, kamu nggak ikut jadi pengurus OSIS? Bukankah waktu SMP kamu sibuk di OSIS juga?”


“Saya juga ikut, Pak. Cuma untuk kegiatan pentas seni ini yang paling banyak berperan ya mereka berdua.”


“Oalah! Baguslah kalau begitu. Ngomong-Ngomong masih jauh nggak nih ruangan Pak Rudi?”


“Sudah dekat kok. Tuh yang letaknya di pojok!”


“Oke …”


Akhirnya sampailah mereka berdua di depan ruangan Pak Rudi. Pak Prapto langsung mengetuk pintu ruangan tersebut sambil mengucap salam. Namun, tidak ada suara sahutan dari dalam ruangan.


“Kok nggak ada sahutan ya, Im? Jangan-Jangan hari ini Pak Rudi memang sedang ada kegiatan di luar sekolah?”


Imran tidak menyahut. Ia langsung berusaha memutar gagang pintu ruangan tersebut dan ternyata ruangan tersebut terkunci.


“Pak, kayaknya Pak Rudi tidak ada di dalam ruangan ini. Oh ya, tadi ketika Pak Prapto memarkir mobil di parkiran apakah ada mobil berwarna hitam yang parkir di sana?”


“Hm … seingat saya nggak ada, Im.”


“Hm … bisa dipastikan kalau memang Pak Rudi sedang tugas di luar sekolah hari ini, Pak.”


“Pak Prapto sedang memikirkan sesuatu ya tentang kasus tersebut?” Imran berusaha mengulik apa yang ada di pikiran Pak Prapto.


Pak Prapto menatap dalam-dalam wajah remaja di depannya.


“Iya, Im. Akkir-Akhir ini pikiran saya tidak tenang. Saya benar-benar khawatir kalau sampai kasus Pak Misnanto ini belum benar-benar tuntas karena sebentar lagi saya akan pensiun.”


“Loh, masa Pak Prapto sudah mau pensiun? Bapak kan masih tidak terlalu tua?”


“Lah,itu kan katamu Im? Pemerintah punya aturan tersendiri khususnya di divisi saya ini. Terlebih, dokter sudah memvonis bahwa ada sedikit kerusakan di bagian otak saya yang mengharuskan saya harus mengajukan pensiun beberapa tahun lebih awal.”


“Loh, Pak Prapto kenapa? Kepolisian masih membutuhkan tenaga dan pikiran polisi baik dan handal seperti Bapak.”


“Dulu, sewaktu menangani kasus Narkoba, kepala saya terbentur sesuatu saat membekuk gembong Narkoba itu. Saya pikir tidak ada yang berbahaya dengan hal tersebut sebelum akhirnya beberapa bulan setelah kejadian itu kepala saya kadang-kadang merasa pusing yang amat sangat. Setelah diperiksa dan dirontgen oleh dokter, ternyata ada cedera kecil di salah satu bagian otak saya. Akhirnya sejak saat itu dokter berupaya untuk memulihkan kondisi otak saya itu.”


“Terus, dokter bisa kan menyembuhkan cedera itu?”


“Syukurlah, Im. Berkat kerja keras dokter dan pertolongan Allah SWT, cedera di kepala saya tersebut bisa sembuh seperti sedia kala.”

__ADS_1


“Alhamdulillah …”


“Tapi, dokter berpesan kepada saya bahwa saya tidak boleh terlalu memforsir kerja otak saya karena cedera itu menyisakan trauma di bagian otak tersebut. Dokter kemudian menyarankan saya untuk mengajukan pensiun dini.”


“Ya Allah … saya turut sedih mendengarnya, Pak. Kepolisian pasti akan sangat kehilangan sosok polisi seperti Pak Prapto.”


“Tidak, Im. Sebelum pensiun saya sudah banyak mengajarkan anak-anak buah saya yang masih muda agar bisa menggantikan posisi saya. Mereka lebih hebat dan cekatan daripada saya.”


“Saya kagum sama Pak Prapto.”


“Makanya kamu sekolah yang rajin, ya? Biar nanti bisa jadi polisi juga dan melindungi masyarakat.”


“Kayaknya nggak mungkin deh saya jadi polisi?”


“Lah kenapa? Setiap warga negara Indonesia berhak kok menjadi polisi?”


“Tapi, tidak untuk yang cadel seperti saya,kan?” Imran menjawab sambil tersenyum-senyum.


“Halah! Cadelmu nggak kentar, kok? Yang nggak bisa itu kalau huuf “R” nya tidak terdengar sama sekali. Kalau kamu masih jelas kok. Apalagi kalau ngomong “Rambutan” atau “Roti” kayaknya fasih sekali,” ledek Pak Prapto.


“Lah, itu kan makanan kesukaan saya, Pak. Doakan saja saya supaya bisa menjadi guru. Kayaknya seru menjadi guru.”


“Nah, itu juga bagus kok. Biar ada penerusnya Kyai Nur. Ngomongin Kyai Nur, saya sudah lama tidak main ke sana sampai kangen sekali sama beliau.”


“Alhamdulillah, beliau sehat, Pak. Makanya ayo kapan main ke Jatisari? Biar nggak kangen-kangen terus.”


“Ntar deh saya sempatkan ke sana. Salam ya sama Kyai Nur.”


“Siap, Pak. Oh ya, ini gimana Pak Rudi nggak ada?”


“Nah itu dia Im. Saya juga bingung.” Pak Prapto nampak gelisah sekali.


Setelah berpikir sejenak, Imran pun berkata.


“Ayo, ikut saya Pak!”


“Ke mana?”


“Nanti Pak Prapto akan tahu sendiri.”


Imran pun berjalan dan diikuti oleh Pak Prapto. Pria itu sedikit bingung dengan rencana remaja anaknya Ningrum dan Hasan itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2