JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
PENYELIDIKAN


__ADS_3

Keesokan harinya Imran mengajak Indah dan Bondan berkumpul untuk membicarakan perihal sakitnya paman Cindy. Imran menyampaikan kepada kedua temannya itu perihal sosok hantu yang kerap mengganggu pamannya Cindy yang menyerupai wajah mang Dirin.


“Apa? Kamu tidak mengada-ada kan, Im?” sahut Bondan begitu mendengar cerita Imran.


“Tidak, Ndan. Saya mendengarnya langsung dari Cindy dan juga saya melihat langsung bagaimana pamannya Cindy itu sedang mengalami trauma sampai saat ini.,” jawab Imran dengan serius.


“Gimana pendapatmu Ndah, setelah mendengar cerita Imran barusan?”


Indah hanya tersenyum sejenak ke arah Bondan.


“Kok kamu senyum-senyum, Ndah”


“Kalian sudah dengar belum kabar terbaru di sekolah ini?” Indah berkata dengan nada yang membuat kedua temannya menjadi penasaran.


“Kabar apa, Ndah?” tanya Imran tak sabaran.


“Bu To hari ini nggak jualan,” sahutnya enteng.


“Lo! Kenapa? Waduh! Aku bisa kelaparan nih! Aku nggak bawa bekal dari rumah,” gerutu Bondan sambil memegangi perutnya


“Tenang, Ndan! Aku bawa bekal. Kita bagi dua nanti!” potong Imran.


“Beneran, Im? Ada sayur kangkungnya, nggak? Oseng-Oseng kangkung buatan ibumu itu nggak ada tandingannya, Im! Aku doyan banget pokoknya!” Bondan bersorak mendapat tawaran dari Imran.


“Adaaaa … Tenang saja! Kangkungnya buat kamu semua nanti!”


“Horeeee! Makasih ya, Im!”


“Bondaaaan .. . Bondan … Makanan aja yang ada di pikiranmu!” gerutu Indah.


“Biar, Ndah! Oh ya … Kenapa Bu To libur tidak berjualan? Setahu aku, dia nggak pernah libur jualan selama ini.”


“Kata teman-teman sih Bu To tidak berjualan karena sakit. Tapi, aku dapat info dari Bu Dul kalau Bu To itu takut untuk berjualan.”


“Takut? Dia kan sudah bertahun-tahun jualan di sini? Kenapa baru sekarang dia merasa takut?”


“Gini, Im. Tadi Bu Dul secara diam-diam bercerita kepadaku bahwa Bu To itu kemarin pulang agak sore dari sekolah karena menunggu salah satu murid yang mau membayar hutang sepulang latihan Ekskul. Setelah ditunggu sampai surup, yang datang bukannya murid itu melainkan sosok hantu.”


“Han-tu?” Imran terperangah mendengar penjelasan Indah.


“Iya, Im. Dan kamu pasti kaget kalau aku ceritakan hantu siapa yang dilihat oleh Bu To,” tukas Indah.


“Hantu siapa, Ndah?” Imran semakin penasaran saja.

__ADS_1


“Hantunya Mag Dirin, Im,” jawab Indah datar.


“HAH???” Imran dan Bondan benar-benar kaget mendengar jawaban Indah kali ini.


“Kok bisa, Ndah? Mang Dirin kan masih hidup? Nggak mungkin dia jadi hantu,” sela Bondan.


“Iya, Ndah. Benar apa yang dikatakan Bondan. Mana mungkin manusia hidup bisa menjadi hantu? Aku saja masih belum begitu percaya dengan penglihatan pamannya Cindy,” imbuh Imran.


Indah kembali menyungging senyuman.


“Dari mana kalian yakin kalau Mang Dirin itu masih hidup?” Tiba-Tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Indah.


Imran dan Bondan kembali terperangah mendengar kalimat Indah. Kedua remaja pria itu pun saling bertatapan.


“Jadi, menurutmu Mang Dirin itu sudah mati, Ndah?” tanya Imran.


“Tidak tahu. Yang jelas ada kemungkinan seperti itu. Buktinya Satpam kita dan Bu To mengalam hal yang sama yaitu melihat hantu yang wajahnya mirip dengan Mang Dirin!” Indah menjawab dengan tegas.


“Terus?” Bondan melongo.


“Aku paham maksudmu, Ndah. Berarti kita harus mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti agar dapat memastikan apakah Mang Dirin itu masih hidup atau sudah mati? Begitu?”


“Tepat sekali, Im!” sahut Indah dengan spontan.


“Uangnya untuk beli skincare ya, An? Ngaku saja! Pantas wajah kamu itu glowing kaya artis korea?”


“Hus! Jangan rame-rame! Iya … Uangnya aku belikan bedak khusus pemutih wajah. Tapi, jangan bilang-bilang yang lain, ya?”


“Kenapa, An? AKu kan juga pengen punya wajah glowing kaya kamu biar cewek-cewek nempel sama aku semua,” goda Bondan.


“Ntaran deh aku kasih tahu. Jangan di sini! Aku malu!”


“Oke … Aku balik ke kelas dulu, ya? Mau ngerjakan PR.”


“Halah! Sok rajin kamu!”


“Aku kan jelek, An. Minimal harus pinter lah biar nggak parah-parah amat.”


“Oke.”


Bondan pun pergi dengan menahan geli dan mual karena apa yang ia katakan kepada Anto adalah sebaliknya. Wajah Anto bukannya terlihat glowing, tapi terlihat aneh karena warnanya yang kurang merata. Dan sepertinya itu sudah menjadi rahasia umum seluruh warga di sekolah tersebut.


“Gimana hasil kerja kalian di perpustakaan?” tanya Bondan pada Imran dan Indah yang baru pulang dari perpustakaan.

__ADS_1


“Ndan … Sepertinya sepulang sekolah kita harus main-main ke suatu tempat.”


“Ke mana, Im? Indah ikut nggak?”


“Aku nggak bisa ikut, Im. Soalnya aku nggak boleh pulang terlalu sore hari ini. Ada tamu yang akan ke rumahku sore ini. Tapi, aku ingin kalian nanti cerita hasil penyelidikan kalian di tempat itu.”


“Tempat? Tempat apa, Im?” Bondan bingung dengan perkataan Indah.


“Begini, Ndan. Tadi aku dan Indah kan menemui Bu Iis di perpustakaan. Awalnya kami mengajak beliau mengobrol santai. Setelah beliau enjoy barulah kami menanyakan banyak hal tentang Mang Dirin kepada Bu Iis. Salah satunya tentang kebiasaan Mang Dirin dan juga teman-teman akrab Mang Dirin.”


“Oh ya? Terus …”


“Bu Iis bilang kepada kami bahwa Mang Dirin itu sering bercerita tentang sahabatnya yang bekerja sebagai sopir Angkot.”


“Sahabat? Sopir Angkot?”


“Iya … Bu Iis bilang kalau Mang Dirin itu sering ngopi bareng temannya di daerah dekat terminal sana. Bu Iis juga tidak tahu di mana tempatnya. Tapi, menurut ingatan Bu Iis itu tempat mangkalnya para sopir di terminal.”


“Apa lagi yang disampaikan Bu Iis perihal Mang Dirin?”


“Sudah … Itu saja. Informasi itu pun tidak didapat Bu Iis secara langsung. Ya, semacam desas-desus yang pernah Bu Iis dengar dari guru dan karyawan sekolah yang lain.”


“Oooo.. begitu? Jadi, nanti pulang sekolah kita akan mencari warung itu?”


“Cerdas kamu, Ndan! Kamu bisa, kan?”


“Bisaaaa …. Bisaaa …. Tapi, ada syaratnya!”


“Apa Syaratnya, Ndan?”


“Traktir aku minum es teh, ya? Uangku pas-pasan soalnya!”


“Dasar kamu ini, Matre!”


“Kamu ada uang lebih, kan?”


“Adaaaaa “


“Yes!!!”


Mereka pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2