
Hari ini Arini pulang agak sore karena harus mengikuti kegiatan salah satu Ekskul di sekolahnya. Bahkan Arini tidak langsung pulang saat semua teman Eskul dan pelatihnya sudah pulang duluan. Ia bilang kepada mereka bahwa ia mau makan bekalnya dulu karena tadi siang ia belum sempat makan. Arini hanya sempat makan roti pada saat jam istirahat tadi siang. Ia keburu mempersiapkan untuk latihan hari ini. Sebagai senior di salah satu Ekskul tersebut memang Arini terbilang paling sibuk. Dalam melaksanakan agenda kegiatan Eskul memang gadis ini tidak pernah setengah-setengah. Ia ingin para juniornya benar-benar mendapatkan pengalaman latihan yang berkesan.
“Setelah ini aku kan lulus, Adik-Adik. Aku nggak mungkin menemani kalian terus. Aku ingin Ekskul kita ini tambah maju meskipun nggak ada aku.” Kalimat itulah yang acap kali diucapkan oleh Arini kepada adik-adik kelasnya saat sesi pembukaan latihan Ekskul.
Karena saking laparnya, tak sampai sepuluh menit bekal yang dibawa oleh Arini sudah ludes masuk ke dalam perutnya. Gadis itu menutup aktifitas makan sorenya dengan menenggak air matang yang ia bawa dengan botol kesayangannya yang dibelikan oleh ayah angkatnya beberapa bulan yang lalu. Setiap melihat botol cantik itu tak ayal membuat hati gadis itu sedih karena terbayang kebaikan ayah angkatnya.
“Ayah nggak mau nikah lagi?” Pada suatu kesempatan Arini menanyakan hal itu kepada almarhum ayahnya.
“Ayah kan sudah punya anak. Ngapain ayah nikah lagi?” sahut ayah angkatnya Arini kala itu.
“Tapi, Ayah masa nggak pengen seperti orang lain yang memiliki keluarga utuh. Ada istri dan anak kandung yang menemani-“ timpal Arini dengan polosnya.
“Sudah! Tidak usah membicarakan hal itu!” potong ayah angkatnya.
“Maafkan Arini, Yah! Arini tidak bermaksud membuat Ayah bermaksud untuk-“ balas Arini.
“Ayah pergi dulu, ya?”
“Ayah mau ke mana? Arini masih ingin bersama Ayah.”
“Ayah harus pergi! Ayah tidak mau terjadi sesuatu sama kamu.”
“Sesuatu apa, Yah? Hanya bersama Ayah aku bisa merasakan kebahagiaan sebagai seorang anak.” Arini mengeluh sambil bersedih.
“Sabar ya, Nak! Kamu nggak boleh ngomong begitu. Orang tuamu itu sayang sama kamu, tapi kamu masih belum memahami cara berpikir mereka. Kamu harus kuat! Suatu saat kamu akan mengerti kenapa ayah tidak boleh berlama-lama bersama dengan kamu.”
__ADS_1
“Tapi, Yah-“
“Kamu yang sabar, ya! Ayah pergi dulu. Assalamualaikum …”
“Waalaikumsalam …”
Arini melangkah menyusuri koridor kelas menuju ke pintu gerbang sekolahnya. Tak lupa ia memberi salam kepada Satpam yang bertugas menjaga sekolahnya. Selepas gadis itu pergi dari sekolah, Satpam langsung menutup gerbang. Sepertinya ia sudah hapal bahwa Arini sering pulang paling akhir dibandingkan dengan warga sekolah yang lain.
Arini terus berjalan ke arah barat meninggalkan sekolahnya menuju sekolahnya Imran. Suasana saat itu sudah mulai beranjak petang. Arini melirik ke arah papan nama sekolah tersebut. Ada kekaguman di dalam hati gadis itu terhadap nama besar SMA tersebut. Selepas lulus dari SMP-nya sekarang, ia memang berencana untuk melanjutkan di sekolah tersebut.
Sekilas tersirat di pikiran Arini apakah Imran dan teman-temannya sudah pulang dari sekolah? Atau kedua temannya itu sedang ada kegiatan di dalam gedung tersebut? Pastinya ia akan senang sekali kala saat itu bisa bertemu dengan mereka. Teman-Teman yang satu server dengannya. Setelah sampai di dekat pintu gerbang SMUN 14, gadis itu memilih untuk duduk di dudukan semen di pinggir jalan sambil menunggu Angkot yang akan mengantarnya pulang.
Langit semakin gelap. Sebentar lagi akan memasuki waktu salat Magrib. Namun, kendaraan umum yang ditunggu oeh Arini tak kunjung datang juga. Angin sepoi-sepoi berhembus membuat gadis itu semakin meringkuk karena kedinginan. Tiba-Tiba sayup-sayup gadis itu mendengar suara gerbang yang digoyangkan seseorang. Secara refleks gadis itu menoleh ke belakang menatap ke arah gerbang yang masih berdiri kokoh di tempatnya. Arini terkejut karena ia melihat sosok pemuda sedang berdiri di dalam gedung sekolah tersebut. Remaja pria itu sedang berdiri membelakanginya. Tapi, ia hapal dengan postur tubuh itu.
Pemuda itu tetap berdiri di tempatnya dan tidak menoleh. Arini yang kegirangan karena bisa bertemu dengan temannya itu pun buru-buru berjalan menuju pintu gerbang agar bisa lebih dekat dengan pemuda itu. Akhirnya Arini pun sampai di pintu gerbang. Tangannya memegangi besi silinder yang tertata elok itu. Sementara kedua matanya berusaha mencari-cari apaah ada kemungkinan untuk membuka pintu gerbang itu agar ia bisa lebih dekat berbicara dengan Imran. Namun, sepanjang mata memandang ia tak menemukan posisi pengait pintu gerbang di depannya.
“Im, ngapain kamu di situ? Mana Bondan dan Kak Indah?” teriak Arini dengan sangat gembira.
Imran tidak menyahut. Arini mulai berpikir apakah ia salah orang. Ditatapnya postur tubuh pemudaitu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi, Arini kembali yakin bahwa pemuda di depannya memang Imran.
“Im … Kamu kenapa?” ujar Arini lagi.
Imran masih tidak menyahut, tapi kali ini ada pergerakan aneh dari pemuda itu. Pemuda itu mengangkat keduatangannya. Kemudian kepalanya seperti dimiringkan. Setelah itu pemuda itu memutar kepala dan bahunya secara perlahan. Arini yang melihat pergerakan aneh dari pria yang dikenalnya itu pun mulai merasa agak sedikit ngeri juga. Terlebih saat ini wajah pemuda itu sebagian sudah dapat dilihat oleh Arini.
“Imran?” pekik Arini tertahan.
__ADS_1
Imran berdiri dengan sebagian kepala sudah menoleh ke arah Arini. Espresi wajah Imran saat itu sangat aneh dan membuat Arini merasa ketakutan. Matanya memandang Arini dengan agak melotot dan mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi-giginya.
“Kamu kenapa, Im?” teriak Arini dengan ekspresi ketakutan.
“Arrrrrrgh!!!!” Mulut Imran bersuara dengan keras.
Arini menjadi semakin ketakutan melihat ekspresi wajah temannya yang seram itu. Apalagi Imran kemudian tiba-tiba berlari ke arahnya seolah-olah akan menyerang gadis itu. Arini tentu saja semakin terbelalak melihat keanehan itu. Namun, terlambat bagi Arini untuk lari dari tempat itu karena saat ia menyadari keanehan tersebut, Imran sudah berlari dengan cepat ke arahnya dan berhasil memegangi kedua tangannya yang semula berpegangan pada besi pintu gerbang.
“Tidaaaaaaaaak!!!” teriak Arini denan keras sambil berusaha menarik tangannya dari cengkraman Imran yang terlihat seperti kesetanan.
“Arrrrrgh!” Imran terus saja mengeluarkan suara seram dari mulutnya sambil berusaha menarik tangan Arini.
Tentu saja Arini ketakutan karena hal itu. Apalagi kali ini gadis itu melihat Imran berusaha untuk menggigit tangannya.
“TIdaaaaaaaaak!!!!” teriak Arini kembali sambil berusaha menarik tangannya yang akan digigit oleh Imran.
Di puncak ketakutannya, tiba-tiba Arini berhasil menarik tangannya lolos dari pegangan Imran dan temannya itu tiba-tiba saja lenyap dari pandangannya. Arini bingung sendiri saat itu dengan kejadian sera yang baru saja ia alami. Namun, sebuah suara mengejutkannya dari arah jalan raya.
“Angkot, Dik?”
“I-iya, Pak!”
Arini buru-buru berlari menuju ke arah angkutan umum itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1