JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
TERKEJUT


__ADS_3

Imran dan Bondan hari itu pulang agak sore karena pembina Ekskul Pramuka datang lebih sore dari biasanya. Badan mereka sudah pegal semua akibat latihan yang ekstra keras hari itu untuk menghadapi Jambore yang akan diadakan sebulan lagi di SMU Pejuang. Kebanyakan dari anggota Ekskul Pramuka pulangnya dijemput oleh orang tuanya atau membawa kendaraan sendiri. Bondan dan Imran yang pulang pergi naik Angkot itu pun harus rela menunggu lebih lama karena di jam-jam segitu biasanya Angkot jarang didapat. Supaya tidak sepi duduk sendirian, Bondan sengaja menunggu di arah yang sama dengan Imran meskipun arah pulang mereka berlawanan arah. Pikir Bondan, toh dari kejauhan warna Angkotnya kelihatan. Jadi, ia bisa lari menyeberang duluan kalau kendaraan yang sedang ia tunggu sudah datang mendekat.


“Im, tadi pagi kamu ke mana?”


“Jam berapa?”


“Sekitar jam istirahat.”


“Oh … Jam segitu aku dimintai Bu Iis untuk pergi ke kantor pos mengambil paket buku dari perpustakaan daerah.”


“Pantes aku cari kamu nggak ada di kelas. Pas aku tanya ke teman-teman yang lain mereka juga nggak tahu. Tahu nggak tadi kamu ada yang nyariin.”


“Siapa?”


“Anak sekolah lain. Habis dari kantor dia nyariin kamu.”


“Habis dari kantor?”


“Kalau tidak salah dia itu mengantar surat keterangan sakit dari dokter untuk Satpam sekolah kita yang sudah dua hariini tidak masuk bekerja. Sepertinya anak itu masih ada hubungan keluarga dengan Satpam sekolah kita.”


“Cindy … Anaknya agak tomboy, terus dia pakai seragam SMA Pejuang?”

__ADS_1


“Iya … Ciri-Cirinya sama dengan yang kamu sebutin barusan. Dia itu pacarmu, ya? Terus Arini dan Indah mau kamu kemanain?”


“Sialan kamu, Ndan. Cindy itu sahabatku waktu SMP. Aku juga tidak ada hubungan apa-apa dengan Arini maupun Indah. Ngomong-Ngomong Cindy sempat titip pesan sama kamu, Nggak?”


“Duh, dia nggak sempat bilang apa-apa. Cuma dia bilang ingin ngomong penting sama kamu gitu. Pas aku nyariin kamu dan nggak ketemu-ketemu. Aku bilang sama anak itu supaya menunggu sebentar lagi pasti kamu datang. Ealah … Dianya yang nggak mau. Katanya dia Cuma ijin pergi sebentar kepada sekolahnya. Ya sudah dia pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa, tapi kayaknya dia mau ngomong penting sama kamu deh!”


“Duh, dia mau ngomong apaan, ya?”


“Kamu samperin aja dia ke rumahnya, Im! Itung-Itung Pe-de-ka-te.”


“Sialan kamu!”


“Sudah, Im. Aku pulang duluan, ya? Itu Angkotku sudah muncul.”


“Semprul kamu, Im!”


Bondan pun berlari menyeberangi jalan raya yang cukup sepi. Kemudian ia pun memberhentikan Angkot yang akan mengantarnya pulang. Tak lupa setelah berada di dalam Angkot ia pun melambaikan tangan kepada Imran yang tetap menunggu dengan setia di depan gedung sekolah.


Setelah menunggu cukup lama ternyata Angkot yang ditunggu oleh Imran tidak kunjung datang. Imran mulai merasa gelisah karena hari sudah mulai beranjak petang. Meskipun misteri kematian Pak Misnanto sudah terungkap, tapi bayang-bayang arwah pria itu tentu tidak hilang begitu saja dari benak Imran. Pemuda itu mengirim doa kepada Pak Misnanto begitu ia teringat dengan sosok Pak Misnanto.


Kresek … Kresek …

__ADS_1


Imran merasa ada seseorang sedang berjalan di belakangnya. Ia pun menoleh ke belakang untuk memeriksa. Ternyata tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya papan nama dari bahan keramik yang dihias dengan indah di depan sekolahnya. Imran tiba-tiba merasa tidak nyaman berada di tempat tersebut. Terlebih saat itu matahari di ufuk barat sudah hampir tenggelam.


Krieeet … Krieeeet …


Suara mencurigakan itu berpindah ke arah pintu gerbang sekolahnya. Lagi-Lagi pemuda itu menoleh ke arah pintu gerbang untuk mengetahui penyebab bunyi tersebut. Lagi-Lagi pemuda itu dibuat bingung karena pintu gerbang tidak bergerak sedikitpun. Seingatnya, Pak Kebun tadi mengunci pintu gerbang setelah semua peserta Ekskul Pramuka keluar dari gedung sekolah.


Perasaan Imran semakin tidak nyaman saat itu. Ia pun bangkit dari duduknya dan berencana untuk menunggu Angkot di pinggir jalan saja. Namun, saat remaja itu akan bangkit dari duduknya tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Pada saat hampir terjatuh itu Imran melihat seorang kakek berjalan dengan cepat dari arah jalan raya sepertinya menuju ke pintu gerbang. Imran tidak begitu jelas  mengamati pergerakan kakek tua itu karena ia berkonsentrasi pada tubuhnya yang hampir terjatuh. Begitu ia sudah dapat berdiri dengan tegak barulah ia mengamati ke arah pintu gerbang kembali dan ia melihat pintu gerbang masih tertutup rapat. Imran mengedarkan pandanga ke sekeliling untuk mencari ke arah mana kakek tua itu berjalan, tapi ia tidak melihat ada arah lain yang masuk akal. Karena itu Imran merasa ada yang tidak beres dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Ia pun buru-buru melompat ke arah pinggir jalan dan pada saat yang bersamaan dari arah timur ia melihat ada Angkot yang sudah ia tunggu sejak tadi.


“Berhenti, Pak!” teriak Imran sambil melambaikan tangannya pada sopir Angkot.


Angkot berhenti tepat di sebelah Imran dan remaja itu pun naik ke atas Angkot dengan perasaan lega. Ternyata hanya ia sendiri yang menjadi penumpang di dalam Angkot tersebut. Angkot pun secara perlahan meninggalkan SMUN 14 dan Imran dengan penuh penasaran memperhatikan setiap sudut sekolahnya. Dan ia kembali dibuat merinding saat ia melihat seorang kakek sedang berdiri di dalam pagar sekolahnya sambil menatap ke arahnya.


“Astagfirullah!” pekik pemuda itu.


“Turun di mana, Mas?” tanya Pak Sopir.


“Turun di jatian, Pak!” jawab Imran.


Imran masih tidak habis pikir bagaimana bisa kakek tua itu berada di dalam pagar sekolah dengan pagar dalam keadaan terkunci.


“Siapa kakek tua itu? Bagaimana cara ia masuk ke dalam? Tidak mungkin tubuh serenta itu bisa masuk ke dalam dengan cara melompati pagar? Waktunya juga cepat.” Imran bingung dengan sosok kakek misterius tersebut.

__ADS_1


BERSAMBUNG  


__ADS_2