
Keesokan harinya Pak Prapto pergi berziarah ke makam sahabatnya yang telah meninggal dunia akibat kecelakaan saat sedang bekerja. Pada saat kejadian, Pak Prapto tidak bisa datang karena polisi senior tersebut baru mengetahui kejadian yang menimpa temannya tersebut pada keesokan harinya. Kali ini adalah kunjungan kedua bagi Pak Prapto di makam sahabatnya itu. Pria tersebut duduk terpekur di atas makam sopir angkot yang baik hati itu. Tak terasa air matanya kembali menetes mengenang kebersamaan dengan sahabatnya itu.
“Bro, kamu yang tenang disana, ya? Kamu itu orang baik. Kamu sudah banyak menyelamatkan nyawa anak-anak muda di kota ini dengan cara menjadi informan kejahatan kepolisian. Itu bukan tugas yang mudah bagi siapapun. Menjadi informan kepolisian berarti siap-siap dimusuhi oleh orang lain termasuk tetangga, teman, bahkan keluarga. Tapi, mereka tidak tahu bahwa kamu melakukan semua itu dengan tulus karena kamu ingin menyelamatkan generasi muda di kota ini dari kehancuran. Berkat informasi darimu, kepolisian sudah banyak menangkap mafia-mafia Narkoba yang sudah lama kami incar.”
Pak Prapto mengusap air matanya kembali. Setelah itu ia melanjutkan monolognya.
“Bro, kemarin saya melihat teman-temanmu berusaha menghindariku. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Tidak biasanya mereka bersikap seperti itu terhadapku? Ada apa sebenarnya dengan mereka, Bro? Apakah mereka sedang meyembunyikan sesuau dariku? Tentang apa? Ataukah hal itu ada hubungannya dengan kematianmu? Ah … Kamu meninggal karena kecelakaan biasa, kan?”
Pak Prapto menghentikan aksi monolognya karena mendengar suara langkah kaki yang sedang bergerak mendekatinya. Pria itu pun menoleh ke belakang. Kali ini Pak Prapto bertatapan langsung dengan seseorang. Mereka berdua sama-sama memicingkan matanya dan seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Bapak kan yang waktu itu datang di alun-alun untuk memberikan penghargaan?”
“Ka-kamu itu gadis temannya Imran, kan?”
Keduanya kemudian saling melempar senyuman. Kali ini mereka yakin bahwa tebakan mereka benar.
“Iya. Saya adalah Pak Prapto. Polisi yang menangani kasus pembunuhan Pak Misnanto. Terus, kenapa kamu berada di makam ini?”
“Benar. Namaku Arini. Aku temannya Imran.Hm … Justeru seharusnya aku yang harus bertanya kepada Pak Prapto. Kenapa Pak Prapto ziarah di makam ayah saya?”
“APA? Jadi, kamu ini anak angkatnya sahabat saya ini? Ya Tuhan … Saya benar-benar tidak menyangka bahwa anak angkat yang dimaksudkan oleh ayahmu ini adalah kamu. Seandainya saya tahu dari awal …”
“Hm … Berarti Pak Prapto ini adalah sahabat ayah yang sering diceritakan oleh ayah kepada saya. Ayah itu selalu bilang supaya saya lebih rajin belajar biar bisa jad polisi seperti temannya ayah. Gitu, kalau ayah cerita.”
__ADS_1
“Ck ck ck … Ariniiii … Ariniiiii … Saya benar-benar tidak menyangka. Bro, anak kamu ini hebat Bro. Dia sudah berani mengungkap kasus pembunuhan Satpam di sekolahnya. Dia itu lebih hebat dari dugaanmu. Ya, meskipun sampai saat ini saya masih merasa janggal dengan peyelesaian kasus tersebut …”
“Janggal? Apa maksud Bapak berkata bahwa kasus tersebut janggal?”
“Iya, Arini. Bapak masih merasa ada yang aneh dengan kasus tersebut. Apalagi jejak Mang Dirin sebagai tersangka utamanya tidak juga ditemukan sampai saat ini.”
“Apa maksud Bapak, Bukan Mang Dirin pelaku sebenarnya?”
“Hm … Sudahlah! Kamu berdoa saja untuk ayahmu dulu. Nanti pulangnya biar kamu saya antar pulang.”
“Iya, Pak!”
Arini pun melanjutkan aktifitasnya untuk menyiram bunga di pusara ayah angkatnya dan juga mengiriminya doa. Setelah selesai, Pak Prapto pun mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan mereka berdua mengobrol dengan asyik. Arini memang sosok yang ceria dan enak untuk diajak berbicara. Namun, Pak Prapto merasa ada yang aneh ketika ia mengantar gadis itu.
“Turun di sini saja, Pak?”
“Tidak,Pak. Nanti ibu bisa marah sama saya kalau Bapak mengantar saya sampai ke depan rumah.”
“Loh, nanti biar saya yang ngomong sendiri sama ibumu deh!”
“Tidak perlu, Pak! Biar saya turun di sini saja! Saya bisa jalan kaki setelahnya.”
Karena Arini kekeuh minta diturunkan, Pak Prapto pun menurunkan gadis itu di pinggir jalan. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya. Arini pun melanjutkan perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Saat asyik berkendara, tiba-tiba Pak Prapto merasa ada yang membisiki telinganya untuk membututi Arini. Maka pada detik itu juga pria itu memperlambat laju mobilnya dan ia memutar balik kendaraannya itu. Setelah itu ia pun memarkir mobilnya di pinggir jalan. Pria itu pun mengenakan jaketnya dan ia pun secara diam-diam membuntuti Arini dari kejauhan.
Arini tidak sadar bawa ia sedang dibuntuti oleh Pak Prapto. Ia terus melangkah menuju ke rumahnya. Ternyata ibunya Arini sudah menunggu kedatangan Arini di depan rumahnya. Arini merasa takut dengan tatapan seram dari ibunya. Ia sadar bahwa sebentar lagi ibunya pasti akan memarahinya.
“Assalamualaikum …”
Ibunya Arini langsung memarahi gadis itu dan menjambak rambut gadis itu. Arini hanya bisa diam tak berani melawan kehendak ibunya.
“Dari mana saja kamu hari libur begini? Sudah saya bilang kamu nggak usah keluyuran!” omel ibunya.
Arini pun didorong masuk ke dalam rumah itu oleh ibunya. Setelahnya pintu rumah itu dikunci dari dalam. Pak Prapto yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan cukup syok dengan kejadian yang terpampang nyata di depan matanya. Ia tidak menyangka ibunya Arini setega itu kepada anak kandungnya. Pak Prapto juga sempat merekam aksi itu dari kejauhan. Pria itu merasa iba dengan Arini. Ia bemaksud menasehati ibunya Arini suatu hari nanti karena Arini bukanlah anak yang nakal. Gadis itu sudah banyak prestasinya di sekolah.
Setelah lama menunggu pintu rumah Arini tidak dibuka kembali, pria itu pun membalikkan badan dan bermaksud untuk pulang. Namun, saat ia membalikkan badan, tanpa sengaja ia membentur tubuh seseorang.
“Aduh, maaf Pak!” ucap Pak Prapto dengan sopan.
“Bapak sedang ngapain di sini?” tanya balik orang itu.
“Eh … Anu … Saya sedang mencari masjid di sekitar sini. Tapi saya nyasar sampai ke sini. Apakah Bapak tahu letak masjid terdekat dari sini?”
“Oalah … Anda silakan lurus kemudian belok kanan. Nanti di pinggir jalan ada sudah masjidnya.”
“Wah, terimakasih banyak, Pak!”
__ADS_1
Setelah itu Pak Prapto pun berjalan meninggalkan tempat tersebut. Pak Prapto bersyukur pengintaiannya tidak ketahuan oleh orang tadi. Namun, sepanjang jalan polisi senior tersebut berpikir. Entah kenapa ia seperti mengenal pria yang baru berpapasan dengannya. Namun, Pak Prapto tidak ingat siapa nama pria itu dan juga di mana ia pernah melihatnya. Sampai di mobilnya Pak Prapto masih kepikiran dengan sosok pria yang ia temui barusan.
BERSAMBUNG