JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
PENCARIAN


__ADS_3

Pak Prapto mengikuti saja langkah kaki Imran. Ia tidak bertanya lagi ke mana anak muda itu akan mengajaknya. Dan ternyata Imran mengajak Pak Prapto menuju ke ruang perpustkaan di mana di dalamnya ada Bu Iis yang sedang mendata buku-buku yang baru dikembalikan oleh para siswa.


“Assalamualaikum …”


“Waalikumsalam … Kamu, Im?”


“Iya, Bu. Saya ke sini bersama Pak Prapto. Polisi yang menangani kasus Pak Misnanto.”


“Silakan duduk, Pak. Mohon maaf tempatnya sederhana saja.”


“Terima kasih, Bu Guru.”


Bu Iis pun mengambil tempat duduk di depan Pak Prapto dan Imran. Mereka bertiga duduk di salah satu meja baca berbentuk kotak dengan panjang sekitar dua meter.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”


“Begini, Bu Iis. Pak Prapto ini perlu untuk naik ke lantai atas untuk memeriksa kembali TKP. Tapi barusan ketika saya mengantar Pak Prapto ke ruangan Pak Rudi ternyata ruangannya terkunci.”


“Oh … Pak Rudi tadi pagi pamit pertemuan dengan kepala sekolah yang lain sebelum menyerahkan beberapa dokumen kepada saya.”


“Maksud Bu Iis Pak Rudi menyerahkan dokumen untuk disimpan di ruangan arsip di lantai kedua?”


“I-iya. Tapi, saya belum berani naik ke lantai atas sendirian. Saya menunggu Pak Satpam untuk naik ke lantai atas untuk menemani saya. Saya masih trauma dengan penemuan mayat itu.”


“Hm … Gimana kalau kami menemani Bu Iis ke lantai atas sekaligus kami juga ingin memeriksa keadaan di sana?” Pak Prapto memotong perkataan Bu Iis.


“Eeeeh … Saya tidak berani, Pak. Karena Pak Prapto belum ada ijin dari Pak rudi. Nanti malah saya yang dimarahi oleh Pak Rudi.”


“Bu Iis, Pak Prapto ini hanya butuh sebentar saja loh di lantai atas. Dan Bu Iis juga perlu untuk meletakkan dokumen-dokumen itu, kan? Nanti kalau sampai Pak Rudi datang dan dokumen-dokumen itu belum Bu Iis letakkan di sana, Pak Rudi bisa marah loh?”


“Ia juga sih, tapi …”

__ADS_1


“Bu Iis tenang saja! Pak Prapto paling hanya butuh waktu beberapa menit saja di lantai atas. Plis ya, Bu? Tenang, Pak Prapto ini sudah kenal baik dengan Pak Rudi. Kalau ada apa-apa Pak Prapto yang akan ngomong lansung dengan Pak Rudi. Bukan begitu, Pak Prapto?”


“Iya, benar Bu Iis.”


Bu Iis tidak bisa berkata-kata lagi.


“Tapi, beneran jangan lama-lama, ya?”


“Siap, Bu. Kalau begitu, ayo kita segera naik ke lantai atas saja!”


“Baiklah!”


Bu Iis pun segera mengambil dokumen titipan Pak Rudi dan juga kunci yang diberikan Pak Rudi tadi pagi. Tangannya masih gemetar sebenarnya karena ia merasa takut dengan kemarahan Pak Rudi, tapi perkataan Imran dan Pak Prapto cukup meyakinkannya atas pilihannya tersebut.


Secara perlahan Bu Iis naik ke lantai atas ditemani oleh Pak Prapto dan Imran. Bayangan-Bayangan seram saat ia bertemu dengan arwah Pak Misnanto kembali membayangi pikirannya. Tapi, semenjak jenazah Pak Misnanto ditemukan dan diadakan selamatan kecil di sekolah tersebut membuat perempuan itu sedikit berani untuk bekerja di sana. Bagaimanapun menjadi petugas perpustakaannya adalah mata pencahariannya yang sudah membantu perekonomian keluarganya. Keberadaan Imran dan polisi senior bersamanya membuat perempuan itu lebih percaya diri untuk menapaki tangga yang menghubungkan antara ruangan perpustakaan di lantai kesatu dengan ruangan arsip di lantai kedua.


Krieeeeeet ….


“Bu Iis langsung letakkan dokumennya ya? Biar saya dan Prapto langsung memeriksa ke TKP”


“Iya, Im!”


“Monggo, Pak!”


Imran pun mengajak Pak Prapto berjalan menuju ke pojok ruangan untuk memeriksa di sekitar lokasi penemuan mayat Pak Misnanto, sedangkan Bu Iis langsung mencari rak yang sesuai untuk meletakkan dokumen yang diberikan oleh Pak Rudi.


Sesampai di pojok ruangan ternyata terlihat bahwa area tersebut masih diberi garis polisi. Pak Prapto memperhatikan sejenak area tersebut dari luar garis polisi. Menyadari bahwa ia tidak punya cukup waktu untuk memeriksa tempat tersebut, ia pun melangkahi garis polisi tersebut dan mulai mengeksplor seluruh titik yang berada di dalam garis polisi tersebut.


“Hati-Hati, Pak!” ucap Imran dari luar garis polisi.


Pemuda itu sadar diri bahwa ia tidak boleh masuk ke area yang dibatasi oleh garis polisi karena menyalahi aturan. Maka ia hanya menunggu di sebelah luar garis polisi sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Pak Prapto memasang sarung tangan sebelum ia memeriksa semua benda di dalam ruangan tersebut. Tak satu pun benda yang luput dari perhatiannya. Laci meja ia periksa dengan teliti, lantai keramik ia periksa satu persatu, rak-rak juga tak luput dari perhatiannya. Bahkan tembok yang sudah dibongkar itu pun juga diperiksa oleh pria tersebut. Imran yang berada di tempat tersebut juga ikut memeriksa buku-buku dan rak-rak yang ada di luar garis polisi.


Sementara itu Bu Iis yang sejak tadi mencari posisi yang tepat untuk menyimpan dokumen titipan Pak Rudi pun mulai gelisah karena ia tak juga menemukan kode yang tepat untuk meletakkan arsip tersebut. Sementara saat ini perasaannya mulai jengah karena posisinya yang cukup jauh dari posisi Imran dan Pak Prapto.


“Duh, di mana sih posisi dokumen ini kok nggak ketemu-ketemu?”


Bu Iis pun terus mencari rak yang sesuai dengan dokumen yang ia bawa. Sesekali ia menoleh ke belakang karena perasaan takut yang mulai menderanya. Akhirnya setelah mencari dengan waktu yang cukup lama, ia pun berhasil menemukan posisi dokumen itu yang seharusnya.


“Alhamdulillah, akhirnya ketemu posisinya!”


Belum selesai perasaan lega di hati Bu Iis, tiba-tiba perempuan itu merasakan hawa berbeda di belakangnya. Ia merasa sedang ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Dengan perasaan takut Bu Iis pun memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Dan perempuan itu benar-benar terkejut dan hampir terkencing-kencing setelah mengetahui sosok yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Gimana, Pak Prapto? Apa Bapak menemukan sesuatu?”


“Belum, Im. Kamu bisa nggak membantu saya?”


“Membantu apa, Pak?”


“Kamu gunakan instingmu untuk mendapatkan petunjuk di sini!”


“Duh, sulit kayaknya, Pak. Sejak tadi saya tidak merasakan apa-apa di sini. Barangkali meman sudah tidak ada bukti lain di tempat ini, Pak.”


“Ya, sepertinya kamu benar, Im. Rasanya cukup sudah pencariannya. Aku mau keluar dari sini.”


Pak Prapto pun memutar tubuhnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi tiba-tiba pria tersebut kehilangan keseimbangan dan kepalanya tanpa sengaja membentur tembok.


“Aduh!”


“Pak Prapto!”


Imran pun buru-buru mau berlari menolong polisi itu, tapi ada sebuah tangan yang menahan lengannya secara tidak terduga. Imran menoleh ke belakang dan ia terkejut sekali setelah mengetahui bahwa Pak Rudi sedang berdiri di belakangnya dengan wajah yang kurang bersahabat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2