JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
RUMAH CINDY


__ADS_3

Hari ini Imran libur sekolah. Ia berencana pergi ke rumah Cindy untuk mengobati rasa penasarannya terhadap tujuan Cindy mencarinya waktu itu di sekolah. Sebelum berangkat, Imran meminta ijin kepada ibu dan bapaknya. Tak lupa remaja itu juga membawa sebotol teh hangat untuk bekal di perjalanan. Botol itu ia bungkus dengan kresek hitam. Kemudian kresek itu dicantolkan di setir sepeda bajong peninggalan kakeknya. Ia tidak membawa sepedanya sendiri karena kondisinya sedang rusak. Kedua orang tuanya belum punya uang untuk memperbaikinya di bengkel.


Sepanjang perjalanan, Imran masih menyimpan trauma kalau naik sepeda ke arah barat rumahnya. Ia masih menyimpan ketakutan terhadap Nenek Kelana yang pernah mengganggu perjalanannya semasa ia SMP. Ia terus berdoa semoga perjalanannya kali ini tidak diganggu oleh Nenek Kelana itu lagi.


Sepanjang perjalanan, Imran berusaha untuk mengingat ancer-ancer yang pernah diberikan oleh Cindy. Setelah melalui perjalanan sekitar hampir sejam, dan juga bertanya pada penduduk sekitar yang ia temui, akhirnya sampailah remaja itu di depan sebuah rumah yang cukup luas halamannya. Ternyata itu adalah rumah Cindy, teman SMP-nya.


Di rumah itu Cindy tinggal bersama orang tuanya. Cindy mengatakan kepada Imran bahwa untuk sementara pamannya yang menjadi Satpam di SMUN 14 tinggal di rumah itu karena sekalian untuk terapi pengobatan yang letaknya dekat dengan rumah Cindy.


“Kamu nggak kesulitan mencari rumahku, Im?”


“Enggak juga sih. Aku tanya ke tetanggamu tadi. Oh ya, kamu kemarin ke sekolahku, ya?”


“Iya, Im. Aku disuruh paman untuk mengirim surat keterangan sakit kepada pihak sekolah tempat beliau bekerja.”


“Pamanku sakit apa,Cin? Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat beliau berjaga di pos Satpam.”


“Itu dia, Im. Makanya aku waktu itu mencari kamu untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting buat kamu.”


“Sesuatu yang penting?”


“Im … Kami sudah membawa paman ke dokter. Kata dokter pamanku ini hanya sakit lambung biasa saja. Paman Cuma diberi obat sakit lambung dan disuruh istirahat yang banyak.”


“Lah, terus?”


“Im … Gimana paman mau tidur nyenyak lah wong dia itu seperti mengalami trauma begitu.”


“Trauma?”


“Iya, Im. Paman itu bilang kalau setiap ia berjaga malam di sekolah, ia diganggu oleh hantu.”


“Hantunya Pak Misnanto? Itu kan dulu, Cin? Setelah mayat Pak Misnanto ditemukan di ruang arsip, sudah tidak ada lagi warga sekolah yang diganggu oleh arwah Pak Misnanto.”


“Bukan, Im … Bukan arwah Pak Misnanto yang mengganggu pamanku”


“Terus? Pamanmu diganggu siapa?”


Cindy belum menjawab pertanyaan Imran, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan dari arah dalam.


“Siapa itu, Cin?”


“Itu suara pamanku, Im. Begitulah kalau traumanya muncul. Ayo, kalau kamu mau lihat?”

__ADS_1


“Emangnya boleh?”


“Boleh.”


Cindy pun mengantar Imran ke kamar pamannya. Sesampai di kamar pamannya Cindy, remaja itu melihat pemandangan aneh di sana. Kamar itu tampak terang benderang sekali dan jendelanya ditutup rapat. Imran melirik ke atas plafon. Ternyata ruangan itu dipasangi lampu dengan daya yang sangat besar sekitar 50 watt. Hal yang tidak lumrah dilakukan oleh siapapun. Terutama untuk penerangan di dalam kamar pribadi.


“Cin, lampunya terang banget? Kenapa tidak jendelanya saja yang dibuka supaya sinar matahari masuk?” bisik Imran.


“Iya, Im. Paman takut kalau menggunakan lampu yang redup. Paman juga takut kalau jendelanya dibuka.”


“Meskipun siang hari begini?”


“Lampu ini menyala 24 jam, Im.”


“Bagaimana kalau ada pemadaman aliran listrik?”


“Pernah. Kemarin lusa paman teriak-teriak minta ditemani di dalam kamar karena ketakutan.”


“Ya Allah … kasihan pamanmu, Cin.”


“Iya, Im. Sakit beberapa hari, tapi badan paman langsung kurus,kan?”


“Iya. Semoga pamanmu cepet pulih, Cin.”


“Loh, itu kan murid di sekolah tempat paman bekerja, Cin?” sapa pamannya Cindy.


“Iya, Paman. Ini Imran teman SMP-ku dulu.”


“Oalah … Saya sekarang sedang sakit aneh, Im. Sakit takut sama setan. Gimananih masa ada Satpam penakut kaya saya?”


“Semoga paman cepat sembuh.”


“Aamiiiin …. Makasih, Im. Padahal waktu banyak rumor tentang hantu Pak Misnanto, aku tidak setakut ini. Kamu tahu sendiri kan, aku bekerja seperti biasa. Malah pernah juga kepergok hantu Pak Misnanto. Takut, iya. Tapi tidak separah sekarang.”


“Kalau boleh aku tahu, hantu apa yang diihat Paman yang bikin Paman setrauma ini?”


Pamannya Cindy diam sejenak. Ia mengatur napasnya.


“Hantunya Man Dirin, Im.” Pamannya Cindy berkata sambil menatap ke arah Imran.


“Loh, Mang Dirin kan belum mati? Dia hanya kabur? Paman tahu dari mana kalau hantu yang Paman lihat itu hantunya Mang Dirin?”

__ADS_1


Lagi-Lagi pamannya Cindy mengatur napas. Kali ini ada cairan basah di sudut bibirnya. Cindy mengelap cairan itu dengan tisu di meja.


“Aku juga heran, Im. Kok bisa manusia hidup jad hantu. Tapi waja hantu itu sangat mirip dengan foto Mang Dirin yang dipajang di berkas data karyawan lama sekolah. Aku pernah iseng-iseng melihat foto Mang Dirin bersama Bu Iis.”


“Ya Allah!!!”


“Tidaaaak! Pergiiiii! Jangan muncu di otakku! Pergiiiii!” Pamannya Cindy tiba-tiba berteriak seperti orang sedang ketakutan.


Kedua tangannya menggenggam erat sprei.


“Tenang, Paman! Di sini ada aku dan Imran! Paman tidak usah takut!” Cindy mengelus kening pamannya untuk meredakan ketakutannya.


Imran pun ikut memegangi kaki paman Cindy tersebut. Setelah itu Cindy meminumkan obat yang diberikan dokter. Barulah setelahnya pamannya Cindy kembali merasa tenang. Beberapa detik kemudian pamannya Cindy pun tidur.


“Ayo, kita ke ruang tamu lagi, Im!”


“Pamanmu nggak apa-apa ditinggal sendirian?”


“Habis ini bibi datang dari warung untuk menjaganya.”


Mereka berdua pun melanjutkan pembicaraan di ruang tamu.


“Im, gimana pendapatmu tentang sesuatu yang dilihat oleh pamanku?”


“Aneh ya, Cin. Kok bisa pamanmu diganggu hantu yang mirip dengan Mang Dirin?”


“Im, apa kamu yakin Mang Dirin itu masih hidup?” Tiba-Tiba Cindy melontarkan kalimat tersebut.


“Maksudmu, kamu curiga bahwa Mang Dirin sudah meninggal?”


“Iya, Im. Aku curiga bahwa sebenarnya Mang Dirin itu juga tewas sama seperti Pak Misnanto. Hanya saja nama Mang Dirin dijadikan kambing hitam untuk menutupi kejahatan itu.”


“Jadi, menurutmu pembunuh Pak Misnanto sebenarnya bukan Mang Dirin, tapi orang lain yang juga membunuh Mang Dirin?”


“Ya ….” Jawab Cindy dengan tegas.


Imran melongo mendengar analisa teman SMP-nya itu.


“Im, aku minta tolong sekali sama kamu. Kamu kan sekolah di sana. Tolong kamu melakukan hal yang sama seperti waktu kita SMP dulu. AKu yakin kalau kasus tersebut terungkap seutuhnya, pamanku bisa sembuh. Kasihan anaknya masih kecil.”


“Tapi, Cin …”

__ADS_1


“Plis, Im … Kalau kamu butuh bantuanku, aku akan membantumu. Plis ya, Im!” Cindy meneteskan air matanya saat mengucapkan kalimat permohonan itu kepada Imran.


BERSAMBUNG


__ADS_2