JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
BU YATI


__ADS_3

Setelah menenggak minuman yang disajikan oleh Yati, Pak Prapto seperti menemukan energinya kembali akibat seharian full beraktifitas.


“Pak Prapto … Sebagai tetangga Mang Dirin, sejujurnya saya tidak yakin kalau dia yang melakukan pembunuhan terhadap Satpam di sekolah itu,” ucap Bu Rodiah alias Bu Yati mengawali pembicaraan.


“Kenapa Bu Yati berkata seperti itu? Bukankah bukti-bukti sudah banyak yang mengarah kepada Mang Dirin?” Pak Prapto mencoba menelisik maksud perkataan perempuan di hadapannya.


“Ya, karena menurutku Mang Dirin itu orangnya sangat baik dan tidak pernah iri kepada orang lain. Apalagi kalau hanya alasan pekerjaan saja. Dulu istrinya di sini jualan Sembako, terus ada tetangga lain jualan Sembako juga, Mang Dirin menyuruh istrinya jualan makanan saja. Dan satu lagi, saya masih tidak percaya kalau Mang Dirin itu kabur meninggalkan kota ini karena setahu saya dia itu orangnya nggak mau jauh-jauh dari kota ini, dari kampung ini, bahkan dari rumahnya sendiri.”


“Kenapa Bu Yati bisa seyakin itu?”


“Dulu itu ada orang yang mau membeli rumah dan pekarangan Mang Dirin dengan harga yang sangat tinggi. Tapi, Mang Dirin tidak mau melepas rumahnya. Dia bilang tidak mau meninggalkan rumah tersebut karena banyak kenangan di sana. Dia sudah betah tinggal di rumah itu. Dia ingin seumur hidup ada di rumah itu. Jadi, tidak masuk akal rasanya kalau Mang Dirin itu dikabarkan kabur keluar kota apalai sampai ke luar Jawa.”


“Hm … gitu ya, Bu?”


“Satu lagi, Pak Polisi. Keluarga kami dan keluarga Mang Dirin itu sudah sangat akrab. Sudah seperti keluarga saja. Kalau memang Mang Dirin mau pergi jauh, kenapa beliau tidak pamit kepada saya? Aneh, kan?”


“Jadi, Mang Dirin ke mana menurut Bu Yati?”


Perempuan itu tiba-tiba memegangi tengkuknya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


“Kenapa, Bu?” tegur Pak Prapto karena heran melihat perilaku perempuan di depannya.


“Semenjak Mang Dirin dikabarkan kabur, kami sekeluarga jarang main di depan rumah Mang Dirin lagi. Padahal halaman Mang Dirin yang luas itu paling enak kalau dijadikan tempat duduk-duduk dan bercengkrama dengan warga sekitar. Apalagi selagi masih ada Mang Dirin. Dia itu orangnya royal. Jadi sering memberi kue kepada anak-anak kecil di sekitar sini.”


“Kenapa kok tidak main-main di sekitar rumah Mang Dirin lagi?”


“Eh … Anu, Pak. Gimana, ya? Setiap malam hari itu kami seperti mendengar di dalam rumah Mang Dirin itu seperti masih ada aktifitas. Seolah-olah Mang Dirin masih berada di dalamnya. Kadang terdengar suara seperti orang yang sedang memasak, kadang seperti mendengar suara langkah, dan kadang juga kami seperti mendengar suara batuk Mang Dirin. Makanya kami jadi takut mau main di sekitar rumah itu lagi. Terutama anak kecil kam larang banget untuk bermain di sana. Pernah cucu saya itu pas magrib itu nangis girab-girab. Nah, pas ditanya itu katanya ngelihat mbah-mbah sedang menatapnya dari depan rumah itu.”


Pak Prapto menyimak cerita perempuan tua itu dengan saksama. Dari ekspresi dan bahasa tubuh perempuan itu, pria itu bisa menebak bahwa perempuan itu berkata yang sebenarnya.


“Apa di antara warga di sini ada yang pernah mencoba memeriksa ke dalam rumah itu? Siapa tahu ada orang gila atau pengemis yang secara diam-diam tinggal di dalam rumah itu?”

__ADS_1


“Pernah … Pak RT yang mencoba masuk ke dalam rumah itu dengan membobol pintu yang terkunci.”


“Terus gimana hasilnya?”


“Tidak ada siapa-siapa di dalam. Dan anehnya beberapa hari kemudia Pak RT sakit. Dia cerita kepada warga di sini bahwa dia selalu bermimpi buruk dan didatangi oleh Mang Dirin di dalam mimpinya.”


“Astagfirullah!”


“Pak Polisi … hanya itu yang bisa saya sampaikan ke Bapak. Saya harap Bapak bisa mengungkap kasus tersebut sejelas-jelasnya. Saya yakin Mang Dirin tidak bersalah. Bahkan saya yakin Mang Dirin hanya dijadikan kambing hitam saja.”


“Iya, Bu … kami akan berjuang semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini. Doakan kami ya, Bu? Oh ya, kalau kapan-kapan saya ada perlu sama Ibu, apa ada nomor telepon yang bisa dihubungi?”


“Kalau nomor telepon saya nggak punya, Pak. Namanya juga orang susah. Tapi, orang-orang di sini biasanya kalau menerima telepon pinjam hapenya Pak RT.”


“Ibu ada nomornya Pak RT?”


“Ada. Sebentar saya ambilkan catatannya, ya?”


Setelah menerima catatan nomor telepon dari Bu Yati, Pak Prapto pun pamit pulang. Entah kenapa dia kangen sekali untuk mampir di sebuah warung kopi di dekat terminal. Warung tempat ia dan salah almarhum temannya biasa mengobrol bersama. Sebenarnya usia mereka terpaut agak jauh, tapi karena rasa nyaman dalam berkomunikasi membuat mereka akrab.


“Pak, sepertinya untuk ke depan aku nggak bisa bantu kamu lagi …”


“Kenapa, Bro?”


“Aku takut, Pak …”


“Takut kenapa?”


“Aku takut terjadi sesuatu dengan keluargaku …”


“Loh, bukankah istri dan anakmu sudah meninggal?”

__ADS_1


Teman Pak Prapto hening sesaat.


“Sorry ya, Bro. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu pada kejadian tragis itu.”


“Nggak apa-apa, Pak. Dulu, aku memang sering bantuin kamu untuk mengungkap kasus-kasus itu karena aku tidak mau kejadian yang menimpa anak dan istriku juga menimpa orang lain. Tapi, kali ini kalau aku terus bantuin kamu, anak angkat aku bisa terancam nyawanya.”


“Kamu sudah punya angkat?”


“Yah, begitulah!”


“Semua keputusan ada sama kamu. Kalau kamu butuh perlindungan untuk anak angkatmu, aku bisa melakukannya.”


“Tidak usah, Pak. Tidak ada yang tahu kalau aku punya anak angkat selain aku dan anakku. Tapi, akhir-akhir ini aku merasa was-was. Sepertinya aku sedang diawasi.”


“Apa? Siapa yang mengawasimu?”


“Tunggu … Ini masih sebatas kecurigaanku saja.”


“Oke. Aku tunggu infomu nanti.”


Itulah hari terakhir Prapto bertemu dengan sahabatnya itu sebelum akhirnya sahabanya itu tewas karena kecelakaan.


Baru saja Pak Prapto menyeruput kopi pesanannya, tiba-tiba ada sekelompok orang yang berjalan mendatangi warung kopi itu. Namun, sekelompok orang itu tiba-tiba berbalik arah dan menjauhi warung kopi. Pak Prapto yang kebetulan menoleh ke arah mereka menjadi sedikit curiga dengan perilaku orang-orang itu.


“Kenapa orang-orang itu tiba-tiba seperti menghindari begitu? Tunggu! Sepertinya aku pernah melihat mereka. Ya ampun … Kalau tidak salah mereka itu adalah teman seprofesi dengan almarhum sahabatku … Iya … mereka itu sopir angkot sama seperti sahabatku. Tapi, kenapa mereka membalikkan badannya setelah melihatku ngopi di sini? Ada apa sebenarnya dengan mereka? Aku harus mencari tahu hal ini .. Jangan-Jangan mereka itu …”  Pak Prapto tiba-tiba teringat dengan peristiwa tragis yang menimpa sahabatnya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa membaca karyaku yang lain, ya?


1 Suami Rahasia Penyanyi Dangdut (TAMAT)

__ADS_1


2. Tikungan Seram (On Going)


__ADS_2