JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
REL KERETA API


__ADS_3

Imran dan Bondan berjalan setengah berlari menuju rel kereta api. Para pedagang yang notabene adalah penduduk yang tinggal di sekitar tempat itu mengawasi pergerakan mereka. Dari cara mereka melihat kedua anak itu, dipastikan mereka mengetahui bahwa kedua anak itu sedang ada dalam masalah. Terlebih mereka juga mendengar suara keributan di terminal sejak tadi. Di dalam hati kecil kedua anak itu berharap bahwa di antara pedagang itu tidak ada yang melaporkan perihal kaburnya mereka kepada gerombolan Tarjo.


Namun, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pada saat kedua remaja itu berhasil mencapai rel kereta api. Terdengar teriakan salah satu pedagang di telinga mereka berdua.


“Tarjooooooooooooooooooooo!!!!”


Kedua remaja itu pun mempercepat larinya setelah mendengar teriakan salah satu pedagang yang mencoba melaporkan keberadaan mereka kepada kelompok preman yang sedang mengamuk.


“Ayo, kita harus berlari dengan cepat Bondan. Sepertinya Tarjo sudah mengetahui posisi kita!”


“Iya, Im. Jangan sampai mereka berhasil menangkap kita! Bisa mati kita dikeroyok oleh mereka.”


Imran dan Bondan mempercepat lari mereka di rel kereta api. Mereka berdua melompat dari satu bantalan rel ke bantalan rel yang lain. Tubuh bugar kedua remaja itu membuat mereka lincah melakukan hal itu. Padahal di antara bantalan rel kereta api terdapat tumpukan batu yang tajam-tajam dan siap untuk melukai kaki mereka.


“Oooooooooi …. Mau ke mana kalian? Jangan lari!” teriak seseorang dari arah belakang kedua remaja itu.


Imran dan Bondan menoleh sejenak ke arah belakang. Mereka kaget karena di belakang mereka ada Tarjo dan anak buahnya sedang mengejar mereka.


“Ya Tuhan! Mereka sedang mengincar kita, Im!”


“Ayo, Ndan! Kita harus berlari dengan cepat!”


Imran dan Bondan pun semakin mempercepat larinya agar tidak terkejar oleh Tarjo dan anak buahnya. Napas mereka semakin ngos-ngosan karena mereka mengerahkan seluruh tenaganya untuk memperoleh kecepatan lari yang maksimal. Keringat mereka mengucur dengan deras membasahi pakaian yang sedang mereka gunakan.


“Ndan! Di depan sana bantalan relnya tertutup penuh oleh batu. Kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir.”


“Iya, Im. Untung kita pakai sepatu. Jadi kita tidak perlu takut kaki kita akan terkena batu. Ini kesempatan kita untuk bisa lepas dari kejaran mereka karena mereka rata-rata tidak mengenakan sepatu pastinya.”


“Iya, Im! Tapi, kita harus tetap berhati-hati!”

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua sudah sampai di rel yang banyak batunya. Saking banyaknya batu sampai-sampai bantalan relnya tidak kelihatan tertimbun oleh bebatuan yang tajam-tajam. Kali ini mereka berdua sedikit mengalami kesulitan ketika berlari karena harus berhati-hati menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir.


Pada saat awal-awal sampai di rel yang banyak batunya itu, orang-orang semakin dekat saja jaraknya dari mereka berdua. Imran dan Bondan merasa ngeri sendiri ketika mereka berada pada jarak yang lebih dekat dengan gerombolan Tarjo. Pastinya mereka akan dihajar habis-habisan oleh orang-orang itu. selama beberapa detik kedua pemuda itu merasakan sensasi semakin dekatnya mereka dengan preman-preman itu. Namun, ketika mereka sudah cukup lama berlari di area rel yang banyak batunya itu, barulah mereka dapat merasakan sedikit kelegaan karena preman-preman itu juga mengalami kesulitan melewati tumpukan batu-batu tajam yang ada di rel.


“Aduh, susah sekali melewati batu-batu ini, Darno!” teriak Karyo.


“Iya. Kenapa sih batu-batu ini harus ada di sini? Bikin kita kesulitan saja mengejar kedua bocah tengik itu,” gerutu Darno.


“Ya iyalah. Namanya juga rel kereta api harus dikasih banyak batu biar tidak gampang anjlok. Kalau batu-batu ini dikasih roti kismis, habis kamu makan tiap hari,” omel Tarjo sambil terus berlari mengejar Imran dan Bondan.


“Bondan! Di depan sana sudah ada jalan. Kamu mau ikut aku lari ke rumah atau mau lari terus ke jalan raya untuk pulang?”


“Im, sepertinya aku lari ke rumahmu saja. Aku takut kalau harus lari sendirian ke jalan raya karena bisa saja ada anak buah Tarjo yang tidak kuketahui.”


“Iya. Sebaiknya begitu. Kita harus menghadapi ini semua berdua. Ayo, kita harus mempercepat lari kita agar semakin tidak terkejar oleh mereka.”


Dalam keadaan yang super lelah, Imran dan Bondan terus saja berlari untuk bisa selamat dari gerombolan Tarjo. Kali ini mereka sudah berhasil melewati rel yang penuh dengan batu. Mereka sudah sampai di rel yang standar, sehingga mempermudah mereka berdua melewatinya. Alhasil, mereka semakin jauh jaraknya dari gerombolan Tarjo. Bahkan kali ini mereka berdua sudah sampai di jalan umum.


“Alhamdulillah, kita sudah sampai di jalan umum, Ndan. Ayo, kita harus terus berlari agar mereka menjadi putus asa karena melihat posisi kita yang semakin terlihat jauh dari mereka!”


“Iya, Im. Meskipun napasku kayaknya sudah mau habis. Tapi, kita tidak boleh berhenti.”


Saat ini mereka berdua sudah menginjakkan kaki di jalan umum. Mereka berdua sudah bisa berbelok ke arah kiri untuk menyusuri jalanan umum yang akan mengantar mereka sampai kerumah Imran. Pada posisi itu mereka dapat melihat gerombolan Tarjo yang sedang kesulitan menghadapi rel yang penuh dengan batu. Mereka merasa geli juga melihat anak buah Tarjo yang sesekali tergelincir di sana.


Baru semenit mereka berlari di jalanan umum itu mereka mendengar suara motor dari arah belakang mereka. Mereka berdua menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa pengendara motor itu bukanlah anak buah Tarjo.


“Im, siapa dua orang pengendara motor di belakang kita itu? Kok sepertinya mencurigakan?”


“Ooooo … bukan, Ndan. Aku sering melihat mereka. Mereka itu tukang ojek yang biasa mangkal di dekat jalan raya itu.”

__ADS_1


Beberapa detik kemudian dua pengendara motor itu sampai di sebelah mereka berdua.


“Loh, Dik … Ngapain kok lari-lari?” sapa sala satu pengendara motor.


“Kami dikejar preman terminal, Pak.”


“Oalah … Preman-Preman itu memang sering membuat gara-gara. Ayo, ikut kami saja supaya kalian bisa cepat sampai di rumah!” ucap pengendara motor yang satunya lagi.


“Tapi, kami tidak punya uang untuk membayar ongkosnya?”


“Gampang kalau urusan itu. Nanti, kalian membayar seikhlasnya saja kalau sudah sampai di rumah.”


“Gimana, Ndan?” bisik Imran.


“Hm … Aku kok kayak ragu ya, Im?” ujar Bondan.


“Ayo dah! Percaya sama aku.” Jawab Imran.


“Terserah kamu, dah!” jawab Bondan.


“Oke, Pak. Kami ikut kalian berdua,” ucap Imran pada kedua pengendara motor itu.


“Ayo, naik!” ucap salah satu dari pengendara motor.


Imran dan Bondan pun langsung naik ke jok motor mereka untuk membonceng. Imran merasa lega karena dengan kehadiran kedua tukang ojek itu mereka akan lolos dari maut. Namun, berbeda dengan Imran, Bondan masih merasa curiga dengan kedua tukang ojek itu.


BERSAMBUNG


Othor mau tanya, para pembaca ini punya kenangan apa di rel kereta api? Atau jangan-jangan ada yang nggak pernah jalan kaki di atas rel kereta api? Bagi pengalamannya di kolom komentar, ya?

__ADS_1


__ADS_2