JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
DUA SAHABAT


__ADS_3

Sepulang sekolah, Imran dan Bondan langsung berkumpul di depan gedung sekolah untuk membicarakan rencana mereka untuk mencari informasi tentang warung kopi di sekitar terminal. Indah sudah pamit duluan kepada mereka tidak bisa ikut. Kedua remaja itu pun mencari Angkot yang akan mengantar mereka ke terminal. Letak terminal itu sekitar satu setengah kilometer dari rumah Imran. Jadi, pulangnya Imran berencana untuk jalan kaki saja ke rumahnya, sedangkan Bondan harus naik Angkot lagi.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya mereka berdua mendapatkan Angkot yang akan mengantar mereka menuju terminal. Angkot itu cukup rame karena di dalamnya sudah ada penumpang lain. Hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua. Yang penting mereka berdua bisa segera sampai di terminal dan melaksanakan misi mereka di sana.


Setelah menempuh perjalanan yang agak lama sampailah mereka di terminal. Tentu saja di tempat itu banyak orang hilir mudik. Kedua remaja itu bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Imran mengajak Bondan untuk istirahat terlebih dahulu di salah satu kursi beton panjang. Di terminal itu banyak sekali kursi beton yang sengaja disediakan oleh pengelola untuk tempat istirahat para calon penumpang.


“Kita duduk-duduk dulu di sini, Ndan.”


“Iya, Im …. Capek juga naik Angkot berdesak-desakan seperti tadi.”


“Di mana ya Ndan warung yang dimaksudkan oleh Bu Iis tadi?”


“Itu dia Im. Dari tempat ini sepertinya tidak terlihat warung yang dimaksud. Kalau kantin sih ada. Tapi, kalau di luar terminal ini sepertinya banyak warung.”


“Iya. Rasanya tidak mungkin kalau warungnya ada di dalam terminal karena itu akan menyalahi aturan terminal. Kemungkinan warung yang dimaksud ada di luar terminal. Tapi, yang mana? Dari tempat ini kayaknya banyak sekali warung yang ada di luar sana.”


“Hm … Sepertinya warung yang kita cari itu sudah cukup tua usianya dan harganya relatif murah. Itu sih feelingku.”


“Benar. Aku setuju sama kamu karena kalau warungnya mahal tidak mungkin Mang Dirin dan sahabatnya itu sering main ke tempat tersebut. Iya, kan?”


“Iya, Im.”


Belum selesai mereka bebincang-bincang, tiba-tiba ada tiga anak muda yang usianya di atas mereka datang dan duduk di sebelah mereka.


“Pulang sekolah? Sekolah di mana?” tegur salah satu dari mereka yang rambutnya agak panjang.


“Iya, Mas. Kami sekolah di SMU 14.” Bondan menjawab.


“Ooo … sekolahnya anak orang kaya, ya? Ada rokok?” timpal temannya.


“Hm … Maaf, kami berdua tidak ada yang merokok,” sahut Imran.


“Wah, hebat kalian! Sudah SMA tapi belum merokok berarti uang saku kalian utuh, ya? Bisa nih kami dibagi untuk membeli rokok. Jadi kita bisa ngobrol santai bareng soalnya kami bertiga merokok. Gimana?” timpal teman yang satunya yang wajahnya lebih sangar dibanding yang lain.

__ADS_1


“Maaf, Mas! Kalau saya sudah habis uang sakunya karena saya Cuma nyangu sedikit. Kalau teman saya ini uang sakunya tinggal satu kali ongkos untuk pulang.” Imran menjawab dengan ramai.


“Oooo … bisa tuh sisa uang sakunya kami pinjam dulu? Nanti saya ganti. Bisa kan, Bro?” sahut salah satu dari mereka sambil menyenggol sedikit lengan Bondan.


“M-maaf, Mas. Kan sudah saya bilang uang sakunya teman saya ini tinggal buat ongkos pulang. Dan sebentar lagi kami masih ada urusan di sekitars ini.” Imran menjawab dengan tegas.


“Ooooo … kamu menantang kami, ya?” jawab salah satu dari mereka sambil menarik kerah baju Imran.


“Mas, jangan begitu! Kasihan teman saya itu sakit pasti lehernya,” protes Bondan.


“Kamu nggak terima?” tegur teman mereka sambil menarik kerah baju Bondan.


“Lepas, nggak?” ucap Bondan dengan suara halus.


“Berani, kamu?” Ancam satu teman mereka yang masih tersisa.


“Kami tidak bersalah! Kenapa kami harus takut!” ucap Imran dengan bersusah payah karena orang itu makin keras menarik kerahnya.


“Kalianmau mati konyol di sini? Kalau kami bertiga berteriak, kalian berdua bisa mati dihajar orang di sini, Paham!” teriak salah satudari mereka.


Brak!


Akibat rontaan Bondan, salah satu dari mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak lantai.


“Aduh!” pekik orang itu.


“Ternyata kamu tidak bisa dikasih hati, ya?” ucap teman mereka sambil berusaha melayangkan tinjunya ke arah Bondan.


Bondan tidak punya waktu untuk menghindar.  Bogem mentah mendarat di wajah temannya Imran itu.


Plok!


Bondan meringis sakit mendapat serangan mendadak itu. Imran terperangah karena suara tonjokan itu cukup keras terdengar. Namun, beberapa detik kemudian Bondan menjadi marah dan mengamuk. Ia menyerang orang yang menyerangnya dengan membabi buta. Tidak kurang dari tiga pukulan mendarat telak di wajah pria itu. Temannya yang tadi jatuh dan akan membela temannya tak luput dari serangan Bondan yang seperti orang kesetanan. Imran juga berusaha lepas dari cengkraman pria asing itu. Dengan kekuatan penuh akhirnya Imran bisa lepas dan memasang kuda-kuda di depan pria itu. Namun, melihat kedua temannya yang dihajar habis-habisan oleh Bondan membuat pria itu ciut nyalinya dan meminta maaf kepada Bondan.

__ADS_1


“Maaf, Mas! Tolong jangan pukuli teman saya lagi …” teriak teman mereka yang masih segar bugar itu.


Orang-Orang yang berada di sekitar tempat itu sepertinya sudah paham karakter ketiga orang itu. Mereka tidak melakukan aksi apa-apa pada saat melihat perkelahian antara kedua kelompok remaja itu. Setelah ketiga orang itu pergi barulah ada yang berani mendekati Imran dan Bondan.


“Kalian nggak apa-apa, Dik?” tegur pria dengan seragam petugas di tempat itu.


“Kami berdua tidak apa-apa, Pak!” jawab Bondan.


“Kalian beneran tidak apa-apa? Wajahmu tadi kena tonjok, kan? Sebaiknya segera diolesi minyak tawon. Nanti sampai di rumah langsung dikompres air hangat.”


“Iya, Pak!. Terima kasih.”


“Tadi itu preman di sini, Dik! Hebat, kalian berdua berani melawan mereka. Mereka memang sering meresahkan pengunjung terminal. Sudah banyak korban pemalakan mereka. Polisi sudah bolak-balik bertindak, tapi mereka tetap saja membandel. Sebaiknya kalian berdua  buru-buru pulang karena mereka itu biasanya lapor ke teman-temannya. Nanti, takutnya teman-temannya tidak terima dan mau mengeroyok kalian berdua.”


“Begitu ya, Pak? T-tapi, kami masi ada urusan di sini.”


“Nanti saja urusannya ditunda dulu. Keselamatan kalian jauh lebih penting.”


Bondan dan Imran saling bertatapan.


“Gimana ini, Ndan?” bisik Imran.


“Kita sudah terlanjur ke sini masa mau mundur?” sahut Bondan.


“Bagaimana kalau mereka datang lagi dengan membawa teman-teman mereka?” Imran berkata.


“Im, kamu mau bawa jaket?” sahut Bondan


“Bawa. Kenapa?”


“Kita ganti pakai jaket saja. Kita diam-diamkeluar dari terminal ini. Gimana?”


“Oke deh!”

__ADS_1


Mereka berdu pun berpamitan kepada petugas terminal. Pria tua itu mengulangi pesannya kepada mereka berdua. Merekaberdua hanya mengiyakan saja, tapi mereka sudah punya rencana lain.


BERSAMBUNG


__ADS_2