JERITAN HANTU

JERITAN HANTU
TAKDIR


__ADS_3

Sementara itu Pak Hasan dan Bu Ningrum sedang berada di rumah mereka. Mereka berdua baru saja menunaikan salat Isya secara berjamaah. Setelah itu Pak Hasan membaca Al-Qur’an di ruang tamu, sedangkan Bu Ningrum memasak kolak pisang di belakang. Sejak siang tadi pikiran Bu Ningrum merasa tidak enak. Tiba-Tiba ia teringat dengan Imran, putranya. Saat memarut kelapa untuk dibuat santan, tiba-tiba jarinya tanpa sengaja mengenai parutan.


“Ya Allah!” pekik Bu Ningrum spontan.


“Kenapa, Bu?” teriak Pak Hasan yang mendengar seruan istrinya.


“Tanganku tak sengaja kena mata parutan, Pak!” jawab Bu Ningrum sambil memegangi jari telunjuknya yang sakit.


Pak Hasan langsung berjalan menghampiri istrinya ke dapur. Ia ingin memastikan kondisi istrinya. Ternyata cukup banyak darah yang keluar dari jari telunjuk istrinya. Bu Ningrum menekan telunjuknya agar darahnya keluar. Pak Hasan buru-buru mengambil minyak tanah yang ada di jurigen. Ia tuangkan minyak tanah ke tutup botol. Selanjutnya ia membawa tutup botol berisi minyak tanah itu ke istrinya yang sedang terluka.


“Sini Bu lukanya dikasih minyak tanah biar cepat sembuh!” ucapnya.


“Iya, Pak.”


Minyak tanah itu pun dituangkan ke jari telunjuk Bu Ningrum yang terluka.


“Aduh! Perih sekali, Pak!” Bu Ningrum mengeluh sakit.


“Iya, eman perih. Tapi, nanti lukanya cepat kering.” Pak Hasan berusaha menghibur istrinya.


Setelah tidak ada darah yang mengalir lagi, Pak Hasan kemudian membebat jari telunjuk istrinya dengan kain yang bersih. Pak Hasan juga melanjutkan pekerjaan istrinya yang sempat tertunda karena insiden tersebut. Pria itu menyuruh istrinya istirahat di kamar dulu, tapi Bu Ningrum menolak. Ia lebih memilih untuk duduk di dapur sambil memperhatikan suaminya membuat kolak pisang kesukaan Imran. Ia pikir kalau suaminya membuat kesalahan dalm proses pembuatan kolak pisang, ia bisa mengingatkan suami secara langsung.


“Pak, Imran kok belum datang, ya?” tanya Bu Ningrum dengan perasaan cemas.


“Hm … Mungkin Imran sedang ada kegiatan Ekskul sepulang sekolah, Bu.” Sahut Pak Hasan sambil mencemplungkan irisan pisang ke dalam panci.


“Tapi, tadi pagi sebelum berangkat Imran nggak bilang kalau ada kegiatan Esksul, Pak?”


“Mungkin dia lupa nggak ngasih tahu ke Ibu?”


“Nggak biasanya dia begitu, Pak. Aku khawatir-“


“Ibu nggak usah khawatir begitu. Imran itu sudah besar. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri.”


“Tapi, Pak … Sejak siang tadi pikiranku tidak tenan. Aku kepikiran anak itu terus, Pak.”


“Dibawa nyebut, Bu. Mungkin itu hanya pikiran Ibu saja.”


Tiba-Tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka.


“Assalamualaikum …”


“Waalaikumsalam … Eh, Kyai Nur … Monggo masuk, Kyai!” sapa Bu Ningrum saat mengetahui bahwa tamunya adalah guru ngajinya waktu kecil.


“Sudah, Nduk. Saya mau segera ke pasar. Nanti keburu malam pulangnya kalau mampir di sini dulu. Saya ke sini cuma mau ngasih ketela rambat saja. Kebetulan tadi saya panen di kebun.”

__ADS_1


“Waduh, Kyai ini kok repot-repot? Terima kasih banyak, Kyai. Monggo duduk dulu barang sebentar!”


“Sudah, Hasan. Lain kali saja. Sekarang saya benar-benar keburu.”


“Baiklah, Kyai. Hati-Hati di jalan!”


“Oh ya Kyai kalau ketemu Imran di jalan suruh cepat pulang gitu, ya?”


“Loh, belum pulang anak itu?”


“Belum, Kyai.”


“Kyai kan lewat jalan sebelah barat, Bu?” tegur Pak Hasan.


“Nggak apa-apa, Pak. Siapa tahu Imran lewat sana?”


“Kayaknya Imran kalau pulang selalu lewat jalan di timur?”


“Nggak apa-apa, Hasan! Biar istrimu tenang. Kayaknya dia sedang cemas.”


“Nah, benar itu apa kata Kyai, Pak!”


Kyai Nur pun pamit pergi kepada pasangan suami istri itu. Tak lupa Bu Ningrum dan Pak Hasan bersalaman dengan mereka. Ada pemandangan yan cukup aneh saat itu. Tak biasanya Kyai Nur meneteskan air mata saat bersalaman dengan mereka berdua.


“Kalian berdua yang rukun, ya? Jangan sering bertengkar!”


Sepeninggal Kyai Nur, kedua orang itu masih berbincang.


“Kyai barusan kayak nangis, ya?”


“Bapak sih pakai negur Ibu segala? Jadinya Kyai Nur mikir.”


“Lah, Ibu sih pakai titip pesan segala?”


“Kan nggak apa-apa juga, Pak? Cuma titip pesan. Siapa tahu beliau ketemu Imran di jalan.”


“Jalan pulangnya anak kita kan beda dengan jalan yang mau dituju Kyai Nur, Bu.”


“Ah sudahlah, Bapak ini mesti begitu. Nggak ngerti perasaan perempuan?”


“Nggak gitu, Bu. Maksud saya-“


“Pokoknya Bapak ini-“ Bu Ningrum tiba-tiba membaui sesuatu.


Pak Hasan tertegun sejenak. Kemudian ia juga mencium sesuatu yang aneh.

__ADS_1


“Ya Allah … kolak pisangnya!” Pak Hasan buru-buru lari ke dapur.


*


Kyai Nur menghentikan laju sepedanya saat melihat ada kerumunan orang di jalan. Karena penasaran ia pun menanyakan kepada salah seorang yang berada di sana.


“Mas … Ada rame-rame apa, ya?” tanya Kyai Nur sambil mencolek bahu seseorang.


Orang tersebut menoleh ke arah Kyai Nur. Ia seperti terkejut saat melihat Kyai Nur.


“Anu, Mbah. Ada maling ketangkep basah,” jawabnya dengan gelagapan.


“Maling? Mana malingnya?” tanya Kyai Nur lagi.


“Itu … sedang dihajar warga. Sebentar lagi mau dibakar.”


“Ya Allah …” seru Kyai Nur sambil memarkirkan sepeda ontelnya dan langsung berjalan tergesa-gesa menyibak kerumunan massa.


Pemuda yang ditanyai oleh Kyai Nur keheranan dengan reaksi pria tua tersebut. Ia berusaha melarang Kyai Nur, tapi termbat karena pria tua itu sudah menyibak kerumunan.


“Apa yang sedang kalian lakukan? Jangan main hakim sendiri! Kalian semua bisa dipenjara nanti. Lebih baik serahkan pencurinya kepada pihak yang berwajib!” teriak Kyai Nur dengan lantang.


Semua orang yang berada di tempat itu terkejut dengan kehadiran Kyai Nur yang tiba-tiba itu. Perhatian mereka langsung tertuju kepada guru ngaji tersebut.


“Siapa kamu, Pak Tua?” teriak Karyo yang sudah bersiap membakar Imran dan Bondan.


Kyai Nur menoleh ke arah Karyo.


“Saya warga asli sini. Saya menghimbau kepada kalian semua untuk menyerahkan kedua pencuri ini ke polisi. Kita tidak boleh main hakim sendiri!” teriak Kyai Nur.


“Pak Tua tidak usah ikut-ikut masalah ini! Sebaiknya Pak Tua menyingkir sebelum kami berbuat kasar,” teriak Darno.


“Tidak! Saya tidak akan pergi sebelum kalian menghentikan aksi anarkis ini.”


“Bagaimana ini, Kang?” tanya Karyo kepada Tarjo yang sedang terbaring di pangkuan salah satu anak buahnya.


“Bawa pergi kakek tua itu! Dan lanjutkan bakar kedua bocah tengik itu!” jawab Tarjo dengan emosi.


“Siap, Kang!” jawab Karyo.


Karyo kemudian memberi kode kepada beberapa rekannya untuk membawa pergi Kyai Nur. Pria tersebut menolak untuk ditarik pergi. Kyai Nur akhirnya ditarik paksa untuk pergi menjauh dari tempat tersebut. Namun, pria tua itu kemudian mendengar suara yang ia hapal betul.


“Mbah Nur!!!” seru Imran setelah mendengar suara guru ngajinya.


“Imran???” Kyai Nur terkejut karena suara itu berasal dari dua orang yang dibilang pencuri oleh pemuda yang ia tanyai tadi. Kondisi kedua remaja yang basah kuyup dengan minyak tanah dan penuh luka membuat Kyai Nur sulit mengenali muridnya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2